Alana Xaviera merasa seperti sosok yang terasing ketika pacarnya, Zergan Alexander, selalu terjebak dalam kesibukan pekerjaan.
Kecewa dan lapar akan perhatian, dia membuat keputusan nekad yang akan mengubah segalanya - menjadikan Zen Regantara, pria berusia tiga tahun lebih muda yang dia temui karena insiden tidak sengaja sebagai pacar cadangan.
"Jadi, statusku ini apa?" tanya Zen.
"Pacar cadangan." jawab Alana, tegas.
Awalnya semua berjalan normal, hingga ketika konflik antara hati dan pikiran Alana memuncak, dia harus membuat pilihan sulit.
📍Membaca novel ini mampu meningkatkan imun dan menggoyahkan iman 😁 bukan area bocil, bijak-bijaklah dalam membaca 🫣
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 28 : TCB
Wajah Zen semakin tenggelam, ditelan oleh kedamaian yang memeluknya di dalam lembah yang Alana berikan. Sementara itu, Alana merasakan getaran yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Kedua tangannya meremat kuat sprei saat lidah Zen terus bermain dan memberikan kenikmatan dititik sensitifnya.
"Ah, Zen, aku mau... Ahhh..."
Tubuh Alana menggelinjang hebat saat dia telah mencapai orgasme pertamanya. Perlahan, tubuh Zen merangkak naik, menatap wajah Alana sebentar sebelum melumat kembali bibirnya dengan lembut.
Tidak ada catatan waktu ketika tubuh mereka menyatu secara perlahan, seolah-olah alam semesta sendiri yang menyusun langkah demi langkah hingga mereka tenggelam dalam sebuah kenikmatan.
Kesedihan serta kekecewaan yang sebelumnya Alana rasakan bahkan seakan sirna saat Zen mulai bergerak dengan ritme diatas tubuhnya. Didalam ruangan yang gelap dan hanya mendapat pencahayaan dari luar mereka saling berbagi nikmat dan juga keringat.
-
[Jangan mengkhawatirkanku. Malam ini aku hanya ingin menenangkan diri, besok pasti aku akan datang ke acara pertunangan.]
Selesai mengirimkan pesan itu pada Zergan, Alana menonaktifkan handphonenya dan meletakkannya diatas nakas. Dia membaringkan kembali tubuhnya dengan posisi tubuh memunggungi Zen.
Tangan Zen melingkar di pinggang Alana yang dibalut dengan selimut tebal, indera penciumannya mencium wangi tubuh Alana yang membuatnya selalu candu.
"Besok datang denganku ke acara pertunangan," suara Alana memecah keheningan, menolehkan sedikit kepalanya kesamping.
"Hemm, apa yang akan kamu lakukan? Ingin melanjutkan pertunangan dan mencampakanku setelah merenggut keperjakaanku?" tanya Zen dengan nada bercanda, tapi wajahnya menunjukkan keseriusan.
"Zen." desis Alana, matanya menyipit tajam. "Harusnya itu kalimatku. Bagaimana jika kamu lari dari tanggungjawab setelah apa yang terjadi malam ini,"
"Memangnya aku mau lari kemana. Kamu tahu rumahku dan kenal dengan mamaku, tinggal datangi saja dan ceritakan pada mereka apa yang sudah aku lakukan padamu jika aku sampai lari dari tanggungjawab." jawab Zen, seolah ingin meyakinkan jika Alana tidak perlu menakutkan jika dia akan lari dari tanggungjawabnya.
Wajah Alana sedikit meringis saat dia ingin membalikkan tubuhnya dan merasakan sakit di sekujur tubuhnya, terutama di bagian intimnya.
"Sebenarnya benda apa yang kamu masukkan kedalam milikku, kenapa sakitnya tidak hilang-hilang," keluh Alana yang membuat Zen tersenyum lebar.
"Apa kamu baru saja mengakui jika milikku sangat besar?" tanya Zen yang langsung mendapat tatapan tajam dan cubitan di perut dari Alana.
"Aku sedang tidak ingin bercanda," ucap Alana yang kini sudah berbaring terlentang, "Sejak kapan kamu tahu? Kenapa tidak langsung mengatakannya saja padaku jika kamu tahu Kayla adalah anak kandung Zergan."
Zen menghela napas, merapikan anak rambut Alana yang menutupi wajah cantiknya, "Bukan hakku untuk menceritakannya padamu. Itulah sebabnya aku membawamu untuk menemui Kayla, supaya kamu tahu sendiri kebenarannya."
"Jika Zergan mau berkata jujur, sebenarnya aku akan memilih mundur dari hubungan ini tanpa kamu memutuskan hubungan denganku lebih dulu." ungkap Zen. "Tapi melihat ekspresi kamu saat di kafe kemarin, aku sadar jika sepertinya Zergan lebih memilih menutupi kebenarannya karena dia takut kehilangan kamu, Alana."
Alana sadar betul akan hal itu, cinta Zergan bisa dia rasakan tapi kebenaran tentang Kayla tidak bisa dia abaikan. Dibandingkan dirinya, Kayla lebih membutuhkan pengakuan dan perhatian dari Zergan yang merupakan ayah kandungnya.
Meskipun Alana belum tahu bagaimana awal hubungan Zergan dan Karina bisa terjalin, tapi melihat usia Kayla sepertinya hubungan mereka sudah terjalin jauh sebelum Zergan mengenal dirinya.
"Hari-hari Karina pasti berat karena harus membesarkan Kayla seorang diri. Dan aku merasa jadi perempuan yang sangat jahat karena telah menghalangi kebahagiaan Karina dan Kayla." ucap Alana pelan, dia tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya menjadi Karina yang harus melahirkan dan membesarkan seorang anak tanpa sosok suami.
Zen mengusap air mata yang baru saja menetes dari ujung mata Alana, lalu menarik lengannya dan membawa tubuh Alana kedalam dekapannya. Tak peduli berapa lama, dia akan menunggu sampai hanya ada dirinya seorang dihati Alana.
-
-
-
"Semalaman Zen tidak pulang, jangan-jangan dia pergi dan menginap bersama dengan Alana."
Hampir semalaman Jihan tidak bisa tidur dan beberapa kali dia mengecek keluar kamar untuk memastikan putranya sudah pulang atau belum. Sayangnya Zen benar-benar tidak pulang, bahkan nomornya dihubungi juga tidak aktif. Sebagai seorang ibu jelas Jihan merasa khawatir, bagaimana jika putranya mendapatkan musibah atau mengalami pelecehan diluar sana.
"Mama ini terlalu berlebihan. Zen itu kan anak laki-laki, dan dia sudah bisa menjaga dirinya sendiri," Bram menyendokkan nasi kedalam mulutnya. Berbeda dari istrinya, dia memang tampak lebih santai dan tidak begitu mengkhawatirkan Zen yang tidak pulang semalaman.
"Papa ini gimana sih! Anak nggak pulang kok nggak ada khawatir-khawatirnya." Jihan merasa kesal, nafsu makannya langsung hilang. "Apa Papa nggak takut kalau anak kita mengalami pelecehan diluar sana, sekarang kan lagi musim terong makan terong, Pa."
Bram tertawa mendengar kata-kata istrinya, "Yang Papa takutkan justru anak kita yang melecehkan anak gadis orang kali, Ma. Mama siap-siap aja nyiapin lamaran buat calon mantu Mama."
Jihan menghela napas, "Papa ini ya, Mama lagi ngomong serius malah diajak bercanda."
"Papa juga serius kali, Ma." sahut Bram. "Ya sudah, Papa berangkat ke kantor dulu, nanti kalau Zen ada dikantor Papa langsung telefon Mama."
Jihan berdiri dan ikut mengantarkan suaminya sampai ke teras rumah. "Jangan lupa nanti pulang cepat ya, Pa. Soalnya kita diundang untuk datang ke acara pertunangan anaknya jeng Amara."
"Iya, nanti Papa usahakan pulang cepat. Ya sudah, Papa berangkat dulu, Mama hati-hati dirumah." Bram mencium kening istrinya sebelum masuk kedalam mobil.
Jihan menatap kepergian mobil suaminya dengan wajah termenung. Mengingat jika nanti malam adalah acara pertunangan Alana dan kekasihnya, Jihan jadi merasa yakin jika Zen tidak mungkin pergi dengan Alana. Mungkin saja Zen merasa kecewa dan sakit hati karena Alana akan bertunangan dengan pria lain, jadi putranya itu pergi untuk menenangkan diri.
Lagipula, jika Alana juga tidak pulang, Amara pasti akan langsung menelfonnya dan menanyakan Zen pulang atau tidak.
"Kok aku jadi khawatir ya, bagaimana kalau Zen nekad bunuh diri cuma gara-gara patah hati melihat Alana akan bertunangan nanti malam." gumam Jihan dengan wajah yang mulai cemas.
-
-
-
Bersambung...
s moga zergan tidak cari keberadaan zen
POV setan 😈"lanjutkan, jangan berhenti"
Emang ada yang kamu lewatkan gan degan alias zergan.yaitu tentang kemungkinan terkecil dari setiap kejadian.harusnya,kamu pastiin mayat nya zen.kalo blm lihat dengan mata,kepala,pundak dan kaki.jangan lgsg menyimpulkan Zen udah end.
Akhirnya aku peluk-pelukan
Tak sadar aku dirayu setan
Tak sadar aku ku kebablasan
Ku hamil duluan sudah tiga bulan
Gara-gara pacaran tidurnya berduaan
Ku hamil duluan sudah tiga bulan
Gara-gara pacaran suka gelap-gelapan
Dangdutann dulu gaes..Ben tambah semangat goyangnya 💃🤣
Kini jadi kenyataan
Pertemuan yang kudambakan
Ternyata bukan khayalan
Sakit karena perpisahan
Kini telah terobati
Kebahagiaan yang hilang
Kini kembali lagi...nyanyi sek Ben nggak oleng wkwkwkwk
Di episode ini aku hawatir sama Karina well.serius, zergan kek psikopat.halalin semua cara buat dapetin keinginannya.