NovelToon NovelToon
Misteri Hati Dibalik Pernikahan

Misteri Hati Dibalik Pernikahan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:604
Nilai: 5
Nama Author: Eliana. s

Ketika kecurigaan mulai menggerogoti rumah tangganya, seorang wanita menyadari bahwa ancaman datang dari orang-orang terdekatnya. Suami yang dingin, anak yang mungkin bukan darah dagingnya, hingga asisten rumah tangga yang selalu mengintai semua tampak memainkan peran dalam permainan berbahaya yang mematikan. Terjebak dalam jebakan penuh tipu daya, satu-satunya jalan untuk bertahan hidup adalah melawan, meski harus mempertaruhkan segalanya hingga titik darah penghabisan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eliana. s, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3 Siapa Dalang Dibalik Semua Ini

Setelah semalaman bergulat dengan pikiran yang tak kunjung reda, aku akhirnya terbangun dalam keadaan tubuh yang terasa remuk dan kepala yang berat. Tidak ada sedikit pun rasa segar setelah tidur yang tersisa hanya lelah yang mengendap hingga ke tulang. Aku menyandarkan tubuhku yang lunglai pada kepala tempat tidur, menatap kosong ke arah langit-langit. Dalam hati, aku tahu waktunya minum obat sudah dekat. Seperti biasa, Kak Zhiyi pasti akan segera datang. Bagaimanapun, aku tidak boleh melewatkan obat itu.

Benar saja, tak lama kemudian pintu kamar perlahan terbuka. Kak Zhiyi masuk, dan untuk sesaat langkahnya terhenti, seolah terkejut melihat keadaanku. Namun ekspresi itu cepat ia tutupi dengan senyum ramah yang sudah begitu akrab.

“Nyonya, suasana hati Anda tampaknya sangat baik hari ini. Wajah Anda terlihat jauh lebih segar saya sampai kaget melihatnya,” ucapnya ringan.

Aku membalas dengan senyum tipis yang kupaksakan, sementara di balik itu, mataku diam-diam mengamati setiap gerak-geriknya tanpa terlewat sedikit pun.

Sambil terus berbicara, ia berjalan ke arah jendela dan dengan cekatan membuka tirai, membiarkan cahaya pagi dan udara segar mengalir masuk ke dalam kamar. Kemudian, ia menyampirkan sehelai pakaian ke bahuku dengan gerakan lembut, seolah benar-benar memperhatikanku.

“Biar udaranya berganti dulu, Nyonya. Supaya lebih segar,” katanya.

Aku tetap bersandar lemah, lalu dengan nada santai yang sengaja kubuat, aku berkata, “Aku merasa sedikit lapar.”

Wajahnya langsung berbinar. “Benarkah? Itu kabar yang sangat baik! Saya akan segera siapkan sarapan untuk Anda. Sudah lama sekali Anda tidak bilang lapar.” Ia tampak begitu senang, bahkan sedikit terburu-buru saat berbalik menuju pintu. “Tunggu sebentar, saya segera kembali.”

Saat ia melewati sisi tempat tidurku, embusan angin dari gerakannya menyapu halus ke arahku membawa serta aroma parfum yang begitu familiar. Samar, namun cukup jelas untuk membuatku langsung mengenalinya.

Itu parfum Chanel Chance.

Aku selalu peka terhadap bau. Sekecil apa pun jejak aroma, aku hampir tidak pernah salah mengenalinya. Dan parfum itu… adalah favoritku.

Alasan aku menyukainya sederhana karena Dean Junxian pernah mengatakan bahwa aroma lembutnya mampu membuat orang larut dalam khayalan. Sejak saat itu, parfum itu menjadi sesuatu yang istimewa bagiku.

Namun kini…

Tanganku tanpa sadar mengepal kuat di atas selimut. Dadaku terasa sesak, seolah ada sesuatu yang menekan dari dalam.

Pikiran-pikiran yang selama ini berusaha kutepis tiba-tiba muncul begitu saja tentang cerita-cerita kelam yang sering kudengar, tentang suami yang berselingkuh, tentang pengkhianatan yang disusun diam-diam, bahkan tentang pasangan yang bekerja sama dengan orang lain untuk menyingkirkan istri sahnya sendiri.

Aku menggeleng pelan, mencoba mengusir bayangan itu. Terlalu berlebihan. Terlalu tidak masuk akal. Aku tidak boleh tenggelam dalam kecurigaan yang belum tentu benar.

Namun sebelum aku sempat menenangkan diri sepenuhnya, pintu kembali terbuka.

Refleks, aku mengangkat kepala.

Dean Junxian masuk ke dalam kamar, membawa obat di tangannya.

Wajahnya tampak seperti biasa hangat, penuh perhatian. Senyum lembut terukir di bibirnya saat ia berjalan mendekat, diterpa cahaya matahari yang masuk dari jendela. Sosoknya tampak begitu sempurna, begitu menenangkan… seperti seseorang yang tidak mungkin menyimpan rahasia apa pun.

Namun entah mengapa, tepat saat itu juga, kata-katanya semalam kembali terngiang jelas di telingaku

“Sudah minum obatnya?”

Seketika, jantungku seolah terhenti sesaat.

Perasaan dingin menjalar perlahan dari dada hingga ke ujung jari, dan tanpa bisa kutahan, hatiku terasa jatuh terperosok dalam keheningan yang gelap dan dalam, jauh di dasar yang tak bisa kusentuh.

“Sayang, hari ini kamu terlihat jauh lebih segar dari biasanya,” ucapnya begitu memasuki kamar. Senyumnya hangat, seolah membawa ketenangan. “Kata Mbak Zhiyi, kamu sudah mulai merasa lapar, ya?”

Ia meletakkan obat di atas meja nakas dengan hati-hati, lalu duduk di tepi tempat tidur. Tangannya terulur, menggenggam jemariku dengan lembut. Kehangatan itu… begitu familiar, begitu menenangkan—seolah tidak pernah berubah sedikit pun sejak dulu. Tatapannya pun sama, penuh perhatian dan kasih yang sulit untuk diragukan.

“Kamu ingin makan apa? Biar Mas yang masakkan untukmu,” tanyanya pelan, suaranya nyaris seperti bisikan yang menenangkan.

Aku menarik napas perlahan, berusaha menjaga ekspresi wajahku tetap wajar. “Tidak usah, Mas. Aku juga paling hanya bisa makan sedikit,” jawabku lembut, menahan segala gejolak di dalam dada. Lalu, dengan nada yang terdengar ringan, aku menimpali, “Semalam Mas pulang jam berapa? Aku sampai tidak sadar. Apa pekerjaan di kantor sedang sangat sibuk?”

“Iya, akhir-akhir ini memang sedang padat sekali,” jawabnya sambil mengusap pelan punggung tanganku. “Musim pameran pesanan sudah mulai, jadi banyak klien yang minta penawaran harga. Waktu Mas pulang, kata Kak Zhiyi kamu baru saja selesai minum obat. Mas sempat lihat keadaanmu, tapi kamu sudah tidur. Setelah itu, Mas lanjut kerja di ruang kerja sampai larut… dan tanpa sadar ketiduran di sana.”

Di akhir kalimatnya, ia menguap pelan, seolah benar-benar kelelahan.

Melihat raut wajahnya yang tampak letih namun tetap berusaha tersenyum, hatiku tiba-tiba terasa terhimpit rasa bersalah. Semua yang ia katakan… masuk akal. Bahkan terlalu masuk akal untuk diragukan. Setiap tahun, saat musim pameran seperti ini datang, pekerjaannya memang selalu menumpuk. Dokumen, penawaran, pertemuan semuanya datang bertubi-tubi tanpa jeda.

Dia bekerja keras untuk keluarga ini.

Lalu… bagaimana mungkin aku tega menaruh curiga pada suamiku sendiri?

Mungkin aku yang terlalu jauh berpikir.

Mungkin… selama ini aku salah menilai.

Seharusnya, jika ada yang mencurigakan, itu bukan dia.

Pikiranku terhenti ketika ia meraih mangkuk obat di atas meja. Dengan gerakan yang tenang, ia mengangkatnya, lalu meniup permukaannya sebentar sebelum mencicipinya sedikit.

“Tidak panas, suhunya sudah pas,” katanya sambil tersenyum. Ia lalu mengulurkan mangkuk itu ke arahku. “Ayo, minum dulu obatnya. Setelah itu kita sarapan enak, ya.”

Aku mengernyit kecil, berpura-pura kesal. Dengan nada manja yang biasa kugunakan di hadapannya, aku berkata, “Untuk apa sih? Sudah minum sebanyak ini tetap tidak ada perubahan. Malah bikin perutku mual. Sayang… boleh tidak kalau kali ini aku tidak meminumnya?”

Ia terkekeh pelan, namun sorot matanya tetap lembut dan sabar. “Anak pintar harus minum obat tepat waktu,” ujarnya ringan. “Lihat, hari ini kamu sudah jauh lebih baik, kan? Sudah berapa lama kamu tidak merasa lapar seperti ini?”

Tangannya kembali menggenggam tanganku, memberi tekanan lembut seolah ingin meyakinkanku.

“Dokter baru saja menyesuaikan dosisnya dua hari lalu. Sepertinya mulai ada hasil. Jadi jangan menyerah sekarang, ya.”

Nada suaranya tenang, stabil, tanpa sedikit pun keraguan. Tidak ada nada mencurigakan, tidak ada celah yang bisa kutangkap. Di hadapanku, dia masih sosok yang sama suami yang penuh perhatian, sabar, dan selalu menempatkanku sebagai prioritas.

Justru itu yang membuat hatiku semakin terombang-ambing.

Aku menatap wajahnya lekat-lekat.

Begitu tulus.

Begitu tanpa cela.

Namun di dalam diriku, sesuatu terus berbisik pelan… mempertanyakan semuanya.

Jika obat ini kuminum, aku tahu apa yang akan terjadi.

Aku akan kembali terlelap, tenggelam dalam tidur panjang yang tak bisa kulawan.

Dan itu berarti… aku kehilangan kesempatan.

Kesempatan untuk mencari kebenaran.

Kesempatan untuk membuka semua yang selama ini tersembunyi.

Dan yang paling penting

kesempatan untuk mengetahui… siapa sebenarnya yang berdiri di balik semua ini.

“Aku tidak mau minum!” seruku tiba-tiba, suaraku terdengar lebih keras dari yang seharusnya.

Tanpa menunggu reaksinya, aku menjatuhkan tubuhku ke dalam pelukannya, seolah mencari perlindungan. Namun di balik sikap manja itu, pikiranku berputar cepat, mencoba menemukan cara agar bisa menyingkirkannya setidaknya untuk sementara waktu.

Tangannya langsung merespons, menepuk-nepuk punggungku dengan lembut, seperti biasanya ia menenangkanku. Sentuhan itu begitu akrab, begitu menenangkan… dan justru itu yang membuat hatiku semakin kacau. Di saat yang sama, tangannya yang lain tetap terulur, menyodorkan mangkuk obat tepat di depan bibirku.

“Ayo, sayang… anak pintar, ya,” bisiknya lembut, nyaris membujuk. “Minum obatnya sekarang. Kita harus terus berusaha supaya kamu cepat sembuh.”

Nada suaranya penuh kesabaran, seolah tak menyisakan ruang untuk penolakan.

Dadaku terasa sesak. Kecemasan perlahan merayap naik, mencengkeram hatiku tanpa ampun. Sepertinya… kali ini aku tidak akan bisa menghindar lagi.

“Biar… aku saja yang pegang,” kataku pelan, berusaha terdengar biasa. Dengan tangan yang sedikit gemetar, aku meraih mangkuk itu dari tangannya. Jantungku berdetak semakin kencang, tak beraturan, seperti hendak meloncat keluar dari dada.

Aku tahu persis apa yang akan terjadi.

Jika obat ini kuminum sekarang, dalam waktu tidak lebih dari setengah jam, aku pasti akan kembali terlelap tidur dalam keadaan yang terlalu dalam, terlalu lama… seperti sebelumnya.

Namun, Dean Junxian tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun dariku. Tatapannya tetap sama penuh kekhawatiran, penuh kasih sayang. Sosok suami yang tampak sempurna, yang begitu mencintai istrinya.

Justru itu yang membuatku semakin gelisah.

Mengapa dia begitu bersikeras?

Mengapa dia seakan tidak memberi ruang bagiku untuk menolak?

Jika ini beberapa waktu yang lalu, mungkin aku sudah luluh. Mungkin aku sudah tenggelam dalam tatapannya yang hangat, percaya tanpa ragu sedikit pun.

Namun sekarang…

Di balik senyum lembut itu, aku seolah melihat sesuatu yang lain.

Sesuatu yang dingin.

Sesuatu yang tajam.

Seperti sebilah belati tak kasatmata yang tersembunyi rapi di balik kelembutannya.

Dan tanpa kusadari, belati itu terasa semakin dekat perlahan, pasti, mengarah tepat ke arahku.

Ini… bukan lagi sekadar perhatian.

Ini seperti dorongan halus yang memaksaku untuk patuh.

Untuk menyerah.

Untuk diam.

Hatiku dipenuhi kegelisahan yang sulit dijelaskan. Aku ingin menolak, ingin berteriak, ingin meluapkan semua kecurigaan yang menyesakkan ini. Namun aku tahu, satu langkah yang salah saja bisa membuatnya waspada.

Dan aku belum siap menghadapi itu.

Akhirnya, dengan napas yang terasa berat dan tangan yang masih sedikit gemetar, aku perlahan mengangkat mangkuk obat itu ke arah bibirku…

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!