NovelToon NovelToon
Janji Suci Yang Ternoda

Janji Suci Yang Ternoda

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Penyesalan Suami / Selingkuh
Popularitas:553
Nilai: 5
Nama Author: Acaciadri

Aku Nadia istri dari Mas Afif dan ibu dari Bintang. aku istri yang setia, yang selalu berusaha melayani suamiku dengan baik, menemaninya dari nol. aku juga ibu yang baik untuk anakku Bintang. singkatnya aku berusaha menjadi yang terbaik untuk suami dan anakku.

Namun di saat pernikahanku yang ke tujuh, Mas Afif memberikanku kejutan besar, dia membawa seorang wanita lain ke dalam rumah tangga kami, namanya Laras dan anak tirinya bernama Salsa, yang Bintang selalu bilang kalau anak itu adalah anak tercantik di kelasnya.

cerita perhianatan dan kebangkitan Nadia dari penghianatan suaminya.

happy reading All❤️ bantu support cerita pertama saya ya, trims🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Acaciadri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Aku hanya bisa menangis haru melihat bagaimana Lira di lamar oleh pria yang katanya sudah dua tahun menjadi pacarnya, kalau tidak salah namanya Dimas dan dia bekerja sebagai pelaut.

Hm.. aku berdo'a semoga proses setelah lamaran pun bisa berjalan begitu baik, mulus dan tanpa hambatan.

Dugaanku benar adanya. Keluarga calon mantan suamiku ternyata di undang dan semuanya hadir, termasuk Kedua mertuaku, Afif, Laras dan juga anak tirinya Salsa. Mereka tampak keluarga kecil yang sangat bahagia sekali__entah bagaimana, tapi mertuaku pun seolah sudah menerima kehadiran Laras dan anaknya. Mereka bahkan terlihat bercengkrama dan saling berbalas senyum juga. Baiklah, meski agak sedikit menyebalkan, tapi aku ke sini bukan untuk mereka, tapi untuk Lira.

“Wah wah, sepertinya si pelakor udah di terima di keluarga calon mantan suami kamu ya, kak?“.Aku menoleh dan saat itu mendapati Lira yang sudah duduk di sampingku sambil berdecak kesal dan memandang lurus ke depan, tepat pada keluarga Afif yang terlihat sedang bercengkrama entah apa.

“Hushhh nanti ada yang denger lho, ngomong-ngomong, kenapa kamu di sini? Terus mana tunangan kamu, Lir?.“Tanyaku sambil celingak-celinguk mencari tunangan Lira, namun tak kunjung ku temukan juga.

Lira menghela nafasnya panjang”Mas Dimas lagi ke toilet dulu, kak. Makanya aku ke sini, kasihan kakak cuman berdua aja sama Bintang.“Tukasnya terdengar lirih, aku merasa kalau Lira teramat kasihan dan sepertinya menyesal sudah menyuruhku datang, sebab di sini aku hanya punya Bintang. Sebetulnya ada beberapa yang tadi menyapaku dan mengajakku duduk di samping mereka__tetapi mereka malah terlihat mengorek-ngorek soal Afif. Makanya aku pun memutuskan untuk mengasingkan diri saja, lagi pula aku ke sini pun hanya karena Lira dan sama sekali tidak punya tenaga atau kekuatan untuk meladeni orang-orang yang kepo terhadap masalah rumah tanggaku, aku malas sekali harus membahas dengan orang lain, kenapa? Karena aku harus menceritakan semua dari awal dan tentu saja hal itu seperti aku mengenang kembali masa-masa terpurukku dan aku tidak mau, aku juga belum siap kembali mengenangnya dan harus mengingat semua itu.

“Btw, cantikan kakak sih dari pada wanita itu “Puji Lira yang membuatku menghela nafas panjang, buat apa cantik?, kalau ujung-ujungnya di beginikan, huhhh.

“Heran ya, mas Afif ini. Udah dapet bidadari malah cari batu kali!.“Ujarnya yang membuatku tertawa kecil, ada-ada saja Lira, bahkan ia berani mengibaratkan Laras seperti batu kali.

“Bidadari? Batu kali?.“Tanya Bintang sambil menatap heran ke arahku, saat Lira hendak membuka mulutnya, aku pun membuat gerakan dengan mata, supaya dia diam.

“Eum itu, katanya Tante Lira mau pura-pura jadi bidadari di kali.“Jawabku ngasal, Bintang pun mengangguk-anggukan kepalanya dan terlihat kembali anteng dengan mainan yang sedang di mainkannya, kini Lira pun menatapku dengan sebelah alisnya yang terlihat terangkat.

“Jangan macem-macem Lir, aku gak mau kena masalah lagi.“

“Masalah apa, Kak? Wong aku ngomong yang bener kok.“

Aku menggulirkan bola mataku jengah.

Katanya benar? Astaga Lira, aku pun sama kesalnya, bahkan mungkin lebih kesal daripada Lira, tapi aku gak berani bilang Laras mirip batu kali. Agak sarkas sih kalau menurutku.

“Kalau dia gak batu kali, ya. Minimal sadar diri lah. Buat apa cari suami orang? Sedang di luaran sana banyak yang masih lajang.“Ujarnya terlihat begitu kesal dan marah, jangan lupakan bagaimana cara Lira menatap Laras dengan tajam. Aku bungkam, tidak tahu harus mengatakan apa. Walau dalam hati aku pun setuju, dari sekian banyaknya pria di dunia ini, kenapa malah milih yang sudah punya istri?

“Nih ya kak. Andai bener dengan pergosipan yang ada, dia di jodohin sama papanya. Dan si Afifah itu nyembunyiin kakak alias bohong soal kakak, itu kan si afif punya ktp ya? Masa gak di periksa, halah.. kalau pun opsi yang kedua, dia tahu kalau Afif udah punya istri. Ya, mundur teratur lah, ngapain ganggu pria yang udah punya istri? Kurang kerjaan banget.“Tukasnya, seperti semua orang yang tidak tahu kalau sebelumnya Afif dan Laras melakukan "begituan" dan mungkin karena hal itulah Laras meminta tanggung jawab pada Afif, aib yang satu ini masihlah ku tahan dan tak ku sebarkan, pada siapapun. hanya beberap orang yang tahu, bibi dan Arka saja.

“Terus menurut kamu yang mana yang bener?.“Tanyaku yang mulai terpancing dengan perkataan Lira.

“Kayaknya yang kedua. Sejak awal dia tahu kalau si Afifah udah punya istri, tapi dia udah terlanjur kegatelan juga. Ya udah di trabas aja.“

Aku mengangguk sekali lalu menatap ke arah mereka__di saat itulah aku mendapati tatapan Laras yang terlihat sangat memebenciku, juga tatapan Afif yang terlihat keberatan dengan keberadaanku dan Bintang di sini.

“Gak mau ke papa, Bin?.“Tanyaku iseng, walau ku tahu kalau Bintang masihlah marah dengan Afif, setelah pertemuan terakhir kami. Bintang lalu mengangkat wajahnya dan kini menatapku dengan gelengan beberapa kali, membuat aku mendengus pun dengan Lira yang masih setia berada di sampingku.

“Ckck.. bahkan anaknya sendiri pun gak mau. Sebenarnya pernikahan yang seperti apa yang kakak jalani selama ini, sih? Kok kakak berani bertahan? Padahal, ya anaknya sendiri pun seolah enggan.“Ucap Lira yang seakan menohok hatiku, selama ini aku bertahan karena ku pikir Afif akan berubah, demi Bintang. Anak kami, tapi nyatanya apa? Big No, semakin ke sini, semakin ada aja ulah yang di lakukan pria itu.

“Lira, bagaimana pun kan Afif kakak sepupu kamu, lho.“Tukasku mengingatkan.

“Memang kalau kakak sepupu, aku harus membelanya, begitu? Jelas dia salah kok.“

“Iya sih, tapi kamu gak akan di musuhin keluargamu atau keluarga Afif, gitu?.“

Bahu Lira terlihat menghempas santai”Gak akan, lagian aku gak peduli sih. Toh aku berada di sisi yang tepat juga.“

“Tapi kak, saran dari aku, ya. Jangan balik lagi, ya? Biarin aja dia sama si pelakor itu, kakak mendingan kalau mau, cari lagi yang baru. Yang lebih bisa hargain kakak, sayang kakak dan juga Bintang. Menurutku pasti ada kak.“

Ku hela nafasku panjang sambil mengangguk.

“Ya, do'akan saja ya?.“

“Aamiin.“

Lalu Lira pun cepat-cepat beranjak tatkala suara Dimas, tunangannya memanggilnya. Meninggalkanku sendirian kala itu__untik membunuh waktu, aku pun mengeluarkan ponsel dan pura-pura sibuk saja dengan ponsel milikku.

****

Arka sudah berpesan untuk menjemputku. Makanya aku pun memutuskan untuk menunggunya di samping rumah Lira. Aku juga sudah berpamitan dengan Lira, keluarganya dan keluarga Afif juga__dan respon keluarga Lira cukup hangat, seperti kata Lira. Mereka baik dan tidak menghakimiku, untuk kedua calon mantan mertuaku, mereka hanya bertanya aku pulang dengan siapa? Ku jawab Arka, lalu mereka, terutama ibu mertuaku berpesan supaya aku hati-hati, menjaga kondisi tubuhku dan mengirimiku sejumlah uang, katanya hitung-hitung membelikanku makanan sehat untuk calon cucu mereka, udah segitu saja. Mungkin khususnya ibu mertuaku yang biasanya banyak bicara, bahkan memohon supaya aku tidak bercerai dari Afif dan sekarang memilih untuk diam, ku rasa beliau malu, terutama setelah di skak mat oleh bibiku.

“Bintang tidur?.“Di saat itulah aku mencari sumber suara, dan begitu aku menoleh ke arah kiri. Ku temukan Afif yang berjalan mendekatiku dengan membawa sekeranjang buah dan entah untuk siapa.

Tatapan matanya terlihat datar, wajahnya juga tampak ekspresi yang tak bisa ku artikan sebagai apa.

Apa dia mau menemuiku? tau tak sengaja lewat? Lalu Laras dan Salsa, mereka berdua di mana?

“Sini, biar aku saya yang gendong Bintang.“Ucapnya sambil menyodorkan kedua tangannya dan terlihat mau menggendong Bintang dari pangkuanku__Bintang memang sudah tertidur di pahaku dan aku sedang duduk di sebuah kursi panjang sambil menunggu kedatangan Arka, namun yang tak di sangka, ternyata Afif malah menemuiku dengan keranjang buah yang ada di tangannya.

“Gak papa, udah biasa juga.“Jawabku ketus tanpa menoleh lagi ke arahnya.

Terdengar dia menghela nafasnya panjang, mungkin dia kesal, tapi aku tak peduli.

“Aku udah denger dari mama soal kamu yang mengandung.“Ujarnya dan membuatku kali ini menoleh ke arahnya dengan tatapan sedikit gugup, aku takut kalau sampai Afif__

“Itu anakku, kan?.“Tanyanya terdengar meragu yang membuat membeliak dengan senyuman muak di bibirku.

“Menurut mas Afif sendiri?.“Tanyaku balik meminta pendapatnya.

Dia mendengus”Gak tahu, kamu yang paling tahu.“

Air mata sialan ini meluncur bebas, hatiku sakit ketika Afif sendiri bahkan meragukan anak yang ada di kandunganku. Sebegitu rendahnya kah diriku ini? Yang bahkan tak pernah jalan atau berkenalan dengan pria lain setelah menikah dengannya__aku juga tidak pernah mau ketika ada pria yang menawarkan lebih dari yang Afif beri padaku. Tapi kenapa Afif berpikiran yang tidak-tidak tentangku? Padahal selama ini aku selalu setia lho padanya.

“Memang bukan anak kamu, kok.“Jawabku serak dan terlihat kesusahan karena menahan sekuat tenaga untun tidak kembali menangis, walau rasanya dadaku seak dan nyeri. Aku tak mau di bilang cengeng dan payah di hadapannya.

“Ini anakku sendiri dan adik Bintang.“

“NADIA!!.“Bentaknya lalu membuatku menatapnya tajam.

“Apa hah? Apa lagi? Setelah kamu fitnah aku sebagai sosok yang memprovokasi Bintang sekarang kamu fitnah aku sebagai tukang selingkuh, begitu? Sebenarnya siapa yang tukang selingkuh, di sini? Kamu atau aku?.“Tanyaku sambil menunjuk dirinya dan bahkan berdecih tak suka dengannya, Afif lalu memberiku kode supaya aku tidak bicara terlalu keras, mungkin dia malu. Tapi aku tak peduli, dia duluan yang mancing amarahku, enak saja! Dia pikir dia siapa? Sampai bisa menuduhku yang tidak-tidak begitu, heuhh. Memangnya aku ini, apa? Yang hobinya celap-celup padahal punya istri di rumah.

“Denger ya Mas Afif, kamu yang hobinya cari perempuan lain saat masih punya istri sah. Dan jangan kamu samakan aku dengan kamu, sejak dulu. Setelah aku mutusin buat jadi istri kamu, maka semua akses untuk pria lain, aku sudah menutupnya. Karena apa? Karena aku sangat menghargai kamu sebagai suamiku, kamu satu-satunya sejak dulu.“Tukasku serak sambil menatapnya nanar.

“Kalau begitu, kita urungkan saja perceraian kita. Kasihan anak itu kalau tahu orang tuanya bercerai.“Ucapnya.

“Lebih kasihan punya orang tua, tapi kayak gak punya. Lagian aku sanggup kok buat ngurus Bintang dan adiknya. Kamu tenang aja, aku juga bakalan cerita soal kamu yang baik-baik juga dan gak akan larang kamu untuk kamu ketemu Bintang dan juga adiknya, tapi dengan syarat. Gak akan aku biarin mereka nginap dan main di rumah kamu.“

“Nadia.“

“Apa? Kamu keberatan? Iya? Setelah semua rasa sakit yang kamu beri, kamu keberatan? Mas Afif, andai kamu jadi aku, kamu akan apa? Milih balikan setelah di sakiti, begitu? Ku rasa, bukan hanya aku yang lebih milih pisah deh, wanita di luaran sana juga__.“

“Aku udah minta maaf, aku janji untuk berubah dan adil juga, bahkan aku sanggup__.“

“Stop bicara itu, gak penting lagi buatku. Aku udah gak percaya sama kamu, hatiku udah mati rasa, aku juga gak mau jadi istri kamu lagi. Aku mau kita pisah, gugatan cerai udah masuk pengadilan dan jadwal sidang sedang di susun, jadi gak ada kata balikan lagi.“

“Kalau begitu kita masih punya masa iddah, selama masa kehamilan kamu.“

“Ya, kamu benar.“

“Maka selama masa iddah itu jangan larang aku, buat ikut ngerawat kamu, menemani kamu dan mungkin juga ngebeliin makanan yang kamu inginkan.“

“Oh ya? Memangnya kamu sanggup?.“Tanyaku sambil tersenyum mencemooh, sedang dia mendengus kasar.

“Maksud kamu?.“

“Inget mas, yang hamil di sini bukan cuman aku, tapi istrimu yang lain. Ingat, kamu pernah enggak pulang-pulang karena istrimu itu muntah-muntah di awal kehamilannya, dan yang perlu kamu tahu, aku pun sama muntah-muntah, cuman aku memaksakan diri buat menjemput dan mengantar Bintang kala itu.“

Dia menatapku dengan tatapan penuh penyesalannya dan sama sekali tidak membuat hatiku tergerak, aku sudah mati rasa.

“Saran sih, ya. Kalau enggak sanggup, sebaiknya jangan buat janji mas. Kamu gak pernah tahu seperti apa harapan orang yang di janjiin sama kamu itu,. Urus saja istrimu yang akan jadi satu-satunya itu, gak usah urus aku dan Bintang, kami bisa kok hidup berdua dan selama ini bukankah kami memang hidup berdua, ya? Lihat, kami masih bisa hidup dengan baik, bernafas bahkan bahagia kok.“Tuturku lalu setelah puas mengeluarkan uneg-uneg untuk ke sekian kalinya aku pun menepuk-nepuk pipi Bintang pelan dan membuatnya terbangun, beberapa kali kepalanya hampir terantuk kursi jika tidak dengan sigap aku menahannya dengan tanganku.

“Sayang, yuk pulang. Mama udah mau banget pulang nih.“Ucapku, Bintang yang masih belum terjaga sepenuhnya pun mengangguk.

Kami berdiri dan siap untuk melangkah pergi, namun sebelum itu, aku meminta supaya Bintang saling ke papanya.

“Salim sama papa dulu, ya?.“

Bintang mengangguk, dengan ekspresi datarnya ia mengambil satu tangan Afif lalu mengecup punggung tangannya.

“Bintang, mau ikut papa, nggak? Jalan-jalan dulu atau main sama Salsa?.“Tanya Afif terdengar begitu berharap dan Bintang menjawabnya dengan menggelengkan kepalanya cepat.

“Gak mau, Bintang mau sama mama aja.“

“Tapi Bin__.“

“Maaf pa, Bintang takut nyakitin anak kesayangan papa, Bintang mau sama mama aja. Bintang mau jagain mama.“Tuturnya yang membuatku langsung memeluknya erat, lihatlah. Berkat apa yang di lakukan Afif terhadapnya, Bintang pun jadi enggan untuk di ajak jalan-jalan dan bermain oleh papa kandungnya sendiri.

Duh Bintang, kasihan sekali sih.

1
Anonymous
afif goblok
Anonymous
anying Juz 30 doang berasa bisa si paling adil
Dewi Sri Astuti: wkwkwkwk🤭🙏
total 1 replies
Anonymous
diem bocil
Dewi Sri Astuti: hahaha🙏
total 1 replies
Dewi Sri Astuti
Yuk kasih bintang lima dan komennya, biar author semangat🙏😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!