Jhon, bertarung demi kehormatan di medan perang. mengalami penyergapan yang terpaksa membuatnya harus meledakkan kekuatan terakhirnya. Dia kehilangan ingatan, kehilangan kekuatan, kehilangan identitas, bahkan nyaris kehilangan segalanya. Dari Jenderal bintang lima, Dari seorang pewaris keluarga William, seketika berubah menjadi bukan siapa-siapa dan bahkan dianggap lebih buruk dari sampah.
Mampukah Jhon menemukan kembali kekuatan yang pernah dia miliki, mampukah Jhon kembali menemukan jati dirinya? Ikuti kisahnya dalam karya saya yang berjudul 'PEWARIS YANG HILANG 2'
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Edane Sintink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nyaris pingsan
...Bab 25...
Sama seperti mahasiswa baru lainnya, Lee Na Blake juga sedang sibuk mempersiapkan segala kebutuhan selama dia tinggal di asrama. Awalnya dia juga mencari Jhon untuk diajak berbelanja bersama. Namun setelah lama mencari, dia tidak menemukan keberadaan Jhon dan segera pergi bersama seorang sahabatnya bernama Christiane.
Dia hanya berjarak beberapa menit saja ketika perdebatan antara Jhon, Tiffany, Freddy dan Flo berakhir.
Ketika Jhon meninggalkan ketiga orang tadi, dan ketiga orang itu meninggalkan Canyon central, Lee Na dan Christiane pun keluar dari pusat perbelanjaan Canyon Central.
"Huh.., ini sungguh sangat melelahkan," keluh Christiane. "Ayah mu kan punya banyak bawahan. Mengapa kau tidak meminta beberapa orang untuk menemani kita berbelanja? Setidaknya bisa mengurangi kepenatan,"
"Kau ini terlalu manja. Jika masih memanfaatkan bawahan, untuk apa kita tinggal di asrama? Bukankah kita sudah sepakat untuk hidup mandiri dan tinggal di asrama?" Lee Na mengingatkan sahabatnya agar tidak terlalu bergantung pada orang suruhan. Baginya jika ingin menjalani hidup mandiri ya harus seperti ini. Mengandalkan kemampuan sendiri bukan bantuan orang lain. Sejauh ini dia sangat menikmati cara hidup seperti ini. Bukannya nyaman di manja. Walaupun seorang anak perempuan, tapi Lee Na ini memiliki kemauan yang keras dan tidak mudah mengeluh.
"Baiklah.., baiklah. Aku kalau berdebat dengan mu tidak akan pernah menang. Ya sudah. Apakah kita langsung pulang ke asrama atau mencari restoran terlebih dahulu untuk mengisi perut. Masalahnya perut ku sudah mulai perih," Christiane mengalah karena memang apa yang dikatakan oleh Lee Na tadi ada benarnya juga.
"Ayo kita masukkan barang-barang belanjaan kita terlebih dahulu!" Ajak Lee Na yang langsung cekatan memasukkan barang belanjaan mereka ke dalam bagasi mobil.
"Lee Na, katamu kau mengenal seorang pemuda. Siapa tadi namanya?"
"Jhon," jawab Lee Na singkat.
"Ya, Jhon. Aku heran. Tidak biasanya kau menceritakan seorang lelaki. Apa istimewanya Jhon ini?" Christiane mulai merasa penasaran.
"Eemmm, apa ya. Sepertinya tidak ada keistimewaan pada orang ini pada pandangan pertama. Namun, jika diperhatikan, entah mengapa intuisi ku mengatakan bahwa orang ini tidak sederhana. Orang yang seperti Jhon ini tidak memiliki kesan ketika kali pertama kau melihatnya. Namun semakin lama kau memperhatikan nya, seperti ada daya tarik tersendiri," jawab Lee Na sembari mengenang pertemuan nya dengan Jhon.
Christiane pun menunjukkan wajah serius. Dia kenal Lee Na ini bukan sehari dua hari. Mereka bersahabat sejak di sekolah dasar. Selama yang dia tahu, Lee Na ini tidak pernah memuji lelaki selain ayahnya. Namun sepertinya kali ini ada pengecualian. Pertama kali dia mendengar bahwa Lee Na memuji seorang laki-laki yang baru dia kenal. Tentunya ini sesuatu baginya yang layak untuk dicari tau seperti apa sosok pemuda yang mampu menarik perhatian sahabatnya itu.
"Hmmm... Aku jadi penasaran," kata Christiane sambil mengerling penuh godaan.
"Ayo kita pergi. Nanti kalau ketemu, aku pasti akan memperkenalkan kau dan Jhon itu,"
Kedua gadis itu pun segera masuk ke dalam mobil kemudian meninggalkan area pusat perbelanjaan Canyon Central.
Di depan teras sebuah kafe, Jhon duduk di salah satu kursi dan merebahkan kepalanya di atas meja. Kepalanya terasa akan meledak. Bahkan dia merasakan ada ribuan jarum sedang menusuk-nusuk pada tempat yang sama di beberapa titik sarafnya. Perasaan seperti ini nyaris saja membuat Jhon pingsan. Mungkin jika fisiknya tidak kuat, sudah lama dirinya akan jatuh pingsan.
"Tuan, apakah anda baik-baik saja?" Seorang gadis datang menghampirinya lalu bertanya dengan nada khawatir.
Jhon memiringkan kepalanya berusaha untuk menatap gadis yang memiliki paras jelita itu.
Seketika sang gadis sedikit terperanjat ketika melihat wajah Jhon. Samar-samar dia merasa pernah melihat wajah ini. Tapi entah dimana dan sulit baginya mengingat untuk saat ini.
Jhon merogoh sakunya mengeluarkan beberapa lembar uang satu dollar kemudian menyerahkan kepada gadis itu. "Berikan aku apapun itu sesuai dengan uang yang aku punya ini,"
Gadis tadi mengambil uang yang sudah terlihat kusut itu lalu sambil menggelengkan kepalanya tanda prihatin kemudian berbalik untuk menyajikan sesuatu kepada Jhon.
Tak berselang lama, entah kapan tepatnya, Jhon yang terlihat sangat kesakitan tiba-tiba merasakan sebuah tangan kasar memijit pundaknya membuatnya memiringkan kembali kepalanya untuk melihat siapa gerangan yang menekan pundaknya.
Perlahan Jhon merasakan aliran hawa hangat dari tangan tadi yang mulai menjalari setiap aliran darahnya mencapai ubun-ubun.
"Pak tua, kau kah itu?" Jhon segera ingin duduk tegak. Namun dia tidak kuasa karena tenaga yang datang dari tangan sedikit keriput itu terus menekannya.
"Kau tidak perlu terburu-buru untuk duduk. Sekarang ikuti apa yang aku katakan lalu terapkan!" Kata lelaki tua itu. Setelah melihat Jhon mengangguk, dia pun berkata. "Tarik nafas mu dalam-dalam, lalu tahan di bagian pusar sampai kau merasakan hawa hangat. Lalu sebarkan hawa panas itu ke seluruh pembuluh darah mu. Lakukan secara perlahan sampai naik ke kepala. Ingat, jangan ada sedikit pun kelalaian jika kau tidak ingin menjadi gila selamanya!"
Jhon menuruti perkataan lelaki tua itu. Diapun mulai menjalankan metode yang diajarkan.
Perlahan Jhon menarik nafas dalam-dalam lalu menahannya di bagian perut selama beberapa saat. Perlahan dia merasakan aliran hangat menjalar lalu berkumpul di titik bagian pusar nya.
"Alirkan hawa tersebut ke jantung, kemudian sebarkan ke setiap pembuluh darah!"
Jhon kembali berkonsentrasi. Dia menjalankan metode dengan sangat hati-hati.
Seketika Jhon merasakan tubuhnya panas bukan main. Namun dia tetap tidak menyerah. Dan tepat ketika hawa hangat itu naik ke kepala, samar-samar Jhon merasakan bahwa dirinya tidak lagi berada di beranda kafe. Melainkan dirinya berada di medan perang dimana di setiap tempat ada puluhan, ratusan bahkan ribuan mayat bergelimpangan.
"Eh ini?" Jhon memperhatikan dirinya sedang berlutut satu kaki di tanah. Pakaiannya compang camping dengan tubuh dilumuri dengan darah. Tidak tau entah itu darahnya sendiri atau darah musuh.
"Jenderal.., jangan!"
"Jenderal!"
"Jenderal, tolong jangan seperti ini. Segera pergi. Kami akan menahan orang-orang ini untuk anda. Segera bakaskan dendam kematian kami!"
"Jenderal. Jangan lakukan itu. Jika anda melakukannya, anda hanya akan jadi orang yang tidak berguna. Jangan bakar esensi darah anda!"
"Jenderal. Segera lari. Saya akan menghalangi mereka!"
Jhon melihat seorang prajurit mengenakan rompi dengan tubuhnya ditempeli puluhan granat melompat ke arah musuh lalu meledakkan diri.
"Tidaaaak!"
Dalam pandangannya, Jhon melihat dirinya berteriak seperti orang kerasukan. Dia berlari menghampiri prajurit yang meledakkan dirinya tadi yang saat ini sudah seperti nyawa-nyawa ikan. Dia mengulurkan tangannya yang hanya tersisa sebelah kemudian menyerahkan sebuah dompet kecil kepada Jhon.
"Jenderal, anda harus hidup dengan baik. Ketika anda meninggalkan Medan perang ini dengan selamat, mohon agar anda sudi untuk memberi kabar kepada orang tua dan adik saya. Katakan bahwa saya gugur sebagai seorang prajurit yang berani. Mereka tidak boleh bersedih, sebaliknya harus bangga!"
"Tidak. Keanu, jangan!" Dua garis air mata darah menetes di pipi Jhon.
Dia memiliki seratus prajurit inti yang sangat elit dari yang elit. Dua sudah meninggal dan tentunya itu adalah kerugian yang sangat besar.
Jhon bangkit berdiri setelah mengusap wajah Keanu.
"Huaaaaaaaa...!" Tiba-tiba dia berteriak membuat bumi terasa bergetar.