Lucifer Azrael — Raja Dunia Bawah berkedok pengusaha. Sadis, dingin, mustahil disentuh. Tuhan pun seolah dia tantang.
Florence Beatrix — gadis panti yang seharusnya mati setelah jadi saksi transaksi gelapnya. Tapi Lucifer melanggar aturan: dia mengurung Florence di pulau pribadinya.
"Selamat datang di kurunganmu, Florence Beatrix. Di sini, aku adalah Tuhan."
Di pulau tanpa jalan keluar, Florence benci sekaligus takut. Tapi perlahan dia lihat retaknya: Lucifer selalu menatap salib di lehernya terlalu lama. Raja Dunia Bawah yang kejam, ternyata hafal ayat Mazmur karena masa lalu yang dia kubur dalam darah.
Ini bukan kisah cinta manis. Ini tentang gadis panti yang berdoa di kurungan mewah, dan mafia yang mulai bertanya apakah neraka miliknya bisa ditukar dengan surga di mata Florence
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elsa Sefia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kabar dari Bira Tengah
New York. Mansion Upper East Side. Pukul 02.17 dini hari.
Lucifer tidak tidur. Ia tidak pernah benar-benar tidur sejak Florence meninggalkan nya. Ia hanya menutup mata, menunggu pagi, sambil menyiksa dirinya dengan ingatan.
Ponsel pribadinya bergetar. Hanya lima orang di dunia yang memiliki nomor itu. Semuanya adalah kepala jaringan informannya.
Nama yang tertera: Vulture— sandi untuk kepala intelijennya di Asia Tenggara.
Jantung Lucifer, yang sudah lama ia anggap mati, berdenyut sekali. Keras.
Ia mengangkatnya. Tidak ada sapaan.
“Lapor.” Hanya satu kata. Dingin. Mematikan.
Di seberang sana, suara Vulture terdengar gugup, tetapi berusaha profesional. “Maaf mengganggu waktu istirahat Anda, Bos. Kami mendapatkan sesuatu. Belum terkonfirmasi, tetapi probabilitasnya... tinggi.”
Lucifer berdiri dari kursi kerjanya. Punggungnya tegak. “Lokasi.”
“Pulau Bira Tengah, Bos. Gugusan pulau terpencil di timur laut Sulawesi. Populasi di bawah dua ratus kepala. Mata pencaharian nelayan.”
Jeda. Vulture menelan ludah sebelum melanjutkan.
“Tiga minggu lalu, seorang nelayan tua bernama Samin menemukan seorang gadis terdampar di pantai belakang rumahnya. Kondisinya luka-luka, dehidrasi, demam tinggi.”
Tangan Lucifer yang memegang ponsel mengeras. Buku-buku jarinya memutih.
“Ciri-ciri,” desisnya.
“Perempuan. Perkiraan umur dua puluh tahunan. Rambut coklat panjang, tubuh kecil, kurus. Wajah... menurut laporan nelayan yang kami suap, ‘cantik seperti bidadari, tapi sorot matanya kosong’.”
Kosong.
Kata itu menampar Lucifer. Ia teringat mata Florence di hari terakhir. Sayu. Hancur. Kosong.
“Lanjutan,” perintahnya. Napasnya tidak teratur, sesuatu yang tidak pernah terjadi pada Raja Neraka.
“Gadis itu dirawat oleh Samin dan istrinya. Namanya... dia mengaku namanya ‘Bunga’. Tidak mau bicara banyak. Tidak mau keluar rumah. Hanya membantu merajut jaring dan... dan dia sering berdoa di malam hari. Memegang salib kayu.”
Salib kayu.
Dunia Lucifer berhenti berputar sesaat. Salib kayu kecil yang Florence selundupkan dari kapel. Salib yang selalu ia genggam saat ketakutan.
Itu dia. Pasti dia. Tidak ada kebetulan sebodoh ini.
“Ada foto?” suara Lucifer parau. Ia benci betapa harapannya terdengar jelas.
“Tidak ada, Bos. Pulau itu tertutup. Tidak ada sinyal. Penduduknya tidak pakai ponsel. Tim kami sedang menuju ke sana via kapal cepat. Perkiraan tiba enam jam lagi. Saya butuh konfirmasi. Apakah kita amankan target?”
Hening.
Di dalam kepala Lucifer, terjadi perang. Amarah karena Florence kabur. Lega karena Florence hidup. Haus untuk menghukum. Haus untuk... melihat.
Melihat apakah malaikat itu benar-benar masih hidup. Apakah sayapnya sudah tumbuh lagi atau semakin patah.
“Tidak,” jawab Lucifer akhirnya. Suaranya kembali menjadi es. Tajam. “Jangan sentuh dia. Jangan dekati rumah itu. Jangan sampai dia tahu kalian ada.”
“Tapi, Bos—”
“Dengar saya baik-baik, Vulture,” potong Lucifer. Setiap katanya diucapkan pelan, memastikan ancaman di dalamnya tersampaikan dengan jelas. “Kalau ada satu helai rambutnya jatuh karena kalian, kalau dia ketakutan karena kalian, kalau dia kabur lagi karena kalian... saya akan kuliti kalian hidup-hidup, lalu saya kirim kulit itu ke keluarga kalian sebagai taplak meja. Paham?”
“Pa... paham, Bos. Paham sekali.”
“Siapkan jet saya. Sekarang. Saya berangkat sendiri.”
Lucifer menutup telepon. Ia tidak memanggil pengawal. Ia tidak memberi instruksi lebih lanjut. Ia berjalan ke lemari besinya. Mengambil pistol kesayangannya, pisau komando, dan paspor dengan identitas palsu.
Dua bulan. Enam puluh satu hari. Satu jam lima puluh tiga menit sejak Florence menghilang.
Dan sekarang, neraka itu memberinya arah.
Bira Tengah.
Ia menatap ke cermin sekali sebelum keluar kamar. Untuk pertama kalinya dalam dua bulan, ada sesuatu di mata birunya selain es. Ada api. Api yang menyala karena obsesi, karena marah, karena rindu yang tidak mau ia akui.
“Bunga, ya?” bisiknya kepada pantulan dirinya. Senyumnya miring. Bukan senyum. Lebih mirip seringai serigala yang menemukan buruannya.
“Mawar layu yang ganti nama, tetap mawar milik saya. Dan kali ini... saya akan pastikan akarnya saya tanam di neraka, sampai tidak bisa kabur lagi.”
Ia keluar dari mansion. New York masih gelap. Namun, di dalam diri Lucifer Azrael, matahari baru saja terbit.
Untuk pertama kalinya dalam dua bulan, Raja Neraka merasa hidup. Karena tawanannya sudah ditemukan.
---