Menjadi janda di usia belia bukanlah sebuah pilihan, melainkan suatu takdir yang harus di jalani oleh Aisyah Naira. Wanita berusia 18 tahun yang harus berpisah dengan suami yang di cintainya karena di fitnah selingkuh dan di tuduh hamil anak dari laki-laki lain.
Ingin tahu bagaimana kehidupan Aisyah setelah empat tahun kemudian?
Apakah Aisyah sanggup menerima kenyataan ketika putri kesayangannya harus meninggal dunia di umurnya yang belum genap 4 tahun?
Dan bagaimana ketika takdir kembali mempertemukan Aisyah dengan sang mantan suami yang menyesali perbuatannya di masa lalu dan memohon kepadanya untuk rujuk?
follow IG author : asyiahmuzakir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asyiah Muzakir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 24 | Tamparan dan sebuah pernyataan
Aisyah POV.
Ketika aku masuk ke dalam kamar ICU Devano, aku menjumpai Rifa sedang menangis di samping Devano, tangisannya terdengar begitu menyayat hati dan sangat pilu, hingga aku sulit mendeskripsikannya dengan kata-kata.
"Devaaann, sampai kapan kamu buat aku tersiksa seperti ini?"
"Sekarang tolong bangun, perempuan yang selalu kamu sebut itu telah datang demi kamu, sayang," bisik Rifa sambil mengelus rambut Devano dengan tatapan penuh kasih dan juga sendu di matanya.
Aku berjalan menghampiri Rifa dan hanya terdiam seraya memandang wajah Devano yang terlihat sangat pucat dan dingin itu.
"Andai aja Devano gak pernah menikah sama kamu, dia gak akan sengsara seperti ini!" tandas Rifa bergerak mencengkeram erat bahuku.
"Kenapa? Kenapa kamu harus hadir di hidup Devano?!" kata Rifa seraya menarikku menjauh dari blankar tempat Devano terbaring koma.
"Andai aja aku bisa mengatur takdir, aku gak akan setuju menikah dengan Devano yang nyatanya lebih mencintai kamu lebih dari siapapun," ungkap ku dengan linangan air mata yang siap jatuh ke pipiku.
"Kalau aku tahu akhirnya bakal seperti ini, aku enggak akan menyetujui perjodohan itu, sebab aku pun ingin melihat Devano bahagia sebesar kamu menginginkannya." Suara ku mulai tersendat-sendat ketika mengatakannya.
Meskipun hatiku telah terbiasa dengan yang namanya luka, tetapi tetap saja rasanya akan selalu menyakitkan dan membuatku tak kuasa menahan air mata ini.
Kini Rifa menatapku dengan sorot kebencian yang begitu kuat di matanya.
"Kamu bilang ini takdir?...Hah! Apa kamu lupa kalau kamu sendiri yang memulai kehancuran ini? Kamu menikah dengan Devano di saat dia masih menjadi tunanganku!" ungkap Rifa dengan sorot mata terlukanya yang seketika membuatku merasa bersalah pada dirinya.
"Aku enggak punya pilihan lain, pada saat itu aku sangat membutuhkan biaya besar untuk pengobatan ayah! Jujur, aku hanya memikirkan tentang kesembuhan ayahku ketika menyetujui perjodohan itu," jelasku sambil terisak.
PLAK....
Rasa perih merambat di pipi kananku akibat tamparan keras dari Rifa. Aku tidak menyangka Rifa melakukan kekerasan seperti ini lagi kepadaku.
Aku mendongak dan menatapnya sembari memegangi pipiku yang masih terasa perih. Beruntung beberapa detik kemudian pintu ICU terbuka dan menampakkan Lee yang langsung menerobos masuk lalu segera menghampiriku dengan wajah cemasnya.
Melihat ada bekas tamparan di pipiku sontak membuat Lee marah dan bangkit lalu tanpa aku duga dia langsung menampar balik pipi Rifa bahkan lebih keras dari yang di lakukan wanita itu terhadapku tadi.
"Arghh!"
"Bisakah kau menghargai usaha Aisyah yang sudah bersedia menjenguk pria kesayanganmu yang tengah koma itu?" tegas Lee dengan suara pelan namun tajam.
"Lee, aku heran ya sama kamu, kenapa kamu mau membela janda seperti dia?" Pertanyaan Rifa tersebut membuat Lee bertambah emosi.
"Janda seperti Aisyah jauh lebih berharga daripada seorang gadis yang hobi memfitnah dan berbuat semaunya seperti kamu," pungkas Lee yang kemudian menarik tanganku untuk keluar dari kamar ICU itu, meninggalkan Rifa yang mengumpat tak terima.
"Aku anterin kamu pulang ya?" tawar Lee sambil menatapku penuh perhatian.
"Enggak, aku mau di sini, Devano tengah membutuhkan aku Lee," tolakku halus namun seketika membuat wajah Lee memerah entah karena apa.
"Bahkan di saat kamu di sakiti, kamu masih sempat memikirkan Devano? Huft, sebesar itukah kamu mencintainya?" Aku terdiam ketika Lee melontar kalimat tersebut dengan tatapan terlukanya yang membuatku langsung merasa bersalah kepadanya.
"Kamu mau tahu alasanku tetap bersikeras membantu Devano?" tanyaku seraya membalas tatapan Lee.
"Dari kecil Devano enggak pernah mendapat keadilan dan juga haknya, dia bagaikan robot yang di kendalikan oleh ayahnya...," ungkapku.
"Ketika dia sakit, tak ada yang mau memperdulikannya, ketika dia terluka, dia tak pernah mendapatkan obatnya, ketika dia ketakutan, tak ada yang bersedia melindunginya. Di keluarga Devan, hanya ibunya lah yang pengertian...."
"Oleh karena itu sepeninggal ibunya, Devano menjadi seorang laki-laki yang semakin rapuh, putus asa, dan hampir saja mengakhiri hidupnya," lanjutku dengan mata yang mulai berkaca-kaca karena mengingat kembali masa-masa dimana akulah yang menjadi penguatnya.
"Sore di waktu itu Devano sampai berniat melompat dari rooftop karena dia menganggap bahwa dialah penyebab kematian ibunya, pedahal yang namanya kematian itu adalah takdir setiap yang bernyawa,"
"Memangnya kalau aku boleh tahu, ibu Devano meninggal karena apa?"
"Apakah beliau sakit?" tanya Lee dengan wajah prihatinnya.
"Ibunya depresi karena selalu melihat Devan di sakiti oleh ayahnya, depresi itulah yang menyebabkan beliau terkena serangan jantung hingga akhirnya meninggal dunia," terangku seraya menahan rasa sesak di rongga hati.
"Lebih menyesakkannya lagi, ibunya sempat menitipkan Devano kepadaku sehari sebelum kepergiannya...," kataku sembari menahan tangisan.
"Dia bilang kalau aku adalah teman pertamanya Devano, lalu dia berpesan padaku untuk terus menemani Devano sampai kapanpun...."
"Pesan itulah yang membuatku akhirnya berpikir kalau selamanya aku harus menemani Devano dan memastikan dia bahagia," ungkapku.
"Jikalau Devano bahagia bersama wanita lain, apakah kamu masih mau menemaninya?" pertanyaan Lee tersebut seperti menyadarkan aku kalau masih ada Rifa diantara aku dan Devano.
"Aisyah? kenapa diam?" tanya Lee seraya menatap wajahku.
"Emh, lebih baik kita makan siang dulu yuk," sahutku yang mengalihkan pembicaraan karena jujur saja sulit rasanya menjawab pertanyaan Lee tadi.
"Oke, kamu mau makan siang di mana?" tanya Lee yang sepertinya mengerti kalau aku tak ingin membahas tentang hubungan Devano dengan Rifa.
"Aisyah, kamu bengong lagi, sekali lagi aku tanya, mau makan dimana?" ulang Lee.
"Di kantin Rumah sakit aja," jawabku singkat sambil tersenyum tipis.
*****
Seusai makan siang, aku dan Lee mengobrolkan banyak hal tak terkecuali tentang kehidupan pribadinya.
"Aisyah, eomma mau ketemu sama kamu, apa kamu mau meluangkan waktu untuknya?" tanya Lee dengan wajah penuh harap.
"Oke, aku seneng bisa ketemu sama ibu kamu Lee," jawabku excited sebab inilah kali pertamanya Lee memintaku untuk bertemu ibunya semenjak tiga tahun persahabatan kami.
"Tapi...ibuku itu sedikit sensitif soal keyakinan, apakah kamu masih mau menemuinya?"
"Tenang aja, Lee...soal itu aku gak keberatan kok, aku malah seneng bisa ketemu sama ibu kamu," jawabku yang lantas membuat Lee tersenyum manis seraya menatapku.
"Makasih ya Syah...."
"Andai kamu tahu kalau aku mencintaimu, Aisyah."