NovelToon NovelToon
JEJAK YANG TIDAK SEHARUSNYA ADA

JEJAK YANG TIDAK SEHARUSNYA ADA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Restu Agung Nirwana

Sinopsis:

Liang Chen adalah pengembara yang memilih hidup sederhana dan menjauh dari dunia persilatan. Ia tidak mengejar kekuatan, nama besar, atau kekuasaan—hanya ingin hidup tanpa meninggalkan jejak. Namun sebuah pertemuan dengan seorang pria sekarat menyeretnya pada sebuah warisan berbahaya: sebuah kitab beladiri yang tidak mengajarkan kemenangan, melainkan cara mengakhiri konflik secepat mungkin.

Sejak itu, hidup Liang Chen berubah. Orang-orang mulai memperhatikannya, mengujinya, dan menyebarkan cerita tentangnya. Ia tidak lagi dinilai sebagai orang biasa, melainkan sebagai gangguan terhadap keseimbangan. Setiap keputusan kecil memicu reaksi berantai, setiap pertarungan melahirkan musuh baru yang tidak selalu datang dengan pedang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

HARGA SEBUAH NAMA

Langkah Liang Chen tidak lagi setenang sebelumnya.

Setiap tarikan napas terasa seperti gesekan pisau di dalam dada. Darah yang telah ia ikat dengan kain kasar mulai merembes kembali, meninggalkan jejak merah di tanah berbatu jalur keluar lembah.

Ia tidak menoleh.

Di belakangnya, Lembah Angin Selatan kembali sunyi, seolah tidak pernah terjadi pembantaian singkat di tanah lapangnya. Namun Liang Chen tahu, orang-orang di sana tidak akan melupakannya.

Nama yang belum pernah ia banggakan kini telah lahir dari darah.

Ia berjalan hingga lembah itu menghilang dari pandangan, lalu akhirnya bersandar pada batang pohon besar. Lututnya hampir goyah, tetapi ia menahan diri untuk tidak duduk terlalu lama.

Kalau ia berhenti sekarang, tubuhnya mungkin tidak mau bangkit lagi.

Ia membuka ikatan kain di bahunya.

Luka tusukan itu dalam. Tidak tembus, tetapi cukup untuk membuat lengannya melemah. Pahanya juga masih mengeluarkan darah tipis.

Liang Chen mencabut botol kecil dari kantongnya—ramuan sederhana yang biasa dipakai pengembara untuk luka ringan. Ia menuangkannya ke luka tanpa ragu.

Perihnya seperti api.

Namun ia tidak bersuara.

Ia menggigit kain dan membungkus kembali lukanya lebih kencang.

“Aku belum boleh mati,” gumamnya pelan.

Belum sekarang.

Langit mulai condong ke sore saat Liang Chen tiba di sebuah jalan tanah yang lebih besar. Jalan itu mengarah ke selatan—ke wilayah yang lebih ramai, lebih berbahaya, dan lebih penuh telinga yang siap menangkap kabar.

Ia tidak tahu seberapa cepat berita dari lembah itu akan menyebar.

Namun ia yakin satu hal: orang yang menyuruh pria pucat itu mengujinya pasti sudah tahu hasilnya.

Dan orang itu tidak akan diam.

Belum lama ia berjalan, suara derap kuda terdengar dari belakang.

Liang Chen tidak menoleh.

Tiga penunggang kuda melambat saat mendekatinya.

Mereka mengenakan pakaian sederhana, tetapi pedang di pinggang mereka bukan milik petani.

“Berhenti,” kata salah satu dari mereka.

Liang Chen berhenti.

“Kau dari arah Lembah Angin Selatan?” tanya penunggang paling depan.

“Ada apa kalau iya?”

Pria itu tersenyum tipis. “Kami mencari seseorang.”

“Semoga kau menemukannya.”

“Dia membawa pedang pendek dan luka di bahu.”

Liang Chen diam.

Angin sore berembus lebih dingin.

Pria itu menatap noda darah yang mulai kering di pakaian Liang Chen.

“Sepertinya kami sudah menemukannya.”

Tanpa aba-aba, ia mengayunkan cambuknya.

Bukan untuk memukul kuda.

Untuk melilit leher Liang Chen.

Refleks Liang Chen masih cukup tajam. Ia merunduk, cambuk itu menyambar udara dan menghantam tanah.

Namun dua penunggang lain sudah turun dari kuda.

Pedang terhunus.

Tanpa banyak kata, mereka menyerang bersama.

Liang Chen tidak punya pilihan selain mencabut pedangnya lagi.

Pertarungan dimulai di jalan tanah yang sempit.

Serangan pertama datang dari kanan—tebasan lurus ke arah kepala.

Liang Chen menangkis, tetapi lengannya bergetar. Luka di bahunya langsung terasa.

Penyerang kedua menusuk ke arah perutnya.

Ia memutar tubuh, membiarkan ujung pedang itu menggores sisi pinggangnya.

Darah kembali mengalir.

Sial.

Ia tidak bisa bertarung lama dalam kondisi seperti ini.

Penunggang ketiga akhirnya turun dan ikut menyerang.

Kini tiga lawan melingkarinya.

Bukan seperti orang-orang di lembah yang menyerang dengan emosi, mereka lebih terlatih. Gerakan mereka terkoordinasi.

Satu menyerang. Dua menutup jalur mundur. Tiga menunggu celah.

Liang Chen sadar—mereka bukan sekadar pemburu bayaran biasa.

Serangan berikutnya hampir mengenai lehernya.

Ia menunduk, lalu menusuk ke arah paha penyerang terdekat.

Bilah pedangnya menembus daging.

Pria itu berteriak dan terjatuh.

Namun sebelum Liang Chen bisa menarik pedangnya sepenuhnya, penyerang kedua menebas punggungnya.

Luka baru terbuka.

Darah mengalir hangat membasahi punggung.

Pandangan Liang Chen sedikit berkunang.

Kalau terus seperti ini, ia akan tumbang.

Ia mundur satu langkah, lalu tiba-tiba menjatuhkan diri ke tanah.

Tindakan tak terduga itu membuat dua lawannya kehilangan ritme.

Liang Chen menyapu kaki salah satu dari mereka.

Pria itu jatuh tersungkur.

Dalam posisi rendah, Liang Chen menusuk ke atas—langsung ke bawah dagu lawannya.

Bilah menembus mulut dan keluar di belakang kepala.

Darah menyembur deras, membasahi wajah Liang Chen.

Ia menarik pedangnya dengan kasar.

Tersisa satu.

Penunggang yang pertama kini berdiri beberapa langkah di belakang, wajahnya tidak lagi santai.

“Kau keras kepala,” katanya.

Liang Chen tidak menjawab.

Ia bangkit perlahan, tubuhnya kini penuh luka dan darah.

Pria itu menyerang dengan teriakan pendek.

Tebasan mereka bertemu dengan dentang keras.

Satu. Dua. Tiga benturan.

Setiap benturan membuat bahu Liang Chen seperti robek dari dalam.

Namun ia tetap bertahan.

Lalu, saat pria itu mengangkat pedangnya terlalu tinggi untuk tebasan kuat—

Liang Chen maju.

Bukan mundur.

Ia membiarkan bilah lawan menyayat bahunya lebih dalam, sementara pedangnya sendiri menembus perut lawan.

Tembus sampai gagang hampir menyentuh kain.

Keduanya membeku.

Mata pria itu membelalak.

Liang Chen menarik pedangnya keluar.

Tubuh itu roboh perlahan.

Sunyi kembali menyelimuti jalan tanah.

Tiga mayat. Satu terluka parah yang masih merintih.

Liang Chen berjalan mendekatinya.

Pria yang pahanya tertusuk berusaha merangkak.

“Siapa yang menyuruh kalian?” tanya Liang Chen pelan.

Pria itu terdiam, menahan sakit.

Liang Chen menekan ujung pedangnya ke luka di paha itu.

Jeritan pecah.

“Siapa?” ulangnya.

“Benteng… Selatan…” pria itu terengah. “Tuan… Gu…”

Nama itu asing.

“Siapa Tuan Gu?”

Pria itu tidak sempat menjawab.

Darahnya sudah terlalu banyak keluar.

Kepalanya terkulai.

Liang Chen berdiri diam beberapa saat.

Benteng Selatan.

Tuan Gu.

Nama baru.

Musuh baru.

Ia mengusap wajahnya yang berlumur darah—entah miliknya, entah orang lain.

Ia mulai mengerti.

Pertarungan di lembah bukan ujian terakhir.

Itu hanya pintu.

Dan pintu itu sudah terbuka lebar.

Liang Chen melihat ke arah selatan.

Langit mulai gelap.

Di kejauhan, samar-samar terlihat bayangan perbukitan.

Jika benar ada benteng di sana, maka ia tidak akan diberi waktu lama untuk beristirahat.

Ia membersihkan pedangnya seadanya, lalu berjalan lagi.

Setiap langkah meninggalkan jejak merah tipis.

Namun kali ini, ia tidak lagi berjalan sebagai pengembara yang terseret keadaan.

Ia berjalan menuju sumbernya.

Menuju orang yang menggerakkan bidak-bidak di balik bayangan.

Darah sudah tumpah.

Dan jika dunia persilatan ingin menjadikannya nama yang diburu

Maka ia akan memastikan, setiap orang yang menyebut namanya tahu harga yang harus dibayar.

1
Restu Agung Nirwana
Cocok untuk yang suka adegan pertarungan berdarah-darah 🔥🔥
Happy Alone
Kapan Liang Chen baku hantam? Terima Kasih ceritanya.
Restu Agung Nirwana: Bab 20+, mulai lebih bnyk adegan pertarungan 🤭
total 2 replies
Happy Alone
Tuh orang gak kedinginan kali ya tidur dibawah pohon begitu. Terima kasih ceritanya.
Restu Agung Nirwana: hehehe... namanya jg pengembara kak, bisa tdr dmn saja 😄
total 1 replies
Happy Alone
udah aku diduga, hidupnya bakal dipenuhi kemalangan. Terima kasih ceritanya.
Restu Agung Nirwana: Nasib pengembara bebas (Liang Chen) yg gak pny tujuan dan ambisi, cuma mau hidup bebas. Tp tanpa sengaja malah terseret ke dalam konflik dunia persilatan gara-gara di kasih kitab yg blm di ketahui asal-usulnya oleh orang sekarat (Xu Fan). Ya beginilah jdnya 😄
total 1 replies
Happy Alone
Umpan untuk seseorang yang pantas mempelajari kitab. Terima kasih ceritanya.
Restu Agung Nirwana: smoga suka ya... 🙂
total 3 replies
Happy Alone
Sebenernya awal awal baca agak bingung. Maksudnya, si Liang Chen siapa? Xu Fan siapa? mereka ada dimana? terus tuh buku apaan? tapi udahlah. Terima kasih ceritanya.
Restu Agung Nirwana: Trims apresiasinya kak, mohon dukungannya biar gak kendor 😄
total 6 replies
Happy Alone
Liang Chen, dia pria baik yang akan selalu dapat kemalangan. Namanya ada kata Liang, artinya baik hati. Terima kasih ceritanya.
Restu Agung Nirwana: Wow, sampai arti namanya pun di nilai. Terimakasih, semoga suka sama ceritanya 😍
total 1 replies
Happy Alone
Semangat, Terima kasih ceritanya.
Restu Agung Nirwana: Iya, terimakasih mohon dukungannya biar makin semangat nulisnya 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!