NovelToon NovelToon
CINTA TERLARANG : BOSS DAN KARYAWAN

CINTA TERLARANG : BOSS DAN KARYAWAN

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: MissSHalalalal

seorang gadis muda yang harus benting tulang menghidupi kedua adik kembarnya setelah kedua orang tuanya meninggal. adik perempuannya sakit-sakitan, mengharuskannya bekerja lebih keras. saat pulang bekerja tak sengaja dia tertabrak mobil, dan ternyata yang menabrak itu adalah pemilik perusahaan tempat dia bekerja. saat itu lah pria pemilik perusahaan itu jatuh hati pada gadis itu. bukan hanya karena kecantikannya, tapi juga karena sifatnya yang baik dan sangat menyayangi adik-adiknya. namun saat melihat adik laki-laki gadis itu, dia mengingat seseorang di masa lalunya. tentang ayahnya yang pernah mengaku melakukan kejahatan sebelum dia meninggal. ayah pria itulah yang menjadi penyebab kematian kedua orang tua nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25

Di kediaman megah keluarga Ryuga, lampu gantung kristal yang mewah seolah mengejek kehampaan di hati Allandra. Ia melangkah masuk dengan bahu merosot, dasinya sudah ditarik lepas, dan kemejanya kusut masai—gambaran seorang pria yang baru saja kehilangan dunianya di gerbang pemakaman.

Namun, ketenangan yang ia cari tidak ada di sana. Di ruang tamu utama, Nyonya Sofia duduk dengan anggun, menyesap teh seolah tidak ada nyawa yang baru saja melayang. Di sampingnya, duduk Carissa Wardhana, wanita pilihan Sofia yang tampak sempurna dengan gaun desainer terbaru.

"Kau pulang juga akhirnya, Alan," suara Sofia memecah kesunyian, dingin dan tajam. "Temui Carissa. Dia sudah menunggumu sejak sore untuk membahas detail pertunangan kalian bulan depan."

Alan berhenti di tengah ruangan. Ia bahkan tidak melirik Carissa. Matanya yang merah menatap ibunya dengan kebencian yang sulit disembunyikan. "Pertunangan? Di saat aku baru saja menguburkan adik dari wanita yang kucintai, Mama bicara soal pertunangan?"

Carissa berdehem, mencoba mencairkan suasana. "Alan, aku turut berduka soal... gadis kecil itu. Tapi bisnis dan masa depan keluarga kita tidak bisa menunggu rasa sedihmu yang berlebihan."

"Jaga mulutmu, Carissa," desis Alan.

Sofia berdiri, mendekati putranya. "Cukup, Alan! Lupakan gadis pabrik itu. Dinda itu hanya butiran pasir, tidak penting, dan sekarang dia sudah kehilangan satu-satunya alasan untuk memerasmu. Adiknya sudah mati. Urusanmu selesai. Jangan rendahkan martabat Ryuga dengan terus mengejar remah-remah seperti dia."

Alan tertawa getir, tawa yang terdengar sangat berbahaya. "Butiran pasir? Wanita yang Mama sebut butiran pasir itu adalah satu-satunya orang yang membuatku merasa menjadi manusia, bukan sekadar mesin pencetak uang seperti yang Mama inginkan!"

"Alan!" bentak Sofia.

"Aku menolak," ucap Alan dengan tegas, suaranya menggelegar di ruangan itu. "Aku menolak perjodohan ini. Aku menolak Carissa. Dan jika Mama berani menyentuh Dinda atau Dika lagi, aku tidak akan segan-segan meninggalkan posisi CEO ini dan membawa seluruh aset pribadiku keluar dari Ryuga Corp. Biarkan perusahaan ini hancur sekalian!"

Alan berbalik pergi, mengabaikan teriakan histeris ibunya dan wajah pucat Carissa. Di dalam hatinya, hanya ada satu nama yang berdenyut menyakitkan: Adinda.

***

Sementara itu, di sudut kota yang kumuh, kontrakan sempit itu terasa lebih dingin dari biasanya. Aroma minyak kayu putih dan bunga kamboja yang terbawa dari pakaian mereka masih menyeruak. Dinda terbaring lemah di ranjang tipis, wajahnya menghadap tembok, matanya terpejam namun air mata terus merembes membasahi bantal. Ia tertidur karena kelelahan jiwa yang luar biasa.

Dika bergerak dalam sunyi. Dengan rahang yang mengeras, ia memasukkan pakaian-pakaian Dita ke dalam kardus. Setiap helai baju yang ia lipat terasa seperti belati yang menusuk dadanya. Baju seragam yang belum sempat dipakai lagi, kaos bergambar kartun kesukaan Dita, hingga syal rajut yang dulu Dita pakai saat kemoterapi.

Saat ia menarik laci di bawah meja belajar kecil milik mereka berdua, tangan Dika menyentuh sebuah buku bersampul merah muda yang sudah agak kusam. Buku harian Dita.

Dika tertegun. Ia melirik kakaknya yang masih terlelap, lalu menyimpan buku itu di balik kausnya. Ia tidak ingin Dinda melihatnya sekarang. Dinda terlalu rapuh; satu goresan kenangan lagi mungkin akan menghancurkan kewarasannya.

Setelah semua barang dikemas dan rumah nampak lebih lapang namun terasa jauh lebih hampa, Dika duduk di lantai beralaskan tikar. Di bawah temaram lampu bohlam 5 watt, ia membuka buku itu perlahan.

***

Halaman pertama bertanggal setahun yang lalu, saat Dita pertama kali didiagnosis.

“Hari ini dokter bilang ada yang salah dengan darahku. Kak Dinda menangis diam-diam di dapur, aku mendengarnya. Aku takut, tapi aku harus tersenyum. Kalau aku menangis, Kak Dinda pasti tambah hancur.”

Air mata Dika jatuh, membasahi kertas itu. Ia membalik halaman demi halaman, menemukan tulisan-tulisan yang menyayat hati tentang betapa kerasnya Dita berjuang menyembunyikan rasa sakitnya.

“Tadi siang saat Bang Dika berangkat ke pasar, kepalaku rasanya mau pecah. Aku muntah di kamar mandi sampai badanku lemas sekali. Tapi saat mereka pulang, aku pura-pura tidur. Aku nggak mau Bang Dika kerja sambil mikirin aku terus. Maafin Dita ya, Bang, sudah jadi beban.”

Dika tersedan, ia menutup mulutnya dengan tangan agar isakannya tidak membangunkan Dinda. "Kamu bukan beban, Ta... Kamu nggak pernah jadi beban..." bisiknya parau.

Halaman terakhir ditulis beberapa hari sebelum ujian nasional dimulai. Tulisannya nampak gemetar, seolah jemari mungil itu sudah tidak sanggup lagi memegang pena.

“Aku ingin lulus ujian ini. Aku ingin jadi juara kelas lagi seperti dulu, mungkin untuk terakhir kalinya. Aku ingin Kak Dinda dan Bang Dika bangga, supaya mereka merasa lelahnya mereka bekerja siang malam nggak sia-sia. Tapi sebenarnya... aku capek banget. Setiap tarik napas rasanya sakit. Kadang aku berpikir, kalau aku pergi sekarang, mungkin Kak Dinda nggak perlu lagi kerja sampai pagi, dan Bang Dika nggak perlu putus sekolah demi cari uang buat aku. Aku sayang kalian... lebih dari nyawaku sendiri.”

Dika menutup buku itu dengan tangan gemetar. Dadanya sesak, seolah oksigen di ruangan itu telah habis. Ia menatap kakaknya yang masih terlelap dalam penderitaan. Di titik inilah Dika menyadari betapa besarnya pengorbanan yang mereka lakukan satu sama lain dalam ketidaktahuan.

Dinda mengorbankan kehormatannya. Dita mengorbankan rasa sakitnya demi senyuman palsu. Dan dia? Dia hanya bisa menyaksikan semuanya hancur.

***

Dika berdiri, menghapus air matanya dengan kasar. Ia menatap ke luar jendela yang hanya menampilkan dinding kusam tetangga. Di kejauhan, ia tahu Alan dan dunianya yang megah sedang mengintai.

"Cukup, Ta. Kamu sudah istirahat sekarang," gumam Dika ke arah nisan virtual di dalam pikirannya. "Sekarang giliranku. Aku akan jaga Kak Dinda. Aku nggak akan biarkan satu orang pun, terutama pria itu, mengusik kita lagi."

Dika mengambil tas ranselnya, memasukkan buku harian itu ke bagian paling dalam. Ia sudah memutuskan. Besok pagi-pagi sekali, sebelum matahari terbit dan sebelum asisten Alan datang mengetuk pintu, mereka harus pergi. Ia akan membawa Dinda ke tempat di mana tak ada seorang pun yang mengenal mereka sebagai "si buruh pabrik" atau "si simpanan CEO".

Ia kembali ke sisi Dinda, menyelimuti kakaknya yang menggigil dalam tidurnya.

"Besok kita pergi, Kak," bisik Dika pelan. "Kita mulai dari awal. Cuma kita berdua. Dan Dita... akan selalu ada di hati kita."

***

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!