"Aku akan membayarmu" Ucap Vaya sahabatnya.
"Kamu bercanda Va" Tanya Maura memastikan.
Sebuah tawaran yang cukup gila, membuat Maura harus menjalani hari - harinya bersama Gilang. Seorang pria tampan yang mempunyai segudang pengagum.
"Kamu cukup menjadi asistennya, dan buat dia jatuh cinta"
"What.!!" Teriak Maura.
Apakah Maura setuju dengan tawaran yang diajukan oleh Vaya?
Apakah Maura sanggup menjalani hari - harinya bersama Gilang?
Lalu hubungan seperti apa yang akan terbentuk antara Maura dengan Gilang?
Yuk mampir, ikuti kisahnya😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kurniasih Paturahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hampir Saja
Rasa bersalah memang sangat ku rasakan sekarang. Rasa lelahmu karena bersamaku. Tapi aku tak ingin jauh darimu. Aku punya caraku sendiri untuk mengatasinya.
-Gilang-
🌿🌿🌿
Gilang menatap Maura.. Tangannya masih setia menggenggam tangan Maura. Sesekali ia mengusap lembut wajah Maura dan tersenyum kemudian.
Maura sekarang tertidur di kamar Gilang, baru saja dokter memeriksanya. Maura hanya kelelahan, dia hanya perlu istirahat yang cukup. Mendengar itu membuat Gilang merasa bersalah akhirnya. Dirinyanlah yang berhak disalahkan atas kondisi Maura sekarang.
Gilang tak habis fikir, kenapa Maura bisa terkunci di dalam toilet. Entahlah.. ada seseorang yang sengaja melakukannya atau memang pintu itu tak sengaja terkuci, mungkin saja sudah rusak sejak awal.
Gilang menatap kembali Wajah Maura. Diusapnya lagi wajah itu.
"Bangunlah.." Pinta Gilang.
Beberapa menit kemudian, Maura mulai tersadar. Tangannya sedikit demi sedikit bergerak. Gilang merasakan itu, karena sejak tadi Gilang masih menggenggam tangan Maura.
Mata Maura akhirnya mulai membuka perlahan, pandangannya makin lama makin terlihat jelas sekarang. Gilang terlihat tersenyum menatapnya. Tanpa di sadari Maurapun tersenyum menatapnya juga.
"Gilang." Kata pertama yang diucapkan Maura saat itu.
"Kamu sudah sadar Ra."
"Apa aku pingsan tadi?" Gilang mengangguk.
Maura merasa senang saat itu, saat mengetahui orang yang menyelamatkan dirinya adalah Gilang. Gilang tak melupakan Maura dan mau membantu dirinya.
"Maafkan aku Ra, aku minta maaf, seharusnya aku cepat membaca pesanmu." Ucap Gilang saat itu dan telihat sangat tulus terdengar.
"Aku yang minta maaf, aku sudah merepotkanmu."
"Sudahlah.. Kamu minum obat dulu." Ucap Gilang lagi, sambil melepaskan genggamannya dan meraih sebuah gelas berisi air putih dan sebungkus obat.
"Obat apa itu?"
"Hanya vitamin."
"Pahitkah?" Tanya Maura dengan wajah yang sangat jelas menunjukkan ketidaksukaannya.
"Tidak.."
"Kamu pasti bohong?" Tanya Maura dan mencoba untuk duduk saat itu.
"Makanya kamu coba dulu, mana tau kalau kamu tidak meminumnya."
"Aku enggak mau coba-coba."
"Hayolah Ra.. ini baik untuk kesehatanmu. Aku mesti bagaimana, supaya kamu mau meminumnya."
Maura tersenyum dan tertawa akhirnya. ia menatap wajah Gilang yang penuh dengan kebingungan saat itu.
"Iya, Aku minum.. kamu tak perlu menawarkan apapun, jika nantinya kamu tak bisa memenuhinya." Ucap Maura sambil meraih gelas dan obat yang digenggam Gilang saat itu lalu segera meminumnya.
Gilang terdiam, kata-katanya menusuk sekali. Gilang sadar dengan ucapan Maura tadi. Maura sedang menyindir dirinya. Menyindir kebodohannya.
Semalam, Gilang tak dapat memenuhi permintaan Maura, permintaan untuk menjauhi Laras. Maurapun sadar, seharusnya dia tak meminta hal seperti itu. Dirinya tak lebih dari seorang asisten. Ia tak berhak untuk mengatakan itu.
"Lihat aku sudah meminumnyakan." Ucap Maura lagi dengan senyum mengukir di wajahnya dan menghapus lamunan Gilang saat itu.
Setelah meminumnya, Maurapun bangung dari duduknya dan sudah berdiri di hadapan Gilang sekarang. Ia merasa sudah cukup baik. Namun tiba-tiba tangan Gilang meraih pergelangan tangan Maura, menahannya untuk tidak pergi.
"Kamu mau kemana?" Tanya Gilang dan ikut berdiri saling berhadapan.
"Aku pulang ya, ini sudah semakin sore."
"Dokter bilang, kamu mesti istirahat yang cukup."
"Aku bisa lanjut istirahatku di kostan."
"Tidak."
"Maksudmu, tidak?" Tanya Maura menatap penuh kebingungan.
"Kamu istirahat di sini, aku enggak izinkan kamu pulang."
"Loh.. tapi.."
"Dokter bilang kamu kelelahan, aku sudah membeli kamar di sebelah kamar apartemenku ini. Mungkin besok atau lusa, kamu sudah bisa menempatinya."
"Hah.. membeli!" Teriak Maura tak percaya.
"Ya.. jadi kamu enggak perlu menghabiskan banyak tenaga dan waktu untuk datang bekerja."
"Tapi Lang.. bagaimana aku membayarnya?"
"Aku enggak memintamu untuk membayarnya, kamu cukup bekerja bersamaku saja."
"Tapi.."
"Tidak ada tapi-tapian. Itu sudah keputusanku."
Maura mematung mendengarnya. Ia bingung mau berkata apa lagi. Masih menatap tak percaya dengan apa yang barusan di dengarnya.
"Sekarang.. kamu istirahat saja. Jangan terlalu banyak berfikir." Pintanya lagi dan melepas pergelangan tangan Maura.
Lalu.. Gilang tiba-tiba saja membungkuk setelah mengucapkan itu. Ia menggendong Maura dan membuat Maura terkejut atas tindakannya.
"Kamu mau ngapain?" Tanya Maura dengan jantung yang tiba-tiba berdetak sangat cepat. Tangannya berusaha memegang tubuh Gilang, Yah.. Maura terkejut dan takut terjatuh. Ia tak siap saat tiba-tiba saja Gilang menggendong dirinya.
"Memintamu untuk istirahat.."
"Aku bisa sen..di..ri.." Jawab Maura gugup dan Gilang berhasil mendaratkan tubuh Maura di atas kasur yang posisinya jelas sangat dekat dengan mereka.
Gilang perlahan meletakan tubuh Maura , lalu kakinya dan terakhir kepalanya. Gilang dan Maura terdiam untuk beberapa detik, saling menatap kembali.. Menatap satu sama lain. Dengan jantung yang berdetak makin cepat.
Wajah Gilang makin mendekat ke wajah Maura. Hampir tak ada jarak dikeduanya. Jantungpun sudah semakin berdebar tak karuan.
Semakin mendekat.. hembusan nafas keduanya sudah sangat jelas terasa sekarang. Hidung mereka bertemu dan..
Maura memalingkan wajahnya segera.. Ia menggigit pelan bibirnya sendiri, rasa gugup menyelimutinya.
Gilangpun tersadar akhirnya. Ia sudah terbawa suasana saat itu. Iapun bangkit dari posisinya sekarang. Rasa gugup mulai menyelimuti dirinya juga.
Gilang mengatur nafasnya kembali begitupun Maura. Saling menenangkan diri, dan mencoba bersikap tenang.
"Istirahatlah.." Ucap Gilang sambil menarik selimut dan menutupi tubuh Maura saat itu.
Maura hanya diam, ia tak berani menatap Gilang. Maura masih sangat gugup saat itu. Gilangpun pergi akhirnya. Meninggalkan keterkejutan yang baru saja terjadi.
Berjalan perlahan, sambil menggerutu sendiri. Sampailah dirinya di depan pintu kamarnya dan bersandar kemudian. Sepanjang jalan dia berfikir. Kenapa dirinya tiba-tiba mau melakukan itu pada Maura.
Gilang ingin mencium Maura.. mencium bibirnya.
Sedangkan Maura dengan jantung yang masih berdetak kencang, mentap langit-langit kamar apartemen Gilang. Ia menyentuh perlahan bibirnya sendiri. Wajah Gilang yang begitu dekat dengan wajahnya kembali muncul dalam fikiran Maura.
"Hampir saja.." Ucap Maura sendiri.
.
.
.
.
Hemmm.. enggak ikutan komentar ahhhh mau lanjut ngedraft untuk bab berikutnya saja😅
Tinggalkan jejaknya dan likenya ya kak.
Di jadikan Favorite trus kasih Rate yang banyak. Supaya tambah semangat up nya.
💪😊
Semoga selalu setia membacanya dan menunggu upnya.
Mau likenya ya kak 😊
Mau ratenya juga ya kak😇
di Vote Alhamdulilah😁
Mampir juga yuk ke novelku yang lain, judulnya "Cinta Pak bos", Adit dan Ayna menunggu di sana😉
Terima kasih yang sudah Vote😘, yang sudah membaca, yang sudah hadir, yang sudah like, yang sudah komen. Terima kasih ya semoga betah di sini😊
lanjut
lanjut
semangat Thor, ceritanya bagus, penasaran laras maunya apa sekarang . . 💪
Tuan rumah ngebucinin Art sendiri