Apa yang menyebabkan seseorang Putra Kedua sang Raja menjadi sang Kultivator yang paling hebat?
____
So Guys! ini kisahlah kisah Qinar sang Kultivator kita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neon Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 23
Matahari di Puncak Mahkota tidak pernah benar-benar hangat, namun pagi ini cahayanya terasa berbeda. Aku berdiri di tepian tebing, memandang hamparan awan yang bergerak lambat di bawah kakiku. Tubuhku terasa sangat ringan, seolah gravitasi tidak lagi memiliki kuasa atas diriku.
Di usiaku yang kini menginjak sembilan tahun tiga bulan, aku telah melewati enam ujian yang nyaris merenggut nyawaku. Aku sudah bukan lagi bocah yang merintih kedinginan atau bocah yang menangis karena lapar. Level 6 Kultivasi, Tahap Inti Sejati, telah mengubah seluruh struktur keberadaanku. Darahku, tulangku, hingga setiap embusan napasku kini mengandung energi yang bisa membuat musuh berlutut hanya dengan satu tatapan.
"Kau tahu kenapa aku membawamu ke sini, Qinar?" suara Ki Kusumo memecah keheningan. Ia berdiri di belakangku, tangannya terlipat di dada, menatap bayangan besar yang kini muncul dari balik tebing.
Itu dia. Si Hitam, Beruang Hitam Inti Salju. Monster yang selama ini menjaga jalur pendakian tertinggi.
"Untuk ujian terakhir," jawabku singkat tanpa menoleh. Aku bisa merasakan detak jantungnya yang berdentum seperti genderang perang dari jarak sepuluh langkah.
"Tepat," sahut Ki Kusumo. "Seorang pemimpin bukan dilihat dari berapa banyak kepala musuh yang ia penggal. Tapi, dari kemampuannya membuat musuh terkuat sekalipun berlutut tanpa harus menumpahkan setetes pun darah."
Si Hitam meraung. Suaranya menggetarkan udara, menciptakan badai kecil yang menyapu salju di sekitar kami. Ia berdiri dengan dua kaki belakangnya, menunjukkan tinggi empat meter yang mengerikan. Taringnya yang sebesar belati berkilau tajam. Ia marah. Sepertinya, dia sudah tahu bahwa ini adalah ujian terakhir bagi bocah yang selama ini memberinya makan pucuk pinus.
"Peraturannya sederhana," Ki Kusumo melangkah mundur, memberi ruang yang cukup luas bagi kami. "Kau tidak boleh membunuhnya. Jika kau membunuhnya, kau gagal. Dan jika kau kalah... ya, kau tahu sendiri apa yang akan terjadi."
Aku melepas jubah luar yang mulai usang. Aku hanya mengenakan pakaian dalam tipis dari kain rami. Dengan tenang, aku melangkah maju menuju arah beruang itu.
"Si Hitam," panggilku pelan.
Beruang itu tidak peduli. Ia menghentakkan kaki depannya ke tanah, menciptakan retakan besar pada lapisan es. Ia tidak lagi melihatku sebagai teman yang memberinya embun subuh. Ia melihatku sebagai ancaman yang harus disingkirkan dari wilayah kekuasaannya. Ia menerjang.
Kecepatannya mengerikan. Dalam sekejap, cakarnya yang besar sudah berada di depan wajahku.
Wusss!
Aku tidak menghindar. Aku membiarkan cakar itu lewat tepat di depan hidungku, merasakan angin dari sabetan tajamnya mengiris rambut-rambut di dahiku. Aku bergeser tipis, menggunakan teknik Menangkap Angin yang kupelajari bertahun-tahun lalu. Aku berada tepat di sampingnya, di bawah ketiak beruang itu.
Ia meraung, mencoba memutar tubuhnya yang raksasa untuk menghantamku dengan punggungnya. Namun, aku sudah meluncur ke arah belakang, menempel di punggungnya yang penuh kristal es.
"Kau kuat, Hitam. Tapi kekuatan fisikmu tidak ada gunanya jika kau tidak tahu di mana harus menaruhnya," bisikku tepat di telinganya.
Aku tidak memukulnya. Aku tidak menendangnya. Sebaliknya, aku menempelkan telapak tanganku ke sepanjang tulang belakangnya. Aku menyalurkan Qi Level 6-ku, namun bukan sebagai energi destruktif. Aku mengalirkannya dengan sangat lembut, menyelaraskan aliranku dengan aliran energi es yang ada di dalam tubuhnya.
Beruang itu meronta. Ia berguling di atas salju, mencoba menghempaskan tubuhku. Brak! Bugh! Punggungku membentur es yang keras, tapi aku tetap bertahan. Aku menolak untuk melepaskan. Aku terus menyalurkan energi, membimbing aliran Qi-nya yang liar agar berputar secara harmoni di dalam inti tubuhnya. Aku sedang mengajarkannya—bukan dengan kata-kata, tapi dengan sentuhan—bagaimana cara mengendalikan kekuatannya sendiri agar tidak meledak ke luar.
"Tenanglah..." gumamku di tengah guncangan hebat. "Kau tidak perlu marah. Kau tidak perlu menjadi monster yang membenci dunia."
Tiba-tiba, beruang itu berhenti meronta.
Detak jantungnya yang tadi berdegup kencang seperti mesin rusak, kini perlahan melambat. Ia diam. Perlahan, ia mendarat dengan keempat kakinya. Ia menundukkan kepalanya, napasnya yang tadi panas dan penuh kemurkaan kini berubah menjadi embusan napas yang tenang.
Kristal-kristal es di punggungnya perlahan meredup. Ia tidak lagi mencoba menyerangku. Ia berlutut di depanku, menundukkan kepalanya yang raksasa ke atas salju, sebuah tanda ketundukan yang mutlak.
Aku melompat turun dari punggungnya. Aku menatap matanya yang berwarna biru es itu. Kini, tidak ada lagi kebencian di sana. Hanya ada rasa hormat.
"Kau adalah penguasa puncak ini," kataku sambil mengusap bulunya yang tebal dan kasar. "Aku tidak akan mengambil rumahmu. Tapi, mulai hari ini, kita bukan lagi penjaga dan pengunjung. Kita adalah mitra."
Ki Kusumo berjalan mendekat, wajahnya terlihat tak percaya. "Kau tidak membunuhnya, kau tidak melukainya, dan kau membuatnya berlutut. Kau memanipulasi titik meridiannya dengan energi murni."
Ia tertawa lepas. Suaranya membahana di puncak gunung. "Lulus! Ujian ketujuh selesai!"
Aku merasakan kepuasan yang luar biasa. Ini adalah ujian paling sulit bukan karena lawannya kuat, tapi karena aku harus menekan ego kekuatanku sendiri. Jika aku menggunakan kekuatan penuh untuk membunuhnya, mungkin aku bisa melakukannya dalam satu serangan. Tapi menaklukkan tanpa merusak? Itulah kekuatan yang sesungguhnya.
"Apa artinya ini, Ki?" tanyaku.
"Artinya kau sudah siap," Ki Kusumo mengeluarkan sebuah gulungan kain usang dari balik bajunya. "Ini adalah peta menuju kota terdekat, Gerbang Utara Kerajaan Geedapa. Kau sudah memiliki fisik sumsum berlian, indra keenam, dan kemampuan menaklukkan energi makhluk hidup. Sekarang, kau harus belajar bagaimana caranya hidup sebagai manusia di antara manusia."
Aku menerima gulungan itu. Hatiku berdesir. Sembilan tahun berlalu, dan sebentar lagi, aku akan menginjakkan kaki di dunia yang membuangku.
"Kita akan pergi sekarang, Ki?"
"Besok," jawabnya sambil menatap puncak yang kini disinari matahari pagi yang terang. "Malam ini, tidurlah di pelukan Si Hitam. Dia akan menjagamu satu malam terakhir. Besok, saat matahari terbit, kita akan meninggalkan Gunung Sandaran selamanya."
Aku berjalan mendekati Si Hitam, lalu merebahkan diri di samping bulunya yang hangat. Beruang itu segera mendekat, melingkarkan tubuh raksasanya di sekelilingku untuk melindungiku dari angin malam.
Aku menatap langit yang mulai gelap. Bintang-bintang bersinar terang, seolah sedang menungguku untuk menuliskan takdir baru. Sembilan tahun... aku sudah tumbuh menjadi pria muda yang siap menghadapi badai.
Ayah, jika kau bisa melihatku sekarang, kau akan menyesal pernah menganggapku sebagai pion yang bisa kau buang. Karena mulai besok, pion ini akan mulai melangkah untuk menggulingkan raja di atas papan caturmu.
Aku menutup mata, merasakan hangatnya tubuh Si Hitam. Untuk pertama kalinya, aku tidak memikirkan soal kekuatan, tidak memikirkan soal musuh. Aku hanya merasa siap.