Satu malam karena pengaruh alkohol, Arkananta Mahendra merenggut segalanya dari Zevanya, seorang pelayan hotel yang tak berdaya. Arkan pergi tanpa tahu wajah wanita itu, meninggalkan Zevanya dengan janin yang tumbuh di rahimnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nia Rmdhn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dendam Siska Wijaya
ketegangan menyelimuti kediaman megah keluarga Wijaya.
Siska wijaya dan Clarissa adeline telah bersiap dengan pakaian mewah mereka,
"Sayang, kamu sudah siap?"
tanya Siska.
"Sudah, Mah. Ayo kita jalan sekarang,"
jawab Clarissa tidak sabar.
Langkah mereka terhenti saat suara hendra memanggil dari arah tangga.
"mau ke mana kalian pagi-pagi sudah serapi ini?"
Siska menoleh dengan senyum.
"aku mau menemui wanita bernama Zevanya itu. aku akan memberinya pelajaran agar tidak lancang mendekati calon suami anak kita."
Hendra menghela napas panjang,
wajahnya menunjukkan kekecewaan.
"kamu itu seharusnya memberikan contoh yang baik untuk Clarissa, bukan malah mendukungnya menyakiti orang lain."
"aku lakukan ini demi kebahagiaan Clarissa! Apapun akan aku berikan untuk anak kita,"
balas Siska dengan nada tinggi.
"Tapi tidak begini caranya! Masih banyak lelaki kaya yang jauh lebih baik.
Aku sendiri yang akan mencarikannya untuk Clarissa,"
Balas Hendra.
Siska tersenyum.
"Cukup, Hendra! Kamu tidak mengerti apa-apa. Clarissa hanya menginginkan Arkananta sebagai pendamping hidupnya!"
"Kamu terlalu memanjakan dia sejak kecil, Siska.
Pantas saja dia tumbuh menjadi gadis yang sangat keras kepala,"
keluh Hendra frustrasi.
"Sudahlah, diam saja di sini. Aku mau berangkat!"
Ucap Siska sembari menarik tangan Clarissa menuju mobil.
Setelah kepergian mereka,
Hendra melangkah lemas ke ruang kerjanya.
Ia menggebrak meja dengan penuh amarah.
Brak!
"Siska benar-benar keterlaluan!"
gumam hendra dengan nada tinggi.
Pikiran Hendra melayang ke masa lalu.
Sejak mereka kehilangan putri kandung mereka belasan tahun,
Siska menjadi sangat terpukul.
Untuk mengobati luka itu,
Siska mengangkat Clarissa,
dan memperlakukannya lebih dari anak kandung sendiri.
Hendra menyandarkan punggungnya di kursi,
menatap foto keluarga yang kosong tanpa kehadiran putri kandungnya.
"Sebenarnya di mana kamu, Nak? Siapa yang tega menculikmu dari ayah?
Ayah tidak tahu kamu ada di mana sekarang, tapi Ayah harap kamu hidup bahagia dengan siapapun yang membesarkanmu,"
rintih hendra dalam kesunyian.
Sementara itu,
Clarissa dan Siska telah sampai di mal pusat kota.
Mereka melangkah angkuh menuju area pertokoan.
"Di sini wanita miskin itu bekerja, Mah. Dia hanya seorang kasir rendahan,"
ucap Clarissa penuh penghinaan.
Namun, sesampainya di meja kasir,
sosok Zevanya tak terlihat.
Mata Clarissa melihat ke seluruh ruangan,
"Mana wanita itu? Kenapa tidak ada?"
Ucap clarissa,
Mereka akhirnya bertanya pada salah satu pegawai di sana.
Jawaban yang diterima justru membuat Clarissa marah.
"Zevanya? Oh, dia sudah lama berhenti dari sini."
Ucap Salah satu pegawai.
"Apa?! Sial!" maki Clarissa.
Siska segera menenangkan putrinya.
"Tenang, Sayang. Kita ke ruangan HRD sekarang. Mereka pasti punya data tempat tinggal wanita miskin itu."
Mereka bergegas menuju ruangan Pak Danu.
Di dalam,
Pak Danu tengah fokus pada laporan keuangan,
pak danu terkejut saat pintu ruangannya dibuka tanpa permisi.
"Siapa kalian?!" tanya Pak Danu.
"Saya Siska Wijaya! Pemilik perusahaan besar di kota ini,"
ucap Siska angkuh.
"Saya ingin informasi tentang karyawan bernama Zevanya. Dia pernah bekerja di sini, kan?"
Pak Danu terdiam sejenak.
Zevanya lagi? Kenapa banyak sekali yang mencarinya? batinnya heran.
"Benar, Zevanya pernah bekerja di sini. Tapi dia sudah resign sekitar satu tahun yang lalu karena ingin fokus mengurus anaknya,"
Ucap Pak Danu.
Clarissa Terkejut,
"Apa?! Jadi wanita itu sudah punya anak? Dia punya suami?"
Pak Danu menatap Clarissa dengan datar.
"Saya tidak tahu soal itu, yang jelas saat masih bekerja di sini, dia memang sedang hamil muda."
Siska semakin geram.
"Berikan alamat tempat tinggalnya sekarang!"
"Maaf, saya tidak tahu. Silakan hubungi orangnya langsung. Zevanya sudah tidak ada hubungan lagi dengan tempat ini,"
jawab Pak Danu tegas.
"Wanita itu sudah menggoda calon suami anak saya!"
teriak Siska menggebrak meja kerja Pak Danu.
"Perusahaan sebesar ini tidak menyimpan data karyawan? Jangan macam-macam dengan saya, saya bisa membeli perusahaan ini dalam sekejap! Saya keluarga Wijaya!"
Pak Danu berdiri,
mencoba tetap tenang meski hatinya mulai panas.
"Mohon maaf, Tolong hargai privasi dan prosedur kami. Data lama mungkin sudah tidak tersimpan."
Siska Wijaya mendengus kasar.
Dengan wajah merah padam,
ia menarik tangan Clarissa keluar dari ruangan itu.
"Ayo kita pergi clarissa!"
Sementara Arkan pulang ke rumah dengan bahu yang terasa berat.
Namun,
langkahnya terhenti saat melihat sosok Baskara,
Baskara duduk tegak di sofa besar ruang tamu,
"Arkan,"
panggil Baskara,
suaranya menggema di ruangan yang sunyi.
Arkan menghentikan langkahnya,
menatap ayahnya dengan sorot mata yang datar.
"Ada apa, Ayah?"
Baskara menatap ke arah putranya.
"Apa benar kamu mencintai wanita yang bernama Zevanya?"
"Tidak, Ayah. Aku tidak kenal dengan wanita itu,"
jawab Arkan cepat,
"Jawab yang jujur, Arkan!"
teriak Baskara.
Arkan menghela napas panjang,.
"Sudahlah ayah, aku lelah. Lagipula, sejak kapan Ayah peduli dengan perasaanku?"
Baskara tersentak,
"Arkan, kenapa kamu berbicara seperti itu pada Ayahmu sendiri?"
Arkan tidak terdiam.
Ia melangkah mendekat,
berdiri tepat di hadapan Baskara dengan tatapan tajam.
"Memang benar, kan?"
ucap Arkan dengan emosi yang tertahan.
"Selama ini, akulah yang selalu mengikuti kemauan Ayah.
Jadi, aku bicara jujur atau tidak tentang perasaanku, hasilnya akan tetap sama. Aku tetap harus menuruti perintah Ayah, bukan?"
Baskara terdiam sejenak,
melihat luka yang selama ini tersembunyi di balik kepatuhan putranya.
"Arkan... Ayah tidak akan memaksamu lagi. Dengan siapa pun kamu ingin menikah, Ayah tidak akan menghalangimu. Ayah hanya ingin tahu kebenarannya."
Arkan memalingkan wajah,
Dan tertawa kecil.
"Sudahlah, Ayah. Aku lelah dan ingin istirahat."
Saat Arkan membalikkan badan untuk pergi,
suara Baskara kembali terdengar,
kali ini dengan nada yang memohon.
"Semua yang Ayah lakukan selama ini... itu demi kebaikanmu, Arkan."
Arkan menghentikan langkahnya.
Tanpa menoleh,
ia menjawab dengan suara yang bergetar,
"Itu bukan demi kebaikanku, Ayah. Tapi demi kebanggaan Ayah sendiri."
Tanpa menunggu balasan lagi,
Arkan melangkah pergi meninggalkan Baskara sendirian,
Arkan menghempaskan tubuhnya ke ranjang,
menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong.
Suara ayahnya tadi masih terngiang,
memicu emosi yang selama ini ia pendam.
"Ayah selalu saja egois,"
gumam Arkan pelan,
"Dari dulu, Aku harus selalu menuruti apa yang dia mau, tanpa pernah sekali pun dia bertanya, apa yang sebenarnya aku inginkan?"
Ia memejamkan mata,
namun bayangan zevanya kembali muncul.
Aroma mawar seolah memenuhi indra penciumannya,
nyata namun tak tergapai.
"Lagi pula, Zevanya?"
Arkan tertawa pada kegelapan kamar.
" dia tidak benar-benar ada. dia hanyalah bayangan dari masa lalu yang aku ciptakan sendiri."
Ia meremas bantal di sampingnya,
seolah berusaha mengusir bayangan itu.
"Zevanya cuma ada di pikiranku....dan dia adalah hal yang tidak bisa aku miliki."
gas terus sampai mereka bersatu..💪💪💪