NovelToon NovelToon
Elegi Di Balik Gerbang Mahoni

Elegi Di Balik Gerbang Mahoni

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas dendam pengganti / Fantasi Wanita / Bullying dan Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam
Popularitas:214
Nilai: 5
Nama Author: Yukipoki

Demi membalas kehancuran masa depan putranya oleh Ratu Komunitas yang tak tersentuh, seorang mantan konsultan branding melakukan balas dendam sosial dan intelektual dengan meruntuhkan reputasi musuhnya di mata para ibu elit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yukipoki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Racun di Grup WhatsApp

Efek dari e-mail anonim yang dikirim Nadia ke Sekretaris Bapak Wijaya segera terasa. Bapak Wijaya, yang terbiasa dengan efisiensi dan kerahasiaan total, pasti panik.

Nadia tahu, Sekretaris itu akan langsung membawa pertanyaan tentang "proyek properti di Ciledug" itu kepada Bapak Wijaya, yang kemudian pasti akan menghadapi Kirana.

Nadia memantau pergerakan ini dari Grup WA Elite Moms. Kirana belum muncul seharian. Keheningan Kirana di dunia online adalah tanda kekacauan di dunia nyatanya.

Nadia memanfaatkan kekosongan kepemimpinan ini. Ia harus melancarkan serangan yang melibatkan orang lain, sehingga alibinya sebagai anggota baru yang polos tetap utuh. Targetnya kali ini adalah Ibu Siska, sekutu inti Kirana, yang paling keras membela Kirana saat isu dana amal muncul.

Nadia menyusun rencana yang memanfaatkan kelemahan mendasar di komunitas elit ini: persaingan anak-anak.

Nadia menghubungi Rina melalui saluran pribadi, memastikan Rina kini berada di posisi yang aman setelah cuti sementaranya. Rina, yang merasa berhutang budi karena Rio kini sudah kembali ke sekolah tanpa gangguan, sangat kooperatif.

"Bu Rina, saya butuh bantuan Anda untuk menciptakan sedikit 'kebisingan' di Komite," ujar Nadia dengan suara yang sangat tenang.

"Kebisingan apa, Bu Nadia? Kirana masih sangat marah pada saya," balas Rina.

"Bukan melawan Kirana. Melawan Ibu Siska. Anak Ibu Siska, Dimas, baru saja gagal dalam lomba debat nasional, kan?"

Rina mengiyakan. "Ya, dan Kirana sangat marah pada Dimas karena itu merusak reputasi sekolah. Kirana selalu memamerkan anak-anaknya yang sempurna."

"Tepat. Ibu Siska adalah pilar gaslighting Kirana di grup. Kita harus meruntuhkannya agar Kirana kehilangan suara kuat. Ini sangat sederhana," Nadia melanjutkan. "Saya ingin Anda memposting pesan di Grup WA Inner Circle—yang Anda yakini aman—tentang betapa disayangkan kegagalan Dimas, tapi kemudian Anda tambahkan detail yang membuat seolah-olah Kirana adalah dalangnya."

Nadia mendikte pesan itu dengan hati-hati:

—'Sedih sekali dengar kabar Dimas gagal di final debat. Padahal dia sudah latihan sangat keras. Tapi, mau bagaimana lagi. Katanya, semua jadwal latihan Dimas terpaksa diubah mendadak karena Ibu Kirana meminta Dimas dan Ibu Siska fokus pada persiapan display untuk Gala Dinner. Sayang sekali, anak jadi korban ambisi Komite. Semoga Dimas tidak terlalu sedih.'—

"Anda harus mengirimkan pesan ini, Bu Rina," instruksi Nadia. "Ini tidak menuduh. Ini hanya menyampaikan rasa simpati yang berisi fakta yang menghina. Ibu Siska akan merasa dikhianati dan Kirana akan terlihat sebagai pemimpin yang mengorbankan anak orang lain demi display bunga."

Rina, meskipun sedikit ragu, tetap menjalankannya. Pesan itu segera mendarat di Grup WA Inner Circle yang penuh mata-mata Kirana. Dalam waktu kurang dari dua puluh menit, pesan itu pasti telah sampai ke telinga Kirana.

Tepat setelah pesan Rina menyebar, Kirana akhirnya muncul di Grup WA Elite Moms. Bukan dengan pengumuman, melainkan dengan serangan balik pribadi yang brutal.

[Kirana Widjaja]: "Saya sangat kecewa melihat bagaimana ibu-ibu di grup ini—yang seharusnya fokus pada nilai-nilai persatuan—masih menyebarkan gossip murahan tentang anak-anak kita. Saya tegaskan, saya tidak pernah mengintervensi jadwal latihan Dimas. Dan bagi siapa pun yang merasa tidak mampu menjalankan tugas Komite dan terlalu fokus pada drama pribadi, silakan mundur."

Kirana tidak menyebut nama Rina, tetapi semua orang tahu itu ditujukan untuk Rina. Namun, Nadia tahu, ada lapisan lain di balik kemarahan Kirana.

Nadia segera menelepon Rina. "Bu Rina, sekarang dia marah besar. Apa yang terjadi di rumahnya?"

Rina berbisik melalui telepon. "Bu Nadia, benar-benar kacau. Pagi ini, Bapak Wijaya mengunci dirinya di ruang kerja. Dia menuduh Kirana 'bermain api' dengan data perusahaannya. Kirana berteriak, menuduh Bapak Wijaya selingkuh di Ciledug! Mereka bertengkar hebat tentang properti dan 'proyek rahasia' itu. Kirana panik karena Bapak Wijaya mencurigainya."

Nadia merasakan kegembiraan yang dingin. E-mail anonimnya telah bekerja sempurna. Kirana kini tidak hanya melawan musuh eksternal, tetapi juga melawan kecurigaan internal dari suaminya—fondasi keuangannya.

Saat kekacauan Kirana memuncak, Nadia harus mengamankan senjata pamungkasnya: Memo Mr. Taufik.

Ia mengendarai mobilnya ke luar kota, menemui Mr. Taufik yang kini mengajar di sebuah sekolah swasta biasa setelah ia dipaksa mengundurkan diri dari The Golden Bridge tak lama setelah kasus Aksa dua tahun lalu. Nadia mengenakan pakaian biasa dan kacamata hitam.

Nadia duduk di sebuah warung kopi sederhana di depan sekolah Mr. Taufik. Guru itu tampak lelah, tetapi matanya menunjukkan integritas yang masih utuh.

"Terima kasih sudah mau bertemu saya, Mr. Taufik," kata Nadia, suaranya pelan dan formal.

"Tentu, Bu Nadia. Saya sudah menerima e-mail aneh dari Komite yang meminta testimoni. Saya tahu itu adalah jebakan. Saya tidak membalasnya," kata Mr. Taufik.

"Itu adalah jebakan yang saya pasang," aku Nadia. "Saya adalah orang yang mengirimkannya. Itu adalah cara saya menguji Kirana. Dia bereaksi dengan panik."

Mr. Taufik terkejut. Nadia kemudian mengeluarkan ponselnya, menunjukkan foto memo tulisan tangan Mr. Taufik yang ia ambil dari Ruang Arsip di Bab 3. Memo yang berisi pengakuan bahwa data Aksa adalah original, dan ia berbohong karena "kewajiban."

"Saya tahu Anda dipaksa, Mr. Taufik. Dan saya tahu Anda adalah orang baik. Memo ini adalah satu-satunya bukti yang bisa menyelamatkan nama Aksa," kata Nadia, matanya berkaca-kaca, tetapi hatinya tetap dingin.

"Apa yang Anda inginkan, Bu Nadia?" tanya Mr. Taufik, suaranya bergetar antara rasa lega dan takut.

"Saya ingin Anda melakukan satu hal kecil. Jawab e-mail testimoni itu. Berikan Kirana testimoni yang dia inginkan. Tapi tambahkan satu kalimat kode yang hanya saya dan Anda yang tahu maknanya. Kalimat yang akan memicu paranoia Kirana tanpa memberikannya bukti legal."

Nadia mendiktekan testimoni palsu yang memuji etika Kirana. Di akhir testimoni itu, Nadia menambahkan kalimat: "Integritas Ibu Kirana adalah cerminan dari ketenangan batin yang jarang ditemukan."

'Ketenangan batin' adalah kata yang Nadia tahu akan membuat Kirana curiga. Setelah perkelahian hebatnya dengan suaminya pagi itu, dan paranoia soal dana yayasan, Kirana sama sekali tidak memiliki ketenangan batin. Nadia ingin mengirimkan pesan subliminal: "Saya tahu Anda sedang kacau."

Mr. Taufik setuju. Dia setuju untuk mengirimkan e-mail palsu itu sebagai bagian dari balas dendam Nadia. Ini adalah langkah moral paling gelap bagi Nadia: memaksa orang jujur berbohong demi keadilan.

...****************...

Beberapa jam kemudian, Nadia menerima konfirmasi dari Mr. Taufik bahwa testimoni palsu itu sudah terkirim ke alamat Komite Kirana.

Nadia kembali ke Grup WA Elite Moms. Kirana sudah muncul, tetapi bukan untuk menyerang Rina, melainkan untuk menyerang Ibu Siska secara frontal, karena Rina sudah "mengamankan" dirinya.

[Kirana Widjaja]: "Ibu Siska, saya tunggu Anda di ruang Komite. Ada masalah serius tentang persiapan Gala Dinner yang harus kita bicarakan sekarang."

Kirana ingin membuat Ibu Siska yang gagal membela putranya, merasa bersalah, dan memaksanya kembali loyal dengan tekanan. Tapi ini juga menciptakan celah: Kirana kini sedang mengisolasi dan menyerang salah satu sekutu intinya.

Nadia merasa puas. Ia telah meracuni Grup WA dengan simpati untuk korban (bullying Rio) dan amarah untuk korban lain (putra Siska), sehingga Kirana kini berada di tengah medan pertempuran yang kacau dan penuh kecurigaan. Nadia, si ibu lugu di sudut, telah berhasil membuat benteng mahoni Kirana bergetar hebat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!