Seorang Kaisar Abadi yang berkuasa dan ditakuti di seluruh alam semesta dikhianati dan dibunuh oleh orang-orang terdekatnya. Namun, alih-alih jiwanya hancur, ia terbangun kembali sebagai seorang pemuda tak berguna di sebuah klan kecil yang hampir punah, ribuan tahun di masa depan. Dengan semua ingatan dan pengetahuannya yang luas dari kehidupan sebelumnya, ia memulai kembali perjalanan kultivasinya. Kali ini, ia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Bayangan di Balik Jubah Merah
Arga tetap diam di balik rimbun dedaunan puncak bukit. Pria berjubah merah marun di bawah sana menatap tepat ke arah persembunyiannya, seolah dedaunan dan bayangan tidak berarti apa-apa bagi matanya yang tajam. Tongkat berkepala ular di tangannya berkilat diterpa cahaya senja, matanya yang terbuat dari batu rubi seolah hidup, mengikuti gerakan-gerakan kecil di sekitar.
"Aku menghitung sampai tiga," suara pria itu tenang, tapi mengandung otoritas yang tidak bisa dibantah. "Satu."
Dua belas pemburu berjubah hitam di belakangnya menyebar, membentuk formasi setengah lingkaran. Tangan-tangan mereka sudah memegang senjata—beberapa membawa pedang, beberapa membawa tongkat kristal seperti pemburu sebelumnya. Semuanya siap.
"Dua."
Arga menghela napas pelan. Benang Emas di Dantian-nya berdenyut tenang, memberinya rasa percaya diri yang tidak ia miliki beberapa jam lalu. Tapi ia tidak bodoh. Pria itu berada di ranah Pondasi puncak—jauh di atas levelnya saat ini. Bahkan dengan Benang Emas, ia mungkin hanya setara dengan kultivator Pemurnian Qi tahap keenam atau ketujuh. Melawan dua belas pemburu terlatih dan pemimpin mereka adalah bunuh diri.
Ia melangkah keluar dari persembunyiannya.
Gerakannya tenang, tidak menunjukkan ketakutan. Langkah Bayangan Bulan membantunya menuruni lereng bukit dengan anggun, kakinya nyaris tidak menyentuh tanah. Dalam beberapa tarikan napas, ia sudah berdiri dua puluh langkah dari pria berjubah merah.
"Bagus." Pria itu tersenyum. "Kau lebih masuk akal daripada yang kukira."
Arga tidak membalas senyumannya. "Siapa kau?"
"Aku?" Pria itu menepuk dadanya. "Panggil saja aku Darmaji. Aku pemimpin Ordo Pemburu Bayangan. Dan kau..." matanya menyipit, "...kau telah membunuh salah satu anak buahku dan mencuri inti Naga Bumi yang seharusnya menjadi milik kami."
"Inti itu tidak bertuan," jawab Arga datar. "Naga itu masih hidup saat aku mengambilnya. Aku tidak mencuri dari siapa pun."
"Teknis." Darmaji melambaikan tangannya. "Tapi kau membunuh anak buahku. Itu tidak bisa dibantah."
"Dia menyerangku lebih dulu. Aku membela diri."
Darmaji tertawa kecil. "Aku suka keberanianmu, bocah. Kebanyakan orang seusiamu sudah gemetar dan memohon ampun di hadapanku." Ia melangkah maju, mengurangi jarak di antara mereka. "Karena itu, aku akan memberimu pilihan."
Arga menunggu.
"Pertama, kau serahkan inti itu—atau sisa-sisanya, karena aku bisa merasakan sebagian besar energinya sudah kau serap—dan kau bergabung dengan Ordoku. Bakatmu... menarik. Sangat menarik. Dengan pelatihan yang tepat, kau bisa menjadi pemburu hebat."
"Atau?"
"Atau..." Darmaji mengangkat tongkatnya, kepala ular di ujungnya mulai berpendar merah, "...kau mati di sini. Dan aku mengambil inti itu dari mayatmu. Sederhana."
Keheningan melingkupi mereka. Dua belas pemburu menunggu, siap menyerang kapan saja. Angin sore berembus, menggoyangkan dedaunan dan membawa aroma tanah basah.
Arga mempertimbangkan pilihannya. Bergabung dengan Ordo Pemburu Bayangan bisa memberinya perlindungan dari Arman dan Baskara. Sumber daya. Informasi. Tapi juga berarti ia akan terikat pada orang-orang ini, mengikuti perintah mereka, mungkin melakukan hal-hal yang tidak ingin ia lakukan.
Di sisi lain, mati di sini bukanlah pilihan.
"Aku punya pertanyaan," katanya akhirnya.
Darmaji mengangkat alis. "Oh?"
"Siapa yang memesan inti Naga Bumi? Kau tidak mungkin berburu monster tingkat raja tanpa pesanan. Terlalu berisiko. Terlalu mahal."
Senyum Darmaji melebar. "Kau benar-benar pintar. Pertanyaan yang tepat." Ia menurunkan tongkatnya sedikit. "Baiklah. Aku akan memberitahumu, sebagai tanda niat baik. Yang memesan inti ini adalah seseorang dari Klan Wirya. Seorang kultivator bernama Baskara."
Jantung Arga berdetak lebih cepat. Baskara lagi. Paman Surya, Rudi, dan Beni. Orang yang bekerja sama dengan Arman untuk menghancurkannya.
"Kenapa dia butuh inti Naga Bumi?"
"Itu pertanyaan kedua." Darmaji menyeringai. "Dan jawabannya tidak gratis. Bergabunglah dulu dengan Ordoku, maka kau akan tahu banyak hal. Termasuk kenapa Baskara sangat tertarik padamu."
Arga menimbang. Darmaji jelas tahu lebih banyak daripada yang ia katakan. Tentang Baskara. Tentang Arman. Mungkin bahkan tentang warisan ibunya. Bergabung dengan ordo ini bisa menjadi jalan untuk mendapatkan informasi itu.
Tapi ia tidak bisa begitu saja percaya.
"Bagaimana aku tahu kau tidak akan membunuhku begitu aku menyerahkan inti?"
Darmaji tertawa. "Kau tidak tahu. Tapi kalau aku ingin membunuhmu, kau sudah mati. Percayalah." Ia menunjuk dua belas pemburu di belakangnya. "Mereka bukan pemburu biasa. Mereka adalah pembunuh terlatih. Satu perintah dariku, dan kau akan menjadi sasaran panah dan sihir sebelum sempat berkedip."
Itu mungkin benar. Tapi Arga juga tahu sesuatu yang tidak diketahui Darmaji: ia memiliki Benang Emas. Perisai Langit Kesepuluh mungkin bisa menahannya cukup lama untuk melarikan diri.
"Baiklah," kata Arga. "Aku akan bergabung. Tapi dengan syarat."
Darmaji menyeringai. "Kau dalam posisi untuk memberi syarat?"
"Aku ingin tahu semua yang kau ketahui tentang Baskara Wirya. Dan tentang Klan Sanjaya. Tentang Arman." Arga menatap lurus mata Darmaji. "Dan aku ingin jaminan bahwa kau tidak akan menyerahkanku pada mereka."
Darmaji terdiam. Matanya menatap Arga lekat-lekat, seolah mencoba membaca pikirannya. Lalu ia mengangguk pelan.
"Menarik. Kau tidak takut padaku. Itu langka." Ia menurunkan tongkatnya sepenuhnya. "Baiklah. Aku setuju. Sekarang, serahkan sisa inti itu."
Arga merogoh balik bajunya dan mengeluarkan inti yang kini hanya seukuran telur ayam. Bola emas itu berpendar redup. Ia melemparkannya ke arah Darmaji.
Pria itu menangkapnya dengan satu tangan. Ia mengamati inti itu sejenak, lalu mengangguk puas. "Separuh energi sudah kau serap. Tubuhmu kuat. Seharusnya kau sudah mati menyerap energi sebanyak ini."
"Aku beruntung."
"Keberuntungan tidak ada hubungannya dengan ini." Darmaji menyimpan inti ke dalam kantong di pinggangnya. "Kau menyembunyikan sesuatu, bocah. Tapi tidak apa-apa. Setiap orang berhak punya rahasia. Selama tidak mengancam Ordoku."
Ia berbalik dan mulai berjalan. "Ikutlah. Markas kami tidak jauh dari sini. Di perjalanan, aku akan ceritakan apa yang ingin kau ketahui."
Arga mengikutinya. Dua belas pemburu mengelilingi mereka, membentuk formasi pengawalan. Mereka berjalan menyusuri hutan yang semakin gelap seiring matahari tenggelam.
"Baskara Wirya," Darmaji memulai tanpa menoleh. "Dia bukan sekadar kultivator biasa. Dia adalah anggota dari sebuah organisasi rahasia yang disebut 'Lingkaran Naga Hitam'. Mereka pemburu warisan kuno. Benda-benda pusaka. Darah-darah istimewa."
Darah-darah istimewa. Arga langsung memikirkan Darah Langit Kesepuluh yang mengalir di tubuhnya.
"Mereka memburu orang-orang dengan garis keturunan khusus," lanjut Darmaji. "Mereka percaya bahwa dengan mengumpulkan darah-darah itu, mereka bisa membuka sesuatu. Sebuah gerbang. Ke tempat yang bahkan para Kaisar Abadi tidak bisa menjangkaunya."
Arga menahan napas. Langit Kesepuluh.
"Baskara mencurigai sesuatu tentangmu. Tentang ibumu. Dia tidak tahu persis apa, tapi dia yakin kau membawa sesuatu yang berharga. Itu sebabnya dia bekerja sama dengan Arman Sanjaya. Arman ingin kekuasaan atas klan. Baskara ingin kau."
Mereka tiba di sebuah tebing batu. Darmaji menyentuh permukaannya dengan tongkatnya, dan batu itu bergeser, memperlihatkan lorong gelap di baliknya.
"Markas kami," katanya. "Selamat datang di Ordo Pemburu Bayangan, Arga Sanjaya. Atau... siapa pun kau sebenarnya."
Arga melangkah masuk ke dalam kegelapan. Di belakangnya, pintu batu tertutup dengan suara gemuruh.
Lingkaran Naga Hitam. Nama baru. Ancaman baru. Tapi juga petunjuk baru.
Perjalanannya masih panjang. Tapi setidaknya sekarang, ia tidak sendirian.
kenangan pertama
hancurkan dia Arga