Viola dan Rasta dipertemukan kembali setelah lima tahun perceraian mereka. Rasta pikir, Viola telah bahagia bersama selingkuhannya dan anak dari hasil perselingkuhan mereka dulu. Namun ia dibuat bertanya-tanya saat melihat anak perempuan berusia empat tahun yang sangat mirip dengannya.
Benarkah dia anak dari hasil perselingkuhan Viola dulu, atau justru anak kandungnya Rasta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jalur Langit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Satu
"Permisi, Pak .... "
Pintu ruangan Rasta diketuk pelan. Rasta mendongak, mengalihkan sejenak pandangannya dari laptop ke arah pintu, kemudian berseru, "masuk!"
Seseorang mendorong pintu, dia adalah Gia, sang manager resto. "Maaf menganggu waktunya sebentar, Pak. Saya mau memberitahukan orang yang mau interview hari ini sudah datang," ucapnya dengan nada sopan disertai senyum tipis.
"Suruh dia masuk ke sini, Gia," balas Rasta.
"Baik, Pak." Gia mengangguk, tubuhnya sedikit membungkuk.
Gia menghilang dari balik pintu yang terbuka setengah, kemudian berganti dengan perempuan lain yang masuk ke dalam ruangan.
"Permi ... si," ucap perempuan itu. Awalnya dia tersenyum ramah, sebagaimana calon karyawan baru yang sedang melamar kerja. Namun, begitu melihat sosok lelaki yang duduk di balik meja, senyum di wajahnya menghilang. Berganti dengan tatapan terkejut.
Begitupun dengan Rasta yang tak kalah terkejut begitu melihat calon karyawan barunya yang masih memegang map coklat itu. "Viola...." Nama itu ia bisikan di dalam hati.
Gia menutup pintu, supaya sesi interview itu tidak terdistraksi dengan berbagai kejadian di luar. Ia tidak tahu jika perempuan yang baru saja ia suruh masuk ke dalam ruangan, ingin melarikan diri detik itu juga.
Ruangan menjadi canggung. Kedua orang yang sebelumnya sudah saling mengenal itu masih saling tatap dengan jantung yang berdegup kencang.
"Silakan duduk," ujar Rasta pada akhirnya setelah pandangan mereka terputus.
Viola mengerjap, ingin sekali ia lari. Bertemu lagi dengan Rasta, yang tak lain adalah mantan suaminya, sama sekali tidak pernah terdaftar dalam wish list hidupnya. Seharusnya pertemuan ini tak usah terjadi jika masanya dengan Rasta sudah habis.
Tapi sayangnya Viola tidak bisa lari. Ia hanya berdiri kaku, melangkah canggung, hingga duduk dengan terpaksa di hadapan mantan suaminya yang sedang menatapnya seolah sedang mengatakan bahwa ia tak sangka akan bertemu lagi dengan Viola, dalam keadaan yang sangat menguntungkan baginya dan merugikan Viola. Rasta akan menjadi atasannya, bahkan bos di tempat Viola hendak mencari nafkah.
Jika tahu akan seperti ini, Viola akan memilih panggilan interview dari toko kue, alih-alih panggilan dari restoran sekaligus kafe ini. Mana dia tahu kalau restoran ini milik Rasta.
"Kenapa cuma diam? Kamu datang ke sini nggak punya tujuan?" cecar Rasta. Suaranya dingin, tidak ada ramah-ramahnya. Padahal benaknya sudah sibuk merekam kembali kilasan kejadian di masa lalu.
Pada saat mereka masih hidup bersama. Sebelum badai datang.
Viola menunduk, menggigit bibir bawahnya, meremas map coklat di tangannya. Ibaratnya, sekarang ini Viola sudah terlanjur basah. Ia tidak bisa menghindar apalagi mundur. Viola angkat wajahnya, memberanikan diri untuk membalas menatap sepasang iris coklat itu.
"Saya mau melamar kerja," Viola ulurkan map coklat berisi surat lamaran kerja, biodata dirinya, dan berbagai berkas pendukung lainnya.
Rasta tersenyum, senyum yang penuh ejekan. Viola melamar kerja? Apakah suami barunya tidak memberikan nafkah yang layak, sehingga mantan istrinya ini memilih untuk kerja untuk membantu perekonomian keluarga?
Oh, kasihan sekali.... Ejek Rasta dalam hati. Begitulah risikonya kalau dulu berani macam-macam dengan pasangan halalnya. Selingkuh.
"Apa tujuan kamu melamar kerja di sini?" tanya Rasta, pada wanita yang tidak sanggup menatapnya terlalu lama. Yang berkali-kali meliriknya penuh waspada.
"Tujuan? Ya karena saya butuh pekerjaan biar saya bisa dapat uang," jawab Viola. Memangnya apa lagi tujuan bekerja jika bukan karena uang? Aneh sekali pertanyaannya itu. Viola mendengkus di dalam hati.
"Oh, baiklah." Rasta menarik sudut bibirnya, kemudian membuka map coklat dan membaca lembar demi lembar isi di dalamnya. Tidak terlalu minat karena ia sudah tahu riwayat pendidikan dan identitas penuh sang mantan istri. "Kamu mau melamar jadi posisi apa?"
"Waiters."
"Okay." Rasta mengangguk. "Kamu bisa bekerja mulai besok," cetusnya. Sebenarnya, masih banyak pertanyaan yang harus diajukan kepada calon karyawan baru. Tetapi, karena Rasta ingin menyaksikan bagaimana hidup sang mantan istrinya itu, maka Rasta langsung menerimanya bekerja di restonya yang baru berjalan tiga tahun ini.
Jika benar tebakan Rasta tentang hidup Viola yang menderita, maka Rasta akan menjadi orang pertama yang tertawa di atas penderitaannya.
"Terima kasih." Viola mengangguk kaku. Seharusnya ia bahagia sudah diterima kerja dengan mudah, namun justru Viola merasa resah. Ia justru berharap Rasta akan mengusirnya.
"Sama-sama. Sesama makhluk hidup memang harus tolong menolong, termasuk dengan mantan. Harusnya kamu lebih berterima kasih lagi, karena saya sudah berbaik hati pada orang yang seharusnya saya campakkan." Terakhir, Rasta tersenyum meremehkan.
Puas sekali Rasta melihat wajah Viola yang memerah. Rasta hidup berkecukupan, bahkan sekarang ia menjadi lebih kaya daripada dulu, sementara Viola, yang dulu membuangnya demi pria lain yang lebih kaya, hidup di bawahnya, bahkan kini menjadi bawahannya.
Rasta baru teringat, dulu Viola pergi meninggalkannya dalam keadaan hamil. Hamil anak dari hasil pengkhianatannya. Sekarang, bagaimana keadaan anak itu? Pasti kurus kerempeng dan ingusan.
Viola menarik napas panjang, ia ulurkan tangannya ke arah Rasta. Mereka berjabat tangan, tidak terlalu erat, namun Rasta bisa merasakan tangan Viola yang berkeringat.
"Saya sangat berterima kasih sekali, Pak Rasta, berkat anda yang sudah memberikan saya pekerjaan, maka saya tidak menjadi pengangguran lagi. Saya berharap, jika suatu saat anda mengetahui sebuah fakta yang disembunyikan, anda tidak akan menyesal."
Viola menelan ludahnya dengan susah payah. Begitu tangan mereka saling melepas, ia langsung berkata, "Saya permisi. Assalamualaikum .... "
Rasta tak membalas ucapan salam itu. Ia membuang napas panjang, mengalihkan matanya supaya tidak menatap kepergian Viola. Baru setelah pintu ruangannya tertutup, Rasta menatap pintu itu. Bayangan sang mantan istri seolah tertinggal di sana.
Hari itu, tak pernah terpikirkan sebelumnya. Ia akan bertemu lagi dengan Viola, setelah lima tahun perceraian mereka. Susah payah Rasta menata hatinya, dan ketika ia bisa dibilang sudah sembuh dari rasa sakitnya, alam semesta malah mempertemukannya lagi dengan Viola.
Runtuh sudah bangunan pijakannya Rasta. Hancur lebur pilar tinggi yang membuatnya kuat, digulung oleh kenangan menyakitkan atas Viola. Semua gara-gara hari brengsek ini.
Huft ... Hari sial memang tidak ada di kalender.
*
"Lho ... Sudah selesai interviewnya, Mbak?"
Viola memaksa seulas senyum untuk Gia yang baru saja bertanya. "Sudah, Mbak Gia."
"Kapan Mbak Viola bisa masuk kerja?"
"Insha Allah besok saya bisa bergabung."
"Selamat ya, Mbak. Selamat bergabung di Delicious Cafe And Resto."
"Terima kasih, Mbak Gia."
Viola berbasa-basi sebentar dengan Gia dan beberapa waiters lainnya. Lalu, wanita cantik dengan blouse biru itu melangkah keluar dari resto. Termenung di atas motor maticnya.
"Gimana ini, Ya Allah? Hamba butuh banget pekerjaan ini, tapi kenapa harus Rasta yang jadi bosnya?" keluhnya sambil menghela napas panjang.
"Kenapa sih harus ketemu lagi sama Rasta?"
Kini, Viola rasanya ingin menangis.
...****************...
ini di dunia nyata ada Thor dekat rumahku ya itu ujungya bercerai
mantan istri mu tuh tukut kalau balikkan lagi nanti mama bersaksi lagi ta
terbuka kan, ibu mu dalang nya.. biang korek di balik prahara rumah tangga mu dulu