NovelToon NovelToon
MEKANIK DARI LEMBAH BESI

MEKANIK DARI LEMBAH BESI

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:10.4k
Nilai: 5
Nama Author: T28J

(𝙎𝙚𝙢𝙪𝙖 𝙜𝙖𝙢𝙗𝙖𝙧 𝙙𝙞𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙗𝙪𝙖𝙩𝙖𝙣 𝘼𝙄)
𝙂𝙖𝙢𝙗𝙖𝙧 𝙗𝙚𝙧𝙩𝙚𝙢𝙖 𝙥𝙚𝙧𝙢𝙖𝙞𝙣𝙖𝙣 𝙏𝘾𝙂 𝙪𝙣𝙞𝙠 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧-𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙙𝙞𝙢𝙖𝙞𝙣𝙠𝙖𝙣. 𝙄𝙠𝙪𝙩𝙞 𝙩𝙚𝙧𝙪𝙨 𝙥𝙚𝙩𝙪𝙖𝙡𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙙𝙞 𝙙𝙪𝙣𝙞𝙖 𝙑𝙖𝙡𝙩𝙝𝙚𝙧𝙞𝙖 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙢𝙚𝙣𝙙𝙖𝙥𝙖𝙩𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙧𝙩𝙪-𝙣𝙮𝙖.

⚙⚙⚙

Mengisahkan tentang seorang mekanik muda bernama Arven yang ditakdirkan untuk menjadi Host Titan Gear bernama Astraeus. Kisah masa lalu dan masa kini akan terkompresi menjadi satu dalam mengungkap kehancuran peradaban Astreya. Unsur Action, Misteri, Politik, Perang Kerajaan akan menjadi fokus cerita ini.

Mari bergabung bersama Arven dalam petualangannya di dunia Valtheria.

—T28J

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon T28J, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BRAKENFORD ARC 30 - PANGGILAN TITAN

...Ada panggilan yang tidak bisa didengar telinga... ...

......hanya bisa dirasakan oleh sesuatu yang terikat sejak awal....

...⚙⚙⚙...

Arven sadar, ia tidak punya peluang menang. Lawan makhluk sebesar itu, pertarungan hanya akan berakhir jadi daging cincang. Satu-satunya jalan adalah lari.

Man-Slayer mengaum. Suaranya pecah, bergema seperti guntur di dalam gua. Kakinya melangkah maju.

THUD...

Cakar raksasa itu menghantam tanah, memuntahkan debu dan kerikil ke udara.

Arven mengertakkan gigi. Matanya menyapu sekilas ke arah cahaya biru yang memancar dari pusat tambang, lalu turun ke tangan sendiri. Titan Wrench di genggamannya ikut bersinar samar.

“Baiklah…” bisiknya cepat.

Ia memutar badan secepat kilat dan melesat menuruni lereng. Sepatu botnya menghentak rel kereta tua yang berkarat. Suara logam berdentang memecah keheningan. Di belakangnya, suara langkah kaki kembali terdengar, jauh lebih cepat dan ganas.

Setiap hentakan membuat lereng gunung berguncang. Batu-batu kecil longsor, debu beterbangan menghalangi pandangan. Arven tidak berani menoleh. Ia terus berlari masuk lebih dalam ke perut tambang Brakenford. Udara dingin dan berdebu menusuk paru-parunya, membuat dada terasa terbakar, tapi kakinya tak berhenti.

Di tangannya, Titan Wrench terasa semakin hangat. Logam kuno itu bergetar seperti detak jantung.

THUMP... THUMP...

Getarannya menjalar sampai ke siku, seolah alat itu merespons keberadaan sesuatu yang sangat besar di depan sana. Arven tak peduli saat ini. Fokusnya hanya satu, lari sejauh mungkin.

Namun suara langkah di belakang makin dekat, makin keras, seperti palu raksasa yang menghantam landasan. Dinding tambang bergetar, kerikil berjatuhan dari atas lereng. Arven melirik ke belakang sekilas. Dua titik merah menyala terang di kegelapan, mengejarnya tanpa ampun.

“Titan…” geraman berat itu menggema di seluruh ruang tambang.

“Ya, ya! Aku dengar!” gerutu Arven sambil memacu langkah lebih cepat.

Titan Wrench berdetak lagi, kali ini jauh lebih kuat hingga lengannya ikut tergetar.

THUMP...

Cahaya biru di depan sudah sangat dekat, tapi Man-Slayer ternyata jauh lebih cepat dari perkiraannya. Monster itu menerjang.

Mata Arven menangkap sebuah gerbong tambang penuh batu yang terparkir miring di rel. Tanpa berpikir panjang, ia membelokkan arah, tangan kirinya merenggut tuas pengunci.

Pengunci itu lepas. Gerbong berat itu langsung meluncur mundur, semakin cepat, semakin kencang, meluncur lurus menuju arah datangnya monster.

Arven tak menunggu hasilnya, ia terus lari.

CRAAAAASH...

Dentuman keras bergema. Batu-batu berhamburan, logam gerbong remuk dan penyok parah. Namun saat debu mulai menipis, sosok hitam itu masih berdiri tegak. Bahkan tidak bergeser sedikit pun. Man-Slayer hanya menendang sisa puing-puing itu hingga terpental keras menabrak dinding batu.

“Serius?!” umpat Arven.

Di tangannya, benda itu berdenyut lagi, lebih kencang dari sebelumnya, seolah bersemangat mendekati sumber cahaya biru itu.

“Bukan waktunya buat drama sekarang!” geramnya pada alat itu.

Matanya kembali memindai sekeliling. Sebuah alat perontok batu tua berdiri di sisi jalur, dengan bola besi raksasa yang tergantung pada rantai tebal. Arven menginjak rem sejenak, tangannya menarik tuas pemicu dengan sekuat tenaga.

Rantai berderit nyaring. Bola besi itu terlepas dan berayun keras mengenai Man-Slayer yang sedang berlari.

SWOOOSH-BOOOOOM...

Hantaman keras membuat udara bergetar. Debu tebal langsung menyelimuti area itu. Arven mempercepat larinya, berharap ini cukup memberi waktu.

Tapi suara langkah berat itu kembali terdengar. Man-Slayer muncul lagi. Tubuhnya mulus tanpa goresan sedikit pun. Ia menatap bola besi yang masih bergoyang, lalu mengayunkan cakar sekali saja. Bola baja tebal itu pecah berkeping-keping seperti gelas.

Arven melirik sekilas dari bahu, “Oke... gagal juga.”

Ia tak berhenti. Jalur di depannya kini membuka menjadi ruang tambang yang sangat luas, penuh dengan mesin-mesin tua yang berkarat dan rel yang bercabang-cabang. Sebuah ekskavator tua terparkir di sana.

Sebagai mekanik, tangan Arven bergerak otomatis. Ia melompat ke panel kontrol, telapak tangan menampar tombol utama.

Mesin batuk-batuk lalu hidup. Suara diesel menderu, selang hidrolik mendesis. Arven menarik tuas dengan kasar. Lengan baja terangkat, sekop raksasa di ujungnya diayunkan sekuat tenaga tepat saat monster itu menerobos masuk.

CLANGGG...

Percikan api beterbangan saat baja menghantam batu vulkanik itu.

Tapi Man-Slayer tidak bergeming. Ia hanya mengulurkan satu tangan, menangkap lengan mesin itu dengan mudah. Lalu dengan satu tarikan, ia mencabut seluruh mesin dari tanah dan melemparkannya ke dinding batu. Alat berat itu hancur lebur, asap dan api kecil muncul dari reruntuhannya.

“Oke... opsi habis sudah,” gumam Arven panik.

Tiba-tiba, langkahnya melambat dengan sendirinya. Di tengah ruang raksasa itu, tersembunyi di balik bayangan dan cahaya biru yang menyilaukan, sebuah bentuk raksasa mulai terlihat jelas.

Astraeus.

Tubuh logam raksasa itu berdiri tegak, sebagian tertutup debu dan waktu, namun di bagian dadanya, sebuah inti energi berdenyut hidup. Cahaya itu memancar, dan seketika itu juga, Titan Wrench di tangan Arven meledak dalam getaran.

THUMP... THUMP... THUMP...

Detaknya selaras sempurna dengan denyut jantung raksasa di depannya. Satu detak dari Titan, satu getaran dari Titan Wrench. Arven bisa merasakannya sampai ke sumsum tulang. Alat itu seolah hidup, berteriak memanggil tuannya.

Untuk sesaat, dunia di sekitarnya menghilang. Suara angin, suara debu, bahkan rasa takut akan kematian lenyap. Matanya terpaku pada sosok raksasa itu. Seluruh ruang tambang seolah menahan napas, menunggu momen kuno itu terulang kembali.

Hingga tanah di bawah kakinya kembali bergetar hebat. Pemburu sudah sampai di belakangnya. Man-Slayer menerobos masuk. Kakinya mendarat berat. Matanya langsung terkunci pada sosok Titan di tengah ruangan. Cahaya merah di rongga matanya menyala semakin tajam.

“TITAN.”

Ia melangkah lebih cepat. Setiap pijakan memecahkan permukaan tanah. Retakan menjalar di antara rel tua, baut-baut longgar terlepas dari dudukannya dan beterbangan.

Arven mencoba bergerak. Kakinya gemetar hebat, ototnya menolak perintah. Ia memaksakan satu langkah lagi, tapi lututnya lemas, hampir menyentuh tanah. Napasnya tersengal-sengal.

“Sial...”

Cakar raksasa Man-Slayer menyambar turun, membelah udara dengan suara mendesing yang mematikan. Arven memejamkan mata, merunduk serendah mungkin sambil mendekap Titan Wrench di dadanya.

​Tepat sebelum logam tajam itu mengoyak kulitnya, segalanya membeku. ​Keheningan yang mencekam menyelimuti tambang. Butiran debu berhenti melayang.

Arven membuka mata sedikit, melihat ujung cakar monster itu berhenti hanya beberapa sentimeter di atas kepalanya. Dunianya seakan kehilangan gravitasi.

​Lalu, sebuah ledakan energi biru menghantam dari arah jantung Astraeus.

​FLAAAASSH...

​Arven terlempar ke belakang, punggungnya menghantam dinding batu hingga paru-parunya terasa kempis. Ia terbatuk, melindungi matanya yang perih sementara seluruh area tambang bermandikan cahaya biru.

Di hadapannya, Man-Slayer meraung, tubuh raksasanya terseret mundur oleh gelombang kejut yang memecahkan kaca-kaca pada ekskavator di sekitarnya. Ia mengangkat lengan besarnya untuk melindungi wajah, cakarnya bergetar hebat menahan tekanan energi yang luar biasa. Seluruh area tertutup cahaya biru yang sangat menyilaukan.

Di tengah terang itu, suara mekanis terdengar, dalam dan jelas.

​“HOST DETECTED.”

Titan Wrench bergetar lebih keras lagi, hampir lepas dari genggaman. Logamnya terasa panas membara.

“KEY SYNCHRONIZED..”

Rel kereta berbunyi, bergeser dari tempatnya. Mesin-mesin tua berderak, panel logam bergetar hebat.

“SYSTEM REAWAKENING.”

Lereng tambang muncul retakan-retakan halus. Debu berjatuhan dari tebing-tebing tambang. Pipa-pipa uap tua mendesis keras melepaskan udara.

“PROTECTING HOST.”

Cahaya mulai meredup, namun guncangan dahsyat justru muncul dari perut bumi. Arven membuka matanya yang perih dan melihat siluet raksasa Astraeus mulai bergerak. Sendi-sendi logamnya bergesekan, menghasilkan suara yang mengerikan.

​KRRRKK-KSHHHH...

​Suara sistem hidrolik kuno bekerja kembali. Batu-batu besar yang selama ini menempel di tubuhnya rontok seketika. Retakan melebar di sekitar pijakan kaki sang Titan.

​Man-Slayer menurunkan lengannya. Monster itu menggeram marah, cakarnya menancap dalam ke tanah berbatu, bersiap untuk menerjang kembali.

​Tapi tiba-tiba—

​BOOM...

Sebuah batu raksasa sebesar rumah terlontar keras dari pusat cahaya itu. Udara terbelah oleh kecepatannya. Batu itu menghantam telak dada Man-Slayer dengan akurasi mematikan.

​CRASH...

Hantaman itu mengangkat seluruh tubuh masif Man-Slayer dari tanah. Kakinya terangkat, tubuhnya terlempar mundur dengan kecepatan tinggi hingga menghantam barisan rel kereta.

Debu pekat meledak, menenggelamkan sosok sang pembantai dalam tumpukan puing yang hancur berantakan.

​Arven menurunkan lengannya. Matanya terbelalak. Di depannya, cahaya biru masih berdenyut. Di dalamnya, sesuatu bergerak keluar perlahan.

^^^*gambar buatan AI^^^

Sebuah tangan raksasa muncul. Logam tua yang kokoh, ujungnya berbentuk sekop besar dengan garis biru yang menyala terang. Tangan itu menopang berat tubuhnya saat menyentuh tanah.

Astraeus berdiri sepenuhnya. Bahunya yang lebar dipenuhi rangkaian katrol dan mata bor raksasa yang mulai berputar pelan, mengeluarkan bunyi geraman mekanis. Titan itu menundukkan kepalanya yang berbentuk ksatria industri. Mata birunya yang tajam berputar, mencari fokus, lalu mengunci tepat pada Arven.

THUMP...

​Titan Wrench di tangan Arven berdetak selaras dengan inti energi di depan matanya. Arven bisa merasakan getaran itu menjalar di nadinya.

​“HOST ARVEN.”

Arven mengangkat dagunya, menantang tatapan mekanis sang raksasa. “Jadi... ini jawabannya.”

“WELCOME BACK.”

...⚙⚙⚙...

A/N : jika kalian suka dengan cerita ini, like, vote, dan support author dengan mengirimi hadiah ya...

—T28J

1
Mystic Novel
nah seperti ini, mungkin bisa di konvert ke kata yang lebih sederhana dan bukan puitis, soalnya ini genre fantasi...

tapi cerita dan dunianya bagus kok, terus semangat ya
Mystic Novel
Thor, karena ini cerita fantasi, narasinya kalau bisa lebih sedikit di sederhanakan, karena pembaca susah nebak suasana dan dunianya.
⋆.ꂵꂑꀗꈼꐞ Jr✮
seram kalo bisikan
⋆.ꂵꂑꀗꈼꐞ Jr✮
wow bagusnya
⋆.ꂵꂑꀗꈼꐞ Jr✮
memasuki sepatu sambil lari 🤔
⋆.ꂵꂑꀗꈼꐞ Jr✮
yah serius lah /Facepalm/
⋆.ꂵꂑꀗꈼꐞ Jr✮
keren ini /Good/
⋆.ꂵꂑꀗꈼꐞ Jr✮
mantap ada transformers /Good/
⋆.ꂵꂑꀗꈼꐞ Jr✮
wah nasibnya gimana?
⋆.ꂵꂑꀗꈼꐞ Jr✮
titan yang ada "attack on titan"
Oto,'Pemuja Hati'
Jadi keingat dengan dunia game dengan menggunakan sistem kartu.. m😌
Oto,'Pemuja Hati'
Aku masih terkagum-kagum dengan gambarnya.. m🥹 Terlalu konsisten.. m🥰
SANG
Oke Thor💪👍 tetap semangat ya💪👍
SANG
Jempol untukmu dek👍👍👍👍👍👍👍
SANG
Bunga untukmu thor/Rose//Rose//Rose//Rose//CoolGuy/
SANG
Go go go go...💪👍
Muqimuddin Al Hasani
belum ngerti maksud kartunya
T28J: sudah rilis bab pemberitahuannya a'. How to Play Card-nya
total 1 replies
Muqimuddin Al Hasani
ini mah benar terinspirasi dari lord of the ring, yang satu panah yang satu gada
alicea0v
"Aliceee!!!" teriak Xena histeris. "Ada penduduk sebelah mau matiii!!" wanita penyihir itu berlari memutar panik, disetiap langkahnya membuat debu mengepul ke udara.

Alice hanya menatap para pekerja itu dari kaca sihir yang mengambang di udara.

"Ah.. beberapa manusia yang bosan hidup ya? biar saja Xena, mereka memang suka cari mati. nanti pingsan sendiri." Alice kembali ke kuilnya meninggalkan Xena yang masih berlari memutar.

"Ini.... dunia ini terlihat lebih kejam dari dunia kita." potong Arthur yang baru saja selesai mandi. ( oh wow pakai baju thur)
alicea0v: 🤣🤣🤣🤣 aku ngakak sumpah..
total 2 replies
alicea0v
sabar-sabar
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!