Kalian percaya Transmigrasi? Percaya Jiwa manusia bisa tertukar?
Jessie Cassandra, gadis cantik yang terkenal Queen Bullying di sekolah, tak ada yang berani padanya termasuk guru, dia benci orang miskin. Secara mendadak membuat jiwanya tertukar dengan gadis yang sering ia bully.
Raya Azzahra, Korban Bully. Gadis culun dan miskin yang beruntung mendapatkan beasiswa di sekolah ternama.
=-=-=
"Kembalikan tubuh gue, cupu!" Hardik Jessie.
"B-bagaimana caranya? Aku gak tau apa yang terjadi." Raya masih heran.
"Lo pasti main dukun. Lo mau rebut kehidupan gue yang sempurna ini." Tuduh Jessie.
=-=-=
Sebenarnya apa yang terjadi? Bagaimana jiwa mereka bisa tertukar? Bagaimana mereka menjalani hari di tubuh yang berbeda? Lantas apakah jiwa mereka bisa kembali ke tubuh asli?
=-=-=
Penasaran? Ikuti kisahnya. Jangan lupa beri dukungan LIKE, COMMENT, VOTE dan FAVORIT.
LOVE YOU~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amha Amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesempatan emas
*
Plak!
Sekitar enam kali Raya menampar Kiara dengan cepat dan keras, tidak memberikan jeda sedikitpun. Setelahnya, dia melakukan tamparan terakhir dengan lebih keras sambil melepas cekalan tangannya. Seketika tubuh Kiara jatuh ke lantai, merasakan sakit dan panas pada Pipi yang sudah memerah.
"Sialan." Desis Kiara melotot.
Selly dan Dira menahan nafas, mereka tidak suka Raya si gadis cupu bertindak kasar pada temannya. Dalam hati ingin membantu Kiara dan membalas Raya, namun begitu menyadari Jessie berdiri di belakang Raya membuat niatnya urung. Sepeduli apapun mereka pada temannya, tetap tidak berani melawan Jessie. Alhasil, mereka pun memilih diam saja daripada terkena imbasnya.
Raya menyeringai tipis, sejujurnya ia belum puas dan ingin melakukan yang lebih. Tapi mengingat dirinya tidak berada di tubuh asli membuat keinginannya di urungkan. Tidak mungkin dia bertindak lebih kasar dari ini, karena Raya dulu adalah gadis yang cupu, penakut dan tidak suka kekerasan.
Semua yang ada disana di buat syock bukan main, bahkan Pipit dan Nathan membuka mulutnya lebar seakan tidak percaya keberanian Raya. Sementara Satria menatap penuh arti, dia merasa Raya sekarang sangat berbeda dengan yang dulu. Ia sendiri kemarin melihat bagaimana Raya balik membully siswi yang ingin membullynya. Pandangannya beralih pada Jessie yang masih terdiam, ia tadinya sangat cemas saat Revan menyerang Jessie. Tadinya berpikir Jessie akan balik melawan, tapi kenapa hanya diam dengan raut wajah takut? Dia baru melihat ekspresi itu, biasanya Jessie tidak pernah takut dan bahkan tidak segan untuk melawan balik. Tapi entahlah... Satria tidak ingin ambil pusing, mungkin saja Jessie hanya syock jadi belum siap melawan. Sedikit merasa lega dan beruntung melihat Raya lebih cepat menolongnya. Mungkinkah dia harus berterimakasih pada Raya karena menolong gadis yang di cintainya?
"Lo jangan ikut campur cupu!" Revan melempar tatapan tajam pada Raya.
"Maunya sih gitu, tapi gue muak sama lo gimana dong?" Balas Raya smirk menantang "Melihat foto kalian itu sangat menjijikan, tapi masih berani membela diri?"
"Oh lo mau belain Jessie maksudnya gitu? Mau jadi pahlawan kesiangan?" Ledek Revan.
"Gue gak minat jadi pahlawan, tapi gue benci pengkhianat. Seperti yang kalian lakukan sama Jessie." Balas Raya sengit.
"Lo gak tau apa apa! Jangan sok ngatur gue." Sentak Revan, amarahnya membludak. Kini wajahnya juga memerah "Lo lupa siapa gue Ha?! Keluarga gue donatur terbesar di sekolah ini dan gue bisa aja cabut beasiswa lo biar lo di keluarkan dari sekolah." Ancamnya menyeringai menakut nakuti Raya
Tidak ada yang menakutkan bagi Raya di dunia ini. Baginya ancaman Revan hanya sebuah lelucon yang sangat garing.
"Siapa yang mau lo keluarkan? Lo cuma sekedar donatur, bukan pemilik." Seru Jessie yang sejak tadi diam kini mulai bersuara. Dia sudah sepakat sama Raya, jika Raya akan membelanya dan dia tentu harus mempertahankan beasiswanya. Oh ayolah... Jika Jessie mencabut beasiswa itu, sama saja dia menjatuhkan dirinya ke jurang. Bagaimana jika suatu saat raganya kembali? Nanti yang ada dia tidak sekolah.
Revan seketika kicep, dia lupa jika Raya membela Jessie. Itu artinya Jessie pun akan berada di pihak Raya, si gadis cupu yang biasanya Jessie Bully. Tapi entah kenapa saat ini mereka terlihat kompak.
Raya terkekeh sinis melihat Revan mematung "Donasi uang receh aja bangga." Ejeknya.
Oh my God. Mereka kembali terkejut mendengar ucapan Raya yang dengan santai mengejek jumlah uang yang di donasikan keluarga Revan. Padahal mereka semua tahu jika keluarga Revan merupakan donatur terbesar di sekolah itu. Mungkin jika yang mengejek itu Jessie tidak masalah dan terdengar wajar karena Keluarga Jessie pemilik yayasan sekolah itu.
Seseorang menerobos kerumunan semua siswa, mereka pun menyingkir memberi jalan. Dia Romeo, si Ketua Osis. Saat sudah sampai di tengah tengah, melihat ketegangan di antara mereka. Bahkan dia cukup terkejut melihat Raya dan Jessie seperti dalam kubu yang sama, lebih tepatnya... Tumben sekali Raya ikut campur masalah ini. Satu tarikan nafas ia hirup begitu dalam lalu menghembuskannya sedikit kasar. Tugasnya sebagai Ketua Osis begitu melelahkan, apalagi jika harus mengurus para Pembully yang bandel. Terutama Jessie and the geng. Romeo melupakan keluhannya sejenak, ia harus teringat tujuan awal menghampiri mereka.
"Revan, Kiara, kalian di panggil Pak Bandi ke ruang BK sekarang juga." Ucap Romeo tegas, ia harus mendisiplinkan murid bandel seperti mereka. Dia yakin kali ini Jessie tidak akan membela, karena Jessie di khianati oleh mereka berdua.
Kiara menunjuk Raya dengan penuh amarah "Urusan kita belum selesai."
Raya menepis kasar "Gue tunggu." Ucapnya datar dan dingin.
Dengan perasaan dongkol akhirnya Revan dan Kiara berjalan menuju ruang BK. Mereka tidak masalah di panggil BK, lagipula guru BK tidak akan berani menghukum mereka. Sepertinya mereka lupa, Guru BK tidak berani menghukum karena waktu itu Jessie masih menjadi pawangnya, tapi kali ini tidak. Mereka harus bersiap dengan kemungkinan yang akan terjadi.
"Apa yang kalian tonton? Bubar semua!" Seru Romeo mengusir, membuat semua siswa bersorak kesal dan terpaksa membubarkan diri. Romeo memijat pelipisnya, masih pagi tapi sudah membuatnya sangat pusing dengan masalah ini.
"Woii pak Ketos, muka lo bisa sangar juga." Celetuk Nathan mendekat, begitupun Satria.
Romeo memutar bola matanya malas "Lebih sangar gue apa di samping lo?" Ia melirik Satria.
Nathan ikut melirik, Satria hanya diam menampilkan wajah datar dan dingin. Lalu Nathan bicara pelan pada Romeo "Dia mah udah dari sono muka datar kek gitu, makanya diem aja keliatan sangar." Ujarnya cekikikan.
Romeo terkekeh, Satria enggan menanggapi. Dia memilih menatap Jessie lekat, ada rasa cemas terselubung dalam hati. Dia merasa Jessie pasti sangat sakit sudah di khianati pacar dan sahabatnya, hanya saja Jessie tetap terlihat biasa yang mungkin untuk menutupi rasa sakitnya.
"Lo keren banget Ray tadi sumpah." Celoteh Pipit mengacungkan dua jempol untuk Raya. Namun Raya memilih diam enggan menanggapi.
Jessie menatap Raya intens, lalu berkata tulus "Terimakasih."
Pipit menganga, lainnya terkejut dalam diam. Terimakasih? Ini pertama kalinya mereka mendengar ucapan itu keluar dari mulut Jessie. Bahkan kedua sahabatnya pun tak percaya.
Tidak ada balasan apapun dari Raya, menurutnya Jessie tidak perlu berterimakasih karena inilah yang seharusnya dia lakukan. Ini masalah dia sama mereka, sudah jelas dia yang harus memberi pelajaran pada mereka.
Selly dan Dira menghampiri Jessie, tatapan mereka memelas agar Jessie tidak marah karena mereka juga tidak tahu perselingkuhan Kiara dengan Revan.
"Kalian beneran gak tau?" Tanya Jessie memastikan.
"Iya Jes, sumpah. Kita aja syock." Bela Selly, Dira mengangguk mengiyakan. "Lo gak marah sama kita kan?"
Jessie tidak langsung menjawab, ia melirik Raya seolah mencari jawaban. Raya tahu di tatap, tapi dia enggan memberi isyarat sebagai jawaban dan memilih melangkah pergi menjauh dari sana. Ingin sekali Jessie memanggil, tapi rasanya tidak mungkin.
"Ya ampun Ray, main pergi aja. Tungguin gue dong." Seru Pipit berlari kecil menyusul Raya.
Satria dan Romeo menatap kepergiannya penuh arti.
"Dia kenapa?" Tanya Romeo kebingungan, ia melirik Nathan karena merasa Nathan tau itu sebagai sepupunya "Gue lihat semenjak dia berangkat jadi berubah dingin dan irit bicara."
"Entahlah. Kesambet jin rumah sakit keknya." Balas Nathan mengangkat kedua bahunya acuh.
Jessie mendengar jawaban asal sepupunya itu ingin sekali menjitak, tapi sebisa mungkin dia tahan.
"Yaudah sana kalian masuk kelas. Bel masuk udah bunyi dari tadi. Masalah juga udah clear, guru bentar lagi masuk." Titah Romeo Penuh ketegasan.
"Baik pak Ketos." Nathan menjawab dengan nada meledek. Dia menatap Satria, memberi isyarat agar jalan ke kelas.
Satria mengabaikan Nathan, ia menatap Jessie "M-mau ke kelas bareng?" Ajaknya berusaha lembut, tapi tetap saja kaku.
Jessie tertegun, ini pertama kalinya Satria mengajak ke kelas bareng. Dira melirik sinis "Jessie sama kita, gak usah cari kesempatan lo."
Jessie berdehem sambil mengangguk, tanda menerima tawaran Satria. Satria menahan senyum senang, sementara lainnya disana menatap cengo saat mereka berdua mulai berjalan beriringan menuju kelas. Terpaksa Dira dan Selly mengikuti dari belakang.
"Berani juga dia ajak singa sekolah." Gumam Romeo di dengar Nathan.
"Dia gak menyia-nyiakan kesempatan yang ada." Ujar Nathan bersidekap dada, teringat saat Satria mengaku jika menyukai Jessie.
"Heuh?" Romeo mengernyitkan kening. Nathan bodo amat sama kebingungannya, dia bergegas pergi ke kelas. "Kesempatan apa?" Gumamnya.
...----------------...