Shabiya seharusnya tidak memiliki harapan bisa memenangkan hati suaminya, ketika pernikahan mereka saja terjadi atas keinginan satu pihak. Wanita itu seharusnya mengubur semua impian tentang keluarga cemara yang selalu didambakan olehnya setiap malam.
Apalagi, ketika ia sudah mengetahui bahwa kehadirannya di hidup suaminya hanya untuk menggantikan posisi seseorang. Dan ketika Shabiya ingin menyerah, tidak ada celah untuknya melarikan diri. Dia sudah terperangkap. Pria tersebut tidak akan membiarkannya pergi dengan mudah.
Akankah semesta membantunya untuk lepas dari pria yang berstatus sebagai suaminya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rafa Fitriaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyesalan Galen
Malam kesepuluh di ruang VVIP itu terasa lebih dingin dari biasanya. Galen Gemilar duduk di kursi yang sama, posisi yang sama, namun dengan jiwa yang mulai terkoyak oleh jenis rasa sakit yang belum pernah ia kenal sebelumnya. Selama bertahun-tahun, ia mengira rasa sakit terbesarnya adalah kehilangan Thana. Ia mengira bahwa kekosongan di dadanya hanya bisa diisi jika ia berhasil membangkitkan kembali bayang-bayang masa lalunya.
Namun, menatap tubuh Shabiya yang tak bergerak di bawah pendar lampu medis, Galen mulai menyadari sebuah kesalahan fatal dalam kalkulasi rencana besarnya.
Ia menatap wajah Shabiya. Tanpa riasan mata yang tajam, tanpa tatanan rambut yang rumit, dan tanpa gaun-gaun vintage milik Thana, wanita di depannya tampak sangat asing, namun anehnya ... terasa sangat nyata. Ia melihat bekas luka kecil di dekat pelipis Shabiya, hasil dari kecerobohan gadis itu saat memasak beberapa minggu lalu. Ia melihat garis bibir Shabiya yang biasanya melengkung sinis saat mendebatnya, namun kini hanya terkatup kaku dengan selang bantu napas di antaranya.
"Kenapa aku tidak merindukan parfum melati itu?" bisik Galen pada kesunyian yang mencekik.
Ia merogoh sakunya, mengeluarkan botol parfum melati favorit Thana yang selalu ia bawa. Ia menyemprotkan sedikit ke udara, berharap aroma itu akan memberinya ketenangan. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Aroma itu terasa memuakkan. Ia malah merindukan bau cat minyak dan aroma kopi murah yang selalu menempel pada kulit Shabiya setelah gadis itu menyelinap ke gudang belakang untuk melukis secara diam-diam.
Galen bangkit, kakinya melangkah menuju jendela besar yang memantulkan bayangannya. Di sana, ia melihat seorang pria yang tampak hancur. Pria yang telah menghabiskan seluruh kekuasaannya untuk memburu seseorang yang mirip dengan masa lalunya, sampai ia tidak sadar telah menginjak-injak bunga yang sedang mekar di depan matanya.
"Arsen," panggil Galen tanpa menoleh.
Arsen muncul dari balik bayang-bayang pintu. "Ya, Tuan?"
"Ambil semua foto Thana di ruang kerjaku. Singkirkan semuanya. Masukkan ke dalam gudang bawah tanah atau bakar. Aku tidak peduli," suara Galen terdengar hampa, namun ada ketegasan baru di sana.
Arsen tertegun. "Tuan? Anda yakin? Foto-foto itu adalah—"
"Foto-foto itu adalah kebohongan yang aku bangun untuk menipu diriku sendiri!" Galen berbalik, matanya berkilat penuh amarah yang ditujukan pada dirinya sendiri. "Selama ini aku memaksanya menjadi Thana. Aku memaksanya memakai kembali baju orang mati, berbicara dengan nada orang yang sudah mati, bahkan mencintai dengan cara orang yang sudah mati. Dan apa hasilnya? Dia lebih memilih melompat ke arah truk daripada terus bersamaku."
Galen kembali ke sisi tempat tidur, berlutut dan menyembunyikan wajahnya di kasur, tepat di samping tangan Shabiya yang tak berdaya.
"Aku bukan merindukan Thana, Arsen. Aku merindukan gadis keras kepala yang berteriak padaku bahwa dia membenciku. Aku merindukan Shabiya yang menatapku dengan mata penuh api kehidupan, bukan mata kosong yang aku perintahkan untuk patuh. Aku merindukan dia... Shabiya Sena Cantara."
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, sang pemilik kegelapan mengakui kegagalannya. Ia telah membangun sebuah monumen yang megah, namun ia membangunnya di atas fondasi penderitaan wanita yang sebenarnya mulai mencuri hatinya tanpa ia sadari.
Entah kapan rasa sesal itu datang pada pria itu, tapi yang pasti, kini benak Galen dipenuhi banyak pertanyaan yang berandai-andai. Seandainya jika ia menyelamatkan istrinya lebih cepat, seandainya dia berkata yang sejujurnya lebih cepat atau seandainya dia memperlakukan istrinya lebih manusiawi dan mendengarkan keluh kesahnya, mungkin kejadian seperti ini tidak akan menimpa mereka.
Penyesalan itu datang layaknya ombak pasang yang menghancurkan tanggul. Galen teringat bagaimana Shabiya mencoba menyadarkannya dengan menggunakan kehamilannya penuh dengan harapan tulus , dan bagaimana ia meresponsnya saat itu dengan kegilaan tentang "Anak milik Thana" dengan tidak mau kalah justru membuat keadaan semakin serba salah.
Ia teringat bagaimana Shabiya tampak sangat ketakutan saat ia menyeretnya masuk ke ruang kerja rahasia itu. Tapi wanita itu masih terus mencoba untuk terus meyakinkannya.
"Maafkan aku, Shabiya... maafkan aku," isak Galen. Suaranya pecah, sebuah suara manusia yang tulus dari balik topeng monster yang selalu ia perlihatkan kepada orang-orang. "Bangunlah. Kau boleh menjadi siapa saja. Kau boleh menghancurkan rumah ini, kau boleh membakar semua hartaku, kau boleh pergi jika kau mau... tapi tolong, jangan mati dalam keadaan membenciku."
Arsen yang melihat dari kejauhan merasa dadanya sesak. Ironi yang paling pahit adalah Galen baru saja mulai mencintai Shabiya secara murni di saat Shabiya mungkin tidak akan pernah bangun lagi. Dan lebih buruk lagi, Galen merindukan masa depan bersama Shabiya, tanpa tahu bahwa masa depan itu —anak yang ia dambakan sebagai pengikat— sebenarnya sudah tidak ada.
Galen meraih jemari Shabiya, menciumnya satu per satu dengan penuh khidmat. "Aku akan menjagamu. Bukan sebagai tempat seseorang, bukan sebagai pengganti wanita manapun. Aku akan menjagamu karena kau adalah Shabiya-ku. Jika kau bangun nanti, aku tidak akan memanggilmu dengan nama lain. Aku akan menghabiskan sisa hidupku untuk membayar setiap detik penderitaan yang aku berikan padamu."
Malam itu, Galen tidak lagi tertidur karena kelelahan emosional. Ia terjaga, menatap monitor jantung Shabiya seolah-olah konsentrasinya bisa memberi energi pada detak jantung yang lemah itu. Pria itu sangat takut jika dia menutup matanya seperkian detik pun akan membuat monitor yang sedang berjalan tidak tentu itu menjadi garis lurus.
Ia mulai berbicara pada Shabiya, bukan tentang masa lalu, bukan tentang Thana, tapi tentang masa depan yang nyata. Ia menceritakan tentang taman yang ingin ia bangun tanpa sebatang pun melati. Ia menceritakan tentang studio lukis yang akan ia siapkan di lantai paling atas mansion, tempat cahaya matahari paling banyak masuk.
Galen berencana untuk mempertemukan istrinya dengan ayahnya. Dia tidak melupakan pria tua yang menjadi kerabat dari istrinya itu, ia hanya menyerahkan kepada orang kepercayaannya. Galen tidak mau turun tangan secara langsung. Dan juga, mungkin dia akan memberikan waktu untuk istrinya bertemu dengan teman-temannya seperti keinginan wanita itu saat mereka tidak diizinkan masuk ke dalam kediamannya.
"Kau tahu, Shabiya, teman-teman mu sempat akan merencanakan untuk membawamu kabur dan pergi dariku. Untungnya, semua sudah ku atasi dengan baik. Tenang saja, aku tidak menyakiti teman-teman mu hanya ... mereka terlalu berani, Shabiya."
Namun, di tengah pengakuan dan penyesalannya, sebuah pikiran gelap menghantuinya. Bagaimana jika Shabiya bangun dan ingat bahwa pria yang kini memohon pengampunannya adalah pria yang sama yang berkonspirasi untuk menghapus identitasnya?
Galen Gemilar telah jatuh cinta pada korbannya sendiri, dan penyesalan itu adalah penjara baru yang jauh lebih menyiksa daripada ruang terlarang mana pun yang pernah ia bangun. Sang penguasa kini menyadari, bahwa mahakarya sejatinya bukan terletak pada kemiripan wajah, melainkan pada keberadaan jiwa yang kini hampir ia hilangkan selamanya.
👊nggo galen🤭
baru mulai... ky'a seru