"Nyaris Jadi Kita" mengisahkan transformasi emosional dan profesional Arelia dari seorang wanita yang hanya dianggap sebagai "tempat pulang" bagi masa lalunya, menjadi "Arsitek Takdir" yang menyelamatkan dinasti korporat Adhitama Group di tengah kiamat finansial global. Melalui perjalanan penuh intrik dari Jakarta hingga London, Arelia berhasil menepis bayang-bayang pengkhianatan dan manipulasi pasar untuk membangun kedaulatan energinya sendiri, hingga akhirnya ia menyadari bahwa tujuan hidup yang paling agung bukanlah untuk bersandar pada pria mana pun, melainkan untuk menjadi muara bagi kebahagiaan dan harga dirinya yang mandiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Fajar
Fajar di Uluwatu tidak pernah sekadar tentang matahari yang terbit. Ia adalah sebuah prosesi agung, di mana kegelapan malam yang pekat perlahan menyerah pada gradasi warna yang mustahil: dari ungu tua yang mistis, berubah menjadi oranye yang membara di ufuk, hingga akhirnya menjadi biru porselen yang jernih. Pagi ini, aku berdiri di balkon villa yang menjorok ke arah tebing, membiarkan angin laut yang asin dan dingin membelai kulitku yang masih terasa lelah.
Suara deburan ombak di bawah sana terdengar seperti detak jantung bumi yang konstan—sebuah pengingat bahwa dunia akan terus berputar, tidak peduli seberapa hancur perasaanmu semalam. Di tangan kananku, secangkir kopi hitam yang masih mengepul mengeluarkan aroma tanah yang kuat, kontras dengan wangi bunga kamboja yang jatuh di atas lantai kayu balkon.
Aku menghirup udara Bali dalam-dalam. Rasanya berbeda dengan oksigen di Jakarta yang selalu terasa sesak oleh polusi dan ekspektasi. Di sini, setiap tarikan napas terasa seperti pembersihan. Semalam, di bawah cahaya bulan yang pucat, aku merasa seolah-olah telah mengubur seluruh tujuh tahun hidupku di dasar jurang Uluwatu. Tidak ada lagi sisa-sisa rasa bersalah untuk Kaivan. Tidak ada lagi keinginan untuk menjadi "penyelamat" bagi pria yang justru ingin membakar rumah yang kubangun untuknya.
Ponselku bergetar pelan di atas meja kecil. Aku melirik layarnya. Ada pesan masuk dari Maya, sahabat sekaligus rekan kerjaku di Jakarta.
Maya: "Rel, Jakarta heboh. Berita soal penangkapan Kaivan sudah masuk ke portal berita bisnis lokal meskipun inisialnya disamarkan. Tapi orang-orang di industri kita tahu itu dia. Yang lebih gila lagi, Nadine benar-benar menghilang. Apartemennya kosong. Ada kabar dia sudah di Singapura sejak dua hari lalu. Kaivan hancur total, Rel. Pengacaranya bilang dia terus menyebut namamu, tapi tidak ada satu pun orang kantor yang mau menjamin dia. Kamu baik-baik saja di sana?"
Aku menatap pesan itu cukup lama, namun tidak ada air mata yang jatuh. Rasa sakit itu sudah berubah menjadi mati rasa yang jernih. Jadi, inilah akhir dari drama "tujuan" yang selalu diagungkan Kaivan? Begitu sang pelindung jatuh, sang tujuan pun melarikan diri untuk menyelamatkan kulitnya sendiri. Ironis, pikirku. Kaivan menghabiskan tujuh tahun memujaku sebagai tempat pulang, namun menghabiskan sisa hidupnya untuk mengejar fatamorgana bernama Nadine yang ternyata hanya bayangan yang hilang saat matahari terbenam.
Aku mengetik balasan singkat: "Aku baik-baik saja, May. Sangat baik. Tolong jangan beri tahu aku apa pun lagi tentang dia. Namanya sudah tidak ada dalam kamus hidupku. Fokuslah pada audit tim, aku akan kembali dengan kemenangan dari Bali."
Aku mematikan ponsel, menarik napas panjang, dan masuk ke dalam villa untuk bersiap. Hari ini bukan lagi tentang masa lalu. Hari ini adalah panggung utamaku.
Ruang pertemuan di resort ini dirancang dengan sangat brilian. Dinding-dindingnya adalah kaca tebal yang memperlihatkan pemandangan Samudera Hindia yang luas, seolah-olah kami sedang mengadakan rapat di atas air. Namun, keindahan di luar sana berbanding terbalik dengan ketegangan di dalam ruangan. Lima pria paruh baya dari konsorsium investor internasional duduk mengitari meja kayu jati yang besar. Mereka adalah orang-orang yang hanya bicara dengan angka, orang-orang yang tidak punya ruang untuk sentimentil.
Bastian duduk di kepala meja. Ia mengenakan kemeja kasmir berwarna biru tua yang dipadukan dengan jas linen ringan. Auranya pagi ini begitu dominan—dingin, terkendali, dan sangat berwibawa. Ia melirikku saat aku masuk, memberikan sebuah anggukan kecil yang nyaris tak terlihat, namun cukup untuk memberiku dorongan energi.
"Nona Arelia," salah satu investor dari Singapura, Mr. Chen, memulai dengan suara yang tajam. "Kami telah meninjau laporan pendahuluan yang masuk ke publik kemarin. Ada isu kebocoran data. Bagaimana Anda bisa meyakinkan kami bahwa strategi operasional di Bali ini tidak akan mengalami nasib yang sama?"
Suasana ruangan mendadak hening. Aku bisa merasakan tatapan tajam dari semua orang. Bastian tetap diam, ia memberikan panggung itu sepenuhnya padaku. Ini adalah ujian terakhir. Apakah aku asisten yang hanya bisa mengekor, atau analis yang mampu memimpin?
Aku berdiri, membuka laptopku, dan memproyeksikan sebuah matriks keamanan baru ke layar besar.
"Terima kasih atas pertanyaannya, Mr. Chen," suaraku stabil, jauh lebih berani dari yang pernah kubayangkan. "Data yang sempat tersebar kemarin adalah data umpan yang sengaja saya tanam di server lama yang sudah terkompromi. Itu adalah langkah mitigasi risiko untuk mengidentifikasi ancaman internal."
Aku berhenti sejenak, membiarkan pernyataan itu tenggelam di benak mereka.
"Data asli proyek Bali ini menggunakan enkripsi multi-layer yang hanya bisa diakses melalui protokol privat yang saya kembangkan sendiri bersama tim IT Adhitama. Apa yang Anda lihat sebagai 'kebocoran' sebenarnya adalah proses 'pembersihan'. Kami telah mengeliminasi faktor risiko terbesar dalam tim kami, dan yang tersisa sekarang hanyalah efisiensi murni."
Selama dua jam berikutnya, aku membedah analisis pasar, proyeksi ROI, hingga dampak sosiologis terhadap masyarakat lokal di Uluwatu. Aku bicara bukan sebagai orang yang membacakan buku teks, tapi sebagai seseorang yang benar-benar memahami jiwa dari proyek ini. Aku menjawab setiap pertanyaan sulit tentang fluktuasi mata uang dan stabilitas vendor dengan data yang tidak terbantahkan.
Di sela-sela presentasiku, aku melihat Bastian. Ia tidak lagi menatap dokumennya. Ia menatapku dengan binar mata yang belum pernah kulihat sebelumnya—rasa bangga yang murni, rasa hormat yang mendalam.
Saat rapat berakhir, Mr. Chen berdiri dan mengulurkan tangannya padaku. "Sangat impresif, Nona Arelia. Jarang sekali saya melihat analis yang memiliki insting predator sekaligus ketenangan seorang diplomat. Proyek ini aman di tangan Anda."
Aku menjabat tangannya. "Terima kasih, Tuan. Keamanan data Anda adalah integritas saya."
Setelah para investor meninggalkan ruangan, hanya tersisa aku dan Bastian. Ia berdiri dari kursinya, berjalan perlahan menghampiriku. Suara langkah sepatunya di atas lantai marmer terdengar seperti gema kemenangan.
"Kamu baru saja melakukan sesuaTu yang gila, Arelia," ucapnya pelan. Suaranya rendah dan serak.
"Gila?"
"Kamu baru saja memenangkan konsorsium paling sulit di Asia Tenggara tanpa satu pun bantuan dariku. Kamu tidak hanya menyelamatkan proyek ini, kamu baru saja menetapkan standar baru di Adhitama Group." Ia berhenti tepat di depanku, jarak kami begitu dekat hingga aku bisa mencium aroma kayu cendana dari parfumnya. "Sekarang, tidak akan ada satu pun orang yang berani menyebutmu 'asisten' lagi."
Aku tersenyum, kali ini senyum yang tulus. "Aku hanya melakukan apa yang seharusnya kulakukan sejak dulu, Bastian."
Bastian meraih tanganku, ia menatap jemariku yang sudah tidak lagi gemetar. "Bali hanyalah permulaan, Arelia. Saya ingin kamu melihat ini."
Ia menyerahkan sebuah amplop cokelat tebal yang tersegel rapi. Aku membukanya dengan perlahan. Di dalamnya ada sebuah draf kontrak baru—posisi sebagai Director of Global Research untuk ekspansi Adhitama Group di Eropa, yang berbasis di Paris. Lengkap dengan apartemen dinas dan anggaran riset yang tiga kali lipat dari apa yang kumiliki sekarang.
"Paris?" bisikku. Dunianya terasa seperti sedang berputar.
"Ekspansi ini akan dimulai dalam dua bulan. Saya ingin kamu yang memimpinnya. Ini bukan lagi soal proyek perumahan atau resort. Ini soal pengaruh global. Dan saya hanya mempercayakan ini pada satu orang: kamu," Bastian menangkup wajahku dengan telapak tangannya yang hangat. "Ini adalah tiketmu untuk benar-benar pergi, Arelia. Jauh dari Jakarta, jauh dari Kaivan, dan jauh dari semua orang yang pernah meremehkanmu."
Aku menatap mata hitam Bastian. Di sana, aku melihat sebuah janji masa depan yang cerah. Namun, di saat yang sama, aku merasakan sebuah getaran aneh di hatiku. Paris adalah kesempatan emas, tapi itu juga berarti jarak yang semakin jauh dari segalanya.
"Kenapa kamu melakukan semua ini untukku, Bastian?" tanyaku pelan.
Bastian tidak langsung menjawab. Ia menatap ke luar jendela, ke arah laut yang kini memantulkan cahaya matahari siang yang terik. "Karena selama ini saya mencari seseorang yang bisa berdiri sejajar di samping saya, bukan di belakang saya. Dan saya menemukannya pada wanita yang awalnya saya kira hanya butuh bantuan untuk merapikan laporannya."
Sore harinya, kami merayakan keberhasilan ini di sebuah restoran pribadi di tepi tebing yang lebih sunyi. Angin sore bertiup lebih kencang, membawa kabut tipis dari laut. Kami duduk di sofa luar ruangan, ditemani botol anggur putih yang didinginkan.
Suasana sangat damai sampai ponsel Bastian yang tergeletak di atas meja kayu jati itu bergetar.
Bastian melirik layarnya, dan seketika itu juga, ekspresi wajahnya berubah. Garis rahangnya mengeras, dan ketenangan yang tadi ia tunjukkan seolah menguap dalam sekejap. Ia tidak segera mengangkatnya. Ia menatap ponsel itu seolah-olah benda itu adalah ancaman yang nyata.
"Siapa?" tanyaku, merasakan firasat buruk kembali menyelinap.
Bastian menarik napas panjang. Ia mengambil ponsel itu, namun tidak segera menekan tombol hijau. "Seseorang yang seharusnya tetap menjadi sejarah, Arelia."
"Bastian?"
"Namanya Elena," ucapnya dengan suara yang sangat dingin. "Mantan istri saya."
Aku merasa jantungku seolah berhenti berdetak sesaat. Mantan istri? Bastian tidak pernah bercerita soal ini. Selama ini, aku hanya tahu dia adalah duda tanpa anak karena sebuah kecelakaan tragis, namun ia tidak pernah menyebut nama Elena dengan nada yang segetir ini.
Bastian akhirnya mengangkat telepon itu. Ia menjauh dariku, berdiri di tepi tebing, membelakangiku. Suaranya tidak terdengar jelas, namun nada bicaranya sangat kaku dan penuh tekanan. Aku bisa melihat bahunya yang tegang. Percakapan itu berlangsung sekitar lima menit, namun bagiku terasa seperti berjam-jam.
Saat ia kembali duduk, Bastian tampak seperti orang yang berbeda. Ada kegelapan di matanya yang tidak bisa ia sembunyikan.
"Ada masalah?" tanyaku hati-hati.
"Dia tahu kita di Bali," Bastian menyesap anggurnya dengan cepat. "Dia ingin bertemu. Dia bilang dia punya informasi tentang sabotase yang dilakukan Kaivan yang ternyata berhubungan dengan koneksi lamanya di Singapura. Elena bukan sekadar mantan istri, Arelia. Dia adalah putri dari pemilik kompetitor terbesar Adhitama di Asia."
Aku tertegun. Jadi, kerumitan hidupku dengan Kaivan belum benar-benar berakhir? Dan sekarang, masa lalu Bastian mulai bersinggungan dengan kehancuran masa laluku?
"Apa yang dia inginkan?"
"Dia ingin kembali ke dalam permainan," Bastian menatapku dengan pandangan yang penuh rasa bersalah. "Dan kehadirannya di Bali besok pagi akan mengubah banyak hal. Arelia, saya ingin kamu tahu, apa pun yang dia katakan besok, posisi kamu di samping saya tidak akan pernah berubah."
Kalimat itu seharusnya menenangkanku, namun entah mengapa, ia justru terdengar seperti sebuah peringatan akan badai yang lebih besar.
Malam mulai turun di Uluwatu. Cahaya fajar yang tadi pagi kulihat dengan penuh harapan, kini terasa begitu jauh. Aku menatap ke arah laut yang gelap. Di sana, ombak terus menghantam karang, memecah menjadi buih yang kemudian hilang.
Nyaris jadi kita?
Mungkin kalimat itu tidak hanya berlaku untukku dan Kaivan. Mungkin, dalam dunia yang penuh dengan intrik dan kekuasaan seperti dunia Bastian, setiap hubungan adalah sebuah "nyaris" sampai ia benar-benar bisa bertahan melewati badai masa lalu.
Aku menggenggam gelas anggurku erat-erat. Aku baru saja memenangkan panggungku, tapi sekarang, aku sadar bahwa aku baru saja memasuki perang yang jauh lebih besar. Perang untuk mempertahankan tempatku di sisi Bastian, melawan hantu masa lalunya yang jauh lebih elegan dan berbahaya daripada seorang Nadine.
Fajar memang telah datang, namun aku baru menyadari bahwa hari yang panjang baru saja dimulai. Dan di Bali ini, aku akan belajar bahwa untuk menjadi bintang yang sesungguhnya, aku harus siap untuk tetap bersinar bahkan saat malam yang paling gelap mencoba menelanku kembali.
tarik nafas dulu Thor,terkadang kita harus lebih gila untuk menghadapi kegilaan org lain