Dulu, ia adalah Thalia Alexandria—artis papan atas yang hidup dalam sorotan, dipuja dan dielu-elukan oleh jutaan penggemar. Namun, satu malam mengubah segalanya ketika ia ditemukan tak bernyawa di apartemennya sendiri. Saat membuka mata, dunia yang ia kenal telah lenyap. Ia bukan lagi sang bintang gemerlap, melainkan Thalia Anderson—gadis culun, pemalu, dan dipandang rendah oleh keluarganya sendiri. Lebih mengejutkan lagi, ia telah terikat pernikahan dengan Aiden Hugo Maverick, CEO muda yang dingin, kejam, dan sama sekali tidak mencintainya.
Dihina oleh ibu tiri, disakiti saudara tiri, dan dipermalukan di lingkungan kampus, hidup barunya terasa seperti neraka. Namun, mereka semua tak menyadari satu hal—di balik penampilan polos itu, tersembunyi jiwa seorang ratu panggung yang tak mudah ditaklukkan. Dengan tekad membara, Thalia berjanji akan membalikkan keadaan. Termasuk menaklukkan hati sang CEO yang dingin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26
Beberapa hari berlalu sejak video rekaman Thalia dengan Liam ditunjukkan Marrie kepada Yoshi. Namun, alih-alih menemukan jawaban, Yoshi justru semakin tenggelam dalam amarah.
Di kantor, suara bentakan menjadi hal biasa.
"Laporan macam apa ini?!" Yoshi melempar map ke meja rapat. Manajer produksi pucat pasi. "Sudah kukatakan, aku tidak mau alasan, aku mau hasil!"
Keringat dingin mengalir di pelipis para manajer. Mereka tahu, setiap kali Tuan Yoshi masuk ruangan, suasana bisa berubah menjadi neraka dalam sekejap.
Di rumah, keadaannya tidak lebih baik. Marrie, yang biasanya ahli menyembunyikan raut wajah, kerap jadi sasaran.
"Kenapa kau tidak bisa seperti Renatta?!" suara Yoshi bergema di ruang keluarga, nadanya penuh amarah. "Renatta tidak pernah membuatku kecewa. Dia mendukungku di saat tersulit. Dia tahu caranya menjaga keluarga ini. Lalu kau? Apa yang sudah kau lakukan, Marrie?!"
Marrie berdiri kaku, wajahnya tetap tenang meski hatinya mendidih. Nama Renatta-istri pertama Yoshi, mendiang ibu kandung Thalia-selalu jadi bayangan yang menghantui. Baginya, Renatta adalah hantu yang tidak pernah benar-benar mati, karena Yoshi selalu menyebut-nyebutnya di saat frustrasi.
Renatta, Renatta, Renatta! Marrie meremas gaun di tangannya. Aku masih hidup, tapi yang dipuja tetap perempuan mati itu. Kau akan menyesal, Yoshi.
Di sisi lain, Nadine hanya bisa diam setiap kali mamanya dibentak. Ia takut, sekaligus jengkel. Papa ini makin gila. Tapi kalau Mama kalah, bagaimana dengan aku?
Suatu sore, Yoshi duduk di ruang pertemuan hotel bintang lima. Di hadapannya, seorang pria berusia empat puluhan, perut buncit sedikit, rambutnya bergaya rapi, namun matanya penuh kelicikan.
Itulah Abraham Jackson, pewaris Jackson Corp -konglomerasi tambang gas dan batu bara terbesar di negeri itu. Nama pria berusia 52 tahun ini sering muncul di berita, bukan hanya karena bisnisnya yang sukses, tetapi juga gaya hidupnya yang flamboyan. Dua istri, beberapa selingkuhan, dan pesta mewah yang selalu jadi bahan gosip majalah elit.
"Jadi," Abraham menyandarkan tubuh di kursi, menyeruput wiski. "Kau ingin aku menanamkan modal di perusahaan Anderson?"
Yoshi mengangguk, menunduk sedikit.
"Perusahaan kami sedang kesulitan arus kas. Jika Jackson Corp bersedia bekerja sama, aku yakin bisnis kami bisa kembali stabil. Dan kami akan memberikan keuntungan yang sepadan kepada Jackson Corp"
Abraham tersenyum miring. "Hm. Aku bisa saja mengucurkan dana. Tapi, tentu saja, setiap investasi ada syaratnya."
"Apapun yang anda minta," Yoshi mencondongkan tubuh. "Asal perusahaan ini bisa bertahan."
Abraham menatapnya dengan mata penuh perhitungan. "Aku menginginkan sesuatu yang... istimewa. Atau lebih tepatnya, seseorang."
Alis Yoshi berkerut. "Maksudnya?"
"Aku ingin anakmu." Abraham menegakkan duduk, menyilangkan tangan. "Aku sudah punya dua istri. Aku ingin anakmu menjadi istri ketigaku."
Yoshi terdiam. Kata-kata itu seperti bom yang baru saja meledak di telinganya. "Itu... bagaimana bisa."
"Kenapa?" Abraham terkekeh. "Itu tawaran. Dengan begitu, aku akan menanamkan modal besar di Anderson Corporation. Kau akan punya stabilitas. Keluargamu akan tetap dipandang terhormat. Apa kau pikir ada banyak orang yang bisa menyelamatkanmu saat ini? Jawabannya: tidak banyak."
Yoshi menggertakkan gigi. Menyerahkan anakku... demi perusahaan?
Namun, gambaran laporan keuangan, desakan karyawan, ancaman mogok, dan wajah manajer-manajer yang putus asa kembali menghantam pikirannya. Anderson Corporation sudah di ujung tanduk.
Abraham menepuk meja. "Pikirkan cepat, Yoshi. Bisnismu tidak bisa menunggu lama. Aku bisa menolongmu, tapi aku butuh imbalan sepadan. Kau tahu aku tidak tertarik hanya pada angka-angka di atas kertas."
Yoshi menutup mata sejenak. Ketika membuka, suaranya bergetar, tapi tegas. "Baik. Aku... aku setuju."
Senyum Abraham melebar. "Bagus. Aku tunggu kabar. Jangan buat aku menunggu terlalu lama."
Di rumah, Marrie terbelalak mendengar cerita suaminya. "APA?! Papa setuju menyerahkan salah satu anakmu jadi istri ketiga pria hidung belang itu?!"
Yoshi menghantam meja ruang keluarga. "Apa pilihan lain yang aku punya, Marrie?! Tanpa investor, Anderson akan hancur!"
Nadine menutup mulut, pura-pura kaget, padahal telinganya justru bersemangat mendengar kabar itu.
Marrie berjalan mondar-mandir, lalu menghentikan langkahnya dengan senyum licik. "Kalau begitu, jawabannya mudah. Serahkan saja Thalia."
Mata Yoshi membesar. "Thalia?"
"Ya," Marrie mendekat, suaranya licin seperti ular. "Daripada anak itu jadi simpanan pria tua entah siapa-" ia melirik Nadine yang mengangguk-angguk, "-lebih baik sekalian saja dia jadi istri sah. Paling tidak, kalau bersama Abraham, ada status resmi. Dan keluarga Anderson akan selamat."
"Benar, Papa," Nadine menambahkan dengan manis. "Kalau Aurora atau orang lain tahu Thalia jadi istri ketiga Tuan Abraham, apa itu masalah? Tidak, justru keluarga kita akan dipuji. Abraham orang berkuasa. Sementara aku-" ia menunduk, berpura-pura rendah hati, "aku masih bisa menjaga nama baik keluarga di kalangan kampus."
Yoshi duduk terdiam, wajahnya keras. Anak itu sudah durhaka. Kalau benar dia sudah jadi simpanan, apa bedanya dengan jadi istri Abraham?
Setidaknya ini untuk menyelamatkan perusahaan.
Marrie mendekat, menatap Yoshi dengan tatapan penuh pengaruh. "Ini jalan terbaik, Sayang. Kau tidak ingin perusahaan ini hancur, bukan?"
Akhirnya, Yoshi mengangguk perlahan. "Baik. Kita serahkan Thalia."
Marrie dan Nadine saling bertukar pandang. Senyum puas muncul di wajah mereka. Sebentar lagi, semuanya akan jadi milik kita.
Malam itu, di mansion Maverick, Thalia tidak tahu sedikit pun tentang rencana busuk yang sedang dijahit keluarga Anderson.
Ia sibuk di ruang latihan, berdiri di depan cermin besar. Rambutnya diikat sederhana, matanya fokus, tubuhnya bergerak mengikuti koreografi yang ia ulangi berkali-kali.
"Cekali lagi, Mama!" Liam berseru dari sofa kecil, memegang bonekanya, memberi semangat dengan cadel khasnya. "Mama halus juala!"
Thalia tertawa kecil, lalu kembali melangkah, memutar tubuh, mengatur napas, dan menyalurkan seluruh konsentrasi. Besok adalah jadwal WTBS episode 2, sebuah acara yang penting baginya.
"Kalau Mama berhasil," Thalia tersenyum pada Liam, "nanti kita rayakan makan es krim, ya."
"Yaaay! Ec klim!" Liam melompat-lompat, membuat Thalia terkekeh.
Di balik kebahagiaan sederhana itu, badai besar sedang menunggu. Ia tidak tahu bahwa ayah kandungnya sendiri sedang bersiap menyerahkannya ke pelukan pria yang jauh lebih tua, demi menyelamatkan perusahaan yang sudah rapuh.
Dan permainan baru keluarga Anderson baru saja dimulai.
**
Malam sudah larut ketika Aiden duduk di ruang kerjanya. Lampu meja menyinari berkas-berkas dengan cahaya kuning temaram. Ketukan singkat di pintu terdengar, lalu Lucas Brent masuk dengan map hitam di tangannya.
"Ini laporan yang Anda minta, Tuan," katanya sambil meletakkan map itu di meja.
Aiden menegakkan punggung. "Bicara."
Lucas membuka map, menampilkan dokumen tebal penuh catatan investigasi. "Seperti dugaan saya, Nyonya Thalia sering diperlakukan tidak adil di rumah keluarga Anderson. Berdasarkan keterangan dari beberapa sumber, sejak ibunya meninggal, dia hidup bak pembantu di rumah sendiri. Ibu tirinya, Marrie, kerap menyiksanya. Nadine, saudara tirinya, juga melakukan intimidasi.
Sedangkan Yoshi, ayah kandungnya, tidak pernah membela. Justru ia lebih sering terhasut oleh Marrie dan Nadine."
Mata Aiden menyipit. Tangannya mengepal di atas meja.
Lucas melanjutkan, suaranya tenang namun tegas. "Bahkan, ada kesaksian bahwa Thalia sering dipaksa mengerjakan pekerjaan kasar, disuruh membersihkan rumah besar mereka seorang diri, dan jika menolak akan mendapat hukuman. Semua itu terjadi bertahun-tahun."
Aiden tidak berkata-kata. Namun sorot matanya gelap, bagai pusaran badai.
Lucas menutup lembar pertama, lalu menggeser berkas lain. "Selain itu, laporan keuangan keluarga Anderson semakin buruk. Perusahaan mereka hampir bangkrut. Baru-baru ini Yoshi melakukan pertemuan dengan Abraham Jankson, pewaris Jackson Corp. Abraham setuju menanamkan investasi dengan syarat... salah satu anak Yoshi dijadikan istri ketiganya."
Alis Aiden menegang. "Istri ketiga?" suaranya rendah, tapi penuh ancaman.
"Ya, Tuan." Lucas menunduk hormat.
"Berdasarkan catatan saya, Marrie dan Nadine mendorong Yoshi untuk menyerahkan Nyonya Thalia kepada Abraham."
Keheningan menyelimuti ruangan. Hanya suara jam dinding yang terdengar, detik demi detik berjalan pelan.
Aiden menyandarkan diri di kursi, menatap ke arah jendela yang menampilkan cahaya kota. Pikirannya kacau.
Istriku... hidup bertahun-tahun di bawah intimidasi. Tapi yang kulihat sekarang, dia bukan perempuan lemah. Dia tegar, bahkan cukup berani melawan orang yang merendahkannya.
Ia mengepalkan tangan. Dan keluarga Anderson... mereka begitu licik, menjual darah dagingnya sendiri hanya demi uang dan ketenaran.
"Apa mereka sudah bergerak?" Aiden akhirnya bertanya.
"Belum, Tuan," jawab Lucas. "Namun tanda-tandanya jelas. Mereka sedang menyusun siasat. Saya yakin waktu mereka tidak lama lagi."
Aiden menarik napas panjang, menekan amarah yang mulai mendidih. "Untuk saat ini, jangan bertindak. Terus pantau mereka. Aku ingin tahu setiap langkah yang mereka ambil."
Lucas menunduk. "Baik, Tuan. Saya akan awasi terus pergerakan mereka."
Ketika Lucas pergi, Aiden kembali menatap map di mejanya. Ada foto Thalia terselip di antara dokumen: wajah muda yang terlihat polos, tapi mata itu menyimpan keteguhan.
Aiden mengetuk meja pelan. "Thalia Anderson..." gumamnya. "Seberapa jauh keluargamu akan menjualmu?"
Ruangan kembali hening. Namun satu hal jelas: badai mulai bergerak, dan Aiden tidak akan selamanya tinggal diam.
lanjuttttt/Kiss/