Kanara, enam tahun, memilih diam dan takut pada cermin.
Nura datang hanya untuk menolong, tapi malah terikat pada Elang, ayah Kanara, duda kaya yang menyimpan luka dan penyesalan.
Di antara tangisan dan kasih yang tumbuh perlahan, cinta hadir tanpa rencana. Namun saat masa lalu mulai terkuak, Nura harus memilih, pergi untuk melindungi diri atau bertahan mencintai dua hati yang sama-sama terluka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shalema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Batas perlahan menghilang
Pagi itu, rumah besar itu mulai terasa seperti hunian, bukan lagi sekadar bangunan megah yang dingin.
Nura, yang sudah terbiasa dengan ritme hidup sederhana, tetap bangun saat langit masih remang. Setelah sempat menjahili Zoya dengan rentetan foto kemewahan kamarnya, ia turun ke dapur dengan langkah ringan. Rambutnya diikat asal, tanpa riasan, hanya kesegaran alami dari wajahnya.
Saat Nura sedang mengoles selai kacang di atas rotinya, Elang muncul. Kemeja rumahnya yang santai dan lengan yang tergulung memberikan kesan yang lebih akrab. Bagi Elang, melihat Nura di dapurnya memberikan rasa hangat yang asing tapi ia rindukan.
“Kamu… bangun cepat,” sapa Elang. Suaranya yang berat memecah keheningan subuh.
“Iya, Pak. Sudah terbiasa,” jawab Nura sedikit terkejut.
Elang duduk di meja makan, tatapannya masih tidak lepas dari Nura.
“Hmm… Pak Elang mau bikin kopi, atau teh? Saya bisa bikinin sekalian.”
Elang mengangkat satu alisnya. “Memang kamu bisa bikin kopi?”
“Meskipun bukan barista profesional, kalau cuma bikin kopi biasa, saya masih bisa,” jawab Nura sambil terus mengaduk cangkir tehnya.
“Boleh,” ucap Elang dengan senyum jail. “Kopinya di dalam kabinet atas.”
Nura mengikuti arahan yang diberikan Elang. Kakinya berjinjit sedikit. Ia mencari di rak bawah, tidak ada. Kemudian mencoba ke rak atas, tidak ada juga. “Maaf, Pak. Nggak ada.”
“Ini ada.”
Nura mematung. Elang sudah berdiri tepat di belakangnya. Jarak mereka sangat tipis, hingga aroma maskulin yang bercampur dengan sisa sabun mandi pria itu memenuhi indera penciuman Nura. Napas hangat Elang terasa di kulit lehernya, membuat bulu kuduk Nura meremang, bukan karena dingin, tapi karena debaran jantung yang mendadak liar.
Elang sedikit menunduk melihat ke arahnya matanya. Nura segera mengalihkan pandangan. “Itu bukan bubuk kopi,” ujar Nura pelan.
Elang tertawa lembut, suara yang baru pertama kali didengar Nura. Hangat dan menenangkan. “Di sini nggak pakai bubuk kopi, Ra.”
Panggilan ‘Ra’ itu terasa begitu intim di telinga Nura. Seolah sekat profesional di antara mereka baru saja retak satu inci.
Elang tersenyum, kemudian melangkah ke arah mesin coffee maker. “Kamu ngopi?” tanya Elang sambil memasukkan biji kopi ke dalam wadah besi khusus.
“Sesekali,” jawab Nura.
“Sini! Saya kasih tahu cara bikinnya,” ucap Elang sambil menoleh kembali ke arahnya.
Ia kemudian mengajarkan Nura cara kerja mesin coffee maker yang rumit itu. Bahu mereka sesekali bersentuhan, menciptakan listrik statis yang membuat Nura sulit fokus pada penjelasan Elang.
Saat kopi siap dan Nura menyesapnya.
“Wow, ini enak banget. Beda jauh sama kopi sachetan yang biasa kubeli,” pikirnya dalam hati.
“Enak?” tanya Elang kembali mengangkat satu alisnya.
Nura mengangguk dengan cepat. Ia secara tidak sengaja menjilat bagian atas bibirnya, karena ada sedikit tetesan kopi yang menempel di sana.
Elang terpaku. Tatapannya terkunci pada bibir Nura yang sedikit basah.
“Kenapa dia ngeliatin aku kayak gitu?”
Tring
Suara benda jatuh memecah kesunyian.
Kanara sudah berdiri di ambang pintu dapur, masih mengenakan baju tidur dengan rambut yang masih kusut. Matanya yang polos menatap heran pada ayahnya dan Nura yang berdiri begitu dekat.
Elang segera menjaga jarak, sementara Nura berusaha menetralkan wajahnya yang memanas.
“Selamat pagi, Kanara,” sapa Nura lembut.
Pagi itu berlanjut dengan Elang yang mengambil alih dapur untuk membuat sarapan sederhana. Mereka bertiga makan dalam keheningan yang nyaman, sebuah pemandangan keluarga kecil yang sudah lama menghilang dari kehidupan Elang.
Sesi terapi pagi dilakukan dengan sederhana. Tanpa alat terapi khusus, hanya kertas gambar dan alat mewarnai. Nura meminta Kanara menggambarkan perasaannya pagi ini.
Sambil menunggu Kanara, Nura duduk sambil membalas pesan-pesan Zoya yang sejak tadi meneror ponselnya dengan rasa penasaran.
Tiba-tiba ponselnya bergetar. Panggilan video masuk.
“Astaga, Zoy… sabar dikit napa,” gumam Nura. Ia bergerak menjauh seraya mengangkat panggilan itu.
Wajah Zoya langsung memenuhi layar, ekspresinya antara melongo dan histeris.
“Nura! Itu foto-foto yang kamu kirim tadi beneran? Itu kamar kamu atau hotel bintang lima?”
“Kamar tamu, Zoy. Tapi memang fasilitasnya luar biasa,” jawab Nura pelan sambil melirik Kanara yang masih asyik menggambar.
“Gila ya, Ra. Terus… gimana perkembangan kamu sama si duda keren itu? Ada kemajuan?” Zoya menaik-turunkan alisnya dengan wajah jahil.
“Kemajuan apa sih? Aku di sini kerja, Zoya. Tadi pagi emang sempet bikin kopi bareng, sarapan…”
“Bentar! Bentar!” potong Zoya cepat. “Bikin kopi bareng? Maksud kamu, di dapur yang luas itu, cuma ada kamu dan dia, saat matahari belum terbit? Terus ada adegan mata ketemu mata nggak? Atau tangan yang nggak sengaja bersentuhan pas ambil gula?”
Nura merasakan pipinya kembali memanas. “Ya… tadi dia emang bantuin ambil toples di rak atas. Dia berdiri di belakangku, Deket banget sampai aku bisa nyium parfumnya.”
Zoya berteriak tanpa suara di layar ponselnya, menutup mulutnya dengan kedua tangan. “Tuh, kan! Apa Aku bilang! Itu namanya magnet! Magnet Nura!” seru Zoya, suaranya naik satu oktaf meskipun dia berusaha berbisik. “Terus kamu gimana? Pingsan gak?”
“Ya, nggak pingsan juga, Zoy. Cuma lupa cara bernapas lewat hidung. Mana kalau bangun tidur suaranya berat banget lagi…”
“Aduh, aduh, morning voice!” Zoya memegang dadanya seolah-olah dia yang sedang jatuh cinta. “Duh, kalau aku jadi kamu, mending aku pura-pura jatuh ke pelukannya. Klasik, tapi manjur,” lanjutnya.
“Zoya, stop! Kamu tuh kebanyak nonton drama Korea.” Nura memijat pangkal hidungnya.
“Ra, dengerin aku. Cowok modelan pak Elang itu nggak bakal sembarangan biarin cewek masuk ke area pribadinya. Dia gak akan mau berdiri sedekat itu, kalau dia nggak nyaman sama kamu. Jangan polos banget jadi cewek. Dia itu lagi ngasih lampu hijau, Ra! Hijau royo-royo.”
Nura mengigit bibir bawahnya, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang mendadak liar lagi. “Zoy, jangan ngaco. Dia itu cuma mau bantu aku. Lagian ada Kanara di sini, aku harus profesional.”
“Halah, alasan!” Zoya mencibir di layar. “Profesional itu kalau kamu nyapa, ‘selamat pagi pak', terus lanjut kerja. Kalau ini namanya prolog novel romantis, Ra!”
“Zoya! Sudah ah–”
“Satu lagi, Ra!” potong Zoya cepat. “Inget ya, duda keren itu biasanya gercep kalau udah dapat sinyal yang pas. Kamu jangan kuper-kuper banget, dandan dikit napa kalau mau sarapan besok.”
“Aku tutup ya, Kanara sudah selesai gambarnya!”
“Eh, eh, jangan lupa update kalau ada adegan…”
Klik.
Nura mematikan sambungan secara sepihak. Ia menarik napas panjang, berusaha mendinginkan wajahnya yang terasa terbakar. Namun, saat ia berbalik hendak menghampiri Kanara, tubuhnya membeku.
Elang sudah berdiri di belakangnya, menyandar ke dinding taman dengan tangan terlipat di dada. Pakaiannya sudah diganti dengan setelan kerja. Tatapannya sulit diartikan, namun ada lengkungan tipis di sudut bibirnya yang membuat lutut Nura lemas.
“Sudah selesai gosipnya?” tanya Elang dengan suara rendah. "Zoya itu... teman satu kontrakan kamu, kan?" Ada kilat geli di matanya.
Nura masih mematung. Sejak kapan dia berdiri di sana? Apa dia dengar soal 'duda keren' atau 'parfum' tadi?"
"I-iya, Pak. Maaf kalau... berisik," jawab Nura gugup, tangannya refleks meremas ponsel.
Elang melangkah pelan ke arah Nura, lalu berhenti dengan jarak satu jengkal, jarak yang hampir sama dengan tadi pagi.
"Saya tidak keberatan kamu berbicara dengan temanmu," Elang berkata dengan suara rendahnya, persis di telinga Nura. " Dan, Kalau kamu mau pingsan, saya siap untuk menangkap."
Wajah Nura memerah. Ia menggigit bibirnya menahan malu.
Elang memundurkan kepalanya, menatap wajah Nura, lalu tertawa cukup keras.
"Saya harus ke kantor sebentar," katanya setelah tawanya reda. “Boleh saya minta nomor WhatsApp-mu? Biar saya bisa memantau kondisi… Kanara dari kantor.”
Nura terpaku. Nomor WhatsApp? Alasan yang logis, tapi entah kenapa terasa seperti langkah awal yang berbahaya.
“I-iya Pak, Boleh,” jawab Nura pelan, mencoba terlihat profesional meski di kepalanya tawa Elang terngiang-ngiang. Ia yakin, seratus persen yakin, kalau Elang mendengar percakapannya tadi.
kasian kl tiba2 histeris
Aku seneng bacanya, aku seneng membaca cerita yg seolah nyata tdk terlalu terasa Fiktif. Semoga Karya Author terus bisa kami nikmatii ... 😍😍