NovelToon NovelToon
Friendzone Tapi Menikah

Friendzone Tapi Menikah

Status: sedang berlangsung
Genre:Persahabatan / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Nikah Kontrak
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: B-Blue

Menikahi sahabat sendiri seharusnya sederhana. Tetapi, tidak untuk Avellyne.
Pernikahan dengan Ryos hanyalah jalan keluar dari tekanan keadaan, bukan karena pilihan hati.

Dihantui trauma masa lalu, Avellyne membangun dinding setinggi langit, membuat rumah tangga mereka membeku tanpa sentuhan, tanpa kehangatan, tanpa arah. Setiap langkah Ryos mendekat, dia mundur. Setiap tatapannya melembut, Avellyne justru semakin takut.

Ryos mencintainya dalam diam, menanggung luka yang tidak pernah dia tunjukkan. Dia rela menjadi sahabat, suami, atau bahkan bayangan… asal Avellyne tidak pergi. Tetapi, seberapa lama sebuah hati mampu bertahan di tengah dinginnya seseorang yang terus menolak untuk disembuhkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon B-Blue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 25

Ternyata tidak butuh waktu lama untuk bisa bertemu dengan Fani. Hari itu juga saat Avellyne menghubungi ketika keluar dari rumah sakit, Fani menentukan posisi bertemu mereka.

Dua jam kemudian Fani, Ryos dan Avellyne bertemu di salah satu cafe.

Ryos dan Avellyne menyembunyikan perasaan marah mereka, berpura-pura terlihat ramah sedangkan Fani terlihat begitu antusias dengan pertemuan ini tanpa dia ketahui kalau Ryos dan Avellyne sudah menyiapkan jebakan.

"Ryos! Sudah lama banget kita tidak ketemu, ya?" Fani tersenyum ramah dan berjabatan tangan dengan Ryos lalu ketiganya duduk di kursi masing-masing.

"Tumben hari ini kamu ngajak Ryos?" tanya Fani kepada Avellyne.

"Sekalian aja karena kita memang lagi di luar." Avellyne pun berpura-pura terlihat ramah, padahal di dalam hati dia sangat ingin memaki teman satu kuliahnya ini. Perasaannya sudah menggebu-gebu ingin memberi pelajaran kepada Fani.

"Vel, soal obatnya kata teman aku harganya naik banget. Tapi, kalau kamu enggak mau, aku bisa balikin lagi ke dia."

"Kenapa bisa naik drastis?" tanya Avellyne.

"Karena bahan bakunya naik. Oh, iya, obatnya cocok untuk kamu, kan? Makanya kamu beli lagi."

"Hmm, sebenarnya kamu beli obat apa, Vel?" tanya Ryos berpura-pura tidak tahu.

"Vitamin." Dengan cepat Fani menjawab, "Biar badan enggak gampang capek, biar kita rileks dan tidur nyenyak. Benar, kan, Vel?" Fani melihat ke arah Avellyne dan tersenyum ramah.

Tidak bisa dipungkiri, apa yang dikatakan Fani memang benar kalau efek obat itu membuat tubuh lebih fit dan yang paling utama bagi Avellyne adalah dia bisa tidur malam dengan nyenyak tanpa harus mengalami mimpi buruk.

"Jadi gimana Vel, kamu jadi beli vitaminnya?"

"Harganya naik jadi berapa?" tanya Avellyne.

"Lima juta, Vel. Aku ragu banget bawa obat ini ke kamu, naiknya gila banget."

Avellyne tersenyum getir mendengar harga yang diucapkan temannya itu. Seminggu yang lalu harganya masih satu juta rupiah dan sekarang naik begitu signifikan.

Sekarang dia paham kenapa Fani menawarkan obat tersebut dan ini benar-benar sudah penipuan.

"Fa, kalau gue beli langsung ke teman loe yang dokter itu gimana?"

"Padahal selama ini kamu beli melalui aku. Aku enggak ngambil keuntungan lain dari teman aku, Vel. Harga yang aku bilang tadi memang sesuai dengan harga yang diberitahu teman aku loh."

"Bukan begitu maksud gue. Gue mau ketemu teman loe karena sekalian mau konsultasi. Belakangan ini gue kurang enak badan. Gue benci banget kalau harus ke rumah sakit. Jadi gue mau diperiksa di rumah teman loe itu aja. Atau loe antar gue dan Ryos ke sana deh. Dia kapan selesai praktek di rumah sakit?"

"Hmm... kalau itu aku telepon dia dulu apa dia ada waktu malam ini. Sebentar, ya!" Fani mengambil ponselnya dan terlihat menghubungi seseorang, sementara Avellyne dan Ryos tetap memerhatikan gelagat Fani yang mulai berubah.

Teman mereka itu seperti menyembunyikan kegugupannya.

"Enggak bisa di telepon, Vel. Besok deh aku kabari kamu lagi."

Fani sedang beralasan sekarang dan Ryos serta Avellyne sudah membuat kesimpulan kalau teman mereka bekerja sendiri dalam menjual obat itu. Itu artinya, Fani tahu tentang jenis obat tersebut dan dia sudah melakukan penipuan.

"Jadi gimana, kamu mau beli vitaminnya?" tanya Fani.

Ponsel wanita itu terletak di atas meja dalam keadaan layar menyala setelah dia berusaha menghubungi seseorang sebelumnya. Seseorang yang diketahui Ryos dan Avellyne adalah seorang dokter.

Dengan gerakan cepat, Ryos pun mengambil ponsel itu.

"Ryos!" ucap Fani begitu terkejut.

"Loe diam aja atau gue seret loe ke kantor polisi!" Avellyne memberikan tatapan tajam, tentu saja dia mengancam temannya itu.

"Ka-kalian kenapa?" tanya Fani mulai panik dan takut.

Ryos mendecih dan menarik sudut bibirnya lalu menatap Fani dengan perasaan amarah yang meledak-ledak, namun mengingat ini di tempat umum, dia harus menahan diri untuk tidak menghajar wanita yang duduk di depannya.

"Loe membohongi Avel mentah-mentah. Loe bilang ini obat tidur, kan? Ternyata loe menjual narkoba ke Avel."

"Narkoba... aku jual obat tidur–"

"Bukannya tadi loe bilang ke gue itu vitamin? Kalau memang obat tidur beritahu ke gue dari mana loe mendapatkannya?"

"I–itu...." Fani tidak bisa menjawab, dia gugup dan terlihat gemetaran.

"Tega banget loe bohongi gue, Fa!" Wajah Avellyne menegang, kedua matanya melotot melihat temannya itu sementara Fani memalingkan wajah.

"Loe mau bikin gue ketergantungan dengan obat itu dan loe hampir berhasil andai gue tidak melakukan cek sample darah. Loe sudah berpikir kalau gue ketergantungan makanya loe naikan harga obat itu."

"Kalau gue enggak tahu yang sebenarnya, jangankan harga lima juta, sepuluh juta pun pasti gue beli karena loe berhasil membuat gue jadi seorang pecandu. Jadi begini cara loe memanfaatkan seseorang dan mengambil keuntungan? Gue enggak bisa memaafkan loe dan loe harus membayarnya karena sudah merusak gue." Avellyne berkata dengan tegas, ingin sekali dia meneriaki temannya, namun masih memikirkan Fani dengan tidak mempermalukannya di depan umum.

"Vel, yang aku tahu ini obat tidur. Aku enggak tahu–"

"Semua buktinya ada di hp loe, Fa. Loe enggak bisa ngeles. Loe memang sengaja memanfaatkan Avellyne dan gue juga enggak bisa memaafkan loe karena hampir merusaknya."

Fani diserang dua orang sekaligus, dia terintimidasi dengan tatapan tajam dari Avellyne dan Ryos.

"Vel, Yos. Maafkan aku. Aku mengaku salah, tolong lepaskan aku kali ini."

Ryos dan Avellyne tampaknya tidak ingin bernegosiasi dan tidak ingin menaruh belas kasih. Dari chat yang sudah terlanjur dibaca Ryos, terlihat ada korban lain selain Avellyne.

Fani menjual obatnya dengan cara berbohong. Sama seperti yang dia lakukan kepada Avellyne.

"Loe enggak bisa dibiarkan, Fa. Loe sangat berbahaya. Simpan aja pembelaan loe di kantor polisi." Ryos berdiri begitu pun dengan Avellyne.

"Ryos!" Fani bergegas menahan langkah Ryos.

"Jangan mengundang perhatian orang-orang. Loe bisa viral kalau bersikeras menghentikan kami di sini."

Fani segera melepaskan tangan Ryos dan mengedarkan pandangan melihat sekeliling cafe. Ada banyak pelanggan malam ini dan apa yang dikatakan Ryos bisa saja terjadi kalau dia berusaha menghentikan kedua temannya.

Pada akhirnya Fani pasrah ketika Ryos membawa ponselnya. Dia sudah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya dan dia tidak ingin berakhir masuk penjara.

...

"Apa loe benar-benar mau melaporkan Fani ke polisi, Yos?"

Saat ini Ryos dan Avellyne sudah berada di dalam mobil. Pria itu mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang.

Perasaannya semakin tenang sekarang sebab sudah mengetahui kebenaran yang ada. Dari awal pun dia tidak percaya kalau Avellyne dengan sengaja mengkonsumsi obat terlarang.

"Kalau saja kita enggak cek kesehatan, sampai detik ini kamu tidak sadar dengan obat yang kamu minum dan akhirnya bisa membuat kamu ketergantungan dengan obat itu. Lama kelamaan sistem saraf kamu tergganggu. Apa pun alasan Fani, aku tidak bisa memaafkannya. Jelas sekali dia sudah membohongi kamu, Sayang."

Avellyne pun sebenarnya marah besar karena sudah ditipu mentah-mentah oleh temannya itu. Akan tetapi, dia tidak pernah kepikiran untuk membawa masalah ini ke kantor polisi. Dia merasa terlalu merepotkan untuk membuat laporan.

"Kenapa harus ada orang jahat seperti Fani? Apa sih yang ada dipikiran mereka memanfaatkan teman sendiri dengan mudahnya dan tanpa merasa bersalah." Avellyne berkata dengan suara pelan, dia fokus melihat ke depan dan pikirannya ke sana kemari memikirkan beberapa orang jahat yang sudah membuatnya kecewa seperti ini.

1
edu2820
Kepincut sama tokohnya. 😉
B-Blue: terimakasih sudah mampir 😊
total 1 replies
✿ O T A K U ✿ᴳᴵᴿᴸ࿐
Ceritanya bikin saya ketagihan, gak sabar mau baca kelanjutannya😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!