NovelToon NovelToon
Diantara Ketulusan Dan Kekuasaan.

Diantara Ketulusan Dan Kekuasaan.

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Office Romance / Komedi
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Sheila Maharani hanya ingin hidup tenang sebagai karyawan baru yang kalem dan setia pada kekasihnya, Malik. Namun, impian itu hancur saat ia membuka pintu ruang CEO dan menemukan Jeremy Nasution—kakak tingkat masa kuliah yang dulu mengejarnya secara ugal-ugalan—kini menjadi bosnya.
Jeremy yang percaya diri maksimal (PD mampus) tidak membiarkan Sheila lari untuk kedua kalinya. Di antara tumpukan berkas properti dan aroma siomay kantin, Jeremy mulai menyusun strategi untuk merebut hati Sheila kembali.
Bisakah Sheila tetap profesional dan setia pada Malik, atau ia akan menyerah pada "perintah atasan" yang semakin hari semakin tidak masuk akal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30

Pagi itu, rona merah fajar baru saja menyapu langit Jakarta dari balik dinding kaca penthouse mewah milik Jeremy. Sang CEO baru saja selesai menyeduh kopi hitam pekatnya, masih mengenakan jubah mandi satin berwarna biru dongker yang elegan. Rambutnya masih sedikit berantakan, sisa-sisa kenyamanan tidur semalam yang masih membekas.

Tiba-tiba, bunyi bel pintu apartemennya memecah keheningan yang tenang. Jeremy mengernyitkan dahi, melirik jam di pergelangan tangannya. Baru pukul enam pagi.

"Siapa sih pagi-pagi begini?" gumamnya dengan nada kesal. Ia berjalan menuju pintu, menduga mungkin itu kurir kiriman kilat atau staf kepercayaannya yang membawa dokumen darurat.

Namun, begitu pintu terbuka, napas Jeremy seolah tertahan di tenggorokan. Berdiri di depan pintunya adalah seorang pria dengan wajah lelah, mengenakan jaket kumal yang kontras dengan kemewahan koridor apartemen itu.

"Eh, Malik. Masuk," ucap Jeremy akhirnya, berusaha menetralkan keterkejutannya. Ia membuka pintu lebih lebar, membiarkan Malik melangkah masuk ke dalam ruang tamu yang luasnya hampir menyamai luas rumah Malik dulu.

Malik berdiri mematung di tengah ruangan, matanya menyapu sekeliling—menatap lampu gantung kristal, sofa kulit Italia, dan pemandangan kota dari ketinggian. Ada kilat kepedihan di matanya saat menyadari perbedaan kasta yang begitu nyata di antara mereka.

"Tumben lo ke sini? Eh, tapi lo tahu dari mana apartemen gue, ya?" tanya Jeremy sambil berjalan menuju meja bar, menuangkan secangkir kopi lagi tanpa menawarkan pada tamu tak diundangnya itu.

Malik menoleh, wajahnya tampak kaku. "Gue tanya sama beberapa staf di kantor lo yang dulu sering bareng gue. Nggak sulit nyari tahu di mana sang Raja bertakhta, Jer."

Jeremy terkekeh sinis, ia menyesap kopinya perlahan. "Jadi, ada angin apa? Bukannya lo sudah milih buat 'menghilang' dan jadi pahlawan kesiangan buat Sheila? Kenapa sekarang malah muncul di depan pintu gue?"

Malik mengepalkan tangannya di samping tubuh. "Gue cuma mau pastiin satu hal. Sheila... apa dia beneran baik-baik saja sama lo? Gue dengar dari Alena kalau dia sering di kantor lo sampai malam. Gue tahu lo posesif, Jer, tapi gue nggak mau lo jadiin dia cuma sekadar pelampiasan ego lo."

Mendengar nama Sheila disebut oleh pria yang telah membuangnya, rahang Jeremy mendadak mengeras. Ia meletakkan cangkir kopinya dengan denting yang cukup keras di atas meja marmer, lalu melangkah mendekat hingga ia berdiri tepat di depan Malik. Postur tubuh Jeremy yang lebih tegap dan bertenaga membuat Malik tampak semakin kecil.

"Lo telat, Lik. Sangat amat telat buat nanyain kabar dia," ucap Jeremy dengan suara rendah yang penuh ancaman. "Waktu dia nangis sendirian di trotoar rumah sakit, lo di mana? Waktu dia bingung nyari penjelasan kenapa tunangannya mutusin dia secara sepihak, lo sembunyi di mana?"

Malik terdiam, ia tidak bisa membantah.

"Dengar ya," lanjut Jeremy, kini wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari Malik. "Dia aman sama gue. Dia juga lebih bahagia sekarang daripada waktu dia harus mikirin cicilan dan ketidakpastian hidup bareng lo. Gue kasih dia apa yang nggak pernah bisa lo kasih: Kepastian. Perlindungan. Dan yang paling penting, gue nggak pernah punya niat buat ngelepasin dia, sesulit apa pun keadaannya."

"Gue lakuin itu demi dia, Jer! Gue nggak punya apa-apa buat banggain dia!" seru Malik, suaranya parau.

"Itu alasan pengecut, Malik! Cinta itu berjuang bareng, bukan malah menyerah atas nama pengorbanan," skakmat Jeremy. "Sheila bukan barang yang bisa lo titipin ke gue terus lo cek kondisinya sewaktu-waktu. Dia sekarang milik gue. Seutuhnya."

Jeremy berjalan menuju pintu, membukanya lebar-lebar sebagai isyarat agar Malik segera angkat kaki. "Gue hargai kejujuran lo buat datang ke sini. Tapi ini yang terakhir. Jangan pernah cari dia lagi, jangan tanya kabar dia lagi. Kalau gue lihat lo muncul di dekat dia atau di kantor gue lagi... gue nggak akan segan-segan pakai cara yang lebih kasar buat nyingkirin lo."

Malik menatap Jeremy lama, mencari celah keraguan di mata pria itu, namun ia hanya menemukan ketegasan yang tak tergoyahkan. Dengan bahu yang merosot, Malik berjalan keluar. Sebelum benar-benar pergi, ia berhenti di ambang pintu.

"Jagain dia, Jer. Dia gampang sakit kalau telat makan," bisik Malik.

"Gue tahu lebih banyak tentang dia daripada yang lo kira," balas Jeremy dingin sebelum membanting pintu dengan keras.

Setelah Malik pergi, Jeremy bersandar di pintu, napasnya memburu karena emosi yang tertahan. Ia benci fakta bahwa Malik masih berani mengkhawatirkan Sheila. Namun di sisi lain, ada rasa kemenangan yang membuncah di dadanya.

Ia meraih ponselnya, mengetik pesan singkat untuk wanita yang kini menjadi napasnya.

Jeremy: "Bangun, Sayang. Aku kangen. Hari ini nggak usah bawa motor, aku jemput di depan pagar rumahmu 15 menit lagi. I love you."

Jeremy tahu, ia mungkin egois. Ia mungkin merebut Sheila di saat wanita itu sedang rapuh. Tapi satu hal yang pasti, ia tidak akan pernah menjadi pengecut seperti Malik. Di dunianya, apa yang sudah ia genggam, tidak akan pernah ia lepaskan.

***

Pagi itu, suasana di dalam kabin mobil SUV Jeremy terasa sangat berbeda. Biasanya, Jeremy akan memenuhi ruangan sempit itu dengan godaan-godaan renyah, musik jazz yang lembut, atau tangannya yang tak bisa diam ingin menggenggam jemari Sheila. Namun kali ini, Jeremy hanya diam mematung di balik kemudi. Guratan di rahangnya tampak mengeras, dan tatapannya lurus menatap jalanan Jakarta yang mulai padat, seolah sedang memikirkan strategi perang.

Sheila yang duduk di sampingnya menyadari perubahan atmosfer itu. Ia melirik Jeremy berkali-kali, memperhatikan bagaimana buku-buku jari pria itu memutih karena mencengkeram setir terlalu kuat.

"Kamu kenapa sih, Jer? Sakit? Atau ada masalah di kantor?" tanya Sheila lembut, mencoba memecah keheningan yang menyesakkan.

Jeremy tidak menjawab. Ia hanya bergumam tidak jelas dan tetap fokus pada jalanan.

"Biasanya tengil banget mukanya, sekarang kok jadi ditekuk begitu? Habis ngapain sih?" Sheila semakin penasaran. Ia meletakkan tangannya di lengan Jeremy, mencoba mencari koneksi. "Jujur, Jeremy! Ada apa? Jangan bikin aku nebak-nebak begini. Kamu aneh banget sejak jemput aku tadi."

Jeremy menghela napas panjang, ia memelankan laju mobilnya saat mendekati area lampu merah. Ia menoleh sekilas, menatap mata Sheila dengan tatapan yang sulit diartikan—ada rasa posesif yang mendalam, namun juga ada sisa emosi yang belum tuntas.

"Tadi pagi... Malik ke apartemen aku," ucap Jeremy akhirnya. Suaranya rendah, nyaris seperti geraman.

Sheila tertegun. Jantungnya berdegup lebih kencang mendengar nama itu disebut. "Malik? Dia... dia ngapain ke sana? Kok dia tahu apartemen kamu?"

"Dia tahu karena dia niat nyari tahu," jawab Jeremy ketus. "Dan dia datang cuma buat nanyain hal yang nggak perlu. Dia nanya apa kamu bahagia sama aku, apa aku cuma jadiin kamu pelampiasan ego aku."

Sheila terdiam sejenak, mencerna informasi itu. "Oh... Malik? Dia habis ngapain lagi? Selain nanyain itu, dia nanyain apa lagi? Nanyain aku banget ya?"

Mendengar nada suara Sheila yang sedikit melunak saat menyebut nama Malik, Jeremy mendadak mengerem mobilnya sedikit lebih sentak dari biasanya. Ia memutar tubuhnya sepenuhnya menghadap Sheila, mengabaikan klakson kendaraan di belakangnya yang mulai protes.

"Kenapa? Kamu senang dia nanyain kamu?" tanya Jeremy dengan nada cemburu yang kental. "Kamu mau tahu apa lagi yang dia omongin? Dia bilang kamu gampang sakit kalau telat makan. Dia bilang dia lakuin semuanya demi kebaikan kamu. Dia masih berakting jadi pahlawan di depan aku, Shei!"

"Jer, tenang dulu..."

"Aku nggak bisa tenang, Sheila!" potong Jeremy cepat. Ia meraih kedua tangan Sheila, menggenggamnya dengan erat seolah takut wanita itu akan lari saat itu juga. "Dengar. Aku sudah bilang sama dia kalau kamu aman sama aku. Aku sudah bilang kalau kamu milikku sekarang. Aku benci fakta bahwa dia masih merasa punya hak buat 'menitipkan' kamu ke aku."

Sheila menatap mata Jeremy yang berkilat emosi. Ia bisa melihat betapa pria hebat ini merasa terancam hanya oleh kehadiran seorang masa lalu yang sudah ia tinggalkan. Sheila menghela napas, ia mendekatkan wajahnya dan mengecup pipi Jeremy dengan lembut, sebuah gerakan yang langsung membuat ketegangan di bahu Jeremy sedikit mengendur.

"Jer, dengerin aku," bisik Sheila. "Aku sudah selesai sama dia. Aku sudah kasih semua barangnya, aku sudah blokir nomornya, dan aku sudah pilih untuk 'pulang' ke kamu. Mau dia datang ke apartemen kamu, ke kantor, atau ke mana pun, itu nggak akan mengubah fakta bahwa sekarang aku di sini, duduk di sebelah kamu."

Jeremy menatap Sheila lama, mencari kebohongan di mata itu, namun ia hanya menemukan ketulusan. "Tapi aku benci dia masih peduli sama kamu, Shei. Aku mau aku jadi satu-satunya orang yang punya hak buat khawatirin kamu."

"Kamu emang satu-satunya, Pak CEO Posesif," goda Sheila sambil mencubit hidung Jeremy pelan. "Sudah ah, jangan ditekuk lagi mukanya. Malu sama karyawan kalau bosnya masuk kantor dengan muka kayak mau ngajak berantem satu divisi. Ayo jalan, nanti kita telat."

Jeremy akhirnya tersenyum tipis, meski sisa-sisa kekesalannya masih ada. Ia menjalankan kembali mobilnya, namun kali ini ia tidak melepaskan tangan kiri Sheila. Ia menggenggamnya erat di atas persneling, seolah ingin menegaskan pada dunia—termasuk pada Malik yang mungkin masih mengintai—bahwa Sheila Maharani kini berada dalam lindungan absolutnya.

1
putmelyana
next Thor ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!