Putus cinta membuat seorang gadis bernama Emeery menerima perjodohannya dengan seorang duda beranak dua. Namun, sikapnya yang tengil membuat sang duda pusing tujuh keliling, akankah Emeery mampu menaklukkan dinding es suaminya, yang bahkan belum move on dari sang mantan?
Kalau ada, sembilan duda ~
Mau duitnya saja, semuanya ~
Ini dada, isinya duit semua ~
Penasaran dengan kisah mereka? Ikuti ceritanya di sini🤗
Jangan lupa follow
Ig @nitamelia05
fb @Nita Amelia
TT @twins✨
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ntaamelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21. Rencana Kepindahan
Malam ini satu keluarga tengah berkumpul di ruang TV dengan kegiatannya masing-masing. Di mana Jerry sedang main catur dengan sang cucu—Ethan, Emeery yang menemani Sansan mewarnai buku gambar, serta Anggun yang fokus menonton sinetron.
Gerry yang baru saja bergabung membawa secangkir teh dan memilih duduk di samping ibunya.
"Ekhem ...." Pria itu berdehem keras dan membuat semua orang langsung mengalihkan perhatian. Bahkan Anggun yang sedang serius-seriusnya langsung memberi respon.
"Kenapa, Ger?" tanyanya seraya melihat sekilas.
"Ada yang mau aku omongin," jawab Gerry sambil mengubah posisi duduknya jadi lebih tegak.
Jerry dan Anggun langsung saling pandang, sepertinya yang akan disampaikan cukup serius. TV langsung dimatikan, Jerry juga minta untuk istirahat main catur. Kini semua orang menatap Gerry, membuat pria itu seperti terdakwa di ruang sidang.
"Ini tentang rencana kepindahan keluarga kecilku, Mom, Dad," papar Gerry yang membuat mata Emeery langsung membola. Tak ada pembicaraan apapun sebelumnya, Gerry tiba-tiba ingin membawa mereka keluar dari rumah. Padahal pernikahan mereka juga baru seminggu lebih.
"Pindah, Kak?" Emeery langsung menyambar. Nampak sekali wajahnya shock. Sementara Gerry memiliki alasan tersendiri.
"Emangnya kalian nggak ngobrol dulu? Kok Emeery kayak orang yang nggak tahu apa-apa?" tanya Jerry bingung dengan situasi ini.
Gerry menatap Emeery sekilas, sebagai kepala rumah tangga keputusan ada di tangannya, jadi tanpa campur tangan Emeery pun, mereka bisa pindah kapanpun dan sang istri tidak bisa menolak.
"Kamu setuju kan kalo kita pindah? Aku ingin kita dan anak-anak mandiri," tanya Gerry langsung to the point. Sesaat Emeery gelagapan, baginya tinggal di mana saja tidak masalah, selagi Gerry bertanggung jawab penuh atas hidupnya.
"Oh iya pasti dong. Aku ikut ke mana suamiku pergi pokoknya," jawab Emeery sambil tersenyum kikuk.
"Kita pindah ke lumah yang ada Mommy-nya, Dad?" timpal Sansan, dia pikir mereka akan kembali ke rumah yang dahulu ditempati. Saat mendiang ibunya masih hidup.
Seketika semua orang yang ada di sana panik, takut Emeery tersinggung. Namun, Emeery bukan gadis se-baper itu. Dia justru terlihat santai saja, karena tidak ada artinya cemburu pada orang yang sudah meninggal.
"Nggak, Daddy udah beli rumah baru yang lebih deket ke sekolah kalian," jawab Gerry dengan cepat untuk meluruskan sebelum terjadi kesalahpahaman.
Anggun langsung menghela napas panjang.
"Mommy sama Daddy sih terserah kalian aja, Sayang, karena kalian kan yang menjalani. Yang penting kalian tetap rukun dan kasih kabar ke kami kalau ada apa-apa," ujar wanita itu. Dia sebenarnya cukup was-was, karena sepertinya mereka belum bisa saling menerima. Namun, memaksakan kehendak pun rasanya tidak baik juga.
"Iya, jangan sampe Daddy denger kamu sakitin Emeery!" sambar Jerry dengan tegas, sebagai bentuk peringatan untuk putranya. Karena semenjak Emeery masuk ke rumah ini, gadis itu sudah seperti anaknya sendiri.
"Daddy nggak bakal denger itu, aku jamin," jawab Gerry sambil melirik Emeery.
Mendengar itu, entah kenapa hati Emeery menghangat, seperti ada geleyar yang singgah dan membuat bibirnya melengkung tipis.
*
*
*
"Kapan kita pindahnya, Kak?" tanya Emeery setelah mobil yang dikendarai Gerry berhenti di depan gerbang kampusnya.
"Abis kita nginep di rumah orang tuamu," jawab Gerry, sudah memikirkan bagaimana ke depannya.
"Berarti minggu depan dong?"
Gerry langsung menganggukkan kepala. Menurutnya lebih cepat lebih baik. Emeery hanya bisa patuh, jadi dia tak memprotes sedikit pun setiap keputusan yang Gerry ambil.
"Oke deh, yang penting uang jajan aku nggak dipotong," balas Emeery seraya meraih tangan Gerry untuk disaliminya.
Setelah itu dia kembali mengambil inisiatif untuk mengecup dahi suaminya, namun sebelum itu terjadi Gerry sudah mencondongkan wajah dan berbalik mengecup pipi Emeery hingga gadis itu membeku.
Sesaat mereka hanya bisa saling pandang, Emeery berkedip-kedip lebih banyak untuk memastikan ini nyata.
"Kurang?" tanya Gerry dengan senyum menggoda.