Ketika suaminya berselingkuh hingga menghamili wanita lain, tak ada lagi kata maaf yang tersisa di hati Nadia.
Dengan tekad yang bulat, ia mengajukan gugatan cerai. Tanpa menoleh ke belakang, Nadia memilih meninggalkan rumah megah yang selama ini menjadi tempat tinggalnya, beserta segala kemewahan yang pernah ia nikmati.
Baginya, harga diri dan ketenangan batin jauh lebih berharga daripada hidup bergelimang harta bersama seorang suami yang telah mengkhianati kepercayaan dan cinta yang selama ini ia jaga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5
Persahabatan mereka bukan baru terjalin kemarin sore. Sejak kecil, mereka tumbuh bersama. Orang tua mereka dahulu bersahabat karib. Bahkan saat kedua orang tua Nadia masih hidup, mereka sering bercanda bahwa kelak anak-anak mereka harus meneruskan persahabatan itu.
Dan ternyata, ucapan itu benar. Meski waktu telah membawa mereka sibuk dengan kehidupan masing-masing, Dila tetap menjadi orang pertama yang akan Nadia hubungi ketika dunianya terasa runtuh.
Dengan jemari yang masih gemetar, Nadia mencari nama Dila di daftar kontak. Telepon baru berdering sekali, panggilannya langsung diangkat.
"Assalamualaikum, Nad. Tumben malam-malam nelepon. Ada apa?" Suara ceria Dila membuat tenggorokan Nadia langsung tercekat.
Ia berniat berbicara biasa saja. Namun begitu mendengar suara sahabatnya, semua pertahanan yang ia bangun sejak tadi runtuh begitu saja. "Dil..." Hanya satu kata. Tangis Nadia langsung pecah.
"Nad?" Nada suara Dila berubah panik. "Kamu kenapa? Lagi di mana? Kian gimana?"
Dengan napas yang masih tersengal, Nadia berusaha menceritakan semuanya. Tentang Reno yang tidak pulang selama dua hari. Tentang kebohongan yang ia percaya mentah-mentah. Tentang Karin yang ternyata sedang mengandung anak Reno. Tentang keluarga Reno yang justru memintanya menerima perempuan itu sebagai istri kedua.
Di seberang sana, Dila terdiam cukup lama. Yang terdengar hanya embusan napasnya yang mulai tidak beraturan. "Kurang ajar..." gumamnya pelan.
Nadia kembali menangis. "Dil... aku nggak punya siapa-siapa lagi."
"Siapa bilang?" suara Dila langsung meninggi. "Kamu masih punya aku." Kalimat itu membuat Nadia kembali terisak. "Dengar ya, Nad." Dila berbicara dengan tegas. "Kamu jangan tidur di mobil, jangan juga balik ke rumah itu."
"Aku bingung harus ke mana."
"Ke rumahku." Nadia terdiam. "Mulai malam ini kamu sama Kian tinggal di rumahku dulu. Anggap aja rumahku rumahmu. Nggak usah mikirin apa-apa."
"Tapi aku takut ngerepotin...."
"Nadia!" potong Dila. "Kalau kita masih hitung-hitungan soal merepotkan, berarti selama ini kita bukan sahabat." Air mata Nadia kembali mengalir. "Aku serius. Aku lagi di rumah. Datang sekarang juga. Aku tunggu." Tanpa memberi kesempatan Nadia menolak lagi, Dila menutup telepon.
Nadia memandangi layar ponselnya beberapa saat. Untuk pertama kalinya malam itu, ia merasa tidak benar-benar sendirian. Ia menoleh kepada Kian yang sejak tadi duduk diam sambil memeluk tas ranselnya. "Kita ke rumah Tante Dila dulu, ya."
Mata Kian langsung berbinar. "Tante Dila?"
Nadia mengangguk sambil tersenyum tipis. "Iya."
Beberapa menit kemudian, koper dimasukkan ke bagasi. Nadia menyalakan mesin mobil, lalu melaju membelah jalanan yang masih basah oleh hujan. Malam itu, ia memang kehilangan rumah. Tetapi ia masih memiliki seseorang yang bersedia membuka pintunya tanpa bertanya apa pun. Dan bagi Nadia, itu sudah lebih dari cukup untuk membuatnya percaya bahwa setelah gelap, selalu ada cahaya yang menunggu di ujung jalan.
***
Malam semakin larut. Hujan yang sejak sore mengguyur kota akhirnya mulai reda, menyisakan suara tetesan air dari ujung-ujung atap rumah. Di kamar tamu, Kian sudah terlelap. Anak itu tampak kelelahan setelah malam yang begitu berat baginya. Ia bahkan masih memeluk tas ranselnya, seolah takut semua yang dimilikinya akan hilang jika dilepaskan.
Nadia berdiri beberapa saat di ambang pintu kamar, memperhatikan putra semata wayangnya yang tertidur dengan wajah polos. Perlahan ia menarik selimut hingga menutupi dada Kian, lalu mengecup keningnya sebelum keluar dan menutup pintu dengan pelan.
Di ruang keluarga, Dila sudah menunggu sambil menyeduhkan dua cangkir teh hangat. "Nih, minum dulu."
"Terima kasih." Nadia menerima cangkir itu dengan kedua tangan. Hangatnya teh sedikit mengusir dingin yang sejak tadi merambat ke tubuhnya.
Mereka kembali mengobrol. Kali ini lebih tenang. Nadia menceritakan semuanya secara runtut. Mulai dari kebohongan Reno selama dua hari terakhir, perselingkuhannya dengan Karin, keluarga mertuanya yang justru membela Reno, hingga pesan terakhir yang mengusirnya dari rumah.
Dila beberapa kali menggeleng tidak percaya. "Aku benar-benar nggak nyangka Reno bisa sejauh itu. Soalnya aku masih ingat banget bagaimana dia ngejar-ngejar kamu dahulu. Setelah menikah pun aku lihat dia semakin romantis, bahkan ketika Kian lahir, Reno terlihat paling bahagia."
Nadia hanya tersenyum hambar. "Aku juga. Bahkan sampai aku melihat sendiri dia berselingkuh, sikapnya masih sama baiknya padaku." Keheningan kembali menyelimuti ruang tamu. Setelah menghabiskan setengah cangkir teh, Nadia mengembuskan napas pelan. "Besok aku mulai cari kontrakan."
Dila langsung mengangkat wajah. "Kontrakan?"
"Iya. Yang penting dekat sekolah Kian."
"Nad, buat apa buru-buru?"
"Aku harus segera mulai hidup baru."
Dila meraih tangan sahabatnya. "Kalau soal tempat tinggal, nggak usah dipikirin dulu. Tinggallah di sini. Rumah ini juga sepi."
Nadia menggeleng pelan. "Aku sama Mas Bima belum punya anak. Kamar juga masih banyak." Dila tersenyum mencoba meyakinkan. "Anggap aja rumah sendiri."
Nadia membalas senyum itu dengan penuh rasa syukur. "Aku tahu kamu tulus."
"Terus kenapa nolak?"
Karena Nadia memahami satu hal yang sering dilupakan banyak orang. Persahabatan yang baik juga membutuhkan batas. "Aku sama kamu memang sahabatan dari kecil," ucapnya pelan. "Tapi bukan berarti aku boleh tinggal terlalu lama di rumah tanggamu." Dila terdiam. "Aku menghormati Mas Bima sebagai suamimu. Beliau memang orang baik, tapi aku nggak mau kehadiranku nanti tanpa sengaja mengganggu kenyamanan rumah tangga kalian."
"Kamu mikirnya kejauhan."
"Nggak." Nadia tersenyum tipis. "Justru karena aku ingin persahabatan kita tetap baik sampai tua."
Dila menatap sahabatnya dengan mata berkaca-kaca. "Aku cuma nggak tega lihat kamu berjuang sendirian. Setelah apa yang terjadi malam ini, aku sangat yakin kamu terluka, Nad. Kamu boleh terlihat biasa saja, tapi aku paham bagaimana kondisi hatimu saat ini!"
Nadia menggenggam tangan Dila. "Aku nggak sendirian." Dila mengernyit. "Aku punya Kian. Aku juga masih punya kamu." Suara Nadia terdengar jauh lebih mantap daripada beberapa jam sebelumnya. "Dan sekarang aku harus belajar berdiri di atas kakiku sendiri. Selama ini aku terlalu bergantung pada Reno. Aku nggak mau mengulang kesalahan yang sama."
Dila menghela napas panjang. Meski berat, ia mengerti keputusan sahabatnya. "Kalau begitu, besok aku ikut cari kontrakan."
"Nggak usah. Kamu pasti capek."
"Pokoknya aku ikut. Nggak ada penolakan."
Nadia tertawa kecil untuk pertama kalinya malam itu. Tawa yang sederhana. Namun cukup untuk membuat Dila yakin, sahabatnya itu perlahan mulai bangkit dari luka yang baru saja menghancurkan hidupnya. Meski jalan di depan masih panjang, Nadia telah mengambil langkah pertama, memilih untuk tidak terus hidup dalam bayang-bayang pengkhianatan. Dila mengembuskan napas panjang. Ia tahu betul sifat Nadia. Sekali perempuan itu mengambil keputusan, akan sangat sulit mengubah pikirannya. Dila menggenggam kedua tangan sahabatnya erat-erat. "Izinkan aku mengawal perjalananmu sampai kamu menemukan kebahagiaanmu lagi." Air mata Nadia kembali menggenang. "Meski tanpa Reno."