NovelToon NovelToon
Jiwa Pembunuh Di Tubuh Gadis SMA

Jiwa Pembunuh Di Tubuh Gadis SMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Perjodohan / Balas Dendam
Popularitas:17.8k
Nilai: 5
Nama Author: eka zeya257

Aurelia adalah tentara bayaran yang hidup di dunia penuh darah dan pengkhianatan. Dalam sebuah misi terakhir, dia mati setelah dikhianati oleh orang yang paling dia percaya.

Namun kematian bukanlah akhir.

Ketika membuka mata, Aurelia justru terbangun di tubuh seorang gadis SMA lemah bernama Aria, seorang tunangan dari pria paling berbahaya di dunia bawah tanah.

Sayangnya, pertunangan itu hanyalah perjanjian tanpa perasaan. Ravian bersikap dingin, acuh, dan sama sekali tidak peduli pada gadis yang seharusnya menjadi calon istrinya.

Namun mereka tidak tahu satu hal. Gadis lemah itu sudah tidak ada lagi. Di dalam tubuhnya kini hidup jiwa seorang pembunuh yang terbiasa menghadapi peluru, pengkhianatan, dan kematian.

Saat musuh mulai datang dari segala arah, rahasia masa lalu terbongkar, dan perang dunia bawah tanah tak terhindarkan…

Akankah seorang gadis SMA yang dihina mampu bertahan di sisi sang raja dunia gelap?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka zeya257, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Suasana di dalam kediaman Doclan mendadak tegang, Ravian menatap kakeknya tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar tentang pernikahan.

"Kek, aku harus tahu mengapa aku harus menikah secepatnya?" ulang Ravian.

"Tidak ada alasan khusus, hanya saja Kakek merasa kau perlu menjaga Aleta mulai saat ini."

"Kenapa aku harus menjaganya?"

Ravian tak habis pikir mengapa kakeknya jadi begitu, Aleta hanyalah gadis biasa yang beruntung bertunangan dengannya tidak lebih bahkan dia tak layak dari segi latar belakang dengannya. Jika bukan karena desakan sang kakek, dia pasti menolak perjodohan itu.

"Aleta menjadi korban perundungan, tidak hanya sekali tapi berkali-kali. Anehnya anak itu sama sekali tidak pernah melaporkan perundungan itu pada guru." Ujar Doclan.

Kemarin malam, dia mendapat kabar jika ada rumor yang mengatakan bahwa Aleta sedang di tindas tapi gadis itu tampak biasa saja.

Doclan mengirim seorag bodyguard untuk menjaga Aleta dari kejauhan, namun hingga detik ini belum ada kabar apa pun lagi tentang Aleta.

"Bagaimana Kakek bisa tahu?"

"Aku menyuruh orang untuk menjaganya," Doclan menatap malas pada sang cucu. "Tidak sepertimu yang acuh, aku masih memperhatikan Aleta dengan baik."

Sindiran itu membuat Ravian terkekeh. "Kalau begitu Kakek saja yang menikah dengannya."

"Kau pikir nenekmu akan menerimanya? Yang ada Kakek di tendang dari surga jika menikah dengan calon istrimu."

Ravian terkekeh geli, meski kakeknya sudah menjadi duda selama tujuh tahun tapi pria itu masih setia dengan mendiang neneknya bahkan tidak berniat untuk menikah lagi.

Terkadang Ravian merasa iri, apakah dia juga bisa menemukan wanita yang akan dia cintai seperti neneknya. Tapi, takdir seakan menertawakannya karena kini dia justru harus menikah akibat perjodohan.

Ingin menolak, tapi dia tak bisa karena kakeknya adalah pendukung utama dalam karirnya di dunia bisnis.

Ravian menghela napas panjang, rahangnya mengeras seolah menahan sesuatu yang mengganjal di dadanya. Ruangan itu kembali sunyi, hanya terdengar detak jam dinding yang seakan mempertegas ketegangan di antara mereka.

"Ini tidak masuk akal," gumamnya pelan, lebih pada dirinya sendiri daripada pada sang kakek.

Doclan bersandar santai di kursinya, jemarinya mengetuk ringan sandaran tangan, matanya tetap tajam mengamati setiap perubahan ekspresi cucunya. "Dunia ini memang jarang masuk akal, Ravian. Kau harus mulai terbiasa."

Ravian mengusap wajahnya kasar. "Aku bahkan tidak mengenalnya dengan baik. Bagaimana Kakek bisa memutuskan hal sebesar ini hanya karena dia dirundung?"

"Bukan hanya itu."

Jawaban singkat itu membuat Ravian kembali menatapnya. "Lalu apa lagi?"

Doclan tidak langsung menjawab. Pria tua itu justru bangkit perlahan, berjalan menuju jendela besar yang menghadap taman luas di belakang mansion. Punggungnya tegap meski usia tak lagi muda.

"Aleta bukan gadis biasa."

Ravian mendengus pelan. "Kakek baru saja bilang dia korban bully. Itu tidak terdengar istimewa."

Doclan menoleh sedikit, sudut bibirnya terangkat tipis. "Justru karena itu dia istimewa. Dia diserang berkali-kali, tapi tidak pernah melapor. Tidak menangis di depan umum. Tidak mencari perlindungan."

Ravian terdiam.

"Apa kau tahu apa artinya?" lanjut Doclan.

Ravian menggeleng pelan, meski dalam hatinya mulai muncul rasa tidak nyaman yang aneh.

"Itu berarti dia menahan semuanya sendiri. Entah karena dia kuat… atau karena dia tidak percaya siapa pun akan membantunya. Kau jelas tahu jika Aleta hanya tinggal memiliki satu kakek, mungkin dia menahan lukanya demi terlihat baik-baik saja di depan kakeknya."

Kalimat itu menggantung di udara, berat dan menusuk.

Ravian mengalihkan pandangan. Entah kenapa, bayangan wajah Aleta yang selama ini dia anggap biasa saja tiba-tiba terasa berbeda.

"Tetap saja… itu bukan alasan untuk menikahkanku dengannya. Aku memang mau tunangan dengan dia, tapi bukan berarti aku mau menikah dengannya, Kek."

Doclan berbalik sepenuhnya, kini menatap Ravian dengan sorot mata yang lebih serius dari sebelumnya. "Kau pikir Kakek melakukan ini hanya untuk menyelamatkan satu gadis?"

Ravian mengernyit. "Maksud Kakek?"

"Aleta berada di tengah sesuatu yang lebih besar dari sekadar perundungan."

Detik itu juga, suasana berubah.

Ravian menegakkan tubuhnya. "Apa maksudnya ‘sesuatu yang lebih besar’?"

Doclan berjalan kembali mendekat, lalu berhenti tepat di depan cucunya. "Orang-orang yang menindasnya… bukan anak-anak biasa."

Ravian menyipitkan mata. "Keluarga berpengaruh?"

Doclan tidak menjawab langsung, tapi ekspresinya sudah cukup memberi jawaban.

Sial.

Ravian mengusap tengkuknya, mulai merasa situasi ini jauh lebih rumit dari yang dia kira. "Dan Kakek ingin aku masuk ke dalam itu semua… dengan menikahinya? Kakek ingin menjadikan aku tameng?"

"Kau tidak hanya masuk," jawab Doclan tenang. "Benar, kau akan menjadi tamengnya."

Ravian tertawa pendek, tapi kali ini tanpa humor. "Tameng? Atau umpan?"

Doclan tidak tersinggung. "Itu tergantung bagaimana kau memainkannya."

Hening kembali menyelimuti ruangan.

Ravian menunduk, pikirannya berputar cepat. Ini bukan lagi soal perjodohan semata. Ini tentang kekuasaan, konflik… dan kemungkinan bahaya yang tidak dia ketahui.

Namun, ada satu hal yang mengganggunya lebih dari semua itu.

"Aleta…" gumamnya pelan.

Kenapa gadis itu tidak pernah mengatakan apa pun? Kenapa dia memilih diam? Dan kenapa… dia mulai merasa ingin tahu lebih jauh tentangnya? Sejak mereka bertunangan, Aleta belum pernah mengiriminya pesan atau sekedar basa-basi, hanya dirinya yang memberi kabar jika akan kembali minggu depan beberapa hari yang lalu.

Ravian mengangkat kepalanya, menatap kakeknya dengan sorot mata yang kini berbeda lebih tajam, lebih serius.

"Di mana dia sekarang?"

Doclan tidak langsung menjawab. Justru ada jeda singkat yang membuat dada Ravian terasa semakin sesak.

"Aku kehilangan kontak dengan orang yang mengawasinya sejak pagi tadi."

Kalimat itu seperti petir di siang bolong.

Ravian berdiri tiba-tiba, kursinya bergeser keras hingga menimbulkan suara berdecit. "Apa maksud Kakek kehilangan kontak?!"

"Itu berarti sesuatu telah terjadi," jawab Doclan tetap tenang, meski sorot matanya menunjukkan kewaspadaan.

Ravian sudah meraih ponselnya. "Kirim lokasinya. Sekarang."

Doclan menatap cucunya beberapa detik, lalu tersenyum tipis seolah inilah reaksi yang dia tunggu sejak awal. Tanpa banyak kata, dia memberikan isyarat pada salah satu pengawal di ruangan itu. Beberapa detik kemudian, ponsel Ravian bergetar.

Sebuah titik lokasi muncul di layar. Ravian tidak menunggu lebih lama. Dia langsung berbalik dan melangkah cepat keluar dari ruangan. Namun sebelum benar-benar pergi, langkahnya terhenti sesaat di ambang pintu.

"Kek," ujarnya tanpa menoleh.

Doclan mengangkat alis. "Ya?"

"Kalau sesuatu terjadi padanya…" suara Ravian merendah, dingin dan tajam. "Aku bisa lepas darinya, kan?"

Sudut bibir Doclan terangkat tipis. "Kau tidak mungkin melepaskannya, Ravian."

1
Nur Hayati
seruuu... up yg banyak dong kak👍
Muft Smoker
lanjuut kak ,, lanjuut kak ,,
/Grin//Grin//Grin/
merry
Rick obesi dpt in let,, dia pikir gmpng
Ma Em
Semoga Aleta selalu selamat dari orang2 yg akan mencelakainya , untuk Clara kamu terima saja akibat dari perbuatannya yg selalu mengganggu Aleta .
Muft Smoker
dtggu kelanjutan ny kak ,,
Ma Em
Semangat Aleta tunjukan pada orang yg suka membuly mu dan balas perbuatan mereka , Aleta sekarang tdk bisa ditindas karena Aleta sekarang wanita pemberani , Ravian saja sekarang jadi penasaran sama Aleta
Pa Muhsid
sebentar lagi aroma bucin akan tercium, bukannya aleta tunangan yang dianggap pajangan Sama ravian itu 🤔🤔🤔
Muft Smoker
next kaaak ,,


aduuuh ad aj yg nyarii masalah sama aleta yx ,,
gx takut sama akibat ny tuuuh 🤭🤭🤭🤭😁😁😁
ᴊᴜʏ -ᴋɪᴍ
next
Muft Smoker
next kak ,,


waaaah ravian mulai penasaran niiih🤭🤭🤭🤭😒😒😒😒😒
ᴊᴜʏ -ᴋɪᴍ
Lanjut, dan semangat thor💪
Nur Hayati
up kak, ayooo..💪
azka aldric Pratama
ini masih di tahun yg sAma gk Ama si penghianat Thor 🤔🤔🤔
CaH KangKung,
👣👣
Muft Smoker
next kaaak ,,
ᴊᴜʏ -ᴋɪᴍ
Lanjut thor, dan semangat
Muft Smoker
aleta udh sfrekuensi dg km ravian ,, kuat , dingiin , Dan cerdas ,,
yakiiin mau di lepasiin😒😒😒😒😁😁😁😁
Abdul Rosyid294
lanjut ya
ᴊᴜʏ -ᴋɪᴍ
thor lanjut, dan semangat 💪
azka aldric Pratama
hadir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!