Menikah dengan sepupu sendiri? Canggung pastinya, apalagi belum didasari rasa cinta.
Itulah yang dialami oleh Pandji Marthadipura, seorang abdi negara usia 36 tahun. Akibat ulah bedjat adik laki-lakinya, Panji terpaksa mengambil alih tanggung jawab menikahi adik sepupunya sendiri -- Melitha Lisana -- yang masih SMU, padahal dirinya sudah bertunangan dengan seorang dokter.
Tidak mudah memang. Pandji harus menghadapi kemarahan sang tunangan, sementara Melitha harus siap menghadapi sanksi sosial karena kehamilannya diluar nikah.
Mampukah keduanya menjalaninya? Akankah tumbuh cinta? Yuk, ikuti kisah mereka dalam Novel Menikah Dengan SEPUPU.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Payang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4. Cincin Asing.
Sesuai janjinya pada Elok, malamnya Pandji berkunjung ke kediaman tunangannya itu.
Disamping motor sporty nya yang terparkir, Pandji memperhatikan seorang pemuda yang sedang berpamitan pulang pada Elok dan kedua calon mertuanya, terlihat akrab satu sama lain.
"Sepertinya Om dan Tante kedatangan tamu penting, saya pamit dulu," ujar pemuda berpenampilan rapi itu bersalaman dengan tuan rumah, tersenyum memandang Pandji yang membawa berkas di tangannya sebelum pergi.
Pandji yang disuguhkan senyuman ramah oleh pemuda itu balas tersenyum, mengangguk sopan walau tanpa suara.
"Oh, itu tetangga kami, Nak dokter Arya," jawab Gustam, melirik sekilas pada Pandji.
Pandji membeku di tempatnya berdiri, tidak percaya bila ucapan itu keluar dari mulut calon ayah mertuanya. Ia bahkan tak menyadari mobil pemuda itu telah berlalu pergi bila saja calon ibu mertuanya tidak memanggilnya.
"Nak Pandji, masuk dulu, ayo..." lembut Naraswari, ibu Elok dengan ramah.
"I-iya, Bu," Pandji bergegas.
"Ayo, silahkan duduk. Ibu ke belakang sebentar buatkan minum dulu..." ucap Naraswari lagi.
"Terima kasih, Bu... Maaf, merepotkan..." ucap Pandji sambil menyodorkan buah tangannya, sebelum duduk di sofa.
"Jangan bilang begitu, nak Pandji... hanya minuman kok.... Nak Pandji yang malah repot-repot, selalu membawa buah tangan setiap bertandang kemari," ibunya Elok berucap sambil menunjukan pemberian Pandji yang ia terima sebelum berlalu ke belakang.
"Bapak, gimana kabarnya, sehat?" Pandji memulai obrolan, menyunggingkan senyuman tipis, menatap Gustam yang duduk berseberangan dengannya.
Ada rasa sedikit canggung. Ayah mertuanya yang biasanya bersikap ramah dan hangat kini berubah dingin.
"Baik, seperti yang kamu lihat," datar Gustam tanpa emosi. "Langsung saja pada tujuan kedatanganmu, Bapak lelah dan sudah sangat mengantuk."
Pandji terdiam sejenak, berusaha menata perasaannya.
Tidak bisa dipungkiri, hatinya merasa tak nyaman atas sambutan dan perlakuan calon ayah mertuanya kali ini, bersikap manis pada pemuda sebelumnya, dan tidak padanya.
Di sebelah Gustam, Elok duduk membisu dengan kepala sedikit menunduk. Tidak sengaja, Pandji melihat cincin asing di jari manis kiri tuangannya itu, padahal dikantin rumah sakit siang tadi ia sempat menanyakan kenapa cincin tunangan mereka tidak dikenakan olehnya.
"Saya, minta izin menikahi Elok, Pak. Saya fikir hubungan kami sudah cukup lama bila untuk mengenal satu sama lain," Pandji berujar sopan sesuai niatnya datang.
"Saya juga membawa beberapa berkas untuk persyaratan pernikahan gereja, pencatatan sipil, juga ada beberapa formulir administratif yang wajib dipenuhi oleh anggota TNI seperti saya," meletakan pelan amplop berkas yang dibawanya ke atas meja.
Elok mengangkat wajahnya, memandangi amplop berkas setebal hampir tiga senti itu, demikian pula halnya dengan Gustam, ayahnya.
"Bapak tidak mengijinkan kalian menikah," tandas Gustam tegas.
Mata Pandji berkedip kaget lalu cepat bertanya, "Kenapa, Pak? Apa saya ada salah?"
"Keluarga kami telah menerima pinangan nak dokter Arya Widjaya, pemuda yang kamu lihat tadi. Dia adalah putra bungsu dari bapak Gunawan Widjaya. Kamu pasti mengenal nama itu, salah satu pengusaha kaya raya di kota ini."
"Maaf, Pak.... Elok dan saya, kami sudah bertunangan lebih dulu, bahkan ini sudah tahun kelima bagi kami. Bagaimana mungkin bisa menerima pinangan lagi dari pria lain?" Pandji berusaha tetap tenang, walau dalam dadanya sudah bergemuruh mendengar pengakuan calon ayah mertuanya itu.
"Elok adalah satu-satunya putri kami, kebanggaan kami. Jadi tidak mungkin kami menikahkannya dengan seorang prajurit, lalu berakhir tinggal di komplek asrama," sinisnya dengan raut pongah.
Panji memandang ke arah Elok yang menunduk menatap lantai. "Elok, apa benar kamu menerima pinangan laki-laki itu?"
Elok mengangguk pelan tanpa balas menatap.
Pandji menggeleng tak percaya, dalam sekejap hatinya hancur berkeping-keping, pedih dan begitu sakit.
"Apakah hubungan kita selama ini tidak ada artinya bagimu?" lirih Pandji dengan suara bergetar, jiwanya merasa terguncang.
"Maafkan aku, Mas..." Elok balas berucap lirih, masih tak berani menatap tunangannya itu.
"Aku dan Arya... kami sama-sama berprofesi sebagai dokter di rumah sakit yang sama. Jadi akan lebih baik bila aku memilih dia. Aku kembalikan cincinmu ini, Mas..."
Pandji menatap kotak beludru merah yang diletakan oleh Elok di atas meja, tepat di hadapannya. Hatinya begitu sakit, serasa ingin meledak, jiwa prajurit sejatinya meronta ingin mengamuk diperlakukan secara demikian oleh tunangan dan calon ayah mertuanya.
"Untuk malam ini, hanya cincin ini yang kami kembalikan. Dihari-hari mendatang, Elok akan mengembalikan semua biaya yang telah kamu keluarkan untuk pendidikannya. Elok dan Arya sama-sama dokter, tentu tidaklah sulit bagi mereka menggantinya," ujar Gustam, menatap datar pada Pandji.
"Seenteng ini memutuskan hubungan pertunangan yang sudah lama terjalin, Pak?" Pandji menggeleng pelan, sulit menerima kenyataan.
"Mau gimana lagi?" Gustam mengangkat bahu sambil mendesah pelan.
"Dari pada kalian tetap menikah, tapi ujung-ujungnya bercerai juga karena ekonomi sulit. Lebih baik sekarang saja batalnya, tidak sempat rugi biaya nikah kan?" imbuhnya tanpa perasaan.
Jakun Pandji bergerak naik turun. Terasa sesak dalam dadanya mendengar ucapan calon ayah mertua yang terkesan meremehkan.
Percakapan tadi siang di kantin rumah sakit kembali terngiang, Elok mengatakan bila dirinya belum bisa menikah karena ingin menabung agar bisa menyiapkan pesta pernikahan mewah dan meriah.
Tapi malam ini ceritanya berbeda, tunangannya itu malah menerima pinangan pria lain karena profesi mereka yang sama-sama dokter.
"Baiklah... " Pandji menelan salivanya, berusaha tegar. "Bila ini memang keputusanmu, Elok... dan keluarga ini, saya pun tidak bisa memaksa."
"Jujur, saya merasa sangat sakit diperlakukan seperti ini," dingin Pandji dengan suara rendahnya. "Siapa membalas kebaikan dengan kejahatan, kejahatan tidak akan menghindar dari rumahnya."
"Apa maksudmu mengatakan perkataan kutuk seperti itu, Pandji?!" Gustam bangkit dari duduknya. Rahangnya mengeras dengan wajah memerah, tangannya terkepal kuat di samping tubuhnya.
"Apa yang ditabur keluarga ini, itulah yang akan dituai. Bila sering menabur angin, bersiaplah menuai puting beliung," Selesai berucap, Pandji berdiri, meraih amplop berkas yang sebelumnya ia letakan di atas meja, lalu beranjak membawa rasa luka dan kecewa.
"Dasar prajurit rendahan! Tahunya hanya mengutuk! Sialan!" maki Gustam geram.
"Bukan salah Pandji, Pak. Kitalah yang bersalah..." Isteri Gustam mendekat, membawa minuman yang tadinya ia peruntukan buat Pandji.
"Ibuk membelanya? Sebenarnya Ibuk dipihak siapa, hah?!" Gustam bertambah geram.
"Sebelumnya Ibuk sudah peringatkan Bapak, jangan tamak... Nak Pandji selama ini telah banyak berkorban untuk putri kita, dia bahkan tidak marah saat kita terus menunda pernikahan. Dan sekarang.... Wajar bila nak Pandji marah, Pak!"
"Dan kamu, Elok. Bukan nak Pandji yang tidak setia, tapi kamu!" tunjuk Naraswari pada putrinya yang memungut kotak beludru merah yang tertinggal di atas meja.
"Cincinnya tertinggal, Pak..." Elok menatap ayahnya.
"Huh, baguslah!" Gustam menatap kotak cincin itu. "Itu tandanya kutuknya hanya isapan jempol belaka. Nyatanya, benda itu kembali lagi pada kita, anggap sebagai bayaran omong kosongnya! Miskin saja belagu!"
Bersambung✍️