Nayla Thalita Firliany 21 tahun, gadis cantik yang biasa di panggil Nayla ini merantau dari Riau ke ibu kota Jakarta untuk menuntut ilmu di salah satu kampus ternama.
Dan Naas Nayla harus kehilangan ke Virginan nya dalam sebuah insiden pemerkosaan saat ia tengah mabuk.
Karena pelaku bukan pria yang Nayla kenal, serta dirinya juga tidak hamil maka Nayla memilih melupakan kejadian itu dan menganggapnya sebagai mimpi buruk semata.
Namun beda halnya dengan Giovani Farmost 29 tahun, seorang Presdir sebuah perusahaan kontruksi yang merasa jika Nayla adalah takdirnya.
Gion panggilan dari Giovani menghalalkan segala cara untuk bisa membuat Nayla selalu di sisihnya
Namun kesalah pahaman yang terjadi di awal pertemuan mereka membuat keduanya tidak pernah akur. Terlebih Nayla yang tidak mencintai Gion membuat Gion selalu cemburu berlebihan.
Lalu apa yang akan terjadi pada kisah mereka berdua?
Simak kisah mereka selanjutnya dalam
I'M JUST FOR YOU.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jujuk Aza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Gion
Gion menatap tumpukan kertas didepannya. Nampak tidak berkurang sedikit pun, walau sudah dibacanya sedari tadi. Wulan sang sekertaris selalu datang dengan kertas-kertas baru membuat ia tidak bisa pergi dari tempat duduknya. P*ntatnya sudah terasa panas. Dari pagi hingga sekarang ia tidak beranjak dari duduknya, bahkan saat jam makan siang tiba.
Akhir-akhir ini ia memang kelewat sibuk. Saat perusahaan sedang mengembangkan proyek apartemen di wilayah pantai Ancol, saat itu juga perusahaan harus mengeluarkan produk baru. Membuat ia harus bolak-balik menemui klien guna kerjasama atau sekedar memantau perkembangan proyek yang sedang berlangsung.
Beberapa hari yang lalu, Gion selalu makan siang diluar bersama para pemegang saham juga tamu-tamunya yang lain. Ia akan kembali ke kantor menjelang sore, hingga berkas yang ada di mejanya memang tidak tersentuh.
Bahkan tak jarang ia harus pulang sampai larut demi meyelesaikan beberapa laporan yang akan digunakan untuk rapat besok paginya.
Jika tidak mengingat puluhan ribu orang mengantungkan nasibnya pada bahu Gion, tentu ia memilih tidur di kamar sambil memeluk budak kecil yang baru saja ia miliki ketimbang duduk dalam ruangan berkencan dengan dokumen, yang tidak berkurang meski matanya sampai sakit melihat barisan tulisan kecil-kecil itu.
"Huff"
Gion menarik napas dalam-dalam hidung dan mengeluarkannya berlahan lewat mulut. Ia mengatur pernapasannya untuk melepas beban berat dan rasa jemu.
Diambilnya remote kecil yang ada di atas meja. Menekan tombol hijau disana, lalu memutar kursi menjadi 180 derajat, menghadap dinding yang sedari tadi ada di punggungnya.
Dua buah korden terbuka secara otomatis, menampilkan kaca bening transparan satu sisih. Kini di hadapannya terpampang jelas pemandangan kota Jakarta saat malam hari. Kemerlip laksana bintang dari bangunan tinggi menjulang akan menyentuh langit, serta lampu-lampu dari mobil yang berlalu-lalang dijalankan terlihat begitu indah.
Menyandarkan punggungnya pada kursi, hingga yang membuat peer penyangganya bergeser mundur beberapa inci karena menahan beban tubuhnya. Tatapan matanya lurus ke depan namun pikirannya melayang-layang. Mengingat kembali sosok yang beberapa hari ini ia acuhkan. Mainan baru untuknya. Wanita dengan aroma bunga lily yang mencoba bermain-main pada dirinya. Ah, memikirkan perempuan itu membuat ia semakin rindu.
Gion melirik jam tangan yang melingkar di lengan kirinya. Kini menunjukkan pukul delapan malam.
Kemudian ia beranjak pergi. Meninggalkan kursi kebesarannya lalu melangkah keluar, menghampiri seorang wanita yang duduk setia menunggu sang bos, “Ayo kita pulang!” Ajaknya pada sang sekertaris.
Tidak menunggu perintah keduakalinya, perempuan itu langsung menyambar tas kerja yang sudah ada di atas meja dan mengikuti Gion dari belakang.
*
*
Kantor sudah sepi, beberapa lampu sudah dimatikan, karena jam kerja sudah berakhir dari sejak pukul empat tadi. Wulan masih mengikuti sang bos sampai depan loby dimana supir pribadi Gion biasa menunggu.
“Masuk lah, aku akan mengantar mu pulang malam ini. Atau paling tidak, biarkan aku menebus kesalahanku yang memintamu lembur selama beberapa hari," Gion menjelaskan maksudnya pada sang sekertaris.
Wulan tidak menjawab, namun tidak juga menolak. Dia membuka pintu sebelah supir dan mendaratkan tubuhnya disana.
Ya, Gion tahu kalau Wulan capek hari ini. Mungkin diantar pulang adalah alternatif yang baik dari pada melihat Wulan kecelakaan karena nyetir sambil ngantuk.
“Wulan, kamu bisa meminta kepada anak magang untuk membantumu di kantor kalau pekerjaan mu memang sangat banyak,” Gion memulai membuka percakapan setelah sedari tadi mereka saling diam. “Bukan kah tidak masalah bagi mereka bekerja di bagian mana saja, asal mereka bisa mendapat ilmu dan pengalaman kerja. Siapa tahu setelah lulus kuliah besok mereka akan menjadi sekertaris, tidak bekerja sesuai jurusan mereka,” Gion mencoba memberi masukan kepada sekretarisnya yang merupakan perintah terselubung darinya.
"Baik pak," Jawab Wulan tanpa menoleh.
Wulan adalah teman kuliah Gion ketika SI. Dia mendaftar jadi sekertaris begitu lulus kuliah. Kala itu yang menjadi Presdir masih sang papa. dan Saat Gion mengantikan posisi papanya, Wulan masih menduduki jabatan itu, karena Gion tidak berencana menganti Wulan dengan orang lain, lantaran keduanya sudah nyaman satu sama lain.
Kini Wulan sudah menikah dua tahun yang lalu, meski dia belum mempunyai seorang anak. Gion sudah pernah menawarkan Wulan untuk pindah ke devisi lain agar bisa pulang lebih awal, mengingat dirinya sekarang sudah memiliki tangung jawab mengurus suami. Tapi tawaran Gion ditolak, alasannya Wulan lebih senang bekerja di bawah perintah Gion secara langsung ketimbang di bawah perintah orang lain.
Mungkin, bagi Wulan, pindah devisi sama halnya turun pangkat jadi dia tidak mau. Gion juga tidak memaksa kalau dia tidak mau. Malah ia bersyukur kalau sahabatanya tidak pindah. Meski Gion juga mengatakan kalau penawaran itu akan berlaku sampai kapan pun, jika suatu saat nanti Wulan berubah pikiran.
Mobil sedan hitam itu berhenti disalah satu perumahan elite daerah pondok gede. Lampu di dalam rumah sudah menyala, menandakan jika pemiliknya sudah datang. Wulan melepas seatbelt lalu, “Terimakasih pak sudah mengantar saya pulang," Ucapnya tulus pada sang bos. Gion membalas ucapan itu dengan mengangguk kecil.
Sepeninggalan dari rumah Wulan, kini Gion mengambil hp dari saku jasnya dan mengetik pesan untuk seseorang.
*
*
*
*
Nayla tengah asik dengan drakor yang ada laptopnya. Entah sejak kapan ia suka melihat drama yang di perankan oleh opa-opa ganteng dari negeri ginseng itu. Yang jelas setiap punya waktu luang ia lebih memilih nonton film lewat laptopnya dari pada melihat TV. Bahkan Faya sempat bilang kalau TV di kamar Nayla sampai lumutan karena kelamaan di anggurin.
Kalau sudah nonton drakor, Nayla suka tertawa-ketawa sendiri mirip orang setres. Kadang sampai menangis jika melihat adegan sedih, ia terlalu menjiwai apa yang ia lihat.
Kini gadis itu sedang tiduran di tempat tidur, sambil cengar-cengir sendirian melihat adegan romantis yang opa-opa itu lakukan. Sambil sesekali memeluk guling nya gemas. Sedang pandangannya tak lepas dari laptop di depannya yang telah menyala. Saat sedang asik dengan apa yang dilihat,
“Tring…” HP Nayla berbunyi, tanda ada pesan masuk.
Gadis itu meraba benda mungil di sisihnya. mengambil HP guna melihat siapa yang tengah mengirimkan pesan.
Potongan sebuah Chat dari nomor tak dikenal tampil di halaman utama, membuat Nayla mengacuhkan pesan itu. Ia meletakkan HP-nya kembali, tanpa berniat membaca apalagi membalasnya. Melanjutkan aksinya yang tertunda.
Meski tidak diberi nama, tapi Nayla tahu jika itu nomor bosnya di kantor. Karena ia ingat ujung nomor pria brengsek itu.
Lima belas menit kemudian, HP-nya berbunyi lagi. Alunan lagu Cyantik yang telah ia setting sebagai nada dering terdengar dari benda pipih miliknya. Nayla melihat layar HP yang menampilkan nomor itu lagi, tengah memanggil di sana.
“Ngapain sih nih orang malam-malam telepon?” gumamnya pelan, dengan wajah yang tampan begitu kesal.
Dilihatnya penanda waktu dari layar laptopnya yang menampilkan angka 21.10.
Namun lagi-lagi dia tidak mengangkat panggilan dari nomor baru itu, sampai akhirnya lagu itu terhenti. Setelah berhenti, cepat Nayla mengambil HP-nya, lalu mengubah notifikasi menjadi mode diam, agar tidak berisik jika ada panggilan masuk.
Lekas ia matikan laptopnya dan menyimpan di nakas, lalu mematikan lampu lewat remote di sebelahnya dan menarik selimut hingga sebatas dada.
Siap-siap tidur, supaya jika ada orang yang datang dan bertanya ia bisa memberi alasan, tidak tahu karena sudah tidur.
Kemudian tangannya mengambil HP yang kini tengah menyala lagi, menampilkan nomor yang sama sedang memanggil. Tak ada niat untuk jawab panggilan itu. Nayla malah menaruh benda pipih warna hitam miliknya dibawah bantal, untuk disembunyikan. Good Job, sekarang sudah aman pikirnya.
Tidak mau terlalu pusing dengan apa yang akan terjadi besok. Nayla membaca doa, kemudian memejamkan matanya dan terlelap tidur, tanpa mimpi buruk yang mengganggunya seperti malam-malam yang telah lalu.
Karena sejak pemerkosaan yang gagal itu, mimpi buruk pun sudah jarang muncul.
*
*
*
*
*
Ayo like
komen
dan beri bunga