Sheila Maharani hanya ingin hidup tenang sebagai karyawan baru yang kalem dan setia pada kekasihnya, Malik. Namun, impian itu hancur saat ia membuka pintu ruang CEO dan menemukan Jeremy Nasution—kakak tingkat masa kuliah yang dulu mengejarnya secara ugal-ugalan—kini menjadi bosnya.
Jeremy yang percaya diri maksimal (PD mampus) tidak membiarkan Sheila lari untuk kedua kalinya. Di antara tumpukan berkas properti dan aroma siomay kantin, Jeremy mulai menyusun strategi untuk merebut hati Sheila kembali.
Bisakah Sheila tetap profesional dan setia pada Malik, atau ia akan menyerah pada "perintah atasan" yang semakin hari semakin tidak masuk akal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32
Pagi di vila Puncak itu datang dengan lembut, diselimuti kabut tipis yang perlahan memudar seiring naiknya matahari. Cahaya pagi yang keemasan menembus celah gorden tebal, menerangi kamar utama yang luas dan berantakan oleh sisa-sisa gairah semalam. Di atas kasur king size yang empuk, Sheila Maharani masih terbaring meringkuk di bawah selimut duvet yang hangat. Tubuhnya terasa lelah namun hatinya begitu penuh, sebuah kontradiksi yang menyenangkan setelah badai emosi kemarin.
Ia terbangun karena suara ketukan jari yang ritmis di atas keyboard. Sheila membuka matanya perlahan, menguceknya sedikit untuk memperjelas pandangan. Hal pertama yang ia lihat adalah punggung tegap Jeremy Nasution yang sedang duduk di sofa panjang di pojok kamar, di depan meja kopi kayu yang penuh dengan kertas-kertas dan laptop peraknya.
Jeremy sudah tidak lagi mengenakan kemeja rapi kemarin. Ia hanya memakai kaus oblong hitam polos dan celana pendek kain, rambutnya sedikit acak-acak sisa tidur, namun tatapannya fokus pada layar laptop. Sinar pagi dari jendela di sampingnya menyinari profil samping wajahnya, menonjolkan rahang tegas dan hidung mancungnya—sebuah pemandangan yang sanggup membuat jantung Sheila berdegup kencang meski mereka sudah melewati malam bersama.
Sheila memperhatikan Jeremy dalam diam selama beberapa menit. Pria ini, yang kemarin berteriak menantang ayahnya demi dirinya, sekarang sedang sibuk mengerjakan sesuatu dengan serius di pagi buta. Ada rasa bersalah yang menyelinap di dada Sheila; karena dirinyalah, Jeremy harus "bolos" dan bekerja dari vila terpencil ini.
"Jer..." panggil Sheila lirih, suaranya serak khas orang baru bangun tidur.
Suara ketukan di keyboard langsung berhenti. Jeremy menoleh, wajah kaku seriusnya langsung mencair menjadi senyum lembut begitu melihat Sheila yang sedang menyembunyikan separuh wajahnya di balik selimut. Ia menutup laptopnya setengah dan berdiri, melangkah mendekati tempat tidur dengan gerakan yang penuh kehati-hatian agar tidak mengejutkan gadis itu.
"Hai, Sayang. Sudah bangun?" bisik Jeremy saat ia duduk di tepi kasur. Ia mengulurkan tangan untuk mengusap pipi Sheila yang masih merona merah.
"Kamu sudah bangun dari tadi?" tanya Sheila, mencoba duduk namun meringis sedikit karena rasa pegal di tubuhnya.
"Ponsel asisten aku kemarin dimatikan, terus aku bolos kerja, Papa ngamuk. Tentu saja ada 'pekerjaan darurat' yang harus aku selesaikan sebelum para pemegang saham mengirim detektif buat nyari aku," jawab Jeremy sambil terkekeh, namun nada suaranya sedikit lelah.
Sheila menunduk, memainkan ujung selimut. "Maaf ya, Jer. Gara-gara aku, semuanya jadi berantakan."
Jeremy mendecak, ia menarik dagu Sheila agar wanita itu menatap matanya. "Hush. Berhenti minta maaf. Nggak ada yang berantakan. Aku cuma lagi memindahkan beberapa rapat penting dan mengurus draf tender yang nggak bisa Toni handle karena dia lagi sibuk mikirin bonus tahunannya yang 'terancam' cair," canda Jeremy, mencoba mencairkan suasana. "Urusan Papa, biarkan dia mengamuk dulu. Nanti kalau sudah capek, baru kita ajak bicara pelan-pelan."
"Tapi kamu beneran nggak apa-apa kalau aku dipecat?" tanya Sheila lagi, rasa takutnya kembali muncul.
"Aku lebih nggak apa-apa kehilangan jabatan CEO daripada kehilangan kamu, Sheila Maharani," jawab Jeremy dengan nada yang sangat serius, membuat Sheila terpaku. Ia mengecup kening Sheila lama, memberikan sensasi hangat dan aman yang sangat ia butuhkan. "Sekarang, Nyonya Nasution masa depan, kamu mandi sana. Badannya pasti pegal-pegal semua, kan?"
Pipi Sheila semakin memanas karena godaan Jeremy. "Iya! Kamu sih, semalam nggak tahu diri banget!"
"Salah siapa yang kalau lagi nangis cantik banget? Aku kan jadi khilaf," balas Jeremy sambil mengedipkan mata jahil, kembali ke mode tengilnya yang biasa.
Sheila memukul bahu Jeremy dengan bantal sebelum melompat turun dari tempat tidur dan berlari kecil menuju kamar mandi, meninggalkan Jeremy yang tertawa puas.
Di bawah guyuran air hangat, Sheila merenung. Perjalanan mereka masih sangat panjang dan penuh rintangan, terutama restu Papa Jeremy. Tapi di pagi yang tenang ini, di vila yang tersembunyi dari hiruk pikuk dunia, ia merasa yakin. Selama ada Jeremy yang siap bekerja di pagi buta untuk melindunginya, dan siap mengorbankan segalanya demi dirinya, ia tidak perlu lagi takut untuk menghadapi apa pun yang akan terjadi besok.
***
Suasana kantor pusat Nasution Property Group pagi itu terasa dua kali lipat lebih sibuk bagi Sheila. Setelah menghabiskan akhir pekan yang "intens" di vila Puncak bersama Jeremy, kembali ke realita korporat terasa seperti terjun payung tanpa parasut.
Sheila melangkah keluar dari lift dengan sangat hati-hati. Ia berusaha menjaga postur tubuhnya tetap tegak, namun rasa pegal yang luar biasa di area pinggang dan paha bawah membuatnya sulit menyembunyikan langkah yang sedikit kaku dan tidak natural. Setiap kali tumit sepatunya menyentuh lantai marmer, ia meringis kecil di dalam hati.
"Sheila! Akhirnya lo masuk juga!" seru Nilam dari arah meja administrasi.
Sheila tersentak, mencoba memasang wajah sedatar mungkin. "Pagi, Lam. Iya, maaf kemarin ada urusan keluarga mendadak."
Nilam tidak langsung menjawab. Matanya yang jeli mulai memindai Sheila dari ujung kepala sampai ujung kaki. Ia memperhatikan cara Sheila berjalan menuju kubikelnya—langkah yang pendek-pendek, sedikit lebar, dan tampak sangat tidak nyaman.
"Lo habis kenapa, Shei? Kok jalannya begitu banget? Kayak robot kehabisan oli," celetuk Nilam sambil berjalan mendekat, menyandarkan pinggulnya di tepi meja Sheila.
Sheila menegang. Ia segera duduk di kursinya, namun gerakan duduk itu pun terasa sangat menyiksa hingga ia harus memegang sandaran tangan kursi dengan erat. "Eh... Nilam. Ini, anu... emmm, aku salah posisi tidur, Lam. Iya, salah bantal terus badanku jadi kaku semua."
Nilam menyipitkan mata, senyum penuh arti mulai mengembang di wajahnya. "Salah posisi tidur? Sejak kapan salah tidur bikin orang jalannya jadi agak... terbuka gitu?"
"Maksud lo apa sih?" Sheila mencoba mengalihkan perhatian dengan membuka laptop secara terburu-buru.
"Ya elah, Shei. Kita kan sudah sama-sama dewasa," Nilam berbisik, mencondongkan tubuhnya ke arah Sheila. "Salah posisi tidur tapi jalan lo ngangkang kayak orang habis ehem-ehem semalaman. Jangan-jangan Jaemin KW lo itu beneran ganas ya?"
"Nilam! Mulutnya ih!" Sheila memekik tertahan, wajahnya seketika berubah merah padam sampai ke telinga. Ia melempar sebungkus tisu ke arah Nilam untuk membungkam sahabatnya itu. "Ngaco banget kalau ngomong! Ini tuh murni karena aku kurang olahraga, terus ototnya ketarik!"
"Kurang olahraga atau 'olahraga' berlebihan?" goda Nilam lagi sambil tertawa cekikikan. "Hati-hati, Shei. Bekasnya jangan sampai kelihatan kalau Pak Jeremy manggil ke ruangan. Bisa habis lo diomelin bos galak itu kalau kerjaan lo keganggu gara-gara pacaran."
Sheila hanya bisa mendengus kesal, pura-pura sibuk mengetik meskipun hatinya berdegup kencang. Ia berdoa dalam hati agar Jeremy tidak muncul tiba-tiba dan memperparah keadaan dengan tingkah tengilnya.
Namun, doa Sheila sepertinya tidak dikabulkan oleh semesta.
Baru saja Nilam ingin melanjutkan interogasinya, pintu lift eksekutif berdenting. Jeremy Nasution melangkah keluar dengan aura yang sangat cerah—berbeda jauh dengan wajah kusamnya minggu lalu. Ia mengenakan setelan jas abu-abu gelap yang sangat pas di tubuhnya, rambutnya tertata rapi, dan ada binar kemenangan di matanya.
Jeremy berjalan melewati kubikel staf dengan langkah lebar yang angkuh. Saat melewati meja Sheila, ia sengaja memperlambat langkahnya. Tanpa menoleh ke arah Nilam yang sedang menonton, Jeremy mengetuk meja Sheila dua kali.
"Selamat pagi, Asisten Sheila. Laporan yang saya minta kemarin sudah siap?" tanya Jeremy dengan suara bariton yang terdengar sangat segar.
"Sedang diproses, Pak," jawab Sheila tanpa berani menatap mata Jeremy. Ia sangat takut Jeremy melakukan sesuatu yang aneh di depan Nilam.
Jeremy tidak langsung pergi. Ia sedikit membungkuk, pura-pura memeriksa tumpukan dokumen di meja Sheila, namun sebenarnya ia sedang berbisik dengan nada yang hanya bisa didengar oleh Sheila. "Jalannya pelan-pelan saja, Sayang. Aku tahu semalam aku memang sedikit... berlebihan. Mau aku pesankan balsem atau kursi pijat ke ruangan?"
Sheila membelalakkan mata, ia ingin sekali menendang tulang kering Jeremy saat itu juga. "Pak! Kembali ke ruangan Bapak sekarang!" desis Sheila lewat celah giginya.
Jeremy terkekeh rendah, suara tawa yang sangat maskulin dan penuh rahasia. Ia kembali menegakkan punggungnya. "Saya tunggu laporannya sepuluh menit lagi di ruangan saya. Jangan telat, atau saya kasih 'hukuman' tambahan."
Begitu Jeremy menghilang di balik pintu ruangannya, Nilam langsung menepuk pundak Sheila dengan keras.
"Tuh kan! Liat muka Pak Jeremy pagi ini seger banget, kayak habis dapet jackpot! Sementara lo jalannya letoy begitu," bisik Nilam penuh kemenangan. "Fix, ini pasti ada hubungannya sama 'Jaemin' lo itu. Jangan-jangan lo diajak staycation ya kemarin?"
"Nilam, stop! Gue mau kerja!" Sheila menutup wajahnya dengan map besar, mencoba menyembunyikan senyum yang mulai muncul di bibirnya meski tubuhnya masih terasa remuk.
Di dalam ruangannya, Jeremy duduk di kursi kebesarannya sambil memutar-mutar ponselnya. Ia membuka rekaman CCTV di ponselnya—bukan untuk mengintai karyawan, tapi untuk melihat Sheila yang sedang digoda oleh Nilam. Ia tersenyum miring, merasa sangat puas melihat "jejak" yang ia tinggalkan pada asistennya itu.
Bagi Jeremy, melihat Sheila yang kesal sekaligus malu adalah hiburan terbaiknya di pagi hari. Dan ia sudah tidak sabar menunggu sepuluh menit lagi untuk melihat gadis itu masuk ke ruangannya—dengan jalan yang masih agak canggung, tentu saja.