Lembayung Senja, namanya begitu indah, namun, tak seindah nasib hidupnya.
Pernikahannya bahagia, tapi rusak setelah seorang wanita hadir diantara dirinya dan sang suami.
Fitnah yang kejam menghampirinya, hingga ia harus berakhir di penjara dengan tuduhan membunuh suaminya sendiri pada malam pertengkaran terakhir mereka.
Kelahiran bayi yang seharusnya menjadi hadiah pernikahannya bersama Restu Singgih suaminya, justru harus di warnai tangis nestapa, karena Lembayung melahirkan bayinya di balik jeruji penjara. Dua puluh tahun berlalu, Lembayung mendekam di penjara atas kesalahan yang tidak pernah ia lakukan.
Setelah bebas, Albiru justru berkata bahwa ia malu memiliki Ibu seorang mantan narapidana.
Akankah Lembayung menemukan kembali kabahagiannya setelah sekian lama menanggung derita tanpa berbuat dosa? Bagaimana Lembayung memperbaiki hubungan dengan Biru yang kini telah sukses? Pembalasan apa yang akan Lembayung lakukan pada orang-orang yang telah mengkhianatinya dulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anak Seorang Narapidana
#24
Dug!
Dug!
Kedua remaja itu berjalan santai seusai pulang dari lapangan bola, mereka saling mengoper bola sepanjang perjalanan. Senyum ceria, tawa yang riang tanpa beban selayaknya anak-anak remaja pada umumnya.
Sebenarnya Biru lebih suka basket ketimbang bola, tapi lapangan basket di desa mereka belum menjadi hal umum seperti sekolah yang ada di kota. Jadi Biru pun mengalah, dan ikut saja setiap kali Firza mengajaknya main sepak bola di lapangan desa.
“Main bola jangan di jalan!” tegur seorang pengendara sepeda yang nyaris oleng akibat tendangan bola dari Biru dan Firza.
“Maaf, Mak!” Ucap Firza dan Biru bersamaan sembari terus berlari riang, seolah menggiring bola ke gawang.
“Dasar anak-anak, tak tahukah kalau main bola di jalanan sangat bahaya?” gumam wanita paruh baya itu.
Menjelang malam udara semakin sejuk, bila Firza dan Biru tak segera sampai di rumah, maka siap-siap saja Mamak mereka akan marah besar.
“Itu, Mak, anaknya,” adu Bayu kala melihat Firza dan Biru melintasi rumah Bayu dan orangtuanya.
“Hei, sini, kau!” Ibu Bayu berseru dengan kedua mata melotot ke arah Firza dan Biru.
Kedua putra Ismail itu saling pandang, apa iya masalah di lapangan bola sesaat lalu, harus merembet sampai ke rumah.
“Kira-kira, dong. Kalian main bola sampai bikin benjol kepala Bayu!” omel Ibunya Bayu.
“Maaf, Bu. Tapi tadi saya sudah minta maaf, kok,” kata Biru jujur.
“Kalian?! Minta maaf?! Kapan?! Bayu bilang, kalian malah ngeledek dia cengeng dan bodoh!” hardik Ibunya Bayu dengan suara lantang,
“Kapan? Kami tak pernah bilang begitu?” gumam Biru, karena ia memang tak mengatakan apa-apa selain minta maaf. “Bayu bohong, Bu.”
“Bohong?!” pekik ibunya Bayu tak terima. “Kamu yang tukang bohong, secara, kamu kan anaknya narapidana,” ejek Ibunya Bayu.
“Ibu jangan bicara sembarangan, orang tua kami bukan narapidana.” Firza ikut bersuara, karena tak terima kedua orang tuanya diejek sebagai narapidana.
“Bukan kau, tapi dia!” tunjuk ibunya Bayu pada Biru.
Biru, si anak lelaki tanggung itu tersentak, sejak kecil ia sudah terbiasa dengan sikap dingin dan pengabaian Bu Halimah, neneknya. Tapi mendengar bahwa dirinya anak seorang narapidana, adalah hal yang benar-benar baru. Membuat Biru sibuk mencerna setiap kalimat pahit tersebut.
“Ibu jangan asal bicara, ya! Kami ini bersaudara, jika orang tuanya adalah narapidana, maka aku juga anak narapidana!” Firza mulai emosi, sungguh pengecut si Bayu, karena membawa masalah di lapangan sampai ke rumah.
Darah muda, masih penuh dengan keegoisan, tak terima bila di tegur, tak terima bila dinasehati, apalagi diejek, Itu sama halnya dengan menabuh genderang peperangan.
Ibunya Bayu tersenyum mengejek, alangkah bahagianya bila lawan debatnya mulai kehabisan kata-kata. “Bersaudara? Sudah pernah kau tanya orang tua kau?! Mana ada bersaudara, tapi memiliki selisih usia 5 bulan saja, hah?!"
Sementara Firza dan Ibunya Bayu berdebat, Albiru sibuk dengan pikirannya sendiri. Dirinya sudah berusia 16 tahun, dan selama ini mulai merasa kenapa wajahnya sama sekali tak ada kemiripan dengan kedua orang tuanya. Justru wajahnya sedikit mirip dengan sang paman yang sudah meninggal, pemikiran itu tiba-tiba membuat Biru penasaran.
Di tengah kegelisahan Biru dan perdebatan panas antara Firza dan Ibunya Bayu, tiba-tiba Bu Halimah melintas. Biru menghampiri wanita itu, kemudian bertanya. “Nenek, masa’ Ibunya Bayu bilang, aku anak narapidana, itu tidak benar, kan?”
Bu Halimah membisu, meski 16 tahun telah berlalu, rasa bencinya pada Ayu belum memudar sedikitpun, hingga ia tetap sulit menerima keberadaan Biru sebagai cucu kandungnya. Apalagi wajah Biru, semakin lama semakin terlihat mirip dengan Ayu.
“Firza, sedang apa, kau?!”
Alih-alih menanggapi Biru, Bu Halimah justru menyapa dan menanyai Firza. Namun, Biru tak peduli, sekian lama diabaikan oleh sang nenek, kini Biru mulai berani bersikap tak sopan pada Bu Halimah.
“Nenek! Jawab pertanyaanku?!” sentak Biru dengan wajah merah dan otot wajah menegang marah.
“Berani kau kurang ajar?!” omel Bu Halimah.
“Bukankah Nenek yang memberikan contoh?” tanya Biru dengan suara tegas.
“Kau—”
“Jika Nenek tak ingin melihatku bertingkah kurang ajar, maka ajarkan caranya padaku dan juga jawab pertanyaanku!” tuntut Biru memotong ucapan Bu Halimah.
“Iya, benar,” jawab Bu Halimah tanpa rasa iba. “Kau, anak seorang narapidana! Ibumu, telah menghabisi ayahmu dengan keji, putraku meregang nyawa di tangan ibumu! Puas?!” jerit Bu Halimah tanpa bisa menahan amarah dalam dadanya.
Dhuar!
Seketika Biru merasa ada kilatan petir menyambar tubuhnya, wajahnya pucat pasi, karena tak siap dengan fakta yang baru saja ia dengar. Jadi karena itu? alasan dibalik sikap dingin sang nenek padanya selama ini?
Ibunya Bayu yang mendengar ucapan Bu Halimah, mendadak menyesal, tapi terlambat sudah. Lontaran peluru yang seharusnya masih menjadi rahasia besar, kini telah terucap, seolah menambah perih kesedihan di hati Biru, akibat sikap acuh Bu Halimah selama ini.
Luruh air mata Biru, hati baja yang sepanjang hidupnya di bangun dan dibesarkan oleh kedua orang tuanya, meleleh begitu saja hanya karena sebuah kalimat pedas Bu Halimah.
Tanpa permisi, Biru melangkah pergi, semakin lama langkahnya semakin cepat, hingga akhirnya ia berlari kencang, jauh meninggalkan Firza di belakang.
Firza pun mengikuti kepergian Biru, mengabaikan Bu Halimah yang bermaksud mencegahnya. Namun usahanya sia-sia karena Firza justru kehilangan jejak.
“Kemana perginya? Kenapa cepat sekali menghilang?” gerutu Firza.
“Biru!”
“Biru!” pekik Firza berkali-kali, sambil menolehkan wajahnya ke segala penjuru arah. Ia khawatir karena senja mulai pekat, terbayang pula amukan sang mamak bila kedua bersaudara itu pulang terlambat.
Firza terus berlari, mencari-cari ke segala penjuru arah. Namun, maghrib yang tinggal beberapa menit lagi, membuat Firza menyudahi pencariannya.
“Sebaiknya aku pulang, semoga saja Biru sudah ada di rumah.”
Dengan penuh harap, Firza berjalan gontai menuju ke arah rumahnya. Tiba di rumah, Firza sudah disambut dengan tatapan galak dari kedua mata Karmila.
“Kenapa baru pulang?! Sudah paham kalau maghrib hendak datang, kalian harus bersiap ke surau! Ini pula baru pulang main, dari mana, kau?!” omel Karmila.
Dengan raut bersungut-sungut Firza masuk ke rumah, ia kesal pada Biru yang meninggalkannya, hingga sang mamak memarahinya. Namun, hal itu tak berlangsung lama.
“Mana, Biru?!” tanya Karmila heran, karena tak biasanya kedua putranya pulang seorang diri.
“Biru belum pulang, Mak?” tanya Firza terkejut.
“Ck ck ck anak ini— Mamak sedang bertanya, kenapa kau malah balik nanya?!”
“Soalnya, tadi Biru pulang duluan, Mak. Makanya aku lambat pulang, karena cari-cari Biru yang mendadak hilang,” ungkap Firza. Dan Karmila yakin Firza tak bohong, kadang anak-anaknya bandel dan nakal, tapi mereka tak pernah bohong. Karena begitu baiknya Karmila dan Ismail mendidik akhlak kedua putra mereka.
“Ya, sudah, kau mandi dulu, biar Mamak yang tunggu Biru di teras. Ayah kalian pasti marah kalau salah satu dari kalian belum kembali ke rumah di hari petang begini.”
Entah kenapa perasaan Karmila mendadak resah, hanya karena tak mendapati salah seorang anaknya pulang ke rumah tepat waktu. Wanita itu kembali ke teras celingukan menunggu, siapa tahu Biru sudah kembali.
Beberapa saat kemudian, Ismail datang dengan motor maticnya, pria itu buru-buru turun karena hari sudah semakin gelap.
“Bang, Biru belum pulang—” kata Karmila dengan raut wajah gelisah, khas seorang ibu.
“Biasanya, kan—”
“Firza pun tak tahu kemana perginya.” potong Karmila dengan suara bergetar.
Ismail tersenyum sejenak. “Biru bukan anak kecil lagi, sebaiknya kita tunggu sejenak, ya? Siapa tahu, dia ada sedikit urusan. Abang mau mandi dan sholat dulu.”
“Iya, Bang.”
Karmila mengangguk patuh, dengan hati yang berat ia melangkah meninggalkan teras, karena di waktu maghrib, akan lebih baik bila berada di dalam rumah.
Meski begitu ia tetap tak tenang karena memikirkan putranya yang entah kini ada di mana.
trims kak thor
Miranda mengutamakan cinta buta mungkinkah bakal cinta mati sama biru kita tunggu disebelah