NovelToon NovelToon
Enam Serangkai

Enam Serangkai

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan / Action
Popularitas:830
Nilai: 5
Nama Author: istimariellaahmad

Di bawah terik matahari dan topi caping warna-warni yang merendahkan harga diri, Dewi Laras tak menyangka hari pertama ospek justru mempertemukannya dengan lima orang paling “ajaib” dalam hidupnya. Bagas si santai penuh akal, Juna yang cemas setengah mati, Gia si logis tanpa takut, Rhea si penyelundup biskuit profesional, dan Eno si dramatis penyelamat semut.
Sebuah hukuman kecil karena ponsel dan kekacauan konyol menjadi awal dari persahabatan yang tak terduga. Dari bangku kuliah hingga perjuangan skripsi, dari tawa karena dompet kosong hingga rahasia hati yang perlahan tumbuh, mereka berenam belajar bahwa takdir sering kali dimulai dari hal paling memalukan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di bawah sorotan lampu dekanat

Ruang dekanat yang biasanya dingin karena AC, terasa sangat menyesakkan. Aroma kayu cendana dari parfum Pak Gunawan memenuhi ruangan, menciptakan kontras yang tajam dengan bau keringat sisa latihan basket di tubuh Bagas Putra.

Di kursi utama, Pak Dekan tampak bingung sekaligus tertekan. Di hadapannya, Pak Gunawan duduk tenang, menyesap kopi hitam seolah dia adalah pemilik gedung ini.

"Laras, silakan duduk," kata Pak Dekan dengan nada canggung.

Laras duduk dengan punggung tegak, sementara Bagas berdiri tepat di belakangnya, kedua tangannya bertumpu di sandaran kursi Laras—sebuah gestur protektif yang tidak bisa diganggu gugat. Sementara itu, Eno, Gia, Rhea, dan Juna tertahan di luar pintu kaca, menempelkan telinga mereka sekuat tenaga.

"Pak Dekan," Pak Gunawan membuka suara, suaranya halus namun mematikan. "Saya ke sini bukan untuk membuat keributan. Saya hanya khawatir dengan lingkungan pergaulan putri saya. Foto-foto yang beredar itu... sangat tidak pantas untuk mahasiswi berprestasi seperti Laras. Saya hanya ingin memastikan masa depannya terjamin di tangan yang tepat, bukan di jalanan dengan pemuda yang emosional."

Bagas menggeram rendah, tapi Laras memegang tangan Bagas untuk menenangkannya.

"Masa depan yang Bapak maksud itu pernikahan paksa untuk menutupi kesalahan Bapak di masa lalu?" suara Laras keluar, jernih dan berani.

Pak Gunawan tertawa kecil. "Kesalahan? Ibumu yang tidak bisa mengelola keuangan, Laras. Saya hanya mencoba menyelamatkan kalian dari jeratan hutang yang bisa menyeret ibumu ke penjara. Pak Dekan, saya rasa Anda mengerti posisi saya sebagai orang tua yang ingin melakukan pencucian nama keluarga."

Tiba-tiba, pintu dekanat terbuka. Gia Kirana masuk dengan tenang, memegang selembar map biru.

"Maaf mengganggu, Pak Dekan," kata Gia dengan nada sopan yang dibuat-buat. "Saya asisten peneliti untuk mata kuliah Hukum Perdata, dan saya punya beberapa dokumen menarik yang mungkin ingin Bapak lihat sebelum mengambil keputusan soal 'reputasi' mahasiswi kita."

Gia meletakkan map itu di meja. Isinya adalah salinan surat pinjaman sepuluh tahun lalu yang sudah ia telusuri lewat bantuan sepupunya.

"Pak Gunawan," Gia menoleh pada pria itu. "Di sini tertulis bahwa tanda tangan Ibu Laras dipalsukan. Secara hukum, ini bukan hutang, melainkan penipuan dan pemalsuan dokumen. Jika Bapak terus menekan Laras dengan isu ini, map ini tidak akan berhenti di meja Pak Dekan, tapi akan lanjut ke meja penyidik kepolisian."

Wajah Pak Gunawan yang tadinya tenang, mendadak berubah sedikit pucat. Rahangnya mengeras.

"Dan soal foto-foto itu," lanjut Gia, "kami sudah melacak alamat IP penyebarnya. Ternyata berasal dari jaringan internal perusahaan Bapak. Itu namanya pencemaran nama baik dan pelanggaran UU ITE."

Suasana ruangan mendadak berbalik 180 derajat. Pak Dekan berdehem, merasa mendapatkan kembali otoritasnya. "Pak Gunawan, sepertinya ini masalah internal keluarga yang seharusnya tidak dibawa ke ranah kampus dengan cara memfitnah mahasiswa kami."

Pak Gunawan berdiri, merapikan jasnya dengan kasar. Dia menatap Laras dengan kebencian yang mendalam. "Kamu pikir teman-teman kecilmu ini bisa melindungimu selamanya? Kamu tetap darah dagingku. Suatu saat, kamu akan datang sendiri padaku memohon bantuan."

"Nggak akan," potong Bagas dengan suara berat. "Karena mulai hari ini, dia punya keluarga yang jauh lebih nyata daripada Bapak."

Setelah Pak Gunawan pergi dengan kemarahan yang tertahan, mereka berenam berkumpul di lorong gedung dekanat. Laras langsung lemas dan hampir jatuh kalau tidak segera ditangkap oleh Bagas.

"Gila, Gia... lo beneran dapet dokumen itu?" tanya Eno Surya dengan mata melotot.

"Sebenernya itu cuma salinan draf awal, belum kuat banget buat ke pengadilan," bisik Gia sambil nyengir tipis. "Gue cuma gertak sambal, tapi ternyata si Om itu beneran punya borok jadi dia ketakutan."

"Lo emang iblis berwajah malaikat, Gi!" seru Rhea Amara sambil memeluk Gia erat.

Mereka tertawa lepas, sebuah tawa kemenangan yang menggema di koridor kampus. Namun, di tengah kegembiraan itu, Juna Pratama yang sejak tadi diam, melihat ke arah ponselnya dengan wajah tegang.

"Guys... ada satu masalah lagi," suara Juna terdengar gemetar.

"Apa lagi, Jun? Semut mau nyebrang lagi?" canda Eno.

"Nggak... ini soal pengumuman beasiswa kita," Juna memperlihatkan layar ponselnya. "Semua nama kita... nama kita berenam... ada di daftar 'Evaluasi Kelayakan' karena masalah kedisiplinan hari ini. Beasiswa kita terancam dicabut."

Tawa mereka terhenti seketika. Plot twist Pak Gunawan belum selesai; jika dia tidak bisa menarik Laras lewat hutang, dia akan menghancurkan satu-satunya jalan mereka untuk tetap bisa kuliah bersama.

Happy reading sayang...

Baca juga cerita bebu yang lain...

Annyeong love...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!