Trauma sang Letnan akan masa lalunya bersama seorang wanita untuk kesekian kalinya, membuatnya tidak ingin lagi berurusan dengan makhluk berjenis wanita.
Rasa sakit di hatinya membuatnya betah 'melajang', bahkan sampai rekan letting dan juniornya banyak yang memiliki momongan.
Namun, cara Tuhan mempertemukan manusia dengan jodohnya memang sangatlah adil. Ia sangat tidak menyukai gadis ini tapi.............
KONFLIK TINGKAT TINGGI. SKIP bagi yang tidak bisa membaca alur cerita berkonflik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. Sesuai alur terbaik.
Tak ingin peduli lagi dengan tingkah dan ucapan Anye, Bang Rinto kembali mengemudikan mobilnya.
"Kancingkan pakaianmu, jangan ada laki-laki lain lagi yang melihatnya selain saya..!!" Ucap tegas Bang Rinto.
"Abang cemburu??"
Seringai senyum Bang Rinto terangkat tipis. "Masalahnya, siapa yang mau lihat 'benda' setipis papan itu?? Di pandang tak enak, di sentuh nggak terasa." Kata Bang Rinto sambil menarik kaosnya sedikit menutup bagian bawah perut.
Anye yang mendengarnya langsung syok. Selama ini ia merasa tubuhnya sangat lumayan, tapi ucapan Bang Rinto benar-benar membuatnya emosi.
...
Sesampainya di depan rumah, Anye langsung turun dari mobil sembari membanting pintu dengan kasar.
Bang Rinto pun bersandar memejamkan matanya. Sejenak ia mengatur nafas usai mati-matian menahan diri menghadapi ulah Anye.
'Benarkah semua wanita sama saja?? Kenapa aku merasa Anye bukan wanita seperti itu. Tapi.. Dia terang-terangan menggodaku. Begitukah pergaulan wanita jaman sekarang??? Hatiku sakit melihat Anye begitu berani.'
tok.. tok.. tok..
Suara ketukan kaca jendela mobil membuat lamunan Bang Rinto tersadar. Sudah ada Reno, lettingnya dan juga kakak kandung Anye berdiri di samping pintu. Segera Bang Rinto membuka pintu dan menemui lettingnya.
"Kata Ayah, kamu pacaran sama Anye?? Beraninya kamu pacaran sama adik ku??" Tegur Bang Reno.
"Mau bagaimana lagi? Sudah jodohnya begitu." Jawab Bang Rinto tenang.
"Apa nggak ada perempuan lain?? Adik ku masih kecil, aku tau kelakuanmu, Rin. Sejak kejadian itu aku nggak pernah lihat kamu ada interaksi dengan perempuan mana pun." Omel Bang Reno langsung di hadapan sahabatnya. "Kamu dengar baik-baik ya, Anye itu lugu. Dia selalu dapat laki-laki yang salah, di tipu, di manfaatkan. Aku nggak mau dia nangis untuk kesekian kalinya."
"Apa aku terlihat seperti b******n??" Tanya Bang Rinto.
"Justru karena wajahmu seperti preman pasar, makanya aku waspada. Pokoknya kau jangan mempermainkan adik ku, awas saja kau ya..!!!" Ancam Bang Reno.
"Kau juga harus dengar, adikmu itu ngawur parah. Jangan sampai nanti ada apa-apa, kau hanya menyalahkanku saja." Kata Bang Rinto.
"Ya kau tau lah bagaimana kelakuan perempuan, selama kau tidak terpengaruh dan membuka pintu, hal buruk tidak akan pernah terjadi. Ingat, kau hanya sekedar dekat, belum bisa di bilang pacaran juga."
Bang Rinto menyulut rokok sembari mengangguk meskipun hanya sekedar untuk membuat sahabatnya lebih tenang.
"Aku serius lho, Rin."
"Iyee.. Cerewet banget sih bacot lu." Bang Rinto berjalan menghampiri Pak Herliz di depan teras rumah kemudian sedikit menjauhkan rokoknya untuk menghormati pria paruh baya itu. "Saya pamit, yah."
"Iya. Tapi ngomong-ngomong, Anye kenapa?"
"Biasa yah, ladies." Jawab Bang Rinto.
Pak Herliz mengerti dan membiarkan Bang Rinto pergi, hanya saja Bang Reno yang menatap keduanya dengan penuh tanda tanya dalam kepala.
...
Di bawah guyuran shower kamar mandi, Bang Rinto mencoba menenangkan hati dan pikiran dari semua hal yang terjadi hari ini. Bayangan Anyelir tidak bisa hilang begitu saja.
"Ikut Abang ya, dek. Abang pusing jauh dari adek." Gumamnya pelan.
'Bagaimana caraku membawamu pergi?? Tapi tidak mungkin kita terus seperti ini.'
***
"Haaahh.. Bang Rinto nggak mau kamu dekati?? Berarti kamu harus lebih keras mengerjai Bang Rinto lagi biar mundur teratur dan nggak mau sama kamu." Kata Bintang.
Anye mengangguk menyetujui. Sebenarnya ia menyukai sosok Black Mamba, tapi setelah mengetahui pemilik akun tersebut, rasa suka itu menjadi hilang tak berbekas. Bayangan Black Mamba dalam benaknya dan yang ia inginkan adalah sosok yang lembut, hangat serta murah senyum, berbanding terbalik dengan sosok Bang Rinto yang kasar, dingin dan kaku tanpa ekspresi bahkan pria itu pelit senyum.
"Menurutmu, aku harus bagaimana lagi?" Tanya Anye kembali meminta saran pada Bintang.
"Bagaimana kalau kamu menjebaknya, dengan kamu selalu berbuat curang dan mengerjainya, dia akan semakin benci kamu. Setelah itu pasti dia akan bilang 'putus'."
"Ituu.. Ituuu yang paling bener. Pengajuan nikah ku juga bakalan batal, donk. Secara.. Mana mungkin ayahku membiarkan aku hidup dengan laki-laki yang minus akhlak." Ujar Anye bangga.
...
Hari menjelang sore. Bang Rinto menunggu Anye di depan toko koperasi Kompi, gadisnya itu menolak untuk di jemput tapi akhirnya datang terlambat karena tidak pernah ingin melanjutkan pengajuan nikah.
"Kamu darimana saja?? Masa Danki yang harus menunggu kita?" Tanya Bang Rinto.
"Biar saja menunggu, Anye kan sudah bilang tidak mau melanjutkan pengajuan nikah." Jawab Anye malas.
"Pengajuan nikah ini untuk memperjelas statusmu di mata hukum negara, hukum militer dan agama. Kalau saya melanggar semua sumpah saya sebagai pasanganmu, kamu berhak menuntut saya melalui jalur hukum militer dan tuntutan pada hukum negara..!!" Ujar Bang Rinto memperjelas tujuannya.
Seketika senyum Anye tersungging. "Begitu ya?? Kenapa tidak bilang kalau bisa sedetail itu. Kalau begitu ayo, kita lanjut pengajuan nikah. Tapi jangan susah ya, Anye capek."
"Iyaa.. Ayo sekarang menghadap Bang Rico..!!" Ajak Bang Rinto.
.
.
.
.
memang rumit, percayakan kisah sesuai alur yang diinginkan othornya
semangat Thor.....sukses selalu