NovelToon NovelToon
Cintaku Bersemi Di Desa

Cintaku Bersemi Di Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Perjodohan / Diam-Diam Cinta / Persahabatan / Dijodohkan Orang Tua / Romansa
Popularitas:11k
Nilai: 5
Nama Author: Susanti 31

Peliknya kehidupan, dan pasang surut usaha kecil-kecilan yang sedang dijalaninya tidak membuat Rinjani menyerah. Namun, tuntutan dan target usia pernikahan dari orang tuanya mampu membuatnya kabur dari keindahan kota dan segala kemudahannya.

Dia kabur ke desa kelahiran orang tuanya, mengharapkan ketenangan yang tidak sesuai espektasinya.

"Terserah saya lah, ini kan masih lahan nenek saya!" bentak Rinjani sambil berkacak pinggang di halaman rumah nenek.

"Tapi mengganggu ketenangan warga Mbak."

"Matamu, Mbak!"

Kehidupan baru dengan tetangga baru yang menyebalkan pun dimulai.

Sebelum baca jangan lupa follow instagram @Tantye 005

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susanti 31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kunjungan suami

Sama seperti hari-hari sebelumnya, Rinjani disibukkan oleh pekerjaan sehingga memikirkan kesedihan atau pun hubungan dadakan bersama Ikhram tidak sempat hinggap di pikirannya.

Dia akan tiba di kantor pagi-pagi sekali dan pulang ketika matahari sudah terbenam. Siklus itu terjadi selama hampir seminggu. Dan baru hari ini dia memiliki waktu luang untuk dirinya sendiri.

Ia menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Akhirnya setelah berkutat dengan banyaknya pekerjaan ia bisa melihat matahari lagi meski itu di sore hari.

Cup kopi di tangan kanan menemaninya berdiri di rooftop gedung tempatnya menyewa unit untuk kantornya. Angin berembus pelan, menerbangkan rambut Rinjani.

"Rasanya seperti terbebas dari penjara." Ia terkekeh, padahal tidak ada yang menuntutnya untuk bekerja sekeras ini. Dia tidak kesulitan ekonomi bahkan jika tidak bekerja.

Namun, mengambil beban dengan menyewa unit untuk membuat kantor dan mengaji karyawannya. Apalagi sekarang dia memiliki dua karyawan. Hidup mereka bergantung kepada hasil bisnisnya.

"Rinjani."

Hening, Rinjani enggang menoleh mendengar suara pria itu. Suara familiar yang membuat dadanya berdenyut nyeri. Irham Ardiansyah. Laki-laki yang sangat dicintainya sampai saat ini.

"Aku merindukanmu." Pria itu mendekat dan langsung memeluk Rinjani dari belakang.

Tubuhnya membeku, bahkan untuk membentak atau sekedar mendorong Ardian ia tidak mampu melakukannya.

"Aku minta maaf karena telah mengecewakan dirimu. Aku khilaf. Aku berjanji nggak akan melakukannya lagi," bisik Ardian tepat di daun telinga Rinjani.

"Rencana pernikahan kita sudah ditengah jalan Sayang, mari lanjutkan dan membina rumah tangga seperti keinginanmu."

"Kamu masih mencintaiku kan?"

Sejenak Rinjani memejamkan matanya, dan detik selanjutnya ia menyikut perut Ardian lalu menyiram kopi hangat itu ke wajarnya.

"Kamu mengira aku akan luluh dengan rayuan busukmu itu!" bentaknya dengan tatapan menghunus bak sebilah pisau.

"Maafkan aku Rinjani, aku benar-benar menyesal." Ardian berlutut, mendongak menatap Rinjani yang mengalihkan atensi pada gedung pencakar langit.

Cahaya matahari meredup, awan hitam menjumpai menandakan badai akan segera datang. Cuaca yang buruk seperti hatinya.

Dia mengayungkan langkahnya meninggalkan Ardian tanpa mengucapkan kata penolakan atau pun kalimat perpisahan.

Tiba di tangga darurat, Rinjani merosotkan tubuhnya dan memeluk kedua lututnya. Ia terisak, air matanya berhasil membasahi pipi setelah berusaha menahannya di rooftop.

Dia terus menangis, tidak peduli beberapa orang yang melewati tangga darurat itu. Sampai di mana Rinjani mendengar suara langkah berhenti di depannya. Aroma yang sangat khas dan mengingatkannya pada seseorang.

Ia mendongak, dan benar ia tidak salah mengenali aroma itu. Alih-alih menerima sapu tangan, Rinjani hanya mengerjapkan matanya pelan.

"Apa begini pekerjaanmu setiap hari sampai nggak sempat memberikan kabar pada saya?" tanyanya masih mengulurkan sapu tangan.

"Bagaimana bisa?" lirihnya dengan suara serak. Akhirnya dia menerima sapu tangan itu dan menghapus air matanya. Ikhram selalu menyaksikan disaat dia sedang hancur dari banyaknya orang di kota ini.

"Bisa saat suami mengkhawatirkan istrinya yang hilang kabar sudah satu minggu." Jawaban itu sangat tenang dan disertai senyuman.

Ah ya terlalu sibuk atau memang sengaja, Rinjani tidak pernah mengirim pesan atau pun membalas pesan Ikhram.

"Jangan bicara omong kosong, bagaimana jika seseorang mendengar!" tegur Rinjani.

Bahkan Rinjani belum siap mengakuinya sebagai suami dan anehnya Ikhram masih bisa tersenyum. Pria itu berjongkok, merapikan rambut Rinjani yang sedikit berantakan.

"Saya lapar, mau menemani saya makan?"

Rinjani mengangguk samar.

Akhirnya mereka meninggalkan gedung itu usai Rinjani memperbaiki riasannya di kamar mandi. Berjalan di trotoar dengan langkah beriringan tetapi tidak bergandengan tangan.

"Kapan kamu sampai?"

"Beberapa jam yang lalu dan langsung menemuimu."

"Bagaimana dengan pekerjaanmu di desa?"

"Tebak?" Ikhram berhenti melangkah, menyerong sedikit demi melihat reaksi Rinjani. "Saya mengajukan izin dan yah di izinkan dengan syarat siap datang jika ada panggilan dari yang berwenang. Lagi pula selain khawatir, saya ingin mendengar sesuatu."

"Mendengar apa?"

"Sehari setelah tiba di jakarta, kamu mau mengatakan sesuatu saat kita bertemu."

"Ouh astaga." Rinjani tertawa. Ikhram benar-benar sulit ditebak.

Tiba-tiba ada di jakarta dengan alasan yang menurutnya tidak penting.

"Ayam goreng mau?" Menunjuk rumah makan pinggir jalan dimana mereka berdiri tepat di depannya.

"Boleh asal sama kamu."

Dan mereka pun duduk di rumah makan sedikit modern. Meja pojokan menjadi pilihan mereka. Ayam goreng sudah terhidang dan siap dinikmati.

"Maaf." Ucapan itu tiba-tiba saja keluar dari mulut Rinjani. "Maaf Iklan karena 20 tahun lalu saya pergi tanpa pamit padamu. Semuanya tiba-tiba, dan sampai hari ini saya merasa bersalah telah pergi tanpa sempat mengucapkan perpisahan dan ...." Rinjani tertawa tanpa peduli pada pelanggang lain.

Ia berdiri, mencondongkan tubuhnya agar mendekat pada Ikhram. Menepuk kepala pria itu pelan. "Saya nggak menyangka Iklan yang dekil tumbuh dengan baik dan sangat tampan." Senyuman tidak pernah surut di wajah Rinjani.

Perlakuan itu ... mampu menghentikan detak jantung Ikhram beberapa saat.

.

.

.

Cintanya Ikhram ugal-ugalan banget huhuhu

Dan terkait protes pembaca di bab sebelumnya. Author ganti nama Irham jadi Ardian saja soalnya nama panjangnya Irham Ardiansyah hehehehe

Selamat membaca, komennya mana nih biar jadi semangat author upadate

1
sryharty
Aisssss janiiii
sryharty
ya Allah yg sabar ya ka,,padahal ceritanya bagus
jangan end di tengah jalan ya ka,,,

noh Jani dengerin,,makanya cek dulu
untung bang iklan langsung datang
Rohmi Yatun
semangat thor.. ceritanya bagus kok..
lanjut sampe end ya thor🙏
Bucinnya Nunu ☆•,•☆: demi kalian bakal di lanjut kok. Apalagi kalau banyak komen dan like, bisa menghibur baca komen-komen kalian hehehe
total 1 replies
Maria Kibtiyah
akhirnya si jani sadar juga
sryharty
ayo iklan tanyakan dulu Jani hamil berapa Minggu
buat mastiin apakah itu anak kamu atau anak Agus,,
Teh Yen
ikram.pasti datang terlepas dari perkataan Jani kemarin padanya ,,,.kamu Tidka sendiri Jani andai kamuu cerita kegelisahan mu pada ikram suamimu semuanya pasti akan baik baik saja
Teh Yen
Jani kenapaki.jahat.kali.sama Ikram hmmm???
Bucinnya Nunu ☆•,•☆: Cie udah mulai ngerti bahasa makassar😅
total 1 replies
Arsyad Algifari.
ga mau komen karena Jani dan iklan berpisah 😪😪😪
sryharty
pasti datang wong iklan wes kecintaan banget sama jani🤭🤣
sryharty
coba cek darah hamilnya udah berapa Minggu,,
siapa tau itu bukan anak Agus tapi anak iklan,,
Maria Kibtiyah
hadehhh ruwet bgt hidup si jani mangkanya jngn dp duluan
Rista Awwalina
brati bukan cinta sejati, ikhlaskan saja.
sryharty
udah ikram biarkan Jani sama keputisannya
Rohmi Yatun
semangat ikram💪👍
Teh Yen
ah gila banget tuh c Ardian ,,Jani engg.berpikir logis kah ,, seandainya itu ank Ardian klu kamu blng ke ikram dia pasti mau tetap bersamamu jani bertanggung jawab d membesarkan ank bersama sama Jani jadi jangan jd bodoh Karena ancaman Adrian dong
Teh Yen
apa benar Jani hamil tp kan Jani d ikram.jg pernah berhubungan apa mungkin itu anknya ikram bukan c Ardian
Arsyad Algifari.
itu pasti bukan anak Ardian .tapi anak Ikhram ..kenapa Jani ga berpikir dulu sih itu udah 4 bln berlalu
Arsyad Algifari.
benda apa sih yang di berikan Ardian ke Jani apa Jani hamil .tapi udah 4 bln berlalu kan dan sete menikah jadi 6 bln berlalu .apa video panas mereka ya . mungkin Ardian memberikan flashdisk
sryharty
semoga itu bukan anak kamu Agus tapi anak iklan,,
Rohmi Yatun
😭😭kasihan banget bang ikram..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!