"Turun dari langit bukan untuk jadi Dewi, tapi untuk jadi istrimu!"
Demi kabur dari perjodohan Dewa Matahari, Alurra—bidadari cantik yang sedikit "gesrek"—nekat terjun ke bumi. Bukannya mendarat di istana, ia malah menemukan Nael Gianluca Ryker, pewaris tunggal yang sekarat dan kehilangan suaranya akibat trauma masa lalu.
Bagi Alurra, Nael adalah mangsa sempurna. Tampan, kaya, dan yang paling penting: tidak bisa protes saat dipaksa jadi pangerannya!
Nael yang dingin dan bisu mendadak pusing tujuh keliling. Bagaimana bisa bidadari penyelamatnya justru lebih agresif dari pembunuh bayaran? Ditolak malah makin menempel, diusir malah makin cinta.
Dapatkah sihir bidadari bar-bar ini menyembuhkan luka bisu di hati Nael? Atau justru Nael yang akan menyerah pada "teror" cinta dari langit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29: HILANGNYA RESONANSI DAN MURKA SANG MONSTER
Pagi di kantor Ryker Group terasa lebih menyesakkan dari biasanya. Stella melangkah masuk ke ruangan Nael tanpa mengetuk, membawa map merah berisi dokumen pertunangan dan pengalihan saham. Di belakangnya, berdiri seorang pria yang membuat rahang Nael mengeras seketika: Hadi.
Pria tua itu kembali, kali ini dengan jaminan hukum dari pengacara Stella.
"Selamat pagi, calon suamiku," Stella tersenyum manis, namun matanya sedingin es. "Kau lihat siapa yang kubawa? Hadi punya bukti baru yang bisa menjebloskanmu ke penjara atas tuduhan kelalaian yang menyebabkan kematian orang tuamu. Kecuali... kau menandatangani surat ini."
Nael berdiri dari kursi kebesarannya. Ia menatap Stella dengan kebencian yang murni. Ia tidak merogoh ponselnya. Ia hanya menunjuk pintu dengan telunjuk yang gemetar karena amarah.
"Oh, jangan begitu, Nael," Stella mendekat, jemarinya yang berparfum menyengat menyentuh kerah kemeja Nael. "Aku tahu apa yang membuatmu begitu keras kepala. Benda kusam ini, kan?"
Dengan gerakan kilat, Stella menarik paksa Kalung Akar Perak yang melingkar di leher Nael hingga talinya putus.
"Berikan itu!" Nael mencoba merebutnya, namun suaranya tetap tertahan di tenggorokan. Matanya membelalak, napasnya memburu.
"Benda sampah ini tidak layak ada di leher CEO Ryker!" Stella berjalan menuju jendela besar lantai 50 yang sedang terbuka sedikit. "Ini hanya pengingat akan wanita gila yang sudah meninggalkanmu, Nael. Kau harus bangun!"
PLUNG!
Stella melepaskan kalung itu ke udara, membiarkannya jatuh bebas menuju aspal jalanan Jakarta yang padat di bawah sana.
...****************...
DI KOLAM ABADI - DUNIA LANGIT
Seketika, Alurra yang sedang bermeditasi di dalam air suci menjerit histeris. Ia mencengkeram dadanya yang mendadak terasa hampa, seolah jantungnya baru saja dicabut paksa.
"AKKKH! TIDAK! NAEL!"
Alurra jatuh tersungkur di tepian kolam. Air mata emas mengalir deras membasahi wajahnya yang pucat. Resonansi itu... getaran hangat yang selama enam bulan ini menjadi satu-satunya penyambung nyawanya dengan Nael, tiba-tiba putus. Gelap. Kosong.
"Ayah! Tolong aku! Aku tidak bisa merasakannya lagi!" Alurra meraung, suaranya pecah oleh kesedihan yang amat dalam. "Dia hilang! Cahaya Nael hilang!"
Dewa Langit muncul dengan guntur yang bergejolak di sekelilingnya. "Putriku, tenanglah! Inti cahayamu bisa pecah jika kau terus meratap seperti ini!"
"BAGAIMANA AKU BISA TENANG?!" Alurra memukul lantai marmer hingga retak. "Mereka memutus janjiku! Mereka menyakiti pangeranku!"
Kesedihan Alurra yang luar biasa seketika mempengaruhi atmosfer Bumi. Langit Jakarta yang tadinya terik, dalam hitungan detik berubah menjadi kelabu pekat. Awan hitam bergulung-gulung dengan kecepatan yang tidak wajar, menutupi matahari sepenuhnya. Suasana menjadi gelap gulita di siang hari bolong.
...****************...
RUANG KERJA NAEL
Di dalam ruangan, kegelapan menyelimuti wajah Nael. Saat kalung itu jatuh, sesuatu di dalam diri Nael ikut mati—dan sesuatu yang lain lahir. Bukan lagi pria bisu yang malang, melainkan sesosok "monster" yang sudah kehilangan segalanya.
Nael melangkah perlahan menuju Stella. Auranya mendadak berubah menjadi sangat dingin hingga embun beku mulai muncul di permukaan meja kaca.
"N-Nael? Kenapa matamu begitu?" Stella mundur ketakutan, senyumnya hilang. "Aku hanya membuang sampah! Aku bisa membelikanmu emas yang lebih—"
Nael mencengkeram leher Stella dengan satu tangan, mengangkat wanita itu hingga kakinya berjinjit. Tidak ada suara, tapi tatapan mata Nael memancarkan amarah yang bisa menghanguskan seluruh gedung itu.
Hadi mencoba maju untuk menolong, namun Nael menendang meja kerjanya hingga meja berat itu meluncur dan menghantam Hadi ke dinding dengan dentuman keras.
"KAU..."
Suara Nael keluar. Bukan suara manusia. Itu adalah suara geraman yang dalam, bergetar karena kekuatan gaib yang meluap dari rasa sakitnya.
"KAU TELAH MENGHANCURKAN SATU-SATUNYA ALASANKU UNTUK TETAP MENJADI MANUSIA."
Nael melepaskan cengkeramannya, membuat Stella jatuh tersedak di lantai. Nael berjalan menuju balkon, menatap langit yang kini berguruh hebat seolah sedang ikut menangis bersamanya.
Tanpa peduli pada ketinggian, Nael berdiri di tepi balkon lantai 50. Ia tidak takut mati. Ia hanya ingin menemukan kembali akar perak itu, atau ikut hancur bersama kenangannya.
Di luar, petir mulai menyambar-nyambar dengan gila, seolah-olah Langit sedang bersiap untuk turun dan menghukum siapa saja yang telah membuat bidadarinya menangis.
...****************...
aku suka namanya Nael ....