NovelToon NovelToon
Chef Kirana Dan Jendral Berhati Dingin

Chef Kirana Dan Jendral Berhati Dingin

Status: tamat
Genre:Transmigrasi / Fantasi / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Kirana, Executive Chef bintang lima di Jakarta, mati konyol karena ledakan gas. Sialnya, dia malah terbangun di tubuh Putri Tantri—tokoh antagonis dalam novel sejarah yang baru saja meracuni adik angkat suaminya!
​Di hadapannya, Jenderal Arga sang "Iblis Perang Utara" sudah menghunus pedang, siap memenggal kepalanya.
​Tak mau mati dua kali, Kirana mengajukan penawaran gila: "Jangan bunuh aku dulu! Izinkan aku masak makanan terakhir!"
​Bermodalkan bawang merah, kecap manis buatan sendiri, dan teknik masak modern, Kirana bertekad mengubah takdir kematiannya. Siapa sangka, masakan lezatnya tak hanya menyelamatkan lehernya, tapi juga menyembuhkan maag kronis sang Jenderal dan mengguncang lidah satu kerajaan?
​Tapi hati-hati, Kirana! Musuhmu bukan cuma panci gosong, tapi juga pelakor bermuka dua dan intrik politik yang mematikan. Sanggupkah Kirana bertahan hidup di zaman kuno tanpa rice cooker dan kulkas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4: Operasi Daging Sapi dan Pasukan yang Kelaparan

Matahari baru saja terbit, tapi Dapur Utama Kediaman Jenderal sudah heboh seakan ada kebakaran.

"Mbok Darmi! Mana kelapanya?! Saya minta 100 butir, kenapa baru ada 20?!" teriakku sambil memegang sutil kayu besar layaknya tongkat komando.

Mbok Darmi, kepala pelayan dapur yang badannya gemuk namun nyalinya ciut, berlari tergopoh-gopoh sambil membetulkan kembennya.

"Ampun, Nyonya! Tukang kelapa di pasar baru buka! Sedang diangkut!"

"Percepat! Kita berpacu dengan waktu!" perintahku tegas.

Aku berdiri di tengah dapur, berkacak pinggang.

Para pelayan dapur—yang kemarin lari ketakutan melihatku—kini berdiri berbaris rapi. Mereka masih takut, tentu saja. Siapa yang tidak takut pada Putri Tantri si Penyihir Jahat? Tapi hari ini, ketakutan mereka kalah oleh rasa bingung dan penasaran.

Sejak subuh, aku sudah membangunkan mereka paksa. Bukan untuk menyiksa atau melempar piring, tapi untuk membagi tugas.

"Dengar!" suaraku menggema. "Hari ini kita bukan masak untuk pesta teh cantik. Kita masak untuk perang! Target kita: 50 kilo daging sapi harus diolah sebelum matahari terbenam!"

Para pelayan saling pandang, berbisik-bisik.

"Daging sapi sebanyak itu? Mau dibikin apa? Biasanya cuma direbus air garem..."

Aku menepuk meja. BRAK!

"Diam dan kerjakan! Kau, tim satu! Kupas bawang merah dan putih, ulek sampai halus! Jangan ada yang kasar!"

"Kau, tim dua! Parut kelapa, peras santannya! Pisahkan santan kental dan encer!"

"Kau, tim tiga! Potong daging searah serat! Jangan lawan arah serat nanti alot!"

"LAKSANAKAN!"

Para pelayan itu tersentak, lalu reflek menjawab, "I-iya, Nyonya!"

Mereka bergerak cepat. Suara pisau beradu dengan talenan, suara parutan kelapa, dan suara ulekan batu menciptakan simfoni yang bising namun produktif.

Aku tersenyum puas. Inilah Mise en place. Persiapan adalah kunci.

Di zaman tanpa kulkas dan pengawet kimia, tantangan membuat bekal perang adalah daya tahan. Daging rebus biasa akan basi dalam 6 jam. Daging bakar akan keras seperti batu besok paginya.

Jadi, aku memilih dua menu andalan Nusantara yang sudah teruji zaman:

 * Rendang Kering (Rendang Hitam): Dimasak berjam-jam sampai santannya menjadi minyak alami yang mengawetkan daging. Tahan berminggu-minggu.

 * Abon Sapi (Beef Floss): Daging suwir yang digoreng kering. Ringan, praktis, dan gurih. Cocok dicemil saat berkuda.

Aku mengambil alih stasiun utama: Kuali Besar.

Tiga kuali besi raksasa sudah disiapkan di atas tungku api yang membara.

Aku menuangkan santan kental ke dalam kuali, memasukkan bumbu halus (bawang, cabai, jahe, lengkuas, serai, daun kunyit) yang sudah kutakar dengan insting.

Aroma rempah mentah mulai menguar.

"Aduk terus!" perintahku pada pelayan muda yang bertugas mengaduk kuali. "Jangan berhenti sampai tanganmu putus! Kalau santannya pecah, kepalamu yang pecah!" (Oke, itu ancaman ala Tantri biar mereka semangat).

Sementara Rendang sedang dalam proses Kalio (masih basah), aku beralih ke pembuatan Abon.

Daging sapi direbus sampai empuk, lalu disuwir halus, dan ditumbuk. Setelah itu, daging suwir ini kubumbui dengan ketumbar dan gula merah, lalu digoreng kering.

Asap mengepul di dapur. Hawa panasnya luar biasa. Keringat membasahi dahi dan punggungku. Make-up tebal Tantri pasti sudah luntur, tapi aku tidak peduli. Adrenalin memasak ini membuatku merasa hidup kembali. Bukan sebagai Putri Manja, tapi sebagai Chef Kirana.

[Waktu: 12.00 Siang]

Aroma itu mulai menyebar.

Awalnya hanya di dapur. Lalu merayap keluar lewat ventilasi, terbawa angin melintasi taman, hingga sampai ke lapangan latihan prajurit di halaman samping.

Di lapangan itu, 50 prajurit elit Pasukan Harimau Hitam sedang berlatih pedang di bawah terik matahari. Mereka bertelanjang dada, bermandi keringat, dan... kelaparan.

Letnan Wira, tangan kanan Jenderal Arga, sedang memberi instruksi.

"Fokus! Serangan atas! Tahan!"

Sreeng...

Angin berhembus membawa bau santan yang mulai berminyak (blondo) bercampur dengan pedasnya cabai dan gurihnya daging karamelisasi.

Hidung para prajurit kembang kempis.

"Bau apa ini?" bisik salah satu prajurit. "Wangi banget, Ya Dewa..."

"Ini bau daging! Tapi baunya beda... pedas, manis..."

"Perutku bunyi, Ndan..."

Konsentrasi pasukan buyar. Mereka mulai menelan ludah, mata mereka melirik ke arah dapur utama. Bahkan Letnan Wira pun tak bisa menahan diri untuk tidak mengendus udara.

"Siapa yang masak? Koki barak kan sakit?" gumam Wira.

[Waktu: 16.00 Sore]

"Angkat!" teriakku.

Rendang di kuali besar sudah berubah warna menjadi cokelat tua kehitaman (Rendang Dedak). Minyaknya sudah keluar sempurna, memisahkan diri dari bumbu. Dagingnya empuk tapi tidak hancur.

Abon sapi di wajan sebelah sudah kering, berwarna cokelat emas, renyah seperti kapas.

"Dinginkan dulu sebelum dibungkus daun pisang!" instruksiku.

Aku mengambil sedikit Abon yang masih hangat, meniupnya, lalu memberikannya pada Mbok Darmi.

"Coba, Mbok."

Mbok Darmi ragu-ragu. Tangannya gemetar menerima sejumput abon itu. Dia memasukkannya ke mulut.

Mata tua Mbok Darmi membelalak.

Renyah. Manis. Gurih. Rempahnya meledak.

"Gusti..." bisik Mbok Darmi. "Ini daging? Rasanya seperti... kapas dari surga. Enak sekali, Nyonya!"

Pelayan lain menelan ludah melihat ekspresi Mbok Darmi.

"Kalian semua boleh icip sedikit sisa remahan di wajan. Sisanya untuk tentara," kataku sambil tersenyum.

Para pelayan langsung berebutan mengorek wajan. Suara pujian bergumam di sana-sini.

"Enak!"

"Nyonya Tantri hebat!"

Lihat kan? Cara tercepat menaklukkan hati bawahan adalah lewat perut.

Tiba-tiba, pintu dapur terbuka.

Sosok tegap masuk. Bukan Arga, tapi Letnan Wira. Pria berwajah kaku dengan bekas luka di pipi kiri. Dia menatap dapur yang berantakan tapi penuh tumpukan makanan.

"Nyonya Tantri," sapa Wira kaku, tanpa hormat yang tulus. "Jenderal Arga memerintahkan saya memeriksa perbekalan. Besok kami berangkat subuh. Apakah sudah siap?"

Aku menunjuk tumpukan bungkusan daun pisang yang rapi di meja.

"Lima puluh bungkus Rendang Kering. Lima puluh kantong Abon Sapi. Tahan sampai dua minggu tanpa basi, asal jangan kena air."

Wira menatap bungkusan itu dengan skeptis. "Rendang? Abon? Apa itu? Kami biasa makan dendeng batu (dendeng keras)."

"Cobalah," aku menyodorkan piring kecil berisi sampel Rendang dan Abon.

Wira ragu. Dia tahu reputasi Tantri sebagai peracun. Tapi aroma di ruangan ini terlalu menggoda iman.

Dia mengambil sepotong rendang dengan tusuk gigi.

Masuk mulut.

Rahang Wira yang kaku tiba-tiba berhenti bergerak.

Rasa pedas, gurih santan, dan empuknya daging berpadu sempurna. Tidak perlu dikunyah keras seperti dendeng batu. Daging ini lumer di mulut.

Lalu dia mencoba abonnya. Renyah, manis, gurih. Ini akan sangat nikmat jika dimakan dengan nasi jatah ransum yang hambar.

Wira menatapku, kali ini dengan tatapan yang berbeda. Tatapan kaget bercampur... respect.

"Ini... Nyonya yang masak sendiri?"

"Dibantu pelayan, tentu saja. Tapi resepnya dariku," jawabku bangga, menyeka keringat di dahi dengan punggung tangan (lupa kalau tangan kotor, jadi ada noda arang di pipi. Sial).

"Bagaimana, Letnan? Layak untuk Pasukan Harimau Hitam?"

Wira berdehem, menyembunyikan rasa puasnya. "Lumayan. Jauh lebih baik dari dugaanku. Pasukan pasti... tidak akan protes."

"Hanya 'tidak protes'?" aku menaikkan alis. "Kulihat tadi matamu hampir copot saking enaknya."

Wira salah tingkah. Telinganya memerah.

"Ehem. Saya akan lapor Jenderal. Terima kasih, Nyonya."

Wira memberi isyarat pada anak buahnya di luar.

"ANGKUT SEMUANYA! JANGAN ADA YANG TERTINGGAL!"

Para prajurit masuk, mata mereka berbinar-binar melihat tumpukan makanan itu. Beberapa curi-curi pandang ke arah wajan bekas masak, berharap ada sisa.

Aku tersenyum puas melihat mereka mengangkut hasil kerjaku.

Satu masalah selesai.

Tapi tunggu... di mana Jenderal Utama? Kenapa dia tidak datang memeriksa sendiri?

[Ruang Kerja Jenderal Arga]

Arga duduk di balik meja kerjanya yang penuh peta strategi. Di depannya, Letnan Wira sedang melapor.

"Lapor, Jenderal. Perbekalan aman. Nyonya Tantri... berhasil," lapor Wira.

"Berhasil?" Arga tidak menaikkan pandangannya dari peta. "Tidak ada racun?"

"Sudah saya coba sendiri. Aman. Dan rasanya..." Wira ragu sejenak. "Rasanya luar biasa, Jenderal. Dagingnya empuk, bumbunya meresap. Pasukan pasti moralnya naik kalau makan ini."

Arga berhenti menulis. Wira bukan orang yang gampang memuji. Kalau Wira bilang 'Luar Biasa', berarti rasanya memang di atas rata-rata.

Arga melirik piring kecil yang dibawa Wira. Di sana ada sedikit sampel Rendang yang dibawa Wira (sebenarnya buat dia makan sendiri, tapi terpaksa disetor ke bos).

Arga mengambil potong daging itu. Memakannya.

Ledakan rasa itu lagi.

Sama seperti Nasi Goreng kemarin, tapi ini lebih kompleks. Lebih kaya.

Arga merasakan perutnya yang tegang karena stress memikirkan strategi perang, perlahan rileks.

Dia menatap ke arah jendela, ke arah dapur yang cerobong asapnya masih mengebul.

Bayangan Tantri yang berdiri dengan wajah cemong arang dan lengan baju digulung terlintas di benaknya.

"Wanita itu..." gumam Arga pelan. "Penuh kejutan."

"Jenderal?" tanya Wira.

"Tidak apa-apa. Bagikan ke pasukan. Dan Wira..."

"Ya, Jenderal?"

"Sisihkan dua bungkus Abon untukku. Taruh di tas kudaku."

Wira menahan senyum. "Siap, Jenderal!"

[Malam Hari - Kamar Tantri]

Aku terkapar di kasur keras ini. Badanku remuk redam. Kakiku pegal linu. Bau asap menempel di rambutku.

Tapi aku bahagia.

Aku melihat ke langit-langit kamar.

Hari ini aku tidak mati.

Hari ini aku memberi makan 50 orang.

Hari ini, para pelayan mulai tersenyum padaku.

Tok. Tok.

Pintu diketuk pelan.

Pintu terbuka sedikit. Seorang pelayan muda (yang tadi pagi kupanggil 'Tim Kelapa') masuk dengan takut-takut. Dia membawa baskom air hangat dan sebuah bungkusan kecil daun pisang.

"Nyonya... ini air hangat untuk mandi," katanya pelan.

"Terima kasih. Taruh saja di situ," jawabku tanpa tenaga.

Pelayan itu meletakkan baskom, lalu menyodorkan bungkusan kecil itu.

"Dan ini... ini kue lupis dari pasar, Nyonya. Hamba... hamba membelinya dengan uang hamba sendiri. Sebagai ucapan terima kasih karena Nyonya mengizinkan kami mencicipi daging tadi sore."

Aku tertegun. Kue Lupis?

Di zaman ini, pelayan makan daging itu kemewahan. Dan dia membalasnya dengan kue?

Aku bangun, menerima kue itu. Mataku terasa panas.

Di dunia modern, aku sering dapat tip uang dari tamu hotel. Tapi kue lupis murah ini rasanya lebih berharga.

"Siapa namamu?" tanyaku.

"Sari, Nyonya."

"Terima kasih, Sari. Kue ini akan kumakan."

Sari tersenyum lebar, lalu undur diri.

Aku membuka bungkusan itu. Kue lupis ketan dengan parutan kelapa dan gula merah cair. Sederhana.

Aku memakannya. Manis.

Ah, ternyata jadi Tantri tidak seburuk itu. Kalau aku bisa merubah benci jadi cinta lewat makanan, mungkin aku bisa bertahan hidup lama di sini.

Tapi tunggu...

Besok Arga berangkat perang.

Itu artinya...

AKU BEBAS DARI PENGAWASANNYA SELAMA SEMINGGU!

Mataku langsung melek.

Senyum licik terbit di bibirku.

Kalau Kucing (Arga) pergi, Tikus (Aku) akan berpesta.

Aku akan menggunakan waktu seminggu ini untuk:

 1. Memperbaiki gizi tubuh Tantri yang kurus ini.

 2. Mencari uang tambahan (siapa tahu Arga pelit).

 3. Dan... memberi pelajaran pada Laras yang pasti akan mencari gara-gara saat Arga tidak ada.

"Selamat jalan, Suamiku. Jangan cepat pulang ya," bisikku pada kegelapan malam.

...****************...

...Bersambung.......

...Terima kasih telah membaca📖...

...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...

...****************...

1
Nunung Elasari
recommended, ceritanya bagus.......
🍒⃞⃟🦅 𝐀⃝🥀 B3NassIR🪡
Ada kelegaan yang menyumbat rongga dada,
Kasih di mana tak dapat bersatu di masa itu ,kembali bereinkarnasi menemui cinta abadi nya.
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
cinta Arga membawa nya ke masa depan
tak berjodoh di masa lalu
berjodoh di masa depan
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
tdk bisa kah takdir di rubah kembali
Tantri akan bahagia bersma jenderal dan putra nya
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
seluruh istana pasti berduka atas hilangnya Tantri yang istimewa
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
waduhh , kisah masa lalu bisa kacau kembali ini
kalau Tantri kembali ke masa depan
apa tantrii sebenarnya yg telah meninggal
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
huhuhu.. /Sob/ bagaimana kelanjutannya ini thor? semoga happy ending..
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
taktik gerilyaa apalagi tantri
🍒⃞⃟🦅 𝐀⃝🥀 B3NassIR🪡
pengorbanan seorang ibu tidak akan pernah sia2, ....
siapa tahu "SUARA" itu akan tersentuh oleh ketulusan cinta kalian.
Hingga nanti semua akan berakhir bahagia
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
udah ngaku aja daripada disuruh makan ceker mercon yg isinya potongan jari2 sendiri 🙈🙀
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
tambahin irisan kol dan daun bawang 😆😆
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
gak main main, 5 liter minyak jelantah 🤣🤣
🍒⃞⃟🦅 𝐀⃝🥀 B3NassIR🪡
kAlau kirana bangun ,tantri kembali kesetelan awal donk🤣,kecuali tersisa memori dan sedikit keahlian kirana agar tantri hidupnya tak sengsara dengan kehilangan keahliannya.
Ahh ...kirana jangan kau kacaukan dulu perjalanan mereka, biar berdiri dulu sekolah tata boga tantri dan sukses mencetak lulusan terbaik baru kau kembali ke asalmu😄
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
refresh tenaga dlu ya tantrii
musuh baru akan segera datang
🤣
🍒⃞⃟🦅 𝐀⃝🥀 B3NassIR🪡
Bebek timbung = bebek betutu, hhmmm yummy....
besok masakin bebek bengil yaa kirana, dengan lawar sayuran pedas🤤
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
yoo jadikan si cakar ayam bulan2an, yg kepleset minyak, kesiram air, kena tepung, kejepit pintu 🥳🥳🥳
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ: panjangin listnya /Determined//Determined//Scream//Scream//Scream/
total 2 replies
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
eeh kirain namanya Pembunuh Bayaran Cakar Ayam 🤣🤣
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
cinta lama sulit terganti kan ya Diah
sampai segala cara di pake buat merebut arga
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
mantan jenderal kembali
seperti apa kisah cinta mu jenderal
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
🤣🤣🤣 tidur dulu biar bangun udah fresh, siap atur strategi hadapi ibu suri 🥳
Ai Emy Ningrum: turing#turumiring😴😴😴😴😴💤💤💤💤💤
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!