"Aku butuh istri untuk mendapatkan warisan Kakek, dan kamu butuh uang untuk pengobatan ibumu. Adil, kan?" — Aksara Danendra.
Bagi Aylin, pernikahan ini hanyalah transaksi pahit. Ia rela membuang harga dirinya dan menjadi 'Istri Bayaran' demi pengobatan sang ibu. Ia berjanji tidak akan melibatkan hati, apalagi pada pria dingin dan penuh rahasia seperti Aksara. Bagi Aylin, semua lelaki sama saja brengsek.
Namun, bagaimana jika di atas kertas kontrak yang dingin itu, benih cinta justru tumbuh secara perlahan? Dan bagaimana jika saat cinta itu mulai mekar, Aylin menyadari bahwa dirinya hanyalah tameng untuk rahasia gelap suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nopani Dwi Ari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.29 -Trauma yang Kembali
Aylin terus berlari keluar dari area Jans Park, mengabaikan teriakan Aksara yang menggema di belakangnya. Ia tak peduli dengan tatapan orang-orang. Air matanya kini luruh tak tertahankan.
Kenapa? Kenapa aku begitu lemah pada perasaanku sendiri? batin Aylin perih. Ia membenci kenyataan bahwa di saat pipinya sakit karena tamparan Lusi, hatinya justru lebih sakit karena menyadari bahwa ia mencintai pria yang tidak mungkin ia miliki seutuhnya.
Aksara berdiri mematung di samping mobilnya. Saat ia baru saja hendak masuk, ia dikejutkan oleh kehadiran Arvano yang tiba-tiba muncul di belakangnya. Aksara memejamkan mata sejenak, menahan kekesalan yang mulai merayap, sebelum akhirnya terpaksa membuka kunci pintu mobil.
"Sayang, akhirnya aku menemukanmu," ucap Arvano dengan nada manja yang khas. Tanpa permisi, ia langsung menyelinap masuk ke kursi penumpang dan memeluk lengan Aksara posesif.
Aksara mendelik tajam mendengar panggilan itu di tempat umum. "Jaga ucapanmu, Arvano!" desisnya penuh penekanan.
Arvano hanya mengedikkan bahu acuh, sama sekali tidak merasa bersalah. Ia justru memasang wajah penasaran karena tahu Aksara sedang panik mencari Aylin yang menghilang. Pasrah karena tidak ingin berdebat lebih panjang di parkiran, Aksara pun melajukan mobilnya dengan Arvano yang duduk manis di sampingnya.
Sementara itu, Aylin berjalan tak tentu arah. Langkah kakinya terasa berat, dan tidak ada satu pun angkutan umum yang melintas di jalanan yang mulai sepi itu. Ia menghela napas lelah, lalu memutuskan mampir ke sebuah kedai kecil penjual es teh. Tenggorokannya terasa sangat kering, sebanding dengan rasa panas di hatinya.
Aylin menatap sekitar dengan bingung. Ia tidak tahu harus melangkah ke arah mana, namun gengsinya terlalu besar untuk bertanya pada orang sekitar.
"Mau ke mana, Neng?" tanya seorang Ibu penjual batagor yang merasa iba melihat Aylin terus menatap sekeliling dengan wajah sembap.
"Mau ke arah Jakarta... lewat mana ya, Bu?" Aylin balik bertanya dengan suara serak.
"Jakarta? Masih jauh atuh, Neng, kalau dari sini mah. Di sini juga jarang ada angkot lewat," sahut si Ibu sambil membungkus pesanan. "Emangnya Neng teh dari mana?"
"Dari tempat wisata di sebelah sana, Bu," balas Aylin pelan.
"Oh, ya sudah, tunggu saja sebentar di sini. Biasanya suka ada ojek online yang istirahat di kedai ini," saran si Ibu.
Aylin mengangguk lemah. Ia duduk di bangku kayu panjang itu, berusaha mengatur napasnya. Meskipun hari masih terang, rasa takut mulai merayap di hatinya. Ia sendirian, tanpa perlindungan, sementara suaminya mungkin sedang sibuk dengan dunianya sendiri.
Pikiran Aylin benar-benar kalut, dipenuhi asumsi negatif terhadap Aksara.
Saat matahari mulai melukis warna jingga di ufuk barat, beberapa pengemudi ojek akhirnya berdatangan ke kedai itu. Mereka menepi untuk beristirahat sejenak setelah lelah menarik penumpang di jam pulang kerja.
"Nah, Neng. Itu mereka sudah datang, sok atuh pesan ojeknya sekarang sebelum makin gelap," ucap si Ibu penjual batagor mengingatkan.
"I-iya, Bu." Aylin merogoh ponselnya dengan jemari gemetar. Ia mengecek saldo di dompet digitalnya; syukurlah, masih cukup untuk membayar ongkos ojek dan tiket bus menuju Jakarta.
Penjual es teh di sampingnya memberikan segelas es secara cuma-cuma. Mungkin mereka iba melihat penampilan Aylin—seorang gadis cantik yang terlihat berantakan, bermata sembap, dan tampak seperti orang yang baru saja terpisah dari rombongannya.
Sebenarnya, masalah Aylin bukan soal uang. Ada ketakutan yang menghimpit dada saat ia harus berdekatan dengan lelaki asing. Trauma masa lalunya membuat ia menatap was-was ke arah kerumunan pengemudi yang sedang asyik mengobrol itu.
Melihat Aylin yang hanya diam mematung, si Ibu penjual batagor merasa geregetan. Ia akhirnya berinisiatif memanggil salah satu pengemudi yang usianya sudah cukup tua—berharap itu bisa membuat Aylin merasa lebih aman.
"Pak, ini si Eneng mau ke terminal," teriak si Ibu.
Laki-laki paruh baya itu menghampiri mereka. "Mau ke Jakarta ya, Neng? Kalau sore begini ke Terminal Cileunyi lumayan macet di depan IPDN sama UNPAD. Ongkosnya mungkin sedikit mahal, tidak apa-apa?"
Aylin hanya bisa mengangguk pasrah. "Tidak apa-apa, Pak. Yang penting saya sampai di terminal."
Dengan hati yang berat, Aylin naik ke atas motor tersebut. Saat motor mulai melaju meninggalkan area Jans Park, ia tidak menoleh ke belakang lagi. Ia tidak tahu bahwa di saat yang sama, mobil mewah Aksara mungkin sedang membelah kemacetan Jatinangor di jalur yang berbeda, dengan Arvano yang masih asyik bermanja di sampingnya.
Aylin memeluk tasnya erat-erat di depan dada, seolah benda itu adalah satu-satunya pelindung yang ia miliki. Si bapak pengemudi mulai melajukan motornya, mengambil rute alternatif melewati gang-gang sempit untuk menghindari kemacetan panjang di depan gerbang kampus.
Namun, saat motor memasuki jalan tikus yang diapit dinding-dinding beton tinggi dan lembap, udara di sekitar Aylin mendadak terasa menipis. Paru-parunya seolah menolak untuk menghirup oksigen. Napasnya memburu, pendek dan tersengal.
Dunia di sekitar Aylin mulai berputar. Pusing yang hebat menghantam kepalanya, membuat keseimbangan tubuhnya goyah.
Sretttt...
Suara gesekan ban motor di atas aspal berubah menjadi suara langkah kaki berat di telinga Aylin. Seketika, bayangan masa kecil yang paling ingin ia lupakan melintas begitu saja seperti film rusak.
Aylin kecil, dengan napas tersengal, berlari di dalam gang sempit yang serupa. Tangannya yang mungil menggenggam erat uang sepuluh ribu yang lecek—uang hasil jerih payahnya. Di belakangnya, tawa kasar dan langkah kaki preman-preman itu kian mendekat.
"Tolong! Tolong!"
Teriakan pilu Aylin kecil bergema di kepalanya, tumpang tindih dengan suara bising mesin motor. Bau keringat pria asing di depannya mendadak berubah menjadi bau apek preman yang dulu menyudutkannya. Ketakutan itu nyata. Sangat nyata hingga Aylin merasa tangan-tangan kasar itu kembali menyentuhnya.
"Nggak... jangan..." igau Aylin dengan mata yang mulai memutih.
Pandangannya menggelap sempurna. Tubuh Aylin lemas dan limbung ke samping. Tanpa sempat berpegangan, ia terjatuh dari atas motor yang tengah melaju.
Brak!
"Astaga! Neng! Neng!" teriak si pengemudi motor dengan wajah pucat pasi. Ia segera mengerem mendadak dan turun dengan gemetar, melihat tubuh Aylin yang sudah tak sadarkan diri di atas tanah gang yang sepi itu.
Bersambung ....
😄😄
🤣
berarti muka'mu tetap datar ya Aks...
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣