♥️♥️♥️
Perjodohan diusia muda? Yakin berjalan lancar? Usia yang masih labil, tanggung jawab besar, bisakah? Mampukah?.
Akan jadi apa pernikahan tanpa adanya ilmu pengetahuan yang cukup? Mental yang bahkan masih perlu bimbingan orang tua, apa keputusan orang tua mereka sudah benar untuk masa depan anak-anak nanti? Entahlah, semoga aja semuanya baik-baik saja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SP_Daffotta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab XXIII
...Selamat membaca
...
....
...
....
...
....
...
Perjalanan dari dermaga menuju wisata xxx membutuhkan waktu 2 jam-an dengan kapal feri.
3 pasutri muda dan 2 bujang duduk dengan tenang di kursi masing-masing.
“Za? Kamu tadi kayak bawa cookies, buka dong Za, aku pengen nyemil,” Rafka bisik-bisik di telinga istrinya.
Zarine terkekeh mendengar suaminya merengek meminta cookies, gadis itu tanpa banyak bicara segera mengeluarkan kotak bekalnya yang berisi cookies, memberikannya pada sang suami, dengan semangat Rafka mengambil 2 cookies sekaligus, kemudian tanpa diminta pemuda itu menawarkan cookies tersebut pada yang lain.
1 hari sebelum berangkat menuju wisata xxx, Zarine sengaja membuat cookies sebagai bekal.
“Enak Za, kapan-kapan kamu tolong bikinin aku lagi ya,” Rafka berbicara pelan pada sang istri sambil tersenyum lebar, Zarine tertawa pelan melihat suaminya yang begitu senang hanya dengan cookies buatannya.
2 jam telah berlalu, mereka semua telah sampai di wisata xxx, hamparan pasir putih membuat 3 gadis di antara mereka begitu semangat ingin bermain di sana.
“Ayo kita ke penginapan dulu, kalau sudah selesai, baru kita main di pantai, jaraknya deket kok,” Abdiel berucap sambil sedikit menarik tangan Akifa, sang istri.
Akifa menganggukkan kepalanya, dengan mata yang masih menatap hamparan pasir putih itu.
Begitu sampai di penginapan, mereka segera menuju resepsionis untuk check-in.
Setelah menerima kunci kamar, mereka menuju kamar masing-masing dan merebahkan tubuhnya sebentar.
“Aduh, badanku capek banget Al, padahal Cuma duduk doang loh,” Abhi mengeluh pada sang istri.
Mari kita melipir pada pasangan ini, seperti apa jika sedang berdua di kamar.
“Ayo bantu aku beresin baju ke lemari,” Alfi menarik tangan Abhi agar bangun.
Dengan rasa malas dan lelah Abhi bangkit membantu sang istri.
“Aku ngga ikut ke pantai ya? Kamu sama yang lain aja yang ke pantai,” Abhi berucap dengan menatap sang istri dari belakang.
“Yah, masa aku sendirian sih Bhi, ayolah ikut,” Alfi menoleh dengan cepat pada suaminya, nada bicaranya jadi lesu dan bibirnya cemberut.
Wah! Alfi ternyata juga bisa cemberut loh guys, ternyata dia masih punya ekspresi lainnya selain jutek cuek dan galak.
“Aku capek Al, pengen rebahan, boleh, ‘kan?” Abhi memberi pengertian sambil mengelus pucuk kepala istrinya dengan lembut.
“Ikut aja udahlah, sebentar doang kok, lagian bentar lagi juga jam makan siang, jadi sekalian deh kita makan, terus kita balik ke kamar, istirahat, ya?” Alfi menawar dengan memasang wajah melasnya.
‘tok tok tok.’
“Alfi? Abhi? Kita mau ke pantai sekalian makan siang, ikut ngga?” dari luar suara Akifa memanggil.
“Boleh deh ayo,” Abhi berdiri dan mengajak sang istri keluar kamar.
‘Ceklek.’
“Kirain ngga ikut,” Abdiel bertanya dengan menatap pasutri didepannya ini secara bergantian.
“Tadinya mau ngga ikut, tapi makan siangnya ini yang ngga bisa di skip, kita bentar aja ya di pantainya, aku capek banget, pengen rebahan,” Abhi negosiasi pada teman-temannya.
“Iya,” kompak mereka menjawab.
Pantai dengan segala keindahannya memang tak bisa diabaikan, 3 gadis muda begitu kakinya menyentuh pasir putih begitu bahagia.
Mereka berlari dengan bahagia, tertawa, dan bermain air, sesuai kesepakatan tadi, mereka tidak akan lama di pantai, mereka langsung makan siang dan kembali ke kamar masing-masing, istirahat untuk memulihkan tenaga.
....
...
....
...
....
...
Bersambung ...
Lope you pull guys♥️
...Terima kasih🌹
...
Ayo baca ulang karyaku, ada perubahan yang agak besar loh, in syaa Allah alurnya aku ubah biar tambah cantik😚
Love you all😚