NovelToon NovelToon
Siasat Cantik Istri Bercadar

Siasat Cantik Istri Bercadar

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Lia Lby

Fatimah mengira pernikahan paksa dengan Rayhan Khalif adalah akhir dari impiannya.

Namun, saat ia mulai mencintai sang suami yang selalu memanjakannya, sebuah rahasia kelam terbongkar: Rayhan Khalif telah dijebak dan menikah siri dengan wanita dari masa lalunya.

​Alih-alih mengamuk, Fatimah menghadapi pengkhianatan ini dengan cara yang elegan.

Menggunakan strategi psikologis dan ketenangan yang mematikan, sang istri bercadar siap merebut kembali kebahagiaannya. Air mata berbalut iman, siasat paling mematikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lia Lby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia Air Mata Ibu

Di balik pintu kamar yang tertutup rapat, Fatimah duduk bersimpuh. Ia mendekatkan telinganya pada celah kayu, mencoba menangkap sayup-sayup percakapan dari ruang tamu.

Jantungnya bertalu kencang. Di ruang depan, Ustazah Zahra tengah berhadapan dengan ibunya, membuka jalan bagi sebuah kebenaran yang selama ini sengaja disembunyikan dari dirinya.

Di ruang tamu, suasana mendadak terasa begitu khidmat sekaligus mencekam. Ustazah Zahra membetulkan posisi duduknya, menatap Ibu dengan pandangan yang sarat akan empati namun tetap berwibawa.

"Begini, Bu."

Ustazah Zahra membuka suara, nadanya mengalir lembut bagai rintik gerimis.

"Kedatangan saya mengantarkan Fatimah hari ini, selain untuk mengembalikan putri Ibu yang saleha, juga untuk menyampaikan apa yang mengganjal di hatinya."

" Fatimah menemui saya pagi tadi dalam kondisi yang sangat rapuh."

"Dia merasa terpukul dengan keputusan perjodohan ini, terutama karena dia merasa haknya untuk menuntut ilmu telah direnggut, sementara adiknya mendapatkan hal tersebut."

Ustazah Zahra mengembuskan napas perlahan, menjaga agar kalimatnya tidak menyinggung.

"Pernikahan adalah ibadah yang sangat panjang, Bu."

" Memaksakan kehendak pada anak yang belum siap, terkadang bisa menjadi celah bagi hilangnya keberkahan."

" Sebagai gurunya, saya hanya ingin tahu, apakah tidak ada jalan tengah yang bisa diambil untuk masa depan Fatimah?"

Mendengar kalimat yang begitu santun namun menusuk langsung ke inti masalah, pertahanan Ibu seketika runtuh.

Bahu wanita paruh baya itu berguncang hebat. Sedetik kemudian, tangis yang sejak kemarin ditahannya di depan anak-anaknya akhirnya pecah di hadapan Ustazah Zahra.

Ibu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, terisak-isak hingga tubuhnya melemas.

"Astagfirullahaladzim... Ustazah..." rintih Ibu di sela tangisnya yang pilu.

"Demi Allah, tidak ada satu pun orang tua yang tegar melihat anaknya menangis seperti Fatimah semalam."

"Dada saya rasanya seperti disayat-sayat, Ustazah."

Ustazah Zahra menggeser duduknya, mengusap bahu Ibu dengan lembut, membiarkan wanita itu menumpahkan kesedihannya sejenak hingga suaranya kembali terdengar.

"Lalu, apa yang sebenarnya terjadi, Bu? Mengapa semuanya terkesan begitu terburu-buru?" tanya Ustazah Zahra lirih.

Ibu menyeka air matanya dengan ujung kerudung, menatap Ustazah Zahra dengan pandangan mata yang dipenuhi keputusasaan yang teramat dalam.

"Kami tidak punya pilihan lain, Ustazah. Ini semua demi Ayahnya Fatimah."

Ibu menarik napas panjang, mencoba menghentikan getaran di suaranya.

"Ayah Fatimah... dia jatuh sakit parah, Ustazah."

"Dokter bilang, ada penyakit dalam yang sudah menggerogoti tubuhnya, dan... dan umurnya sudah tidak lama lagi."

"Ayah sangat tahu kondisinya. Satu-satunya keinginan terakhir yang ingin dia lihat sebelum menutup mata adalah melihat salah satu anaknya menikah dan membina rumah tangga yang sah."

Tangis Ibu kembali luruh, kali ini lebih menyayat hati.

"Kami tidak mungkin menikahkan Faisal sekarang, Ustazah."

"Faisal baru saja lulus, dia belum punya pekerjaan tetap dan belum mampu menafkahi seorang istri."

" Sementara Fadia... Fadia masih sangat kekanak-kanakan, pikirannya hanya main dan belanja."

" Dia belum siap memikul tanggung jawab sebagai seorang istri. Hanya Fatimah..."

Ibu meremas jemari Ustazah Zahra, memohon pengertian.

"Hanya Fatimah anak kami yang paling dewasa, yang paling matang secara emosional, dan paling paham agama karena bimbingan dari pesantren."

"Pak Rayhan adalah orang baik yang siap menerima Fatimah apa adanya dan berjanji akan menjaganya."

" Kami tidak berniat menjual Fatimah atau bersikap tidak adil, Ustazah. Kami hanya ingin mengabulkan permintaan terakhir seorang ayah yang sedang menghitung hari..."

Di balik pintu kamar, Fatimah yang mendengarkan setiap patah kata ibunya mendadak membeku.

Seluruh pasokan udara di paru-parunya seolah lenyap seketika. Tubuhnya melemas, bersandar tak berdaya pada daun pintu.

Air matanya menetes tanpa suara, membasahi kain cadar yang masih melekat di wajahnya.

Kenyataan itu menghantamnya lebih keras dari apa pun. Badai yang ia kira adalah ketidakadilan orang tuanya, ternyata adalah sebuah bentuk cinta dan kepasrahan di ujung usia sang ayah.

1
Enz99
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!