Demi membalas kehancuran masa depan putranya oleh Ratu Komunitas yang tak tersentuh, seorang mantan konsultan branding melakukan balas dendam sosial dan intelektual dengan meruntuhkan reputasi musuhnya di mata para ibu elit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yukipoki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Racun di Grup WhatsApp
Efek dari e-mail anonim itu tidak membutuhkan waktu lama untuk merambat.
Nadia tahu betul cara kerja dunia Bapak Wijaya. Dunia yang dibangun dari efisiensi, kerahasiaan, dan kontrol mutlak. Sebuah pertanyaan sederhana tentang “proyek properti di Ciledug” bukan sekadar gangguan administratif—itu adalah alarm kebakaran.
Sekretaris kepercayaannya pasti membawa pertanyaan itu langsung ke meja Bapak Wijaya. Dan Bapak Wijaya, yang membenci ketidakpastian lebih dari apa pun, pasti menuntut jawaban. Jawaban yang hanya bisa datang dari satu orang.
Kirana.
Sepanjang hari itu, Nadia mengamati satu tanda yang tak pernah gagal ia baca: keheningan.
Nama Kirana tidak muncul di Grup WA Elite Moms. Tidak ada arahan, tidak ada komentar sinis, tidak ada emoji dukungan palsu. Keheningan itu terasa berat, seperti rumah besar yang lampunya menyala tapi penghuninya sedang bertengkar hebat di balik pintu tertutup.
Bagi Nadia, diamnya Kirana bukan tanda ketenangan. Itu tanda kekacauan.
Dan kekacauan adalah celah.
Nadia tidak berniat mengisi kekosongan itu sendiri. Ia harus tetap menjadi bayangan—ibu baru yang polos, yang hanya membaca dan sesekali menyimak. Serangan berikutnya harus datang dari orang lain.
Targetnya jelas: Ibu Siska.
Sekutu inti Kirana. Suara paling keras yang selalu membela, bahkan ketika logika sudah mati. Pilar gaslighting yang membuat ibu-ibu lain ragu pada naluri mereka sendiri.
Nadia tahu satu hal tentang komunitas elit ini: persaingan anak-anak jauh lebih kejam daripada persaingan para ibu.
Ia menghubungi Rina melalui jalur pribadi. Nada suara Rina jauh lebih ringan dibanding beberapa hari lalu. Rio sudah kembali ke sekolah, dan dunia Rina untuk pertama kalinya tidak terasa runtuh.
“Bu Rina,” ujar Nadia lembut, “saya butuh bantuan kecil.”
“Bantuan apa, Bu Nadia?” tanya Rina tanpa ragu. Rasa berhutang budinya terdengar jelas.
“Saya perlu sedikit kebisingan di Komite. Bukan untuk melawan Kirana secara langsung.”
Rina terdiam sejenak. “Kirana masih sangat marah pada saya.”
“Justru itu,” jawab Nadia. “Kita tidak menyentuh dia. Kita sentuh orang yang selalu melindunginya.”
Nama Dimas muncul di antara mereka, seperti sesuatu yang rapuh dan tidak pantas disentuh—anak Ibu Siska yang baru saja gagal di lomba debat nasional.
Rina menarik napas. “Kirana kecewa sekali waktu itu. Dia bilang kegagalan Dimas mencoreng reputasi sekolah.”
“Dan itu kuncinya,” kata Nadia pelan. “Anda hanya perlu menyampaikan simpati. Tapi simpati yang… jujur.”
Nadia mendiktekan pesan itu perlahan, memastikan setiap kata terdengar seperti empati, bukan tuduhan.
—“Sedih sekali dengar kabar Dimas gagal di final debat. Padahal dia sudah latihan sangat keras. Tapi mau bagaimana lagi, katanya jadwal latihannya sempat diubah mendadak karena harus membantu persiapan display Gala Dinner atas permintaan Bu Kirana. Sayang sekali kalau anak harus ikut menanggung ambisi orang dewasa. Semoga Dimas cepat pulih semangatnya.”—
“Itu saja?” tanya Rina ragu.
“Itu sudah cukup,” jawab Nadia. “Anda tidak menyerang. Anda hanya menyayangkan. Dan itu jauh lebih menyakitkan.”
Rina mengirim pesan itu ke Grup WA Inner Circle—grup yang penuh mata dan telinga Kirana.
Kurang dari dua puluh menit kemudian, gema pesan itu pasti sudah sampai ke telinga Kirana.
Dan tepat setelah itu, Kirana muncul.
Bukan dengan klarifikasi dingin. Bukan dengan sikap seorang pemimpin. Tapi dengan kemarahan personal yang meledak-ledak.
[Kirana Widjaja]:
“Saya sangat kecewa melihat ibu-ibu di grup ini yang seharusnya menjunjung nilai persatuan malah sibuk menyebarkan gossip murahan, bahkan melibatkan anak-anak. Saya tegaskan, saya tidak pernah mengintervensi jadwal latihan Dimas. Dan bagi siapa pun yang merasa tidak sanggup menjalankan tugas Komite karena terlalu larut dalam drama pribadi, silakan mundur.”
Tidak ada nama disebut.
Namun semua orang tahu siapa yang sedang ditampar.
Nadia membaca pesan itu dengan tenang. Ia tahu, amarah Kirana tidak hanya berasal dari grup. Itu adalah sisa-sisa pertengkaran yang belum padam di rumahnya sendiri.
Ia segera menelepon Rina.
“Bu Rina,” ucap Nadia lirih, “apa yang terjadi pagi ini di rumah Kirana?”
Rina berbisik, seolah takut dinding ikut mendengar.
“Kacau, Bu. Bapak Wijaya mengurung diri di ruang kerja. Dia menuduh Kirana bermain api dengan data perusahaannya. Kirana balik menuduh dia selingkuh… di Ciledug. Mereka bertengkar soal properti, soal proyek rahasia. Kirana panik—Bapak Wijaya mencurigainya.”
Nadia menutup mata. Sebuah kepuasan dingin mengalir perlahan.
Rumah besar itu kini bukan lagi benteng. Ia telah berubah menjadi medan perang.
Namun Nadia belum selesai.
Di tengah kekacauan Kirana, ia harus mengamankan senjata pamungkasnya.
Ia berkendara ke luar kota, menyamar sebagai perempuan biasa. Tidak ada tas mahal, tidak ada riasan. Hanya kacamata hitam dan pakaian sederhana.
Mr. Taufik menunggunya di sebuah warung kopi kecil di depan sekolah tempat ia kini mengajar. Wajahnya terlihat lelah, tapi matanya masih menyimpan sesuatu yang jarang ditemui: rasa bersalah yang belum mati.
“Terima kasih sudah datang,” ucap Nadia.
“Saya menerima e-mail dari Komite,” kata Mr. Taufik pelan. “Mereka minta testimoni. Saya tahu itu jebakan.”
“Itu memang jebakan,” jawab Nadia jujur. “Dan saya yang memasangnya.”
Ia menunjukkan foto memo tulisan tangan yang pernah ia ambil dari Ruang Arsip—pengakuan bahwa data Aksa adalah asli, dan kebohongan itu lahir dari paksaan.
Air mata menggenang di mata Mr. Taufik.
“Apa yang Anda inginkan?” tanyanya akhirnya.
“Satu kebohongan,” jawab Nadia tenang. “Untuk membongkar kebohongan yang lebih besar.”
Ia mendiktekan testimoni yang memuji Kirana. Di akhir, ia menyelipkan satu kalimat:
“Integritas Ibu Kirana adalah cerminan dari ketenangan batin yang jarang ditemukan.”
Kata itu—ketenangan batin—adalah pisau halus. Setelah pagi yang penuh teriakan dan kecurigaan, kalimat itu akan terdengar seperti ejekan sunyi.
Beberapa jam kemudian, konfirmasi itu datang.
Testimoni terkirim.
Dan di Grup WA Elite Moms, Kirana kembali muncul. Kali ini, bukan menyerang Rina.
[Kirana Widjaja]:
“Ibu Siska, saya tunggu Anda di ruang Komite sekarang. Ada masalah serius terkait persiapan Gala Dinner.”
Nadia tersenyum tipis.
Kirana kini menyerang sekutunya sendiri. Benteng itu tidak runtuh karena musuh di luar, tetapi karena fondasinya mulai saling mencurigai.
Di sudut grup, Nadia—ibu baru yang lugu—hanya membaca.
Dan Gerbang Mahoni itu, untuk pertama kalinya, benar-benar bergetar.