IG & Tiktok : Tulisan_Nic
Naufal Adhitama (32), dokter anestesi yang hangat dan mudah bergaul, dikenal sebagai playboy karena sering dekat dengan banyak perempuan.
Meski begitu, ia percaya pernikahan harus berlandaskan cinta—bukan sekadar komitmen tanpa rasa.
Hingga ia bertemu Anin Ratri Maharani (27), perempuan dengan luka masa lalu dan trauma pada pria playboy akibat keluarga yang hancur.
Untuk pertama kalinya, Naufal ingin bertahan.
Namun saat cinta itu mulai tumbuh dan mereka ingin melangkah ke pernikahan, masa lalu dan rasa takut justru menjadi ujian terbesar.
Bisakah cinta mereka bertahan, atau justru hancur sebelum benar-benar dimulai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tulisan_nic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Naufal kembali tiba di rumah sakit pusat. Keadaan hatinya yang tengah galau karna lagi-lagi ia mendapat penolakan dari gadis yang di incarnya. Padahal sebelumnya dia tidak pernah mendapat perlakuan seperti itu. Aneh, atau jangan-jangan cewek itu nggak suka cowok ya?–jerit batinnya.
"Pagi-pagi ngelamun aja. Tumben banget." tanya Adrian Dokter Spesialis Emergency yang sudah lama menjadi salah satu sahabatnya.
Naufal menghempaskan tubuhnya di sofa ruangan istirahat dokter. Lantas menghela nafas panjang.
"Aku di tolak cewek" jawabnya sendu.
"Apa? , gimana, gimana?" Adrian yang tahu siapa Naufal selama ini, merasa tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.
"Di tolak cewek!" Naufal mengulangi dengan malas.
"Seriusan? Masa sih?"
"Biasa aja kan bisa reaksinya? Kenapa harus kaget begitu sih? Bikin bete aja!" keluh Naufal yang merasa jengah dengan keterkejutan rekan sejawatnya itu.
"Pfffft..." Adrian sekuat tenaga untuk tidak tertawa. Mau prihatin sebenarnya, tapi kenyataan kalau cowok yang di kenal playboy dan sekarang malah galau karna di tolak cewek itu sangatlah menggelikan.
Naufal melirik Adrian dengan malas. Dia tidak suka di tertawakan, padahal sendirinya sering begitu. Apa lagi saat mendengar kisah sahabatnya yang bernama Albie Putra, puas-puas aja dia ketawa. Sekarang bagaimana? tahu kan rasanya di tertawakan?
"Ketawa aja, ketawa...emang kamu nggak ada empatinya sama temen." ujar Naufal seraya bangkit dan ingin menuju kantin untuk sarapan. Iya, dia belum sarapan tadi saat berangkat ke rumah sakit.
"Dih, ngambek. Sebegitu galaunya seorang dokter Naufal sekarang?"
"Siapa yang ngambek, aku laper. Mau sarapan. Kamu ikut nggak?"
"Nggak dulu deh, aku mau telpon Aisyah dulu. Rencananya hari ini mau ketemu owner wedding organizer." jawab Adrian yang memang sekarang tengah sibuk mempersiapkan pernikahannya bersama Aisyah.
Tapi jawaban Adrian barusan justru semakin membuat Naufal kesal. "Kenapa sih kalian seneng banget nikah? Nggak kamu, nggak Albie semua pada cepet-cepet pengen nikah."
"Eh...iya, besok Albie nikah ya? Di gedung galery Alveron kan?" Adrian jadi kepikiran untuk sekalian mengajak Aisyah di pernikahan rekan sejawatnya itu.
"Iya, hari ini mereka siraman. Tapi cuma acara keluarga besar aja. Sedang akad nikah sama resepsinya ya itu di gedung Alveron."
Adrian terkekeh pelan "Akhirnya nikah juga dia sama Qistina." timpalnya.
Naufal yang teringat sahabat kentalnya itu menikah, entah kenapa ada sudut hatinya yang merasa tak terima. Ia merasa di tinggalkan. Dan menganggap Qistina sebagai perebut sahabatnya. Dan sudah ia pastikan bagaimana nanti Albie tidak bisa semaunya di ganggu, karna waktunya kini pasti terbagi oleh keluarga barunya. 'Kenapa orang-orang harus menikah sih? Nggak bisa apa melajang saja dan memikirkan buat senang-senang!' jerit batinnya.
Naufal pun melangkahkan kakinya menuju kantin, di lorong menuju kesana biasanya ia akan menyapa siapa saja yang berpas-pasan dengannya. Tapi kali ini dia tidak bernafsu. Bahkan sekarang wajahnya nampak masam. Suasana hati sebegitu berpengaruhnya ternyata.
***
Shift nya di rumah sakit Pusat sudah habis, Naufal yang dari tadi pagi sudah kehilangan mood nya memutuskan untuk pergi ke clubing. Hal yang sering ia lakukan, dengan alasan ingin mencari hiburan.
Biasanya ia akan menghubungi Albie, buat berjaga-jaga kalau nanti di sana ia mabuk dan tidak bisa pulang sendirian. Tapi sekarang, mengingat Albie tengah sibuk dengan prosesi pernikahan mana mungkin ia meminta Albie untuk menjemputnya nanti.
Lantas ia pun berfikir untuk tidak akan minum sampai mabuk. Cukup untuk melepas penat saja, pikirnya. Tapi, apa iya bisa kendalikan begini kalau sudah meneguk satu atau dua minuman? Entahlah.
Naufal masuk ke dalam club. Dentuman musik memenuhi ruangaan menyambutnya. Lantas Naufal memilih duduk santai di sofa sudut ruangan
Tangan Naufal memutar pelan gelas di antara jemarinya. Cahaya lampu yang berganti warna sesekali menyapu wajahnya, menampakkan senyum tipis yang tak benar-benar sampai ke mata.
"Elu Naf!" Seorang perempuan yang tiba-tiba duduk di sebelahnya, dan tertawa manja. Dia adalah Naomi. Anak pemilik club.
"Gue temenin ya?" ucap Naomi yang sebenarnya adalah salah satu mantan pacar Naufal.
Naufal tersenyum, "Aku lagi pengen sendiri nih. Sory ya..." tolaknya halus.
"Kenapa? Galau lu ya?"
Naufal merebahkan punggungnya di sandaran sofa. "Nggak, lagi pengen sendiri aja." dalihnya.
Naomi mencondongkan tubuhnya "Udah deh ngaku aja..." lantas ia memicingkan mata "lu galau karna di tinggal nikah sama Albie kan?" tebaknya.
Naufal tercekat, sebenarnya apa yang di bilang Naomi ada benarnya. Benar kalau sekarang dirinya merasa di tinggalkan oleh Albie.
"Kan bener tebakan gue. Masih aja mau nyangkal. Lu nggak bisa boongin gue Naf, lu lupa pas kita pacaran dulu...gue pernah cemburu sama Albie karna lu justru selalu mentingin dia dari pada gue pacarnya."
Naufal mengangguk samar "Iya juga ya, sampai kamu uring-uringan waktu itu." ia jadi terpancing ikut bicara, padahal tadi ia malas.
"Iya lah, dan lu tahu...dulu gue sampe ngira kalau lu sama dia tuh sebenarnya ada hubungan terlarang. Yang kalian tutup-tutupi dengan Albie pacaran sama Alya dan lu sama gue." lanjut Naomi, dan membuat Naufal terkejut.
"Enak aja, emangnya lekong?! Pria tulen nih gue!" sanggah Naufal dengan suara keras.
Namun justru membuat Naomi tertawa terpingkal-pingkal. "Oke deh, gue punya racikan terbaru. Bloody Mary special for you. Cocok buat lu yang lagi galau ini." tawar Naomi.
Naufal menggeleng, "Aku lagi nggak kepengen mabok." tolaknya.
"Kenapa? Nggak ada yang jemput ya?" Cibir Naomi "Karna Albie sekarang lagi asyik sama calon istrinya?" lagi-lagi Naomi berhasil menebak isi pikiran Naufal.
"Ck , sok tahu!"
"Tahu lah, apa yang gue nggak tahu dari lu Naufal. Tenang aja, nanti gue suruh bartendernya buat nurunin kadar alkoholnya. Jadi ya masih aman lah." terang Naomi.
Naufal memutar bola matanya, "Oke boleh deh." ia setuju akhirnya.
Naomi pun berjalan menuju bartender. Lantas memberi instruksi pada pegawainya.
Sepeninggal Naomi, ada seorang perempuan masih muda mendatangi Naufal. Ia dengan sengaja menaikkan roknya, hingga paha putih mulus itu terpampang di depan mata Naufal.
"Mas lagi banyak masalah ya? Mau di temenin buat cerita?" tawar perempuan itu.
Naufal pun menatap perempuan itu dengan tatapan menilai.
"Anak kecil! berapa usia kamu?!" tanya Naufal yang sudah mentaksir usia perempuan itu jauh di bawahnya.
"21" jawab perempuan tersebut.
"Bohong! Mana KTP kamu? Kalo masih sekolah mending sana selesai kan dulu PR kamu."
Perempuan itu pun terkejut, karna rahasianya kenapa bisa terbongkar dengan cepat.
"Gue, 16 tahun Mas." ucapnya jujur, lantas dengan berani mengambil gelas yang berisi vodca milik Naufal yang belum jadi dia minum.
Naufal menggelengkan kepalanya, "Sana, kamu pulang. Orang tua kamu nyariin tuh." titah Naufal sambil menarik gelas minumannya.
Perempuan itu sedikit cemberut, "Nggak ah, mana ada mereka nyariin. Gue lagi ribut sama bokap. Minta dikit kenapa sih Mas, pelit banget." ujarnya.
"Nggak boleh, kamu masih di bawah umur. Jadi nggak boleh minum minuman ini." sergah Naufal.
"Tolong lah Mas, gue lagi pengen mabok nih. Lagi pusing. Banyak masalah." rengek perempuan itu.
Naufal masih tidak percaya, bagaimana bisa perempuan di bawah umur ini memiliki banyak masalah? Seberat apa memangnya masalahnya? Paling juga di paksa suruh belajar dengan orang tuanya.
"Masalah? Kayak yang banyak masalah aja" cibir Naufal.
"Masalah aku banyak tau Mas, bokap aku itu suka ngatur-ngatur, dia strict parent parah. Terus aku ketahuan hamil sama bokap. Dan pacar aku di marah-marahin sama dia. Padahal dia sendiri waktu muda, kata temennya malah lebih parah. Suka gonta-ganti pacar, terus hoby party pulang-pulang mabok. Gue nih, lahir juga dari hasil Zinahnya dia. Terus kenapa pas gue ngikutin jejaknya dia malah marah? Nggak adil kan itu namanya."
Naufal terkejut, seketika ia pun memikirkan nasibnya nanti jika memiliki anak. Apa mungkin anaknya akan mengikuti jejaknya seperti perempuan itu? Naufal pun merinding. Ketakutan dengan pemikirannya. Yang mana, apa yang perempuan itu ceritakan tentang Ayahnya adalah kelakuan yang sama yang selama ini ia kerjakan. Walaupun Naufal masih sering ngerem karna nurut sama Albie.
"O...ya Mas, sepertinya mas ini orang kaya? Gimana kalau aku minta uang sepuluh juta, dan Mas bebas pake badan gue sepuasnya. Gue bisa kok pake gaya apa aja." tawarnya lagi, dan sukses membuat Naufal semakin terperangah.
"Buat apa kamu uang sepuluh juta?!" pekik Naufal.
"Buat ngekos sama pacar gue lah. Ogah banget gue balik sama Bokap modelan begitu. Yang nggak pernah ngaca, padahal sendirinya lebih parah." tuturnya.
"Yak! Kamu itu sudah gila apa? Sana balik ke orang tua kamu! Kamu pikir enak apa hidup jauh dari keluarga?!" bentak Naufal.
Dan membuat perempuan itu ketakutan, lantas ia berdiri. "cih, bilang aja nggak punya duit. Malah sok Sokan nasehatin." gumamnya sambil melangkah pergi.
Naufal pun terhenyak, bisa-bisanya ia di katain sama perempuan ABG nggak punya duit. Faktanya seorang Naufal adalah anak konglomerat, kedua orang tuanya pembisnis handal. Belum lagi dia sendiri yang sebagai dokter spesialis anestesi. Nggak ada di kampus hidup Naufal istilah nggak punya duit. Tapi mana mungkin ia menuruti permintaan perempuan itu, memikirnyanya saja dia sudah jijik duluan.
Naufal pun akhirnya termenung, apa yang di alami oleh perempuan tadi bisa saja terjadi padanya ketika nanti memiliki anak. Bukankah ada istilah buah jatuh tidak jauh dari batangnya? Seketika Naufal meremang.
"Nggak! Aku harus berubah! Aku nggak mau gaya hidup aku nanti malah jadi bumerang sendiri buat aku kedepannya. Nggak mungkin kan aku hidup melajang seumur hidup? Suatu saat aku juga pasti menyusul Albie, punya anak dan menua bersama istri. Tapi siapa ya istri ku nanti?" gumam Naufal pada diri sendiri.
"Anin? Ck, dia aja nolak-nolak terus. Apa sih kurangnya aku ini? Tampan, kaya, dokter...masa iya dia nggak ada tertarik-tertariknya." bahkan Naufal kini terlihat sangat frustasi.
"Anin...yuk nikah yuk, terus kita bikin anak yang banyak. Aku janji bakal setia dan jadi contoh bapak yang baik untuk anak-anak kita" teriaknya putus asa.
"Ayok nikah..."
Naufal segera menoleh pada suara perempuan yang menjawab barusan. Siapa?
*
*
*
~Salam hangat dari Penulis 🤍