Alana terpaksa harus menikah dengan Axel Luciano, seorang CEO yang begitu terobsesi padanya. Ancaman Axel berhasil membuat Alana terjebak dalam dilema, sehingga ia terpaksa harus menerima pernikahan tersebut demi menyelamatkan nyawa orangtuanya.
Axel bukan hanya kejam di mata Alana, melainkan seorang psikopat yang siap melepaskan peluru kepada siapa saja yang berani melawannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen__halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memutuskan kontrak sepihak
"Ada apa dengan pernikahan Alana sebenarnya? Aku nggak yakin jika Alana bahagia dengan lelaki itu." Mike bergumam kecil, ia masih menatap mobil mewah milik Luciano menghilang dari area parkir cafe itu.
Tidak ingin terlalu larut dalam memikirkan Alana, Mike pun akhirnya memutuskan untuk menghubungi sekretaris nya untuk menanyakan kabar meeting hari ini dengan kliennya yang belum juga datang.
"Bisakah kamu menghubungi Klien kita itu? Saya sudah menunggu cukup lama, tapi dia belum juga datang!" ucap Mike dari telepon.
Sekretaris itu pun menjawab. "Maaf pak, Klien kita membatalkan meeting hari ini, juga membatalkan kontrak kerja sama. Tuan Luciano mengatakan jika tidak akan ada lagi kerja sama dengan perusaan kita dalam bentuk apapun."
Mike langsung mematikan sambungan telepon tersebut. Ia meremas kuat ponsel di tangannya.
"Jadi, Axel Luciano itu adalah suami Alana? Dan sekarang dia memutuskan kontrak kerja sama itu? Oh shit, astaga," ucap Mike sambil mengusap kasar wajahnya.
Mike berdiri terpaku beberapa detik di area parkir kafe itu. Tangannya masih menggenggam ponsel dengan keras, sampai kuku-kuku jarinya memucat.
“Axel Luciano…” gumamnya pelan, seperti sedang menimbang nama itu di kepalanya.
Nama yang bukan asing. Terlalu besar untuk tidak dikenal.
Pengusaha bayangan, pengendali banyak line bisnis gelap dan legal, pria yang namanya jarang muncul di media tapi selalu dibisikkan di ruang-ruang rapat tertutup. Dan kini, pria itu adalah suami Alana.
“Jadi selama ini…” Mike menarik napas panjang, dadanya terasa sesak. “Kau menikah dengan pria seperti itu.”
Ia menoleh kembali ke arah jalan, seakan berharap mobil mewah itu masih ada. Namun yang tersisa hanya kekosongan dan suara kota yang berjalan seperti biasa.
Mike tertawa pendek, getir.
“Pantas saja Alana terlihat… terkurung.”
Ponsel di tangannya kembali bergetar. Sebuah pesan masuk dari sekretarisnya.
Sekretaris: Pak, klien lain juga menunda meeting sore ini. Alasannya sama. Mereka bilang ada ‘perubahan arah’ dari pihak Luciano Group.
Mike menutup mata.
Jelas sekarang. Ini bukan kebetulan. Ini peringatan.
Luciano tidak hanya menjemput istrinya dengan sikap dingin dan posesif—ia juga sedang menarik garis batas. Garis yang berkata: jangan mendekat.
“Dia mengancamku tanpa satu kata pun,” ucap Mike lirih.
Ia menyandarkan punggung ke mobilnya, mengusap wajahnya sekali lagi. Dalam benaknya terbayang wajah Alana saat ditarik pergi tadi. Tatapan itu bukan tatapan wanita yang bebas sepenuhnya.
“Kalau kau bahagia, Alana… aku akan mundur,” gumamnya.
“Tapi kalau tidak…”
Mike membuka mata, sorotnya mengeras.
“Aku tidak akan tinggal diam.”
Ia tahu risikonya besar. Terlalu besar. Berhadapan dengan Luciano bukan sekadar soal bisnis yang hancur. Itu bisa berarti nyawa.
Namun perasaan lama yang selama ini terkubur, kini teraduk kembali. Dan rasa itu bercampur dengan kekhawatiran yang nyata.
Mike masuk ke dalam mobilnya, menyalakan mesin.
***
Mobil itu melesat seperti anak panah yang dilepaskan dari busurnya. Klakson bersahutan, umpatan pengendara lain terdengar samar, tapi Luciano sama sekali tidak peduli.
Tangannya mencengkeram kemudi dengan keras. Rahangnya mengunci. Napasnya berat.
Alana menggigil. Tubuhnya terhentak setiap kali mobil berbelok tajam. Pegangannya pada sabuk pengaman semakin kuat, sementara tangan kirinya masih terperangkap dalam genggaman Luciano yang dingin dan menekan.
“Luciano, tolong…” suara Alana bergetar. “Aku takut. Hentikan mobilnya. Aku mohon.”
Tidak ada jawaban.
Luciano seolah tuli. Matanya lurus ke depan, gelap, penuh amarah yang belum menemukan jalan keluar. Bayangan Mike, foto yang dikirim pengawalnya, dan rasa cemburu yang menusuk dadanya bercampur jadi satu. Dadanya terasa sempit, pikirannya bising.
Alana menelan ludah. Air mata mulai menggenang.
“Luciano… aku di sini,” katanya lebih pelan, hampir seperti bisikan. “Aku bukan musuhmu.”
Kalimat itu akhirnya menembus sesuatu.
Luciano menginjak rem sedikit lebih keras dari yang seharusnya. Mobil tersentak, lalu melambat. Napasnya terhela kasar, seolah baru tersadar ia sedang menahan apa.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang mencekam.
Akhirnya Luciano menepi di pinggir jalan. Lampu hazard menyala. Mesin masih hidup.
Luciano melepaskan genggaman Alana seolah tangannya terbakar. Ia menyandarkan kepalanya ke setir, mengusap wajahnya dengan kedua tangan.
“Maaf…” suaranya rendah, serak. “Aku kehilangan kendali.”
Alana menarik napas gemetar. Tangannya yang bebas bergerak ragu-ragu, lalu menyentuh lengan Luciano. Pelan. Hati-hati.
“Aku nggak kabur,” katanya lirih. “Aku cuma minum kopi. Aku pulang sama kamu. Tapi cara kamu barusan… itu menakutkan.”
Luciano menoleh. Mata kelam itu kini dipenuhi sesuatu yang lain—takut. Takut kehilangan. Takut mengulang masa lalu.
“Aku melihat fotonya,” ucap Luciano jujur akhirnya. “Aku tahu dia menyukaimu. Dan pikiranku langsung gelap.”
Alana menatapnya, air mata jatuh satu. “Aku bukan milik masa laluku. Aku memilih kamu sekarang.”
Kata memilih itu menghantam Luciano lebih keras dari tamparan apa pun.
Ia meraih tangan Alana lagi, kali ini tidak menekan.
“Aku janji,” katanya dengan suara yang nyaris pecah, “aku akan belajar mengendalikan diriku. Tapi jangan uji ketakutanku, Alana. Aku terlalu takut kehilanganmu.”
Alana mengangguk pelan. “Dan aku butuh kamu belajar percaya. Kalau tidak, aku akan selalu takut… bukan pada dunia, tapi pada kamu.”
Luciano menutup mata sejenak. Lalu ia menyalakan kembali mobil, kali ini dengan kecepatan normal.
Tangannya tetap menggenggam tangan Alana.
Namun sekarang, genggaman itu lebih seperti permohonan, bukan penguasaan.
Mobil itu terus melaju, meninggalkan hiruk-pikuk jalan utama dan masuk ke jalur yang lebih sepi. Lampu-lampu kota mulai jarang, digantikan deretan pepohonan dan jalan panjang yang sunyi.
Alana menoleh ke luar jendela sekali lagi, lalu kembali menatap Luciano dengan napas yang terasa semakin berat.
"Kita mau kemana? Ini bukan arah ke rumah," tanya Alana, suaranya berusaha terdengar tenang meski dadanya bergemuruh.
Luciano tetap menatap lurus ke depan, satu tangannya di kemudi, satu tangan lain mencengkeram setir dengan keras.
"Ke suatu tempat, dimana tidak ada orang lain disana. Hanya akan ada kau dan aku, kita berdua, Alana," katanya dengan nada posesif yang begitu jelas.
Kata-kata itu membuat tengkuk Alana meremang. Luciano kembali menunjukkan sisi yang selama ini berusaha ia kendalikan, tapi selalu muncul saat emosinya memuncak.
Alana menelan ludah kasar. Ia mengerti kenapa Luciano marah. Ia mengerti kecemburuan itu. Namun bukan berarti semuanya sepenuhnya salahnya.
"Kamu mau ngurung aku lagi?" tuduh Alana. Matanya berkaca-kaca, suaranya bergetar menahan rasa takut yang perlahan naik ke permukaan.
Luciano menghela napas berat, rahangnya mengeras. Ia akhirnya melirik Alana sekilas, lalu kembali fokus ke jalan.
"Bukan, tapi untuk membuatmu mengerti, jika kamu adalah milikku satu-satunya."
Jantung Alana berdetak tidak karuan. Kalimat itu selalu membuatnya gamang. Selalu ada rasa takut tiap kali Luciano berbicara dengan nada seperti itu.
"Apa maksudmu, Luciano?" Kening Alana berkerut. Ketakutan yang selama ini berusaha ia tekan, kini mulai menyeruak.
Luciano memperlambat laju mobilnya. Suaranya turun, dalam, sarat emosi yang bercampur antara keinginan dan ketakutan kehilangan.
"Memberimu kenikmatan yang belum pernah kau rasakan. Sehingga saat kau menginginkannya lagi, kau hanya akan datang kepadaku!"
Alana membeku.
Tangannya mengepal di pangkuan. Napasnya tercekat. Bukan karena kata-kata itu semata, melainkan karena cara Luciano mengucapkannya—seolah ia yakin, seolah ia percaya bahwa itu adalah satu-satunya cara agar Alana tetap tinggal.
“Luciano…” suara Alana lirih, nyaris berbisik. “Aku bukan sesuatu yang harus kamu ikat dengan cara itu.”
Luciano menekan rem perlahan. Mobil berhenti di pinggir jalan yang benar-benar sepi. Mesin masih menyala, lampu depan menerangi jalan kosong di hadapan mereka.
Luciano memejamkan mata beberapa detik. Tangannya gemetar saat akhirnya melepaskan setir.
“Aku tahu,” katanya pelan, jauh lebih rendah dari sebelumnya. “Dan justru karena itu aku takut.”
Ia menoleh, menatap Alana dengan sorot mata yang tidak lagi sepenuhnya dingin. Ada kegelisahan di sana. Ada ketakutan yang telanjang.
“Aku tidak ingin memilikimu dengan paksaan,” lanjutnya. “Tapi aku juga tidak tahu bagaimana caranya tidak takut kehilanganmu.”
Alana menatap Luciano lama. Air mata akhirnya jatuh, satu demi satu.
“Aku nggak k pergi ke mana-mana,” ucapnya pelan. “Tapi kalau caramu seperti ini, aku akan selalu takut. Dan aku nggak mau hidup dengan rasa takut.”
Luciano terdiam.
Keheningan menyelimuti mereka, berat, namun jujur.
Perlahan, Luciano mengulurkan tangannya, berhenti beberapa senti dari tangan Alana. Tidak menyentuh. Menunggu.
“Bantu aku belajar,” katanya lirih. “Jangan tinggalkan aku di tengah ketakutanku sendiri.”
Alana menatap tangan itu lama, lalu akhirnya menyentuhnya. Bukan sebagai tanda tunduk, melainkan sebagai bentuk kepercayaan yang masih rapuh.
Mobil kembali melaju.
***