💗 Dijodohkan dengan keponakannya malah tergoda dengan pamannya.
------------- 💫
Viona dijodohkan dengan anak dari sahabat mendiang ayahnya yang bernama Farel. Awalnya Viona menyetujui, namun kehadiran Arsen yang merupakan paman dari Farel menggoyahkan hatinya.
Bukan sekedar ingin ikut menjaga, tapi sikap yang Arsen tunjukkan lebih dari itu. Kedekatan yang terjalin diantara keduanya membawa mereka pada hubungan yang tak seharusnya.
"Jatuhnya begitu alami. Ataukah, kamu memang sengaja ingin menggodaku?" - Arsen.
Ketika rahasia hubungan mereka mulai terbongkar, ketegangan melanda keluarga besar. Viona harus memilih antara memenuhi harapan mendiang ayahnya dengan menikahi Farel, atau mengikuti hatinya yang menginginkan Arsen.
📍Membaca novel ini mampu meningkatkan imun dan menggoyahkan iman 😁 bukan area bocil, bijak-bijaklah dalam membaca 🫣
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 25 : Cinta yang melawan perjanjian.
Setelah satu jam lebih berendam di dalam air hangat yang sedikit membantu menenangkan pikirannya yang berantakan, Arsen keluar dari kamar mandi dengan mengenakan bathrobe sambil menyeka rambutnya dengan handuk kecil. Baru saja dia meletakkan handuk itu di atas rak, suara ketukan pintu terdengar.
Arsen mengerutkan alisnya. Dia tahu tidak mungkin ayahnya atau kakak iparnya yang datang pada jam seperti ini. Pikirannya langsung tertuju pada satu orang saja, yaitu Viona.
Arsen mengikat tali bathrobe-nya dan berjalan menuju pintu, mengambil napas dalam sebelum membuka pintu dengan wajah yang sudah tampak tenang.
"Viona, ada apa?" tanya Arsen, mengamati ekspresi wajah gadis itu dari dekat.
"Aku ingin minta maaf, Paman," ucapnya dengan suara pelan. "Aku tidak punya pilihan lain selain menyetujui. Kakek dan Tante Saskia sudah sangat bersemangat, aku tidak ingin menyakiti hati mereka."
Arsen menghela napas, kemudian menganggukkan kepalanya pelan, "Masuk saja dulu, kita bicara didalam," ucapnya, menggeser tubuhnya untuk memberi celah bagi Viona masuk ke dalam kamarnya.
Viona mengangguk dan memasuki kamar, menghentikan langkahnya di tengah ruangan lalu kembali menoleh pada Arsen yang sudah menutup pintu kembali. Arsen melangkahkan kakinya mendekat dan berhenti didepan Viona.
"Kenapa tadi Paman tidak jujur saja didepan Kakek dan Tante Saskia kalau Paman sedang dekat dengan seseorang," ucap Viona, berusaha menyembunyikan rasa sakit yang tengah dia rasakan. "Bukankah dengan begitu Paman bisa mengenalkan kak Olivia pada kakek dan tante Saskia, supaya mereka tidak menjodoh-jodohkan Paman dengan perempuan lain."
Arsen mengerutkan keningnya saat mendengar Viona menyebutkan nama Olivia, "Olivia?"
Viona mengangguk pelan, kedua tangannya saling menggenggam erat di depan tubuhnya. "Paman punya hubungan yang spesial dengan kak Olivia kan? Jika tidak kalian tidak mungkin---"
"Jadi ini alasan kamu tiba-tiba selalu bersikap dingin padaku saat ada Olivia didekatku?" potong Arsen cepat, wajahnya kini berubah lebih serius. "Kamu benar-benar mengira aku punya hubungan spesial dengan Olivia? Begitu?"
"Aku bukan mengira, tapi kalian memang selalu terlihat mesra!" suara Viona sedikit meninggi, akhirnya dia tidak bisa lagi menyembunyikan emosi yang selama ini dia tahan. "Harusnya aku tidak langsung percaya dan berharap saat Paman bilang cinta padaku. Aku sudah bertunangan dengan Farel, tidak seharusnya aku mengharapkan cinta dari Paman tunanganku sendiri!"
Air mata yang sudah menumpuk akhirnya menetes ke pipinya. Viona cepat-cepat menyekanya dengan punggung tangan, namun air matanya justru semakin banyak yang keluar.
Arsen merasa hatinya seperti tertusuk saat melihat Viona menangis seperti sekarang. Harusnya sejak awal dia menyadari jika Viona cemburu dan salah paham terhadap Olivia. Dia menarik lengan Viona dan menariknya kedalam pelukannya. Viona mencoba memberontak untuk dilepaskan, namun Arsen semakin mengeratkan pelukannya.
"Jangan seperti ini, Viona..." bisik Arsen dengan suara yang penuh rasa sakit, menahan Viona yang masih berusaha untuk melarikan diri dari pelukannya. "Aku tidak pernah bermaksud membuatmu merasa seperti ini. Tolong, berhentilah memberontak dan dengarkan aku dengan baik."
Setelah beberapa saat berjuang, Viona akhirnya menyerah, tangisnya akhirnya keluar setelah lama ditahan. Tangannya yang tadinya mendorong dada Arsen perlahan beralih melingkari pinggang pria itu, mencari rasa aman yang selama ini dia cari.
"Aku sudah berusaha untuk mencintai Farel, tapi hatiku justru tertuju pada Paman," bisiknya di dada Arsen dengan suara bergetar karena tangisannya. "Dan sekarang aku takut jika cinta yang kamu katakan hanya omong kosong belaka."
Arsen mengusap punggung Viona dengan lembut, menghirup wangi tubuhnya yang membuat hatinya semakin terasa sakit saat menyadari seberapa dalam rasa sakit yang dia berikan pada gadis ini.
"Aku tidak akan pernah berbohong tentang perasaanku padamu, Viona. Tidak pernah," ucapnya dengan tegas. "Yang kamu lihat dengan Olivia itu hanyalah kesalahpahaman semata. Olivia sudah menikah dengan teman baikku, dan waktu itu aku menyuruhnya datang ke kantor supaya aku bisa mengajakmu makan siang diluar. Jika kita hanya makan berdua, kamu pasti akan menolak karena takut menjadi pusat perhatian orang-orang di kantor."
Arsen mengurai sedikit pelukannya untuk bisa melihat wajah Viona yang sudah mulai sembab karena menangis, menyeka air mata yang masih menetes di pipi gadis itu dengan ibu jarinya.
"Kenapa kamu tidak memberitahuku kalau kamu merasa cemburu? Kalau kamu bilang padaku, aku pasti akan menjelaskan semuanya dari awal," lanjut Arsen, menatap Viona dengan penuh perhatian dan cinta yang tidak bisa disembunyikan lagi.
"Karena aku takut kamu akan bilang jika aku tidak punya hak untuk merasa cemburu," jawab Viona dengan suara pelan, masih tidak berani menatap mata Arsen. "Aku sudah bertunangan dengan Farel, Paman. Aku tidak punya hak apapun atas dirimu."
Arsen mengangkat dagu Viona dengan lembut, membuat tatapan mereka saling bertemu. "Kamu punya hak atas diriku karena hatiku sudah milikmu, Viona. Tidak peduli apapun statusmu sekarang, aku akan mencari cara untuk menyelesaikan semua masalah ini."
Matanya yang dalam penuh dengan janji, membuat Viona merasa sedikit lega namun tetap ada rasa takut yang mengganjal di dalam hatinya. Mendiang ayahnya dan papanya Farel sudah sepakat untuk menjodohkan mereka. Perjanjian itu bukan hanya tentang hubungan dua orang, tapi juga tentang hubungan antara dua keluarga.
"Tapi aku takut dengan apa yang akan terjadi jika keluarga kita tahu tentang perasaan kita berdua." ucap Viona, matanya menjelajahi mata Arsen. "Terutama paman Bima, aku khawatir paman Bima tidak akan tinggal diam jika beliau sampai tahu tentang hubungan kita ini."
Arsen mengangguk, memahami kekhawatiran yang tengah Viona rasakan. Dia menarik gadis itu kembali ke dalam pelukannya, mencium pucuk kepalanya dengan lembut.
"Aku tahu resikonya, dan aku tidak bisa kehilanganmu, Viona." ucap Arsen dengan tegas. "Kamu tidak sendirian dalam hal ini, kita akan menghadapinya bersama."
Viona mengeratkan pelukannya pada pinggang Arsen, berharap kedekatan itu bisa menghilangkan rasa gelisah yang mengganjal di dalam dirinya.
Tok... tok... tok...
Tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar, membuat keduanya terkejut dan segera menjauhkan tubuh masing-masing. Rasa takut kembali menghantui Viona, dia menoleh cepat pada pintu yang masih tertutup rapat lalu menatap Arsen kembali.
"Arsen, ini kakak. Bisa kita bicara sebentar?"
Suara Saskia yang terdengar memanggil membuat Viona semakin panik, kedua tangannya memegangi lengan Arsen dengan kuat. Jantungnya berdetak semakin kencang, bagaimana jika Tante Saskia sampai memergokinya ada di dalam kamar paman tunangannya sendiri?
-
-
-
Bersambung...