Ternyata di belahan dunia ini masih tersisa seorang pria berhati malaikat. Meski semua orang tak mempercayai itu. Sebab yang mencintaiku itu adalah seorang mafia jahat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon de banyantree, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lamaran
Kegelapan malam di dalam mansion keluarga Malik terasa semakin mencekam bagi Laila. Pesan dari Sarah masih menyala di layar ponselnya, seperti sebuah bom waktu yang siap meledak.
Sementara itu, di sebuah bar mewah yang tertutup untuk umum, Jasmine sedang menyesap wine merahnya dengan anggun. Ia tidak sendirian. Di depannya, Sarah duduk dengan senyum simpul yang sulit diartikan.
"Jadi, kamu serius soal ancaman itu, Jasmine? Kamu tahu kan, Zayn bukan pria yang mudah ditekan," buka Sarah sambil memainkan ujung rambutnya.
Jasmine tertawa renyah, suara yang terdengar merdu namun berbisa. "Zayn itu logis, Sarah. Dia memang keras kepala, tapi dia tidak bodoh. Dia tidak akan membiarkan kerajaan bisnis ayahnya hancur hanya demi harga diri, atau lebih buruk lagi... demi wanita kampung seperti Laila itu."
Sarah mencondongkan tubuhnya. "Aku suka ambisimu. Tapi kamu butuh bantuan. Zayn punya titik lemah, dan titik lemahnya sekarang adalah Laila. Selama Laila masih ada di sampingnya, Zayn akan punya alasan untuk melawanmu."
"Maksudmu?" Jasmine mengernyit.
"Begini," Sarah berbisik, suaranya merendah. "Aku bisa membantumu mempercepat pertunangan itu. Aku tahu celah untuk membuat Zayn benar-benar menyerah. Tapi syaratnya satu: singkirkan Laila dari rumah itu. Permanen."
Jasmine terdiam sejenak, lalu seringai muncul di wajahnya yang penuh riasan tebal. "Singkirkan? Kedengarannya menyenangkan. Aku memang benci melihat wajah melasnya itu di sekitar Zayn. Oke, aku setuju. Apa rencanamu?"
"Besok malam, saat ayahmu datang membawa dokumen itu, pastikan Laila melihat semuanya. Kita buat dia merasa menjadi pengganggu paling menjijikkan di dunia. Sisanya, serahkan padaku," ujar Sarah dingin. Keduanya kemudian bersulang, merayakan aliansi gelap yang baru saja terbentuk.
Di sisi lain kota, sebuah mobil SUV hitam berhenti di depan sebuah rumah minimalis modern di kawasan perumahan elit yang tenang. Gion turun dari mobil, disusul oleh Mama Ratih yang matanya membelalak tak percaya.
"Gion... ini rumah siapa?" tanya Mama Ratih sambil mengusap pagar besi yang kokoh.
"Ini rumah kita, Ma. Masuklah," jawab Gion pendek sambil menekan kode akses di pintu depan.
Begitu masuk, Mama Ratih hampir jatuh pingsan melihat interior rumah yang sangat mewah. Sofa impor, lampu kristal, dan televisi layar lebar yang bahkan lebih bagus dari yang mereka punya dulu.
"Ya ampun, Gion! Jadi selama ini kamu punya aset sebanyak ini? Kenapa kamu diam saja saat kita diusir? Kenapa kamu biarkan Mama tidur di kontrakan sempit itu?" seru Mama Ratih, antara marah dan senang.
Gion menghempaskan tubuhnya ke sofa, tampak sangat lelah. "Kalau aku keluarkan aset ini saat kita sedang dikejar hutang dan kasus, semuanya akan disita, Ma. Aku sudah menyembunyikan ini jauh-jauh hari atas nama orang lain. Ini cadangan kita."
Mama Ratih berkeliling ruangan dengan wajah berseri-seri. "Kalau tahu begini kan, Mama nggak perlu repot-repot mengemis kiri kanan dong, Gion! Mama sampai harus merendahkan diri di depan Rosa dan Laila!"
Gion memejamkan mata, bayangan Laila yang kini tampil cantik dan berkelas di mansion Zayn terus menghantuinya. "Sudahlah Ma, tenanglah dulu. Nikmati saja rumah ini. Kita masih punya masalah besar."
"Masalah apa lagi? Kita sudah kaya lagi sekarang!"
"Harta ini tidak akan bertahan lama kalau tidak ada perputaran uang yang jelas. Dan aku... aku ingin Laila kembali," gumam Gion.
Mama Ratih menghentikan langkahnya. "Laila? Untuk apa lagi kamu memikirkan dia? Dia sudah jadi orang kaya sekarang, sombongnya minta ampun!"
"Justru itu, Ma," Gion menatap ibunya dengan tatapan tajam. "Laila adalah kunci. Dia sekarang punya akses ke keluarga Malik. Kalau dia kembali jadi istriku, secara otomatis harta Zayn Malik juga akan mengalir ke kita. Aku harus memikirkan cara bagaimana membuat Laila merasa bersalah dan kembali padaku. Dia itu lembut, hatinya mudah luluh. Kita hanya perlu sedikit sandiwara."
Mama Ratih terdiam, lalu perlahan senyum liciknya muncul kembali. "Benar juga ya. Dia kan dulu sangat mencintaimu. Pasti ada celah untuk menariknya kembali dari dekapan Zayn."
Kembali ke Mansion Malik, malam semakin larut. Zayn masih duduk di ruang kerjanya, menatap tumpukan berkas dengan pandangan kosong. Tiba-tiba pintu diketuk pelan. Laila masuk membawa nampan berisi teh hangat.
"Zayn... kamu belum tidur?" tanya Laila lembut.
Zayn mendongak, wajahnya yang kaku sedikit melunak. "Belum. Banyak yang harus aku bereskan sebelum besok malam."
Laila meletakkan teh itu di meja. "Zayn, aku mendengar semuanya tadi. Kalau memang Jasmine punya bukti yang bisa menghancurkanmu... apa tidak sebaiknya kita bicara jujur pada polisi?"
Zayn terkekeh pahit. "Jujur pada polisi? Ayah Jasmine adalah orang nomor satu di sana, Laila. Kejujuran hanya akan jadi bumerang. Dia sudah mengatur semuanya seolah-olah aku yang bersalah."
Laila duduk di kursi di depan Zayn. "Lalu, apa kamu benar-benar akan bertunangan dengannya besok?"
Zayn menatap Laila dalam-dalam. "Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Tapi aku juga tidak ingin kamu terluka. Laila, besok malam apa pun yang terjadi, jangan keluar dari kamar sebelum aku memintamu. Paham?"
"Tapi Zayn—"
"Tolong, Laila. Kali ini saja, ikuti kata-kataku," potong Zayn dengan nada memohon yang jarang ia gunakan.
Laila hanya bisa mengangguk pelan, meski dalam hatinya ia tahu bahwa besok malam bukan hanya sekadar drama pertunangan, melainkan medan perang yang sebenarnya. Di luar sana, Jasmine, Sarah, Gion, dan Mama Ratih masing-masing sudah menyiapkan belati di balik punggung mereka, siap menusuk di saat yang tepat.