"Jangan dekat-dekat cowok lain, Cebol. Kau itu tanggung jawabku!"
Bagi Anvaya Dinakara, Narev Elvaro adalah tetangga raksasa setinggi 192 cm yang paling menyebalkan. Narev selalu mengawasi Vaya, melarangnya berteman dengan pria lain dengan alasan "menjaga titipan orang tua".
Namun, satu insiden di malam kelulusan melempar mereka sepuluh tahun ke masa depan. Vaya terbangun bukan di kamarnya, melainkan di pelukan Narev dewasa yang sangat memujanya. Lebih gila lagi, ada seorang bayi cantik bernama Miciella Aracelli yang memanggil mereka "Mama" dan "Papa".
Terjebak dalam pernikahan masa depan yang manis, mampukah mereka kembali ke masa lalu saat status mereka masih "musuh bebuyutan"? Atau justru Narev akan melakukan segala cara agar masa depan itu menjadi nyata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Cinta dalam Kesendirian
[POV: Narev]
Aku menuangkan wiski ke dalam gelas, membiarkan cairan dingin itu membakar tenggorokanku. Di depanku, asisten kepercayaanku menyodorkan sebuah map tebal berisi laporan sepuluh tahun terakhir yang sempat terlupakan karena "lompatan waktu" sialan itu.
"Jadi, itu yang terjadi selama aku 'tidur'?" gumamku, suaraku terdengar asing di telingaku sendiri.
Aku membaca baris demi baris. Ternyata, selama tahun-tahun yang kulewati, aku adalah pria yang menyedihkan. Aku mencintai Vaya dengan seluruh kewarasanku, tapi dia membalasku dengan belati.
"Tuan," asistenku berdehem kaku. "Laporan itu mengonfirmasi bahwa selama lima tahun pertama pernikahan, Nyonya Vaya mencoba melarikan diri sebanyak tujuh kali. Dan semuanya... atas bantuan Rian."
Aku meremas pinggiran meja hingga buku jariku memutih. Rian. Nama itu seperti parasit. Aku selalu mengira sainganku adalah Tristan—si atlet sombong itu—karena dia yang paling vokal mendekati Vaya saat SMA. Tapi sebuah pesan suara yang baru saja dipulihkan dari ponsel lamaku mengubah segalanya. Itu suara Tristan.
“Rev, berhenti mengejar bayangan. Aku memang suka Vaya, tapi aku tahu batas. Rian yang berbahaya. Dia merencanakan sesuatu untuk menghancurkan istrimu hanya agar dia bisa menguasai aset keluarganya. Jangan biarkan dia mendekat.”
Jadi, selama ini aku menjaga Vaya dari serigala yang salah, sementara serigala yang sebenarnya bersembunyi di balik topeng "cinta pertama".
Aku berjalan menuju kamar bayi, menatap Miciella yang tertidur pulas. Anak ini... adalah hasil dari keputusasaanku. Di laporan itu tertulis jelas: Tahun ke-7 pernikahan, Vaya meminta cerai secara resmi.
Saat itu, aku tahu aku akan kehilangannya. Maka, dengan cara yang paling licik dan egois, aku membuatnya hamil. Aku menjebaknya dengan kehadiran Mici agar dia tidak bisa melangkah pergi.
"Kau membenciku, ya, Vaya?" bisikku pada udara kosong.
Aku ingat potongan memori yang mulai muncul. Saat Mici lahir, Vaya bahkan tidak mau menyentuhnya. Dia memandang perutnya yang membuncit dulu seolah itu adalah kutukan. Dia membenci kehamilan itu. Dia menangis setiap kali Mici menangis, bukan karena iba, tapi karena dia merasa terbelenggu.
Itulah alasannya kenapa aku mendapatkan julukan "Latte pappa" dari para kolega ku dan menjadi "Best Father" untuk Mici. Aku belajar mengganti popok celana, belajar membuat susu, dan belajar menenangkan bayi yang rewel di tengah malam, karena ibunya bahkan tidak sudi menatap wajahnya. Aku menguasai segalanya bukan karena aku berbakat, tapi karena jika bukan aku, Mici tidak akan punya siapa-siapa.
Aku berjalan masuk ke kamar utama. Vaya sedang tertidur, wajahnya terlihat sangat polos, sangat berbeda dengan sosok yang di dalam laporan itu dikatakan pernah melemparkan cincin pernikahan ke wajahku.
Aku berlutut di samping tempat tidur, mengusap pipinya yang lembut. "Aku tahu aku cinta sendirian, Cebol," bisikku parau. "Aku tahu kamu merencanakan perpisahan ini sejak lama dengan bantuan Rian. Tapi aku tidak akan membiarkan sejarah itu terulang."
Aku tidak peduli jika aku harus menjadi penjahat di ceritanya. Jika mencintainya berarti harus mengurungnya dalam penjara emas ini, maka aku akan melakukannya. Aku akan memanjakannya, memberikan semua kemewahan, dan menelan semua makiannya, asalkan dia tetap di sini.
"Rian tidak akan menyentuhmu lagi," gumamku, mataku berkilat gelap. "Dan kali ini, aku akan membuatmu mencintaiku tanpa paksaan, meski aku harus menghapus semua orang dari hidupmu."
Aku merebahkan diri di sampingnya, memeluk tubuhnya yang mungil dengan posesif. Dia bergerak dalam tidurnya, mencari kehangatan di dadaku. Dia tidak tahu bahwa pria yang memeluknya sekarang adalah pria yang sama yang telah menghancurkan masa lalunya demi memilikinya di masa depan.
Aku akan menang, Vaya. Seperti yang selalu terjadi selama sepuluh tahun ini.
...****************...
✨ Latte Dad/Latte Pappa adalah fenomena yang menggambarkan kehadiran ayah sebagai figur pengasuh yang setara dengan ibu.
G konsisten sma omongannya si vaya
ko pendek kali babnya panjangin dikit dong kaaaa