"Saya menikahimu karena saya bertanggung jawab telah menidurimu, kamu jangan berharap apapun dalam pernikahan ini." ~Reno Mahesa.
-
-
Deana benci saat Reno memaksanya untuk menikah dengannya. Bukan karena cinta, tapi karena Reno takut Deana mengandung benihnya dan meruntuhkan karirnya saat anaknya lahir nanti.
-
-
Bagaimana kelanjutan kisah mereka? ayo klik tanda baca dan ikuti alur ceritanya✨️‼️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ditaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: Menjebak Reno
Sebagai kepala direktur yang baik, Reno selalu menyempatkan diri pulang bekerja sampai larut malam, kecuali ada keperluan penting yang membuatnya harus keluar.
Setelah dari rumah Deana, Reno kembali ke kantor dan menghampiri Jordi, "Jo, apa hari ini aku ada agenda penting? beberapa hari ke depan, mungkin?"
Jordi yang sedang fokus dengan laptopnya kaget mendengar Tuannya sudah datang kembali dan berbicara dengannya.
"Tidak ada Tuan, pertemuan penting sudah saya ganti ke lain hari agar Tuan bisa fokus mempersiapkan diri menjelang hari pernikahan Tuan. Apa Tuan ingin mengambil cuti setelah hari pernikahannya?" tanya Jordi. Ia sempat bingung mengenai hal ini karena ia tahu pasti Tuannya tidak akan merencanakan honeymoon seperti pengantin baru pada umumnya.
"Tidak perlu. Saya ingin mencari rumah baru agar bisa ditempati Deana, jika bersama Daddy dan Mommy, saya masih ragu."
Jordi mengangguk, "Baik Tuan, nanti saya kabarkan pada Tuan."
"Ya." balas Reno lalu berjalan menuju ruangannya.
***
Malam pun tiba....
Lampu-lampu kota mulai menyala, menyelimuti gedung-gedung tinggi dengan kilauan yang memanjakan mata. Di ruang kerjanya, Reno masih berkutat dengan beberapa berkas penting, meski pikirannya sesekali melayang pada satu nama—Deana.
Tok... Tok....
Pintu ruangannya diketuk.
“Masuk.” seru Reno sedikit pelan. Ia tahu, pasti itu adalah Jordi.
Jordi masuk dengan wajah sedikit ragu, “Permisi Tuan, ada klien yang ingin bertemu. Katanya ini penting dan tidak bisa ditunda. Dia sudah menunggu di hotel.”
Reno mengernyit, “Klien? Siapa?”
“Dari pihak kerja sama baru, Tuan. Saya juga baru mendapat konfirmasi mendadak.”
Reno terdiam sejenak. Instingnya sebenarnya merasa janggal, tapi ia menghela napas panjang lalu mengangguk, “Baik. Kirim alamatnya Jo.”
“Sudah saya kirim ke ponsel Tuan.”
Reno mengambil jasnya, “Kalau begitu saya berangkat sekarang.”
“Baik, Tuan. Hati-hati....” balas Jordi lalu menundukkan kepalanya dengan hormat.
***
Sebuah hotel bintang lima berdiri megah.
Di salah satu kamar suite, Fiona berdiri di depan cermin. Ia mengenakan gaun yang sengaja dibuat sedikit terbuka, rambutnya ditata rapi, dan riasannya terlihat sempurna.
Fiona tersenyum tipis, “Reno... malam ini kamu tidak akan bisa lari dariku.”
Ponsel milik Fiona bergetar, Fiona langsung mengangkatnya dan menempelkan di telinga kanannya.
“Tuan Reno sudah sampai di lobby, Nona.”
Fiona mengangkat bibirnya, “Bagus.” ucapnya lalu mematikan panggilannya.
Fiona lalu berjalan ke arah meja, mengambil sebuah gelas, dan menuangkan minumannya, ia sedikit mencampurkan ramuan set*an ke dalamnya.
Bibirnya tersenyum miring, "Drama segera dimulai...." gumamnya tertawa puas dalam hati.
Sementara itu, Reno berjalan masuk ke lobby hotel dengan langkah tegas dan cepat.
Reno melihat nomor kamar yang dikirimkan, lalu langsung menuju lift.
Beberapa menit kemudian Reno sudah sampai di depan kamar tujuannya. "Siapa yang membuat jadwal malam hari, sangat mengganggu waktu beristirahat." gumam Reno.
Tok... Tok....
Pintu diketuk.
Fiona menarik napas, lalu dengan cepat mengubah ekspresinya menjadi lemah dan rapuh.
Saat pintu dibuka, menampakkan Fiona seorang diri. Bahkan kamar suite itu yang biasanya dirubah menjadi ballroom mini, kini seperti biasa saja.
Reno langsung mengernyit, “Fiona?”
Fiona pura-pura kaget, “Reno...? Kamu... kenapa kamu di sini?”
Reno menatap tajam, “Kamu yang mengundangku? Dasar!” geramnya kesal.
Fiona menggeleng cepat, lalu mundur beberapa langkah, “Aku... aku juga tidak tahu... Aku disuruh datang ke sini oleh seseorang....”
Reno mulai merasa ada yang tidak beres, “Aneh.”
Reno mengepal kuat, ia berbalik, berniat pergi. Tapi....
Fiona tiba-tiba memegang lengannya, “Reno, tunggu... aku takut....”
Reno menepisnya dengan kasar, wajahnya tetap dingin, “Takut apa?”
Belum sempat Fiona menjawab, pintu tiba-tiba terbuka dari luar.
Fiona tersenyum melihat tiga orang laki-laki bertubuh besar itu langsung memegang dan mencekal tangan Reno.
"Brengs*ek! Apa maksud kalian hah!" ucapnya murka. Wajah tampan itu seketika merah padam.
Fiona menyerahkan minuman set*an itu pada bodyguardnya.
Reno mencoba mengeluarkan tenaganya, tapi tetap tidak bisa karena yang memegang tubuhnya tak hanya satu, tapi tiga orang.
"Diamlah! Minum!" tegas bodyguard itu marah.
Reno menahan napasnya di depan wajah para bodyguard berbadan besar itu, "Kalian tidak tahu siapa diriku, setelah ini jangan harap hidup kalian tenang!" seru Reno mengancam dengan murka.
Para bodyguard itu langsung saling pandang, lalu memandang Fiona.
Fiona meludah kasar, "Jangan takut!" balasnya.
Saat mereka lengah, kaki Reno menendang bodyguardnya sampai terjengkang dan jatuh ke belakang. Setelah lepas satu, Reno berbalik badan dan meninju wajah bodyguard yang ada di sampingnya hingga tersungkur ke belakang.
"Reno!" seru Fiona kesal.
Reno mengambil gelas itu di tangan bodyguard lalu mencekal kedua tangan Fiona lalu meminumkannya pada Fiona.
"Minum ini, puas!" Reno mendorong kasar tubuh Fiona sampai terjatuh ke belakang.
Reno berbalik badan sambil menyeka keringatnya, "Breng*sek! asistenku segera melacak data pribadi kalian! Bersiaplah untuk ma*ti dengan mengenaskan!"
Reno kembali menendang ketiga bodyguard itu bergantian, kemudian memukulnya hingga puas. Reno tidak takut, ototnya tidak kalah besar dari para bodyguard.
"Dasar lemah!" ucap Reno lalu berlari keluar dari dalam kamar itu.
Reno langsung menghubungi Jack untuk mengurusnya, "Kamar 433. Bawa ke penjara dan urusi ketiganya." ucap Reno setelah telepon terhubung.
"Baik Tuan."