LIMA TAHUN IA DI INJAK-INJAK. SATU MALAM IA MEREBUT SEGALANYA.
Rizky Santoso adalah aib. sampah. suami tak berguna yang ditakdirkan untuk hidup di dapur, di bawah kaki istrinya yang kaya raya,
Adelia. selama 5 tahun, hinaan adalah sarapannya dan pengkhianatan adalah makan malamnya.
Ketika Adelia mencampakkannya demi seorang selingkuhan, ia pikir hidup Rizky telah berakhir.
DIA SALAH BESAR.
Di malam tergelapnya, takdir datang menjemput. Dua sosok misterius berjas hitam membawakan sebuah kebenaran yang mengguncang kota: pria yang ia buang adalah PUTRA MAHKOTA dari kerajaan bisnis yang paling berkuasa.
kini, Rizky kembali. Bukan lagi sebagai suami yang tunduk, tapi sebagai raja yang dingin dan tak tersentuh. ia akan duduk di singgasana kekuasaannya dan menyaksikan mereka yang pernah menghinanya...
bertekuk lutut.
Penyesalan Adelia tidak akan ada artinya. Karena dalam permainan takdir ini, sang pewaris telah kembali untuk mengambil apa yang jadi miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JAYDEN AHMAD, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6: BIDAK PERTAMA DAN JEJAK KELEMAHAN
Minggu-minggu pertama Rizky di
Hadiningrat Group adalah badai informasi
yang tak henti-hentinya. Meja kerjanya
di kantor Wakil Presiden Direktur selalu
dipenuhi tumpukan berkas, laporan
keuangan, analisis pasar, dan proposal
proyek. Haryo, dengan kesetiaan dan
efisiensinya yang luar biasa, memastikan
tidak ada satu pun detail yang terlewat.
Setiap pagi, Rizky akan tiba di kantor lebih
awal dari siapa pun. Ia menghabiskan
berjam-jam membaca, menganalisis, dan
mencoba memahami setiap aspek dari
kerajaan bisnis yang kini menjadi tanggung
jawabnya. Ia belajar tentang struktur
organisasi, rantai pasok, strategi investasi,
hingga seluk-beluk hukum korporat.
Otaknya yang cerdas, yang selama ini hanya
digunakan untuk menghafal resep masakan
dan mengatur jadwal rumah tangga, kini
bekerja dengan kapasitas penuh.
Pelatihan intensifnya tidak hanya di atas
kertas. Haryo mengaturnya untuk bertemu dengan kepala divisi dari berbagai anak
perusahaan. Rizky mengunjungi pabrik
tekstil, lokasi proyek properti, kantor cabang
bank, bahkan studio media Hadiningrat. Ia
mendengarkan, bertanya, dan mengamati. Ia
menyerap informasi seperti spons, mencoba
memahami denyut nadi setiap bisnis.
Para direktur yang skeptis di awal, perlahan
mulai menunjukkan sedikit rasa hormat.
Mereka melihat Rizky bukan sebagai anak
manja yang tiba-tiba muncul, melainkan
seorang pria muda yang haus ilmu
dan memiliki etos kerja yang luar biasa. Pak
Wijaya, direktur keuangan yang paling vokal
meragukannya, bahkan sesekali terlihat
mengangguk setuju saat Rizky mengajukan
pertanyaan tajam yang menunjukkan
pemahaman mendalam.
Namun, di balik semua kesibukan itu, pikiran
Rizky tidak pernah lepas dari satu nama:
Maheswari Corp.
Suatu sore, setelah menyelesaikan sesi
pelatihan tentang analisis risiko investasi,
Rizky memanggil Haryo ke kantornya.
"Haryo," kata Rizky, menunjuk sebuah grafik
di layar komputernya. "Bagaimana kinerja
Maheswari Corp dalam lima tahun terakhir?
Haryo, yang selalu siap dengan informasi,
langsung membuka tabletnya. "Maheswari
Corp adalah perusahaan yang cukup stabil.
Tuan Muda. Bergerak di bidang properti
dan event organizer. Dipimpin oleh Nyonya
Adelia Maheswari. Dalam lima tahun
terakhir, pertumbuhan mereka stagnan,
bahkan cenderung menurun di beberapa
sektor. Terutama di sektor properti, mereka
memiliki beberapa proyek yang tertunda dan
mengalami kerugian.
"Tertunda dan kerugian?" Rizky menyipitkan
mata. "Bisakah kau berikan laporan
detailnya? Saya ingin tahu setiap proyek
mereka, setiap investasi, setiap utang.
Haryo menatap Rizky. "Tuan Besar sudah
menduga Anda akan menanyakan hal ini,
Tuan Muda. Beliau sudah menyiapkan
berkasnya." Haryo meletakkan sebuah flash
drive kecil di meja Rizky. "Ini adalah semua
informasi yang bisa kami kumpulkan tentang
Maheswari Corp. Dari laporan keuangan
publik, hingga beberapa informasi internal
yang kami dapatkan dari jaringan kami.
Rizky mengambil flash drive itu. "Bagus.
Saya ingin kau juga mencari tahu tentang
Bramantyo. Setiap detail tentang dirinya.
Latar belakang, aset, kebiasaan, kelemahan.
"Siap, Tuan Muda," jawab Haryo, tanpa
bertanya lebih lanjut. Ia tahu, ini adalah
bagian dari "permainan" yang dimaksud
Rizky.
Malam itu, Rizky tidak pulang ke kediaman
utama. Ia tetap di kantor, mengunci diri, dan
mulai menyelami data-data Maheswari Corp.
Ia membaca setiap baris laporan keuangan,
menganalisis setiap proyek properti yang
tertunda, dan mencari tahu alasan di balik
kerugian mereka.
Semakin ia membaca, semakin jelas
gambaran yang ia dapatkan. Maheswari
Corp memang terlihat megah dari luar,
tapi di dalamnya, ada banyak retakan.
Proyek-proyek ambisius yang tidak didukung
oleh perencanaan matang, investasi yang
terlalu berani, dan manajemen keuangan
yang kurang hati-hati. Adelia, dengan
ambisinya yang besar, seringkali mengambil
keputusan berdasarkan emosi dan keinginan
untuk tampil mewah, bukan berdasarkan
data dan analisis yang solid.
Rizky menemukan beberapa proyek
properti yang mangkrak di lokasi strategis,
memakan biaya perawatan yang besar
tanpa menghasilkan keuntungan. Ia juga
menemukan bahwa Maheswari Corp memiliki
utang yang cukup besar kepada beberapa
bank, dan beberapa di antaranya akan jatuh
tempo dalam waktu dekat.
"Kelemahan," bisik Rizky pada dirinya sendiri.
"Setiap kerajaan punya kelemahan.
Ia juga menemukan informasi tentang
Bramantyo. Pria itu ternyata memiliki gaya
hidup yang jauh di atas gajinya sebagai
asisten. Ia sering terlihat di klub malam
mewah, mengendarai mobil sport, dan
memiliki beberapa properti atas namanya.
Sumber kekayaannya tidak jelas.
"Lintah," gumam Rizky. "Lintah yang rakus.
Rizky menghabiskan malam itu dengan
membuat catatan, menyusun strategi, dan
mengidentifikasi titik-titik lemah Maheswari
Corp. Ia tidak ingin menghancurkan
perusahaan itu begitu saja. Ia ingin
menghancurkannya dengan cara yang
paling menyakitkan bagi Adelia: dengan
menunjukkan bahwa semua yang ia
banggakan adalah rapuh, dan bahwa ia telah
membuang berlian demi sebuah batu kerikil.
Keesokan harinya, Rizky datang ke kantor
dengan lingkaran hitam di bawah matanya,
tapi dengan pikiran yang jernih dan rencana
yang matang.
"Haryo," panggil Rizky. "Saya ingin kau
siapkan pertemuan dengan kepala divisi
properti dan kepala divisi perbankan
Hadiningrat Group. Saya punya beberapa ide
untuk proyek baru.
Haryo mengangguk. "Siap, Tuan Muda. Ada
hal lain?"
"Ya," Rizky tersenyum tipis, senyum yang
tidak pernah ia tunjukkan sebelumnya.
Senyum seorang predator yang baru saja
menemukan mangsanya. "Saya ingin kau
mulai mengumpulkan informasi tentang
semua aset pribadi Adelia Maheswari dan
Bramantyo. Setiap properti, setiap rekening
bank, setiap investasi. Saya ingin tahu persis
seberapa besar kerugian yang bisa mereka
tanggung.
Haryo menatap Rizky. Ia melihat api yang
membara di mata Tuan Mudanya. Api
yang akan membakar habis semua yang
menghalangi jalannya.
"Siap, Tuan Muda," jawab Haryo, suaranya
penuh hormat. Ia tahu, permainan ini baru
saja memasuki babak yang jauh lebih serius.
Rizky bangkit dari kursinya, berjalan ke
jendela, dan menatap ke arah kota. Di
antara gedung-gedung pencakar langit
yang menjulang, ia bisa membayangkan
Hadiningrat Tower berdiri tegak, dan di
bawahnya, Maheswari Corp yang mulai
menunjukkan retakan.
Ia adalah Rizky Hadiningrat. Dan ia akan
memastikan, bahwa penyesalan Adelia akan
menjadi legenda.
"jangan lupa share, like, dan komen, maaf kalo ada alur yang berantakan komen aja di kolom komentar ini yahh☺️🙏♥️