"Satu Janji, Dua Dunia, dan Takdir yang Tertukar."
Di hari pernikahannya, Syarifah Khadijah Al-Eydrus kehilangan Habib Farhan, calon suaminya yang tewas dalam kecelakaan tragis. Melalui sebuah wasiat terakhir, Khadijah terpaksa dinikahi oleh Zaid, adik kandung Farhan yang tampan, dingin, sekaligus berandalan ketua geng motor.
Bagi Zaid, Khadijah hanyalah "titipan" yang menyesakkan. Di bawah satu atap, sang Hafizah berjuang dengan kesabaran, sementara Zaid terus memberontak dalam liarnya kehidupan malam. Namun perlahan, getaran asing mulai tumbuh di antara cadar dan jaket kulit.
Akankah Zaid berubah menjadi imam yang pantas, ataukah Khadijah selamanya hanya menjadi bayang-bayang masa lalu?
"Karena terkadang, Allah mematahkan hatimu hanya untuk mempertemukanmu dengan seseorang yang akan menjagamu selamanya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DI BAWAH LANGIT JOGJA, AKU MEMILIHMU
Malam di Yogyakarta selalu punya cara untuk melunakkan hati yang paling keras sekalipun.
Angin berembus pelan. Membawa aroma tanah basah habis hujan sore tadi. Dan wangi melati yang mekar di sudut halaman rumah Habib Abdullah. Suara jangkrik bersahutan. Lampu jalan kekuningan.
Setelah melewati tiga hari yang penuh dengan kedamaian di rumah mertuanya. Pengajian pagi. Makan bareng. Ditanya paman-paman.
Zaid merasa malam ini adalah waktu yang tepat. Waktu untuk menanggalkan semua topeng keangkuhan yang selama ini ia pakai. Topeng preman. Topeng cuek.
Zaid mengajak Khadijah ke balkon lantai dua. Balkon kecil dari kayu jati yang menghadap langsung ke arah hamparan sawah yang gelap dan kerlip lampu kota di kejauhan. Kota Jogja yang tidur.
Ia sudah menyiapkan dua cangkir susu jahe hangat. Masih mengepul. Ada irisan jahe dan serai. Diletakkan di atas meja kecil di antara dua kursi kayu panjang. Ada selimut juga.
Khadijah keluar dari pintu kamar dengan langkah anggun. Pelan.
Ia mengenakan gamis tidur berwarna biru muda. Bahan katun. Rambut panjangnya yang hitam legam ia biarkan terurai bebas sampai ke pinggang. Hanya tertutup pashmina tipis warna putih yang disampirkan di bahu untuk menghalau dinginnya udara malam.
Tanpa cadar. Tanpa hijab.
Wajahnya tampak begitu bersinar di bawah sinar bulan yang temaram. Kulitnya seperti pualam. Kecantikan yang selama ini hanya bisa Zaid bayangkan saat ia masih bercadar, kini ada nyata di depannya. Di jarak 30cm.
"Sini, Khadijah," Zaid mengulurkan tangannya. Tangannya yang besar. Membantu istrinya duduk di kursi kayu.
Zaid tidak langsung bicara. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi. Menatap langit malam Jogja yang bertabur bintang. Bintangnya banyak sekali. Tidak seperti di Jakarta.
Untuk pertama kalinya dalam 23 tahun hidupnya, Zaid merasa hatinya benar-benar tenang. Tenang yang dalam.
Tidak ada lagi kemarahan. Tidak ada lagi rasa bersalah pada masa lalu. Tidak ada lagi suara geng motor di kepala.
Yang ada hanyalah rasa syukur yang meluap. Karena wanita di sampingnya tidak pernah menyerah padanya. Tidak pernah meninggalkan.
"Khadijah," panggil Zaid pelan. Suaranya rendah dan dalam. Serak. Penuh getaran yang belum pernah didengar Khadijah sebelumnya. Getaran gugup.
"Iya, Mas?" Khadijah menoleh. Mendapati Zaid sedang menatapnya. Tatapan yang begitu dalam. Seolah sedang membaca setiap inci jiwanya. Seolah mau dihafal.
Zaid meraih tangan Khadijah. Dingin. Menggenggamnya dengan kedua tangan kekarnya yang biasanya kasar. Yang biasanya buat mukul.
Namun kini terasa begitu lembut dan protektif. Seperti memegang barang paling berharga.
"Selama ini aku selalu bilang kalau pernikahan kita adalah wasiat," Zaid memulai. Matanya masih menatap langit. "Aku selalu bilang aku menjagamu karena amanah dari Bang Farhan. Aku bilang aku nggak cinta. Aku bohong jika aku bilang aku tidak merasa terpaksa di awal. Aku marah. Aku ngerasa dijebak."
Khadijah terdiam. Matanya menatap lekat pada jemari Zaid yang bertautan dengan jemarinya. Jempol Zaid mengusap punggung tangannya pelan.
"Tapi malam ini," Zaid menghela napas panjang. Napasnya bergetar. "Di bawah langit Jogja ini. Di rumah mertua aku. Di tempat yang bikin aku ngerasa damai..."
Ia berdiri. Lalu berlutut di depan Khadijah. Di atas lantai kayu. Menatap langsung ke dalam mata bening istrinya yang mulai berkaca-kaca.
"Aku ingin menarik semua kata-kataku tentang keterpaksaan itu. Aku tarik. Aku batalkan."
Zaid membawa tangan Khadijah ke dadanya. Menempelkannya tepat di atas jantungnya. Di balik kemeja koko abu-abu.
Berdegup kencang. Duk duk duk. Seolah-olah ia sedang memacu motor Ninja-nya dalam kecepatan 200km/jam.
"Dengar ini, Khadijah," bisik Zaid. "Dengerin jantung aku."
Ia menelan ludah.
"Jantung ini dulu berdetak karena adrenalin di jalanan. Karena tawuran. Karena balapan. Karena takut dikejar polisi. Tapi sekarang..."
Air mata Khadijah luruh seketika. Satu. Dua. Membasahi pipinya yang kemerahan karena dingin.
"Jantung ini berdetak karena kamu," lanjut Zaid. Suaranya pecah. "Karena mikirin kamu. Karena takut kamu sedih. Karena seneng liat kamu senyum."
Ia mengangkat wajah Khadijah dengan kedua tangannya. Lembut.
"Kamu bukan lagi sekadar amanah bagiku. Kamu bukan titipan. Kamu bukan utang."
"Terus aku apa, Mas?" tanya Khadijah lirih. Suaranya bergetar.
"Kamu adalah tujuanku," jawab Zaid. Tegas. "Kamu adalah rumah yang selama ini kucari. Aku keliling dunia, tawuran sana-sini, mabok, nggak jelas. Tapi rumah yang aku cari ternyata ada di sini. Di kamu. Namun tidak pernah kutemukan di mana pun."
Zaid menarik napas.
"Aku mencintaimu, Syarifah Khadijah Al-Eydrus," ucap Zaid dengan penekanan di setiap kata. Jelas. "Bukan karena wasiat. Bukan karena kasihan. Bukan karena Abah nyuruh."
"Aku mencintaimu karena dirimu sendiri. Karena cara kamu doain aku pas aku berantem. Karena cara kamu masakin aku bakwan. Karena cara kamu sabar ngadepin aku yang brengsek ini."
"Aku mencintaimu dengan cara yang tidak pernah kubayangkan bisa kulakukan. Cara orang normal. Cara suami mencintai istri."
Zaid tersenyum. Air matanya ikut jatuh. Tapi ia tahan.
"Aku ingin menjadi imammu, Khadijah. Bukan hanya karena aku harus. Bukan karena di KUA. Tapi karena aku ingin. Aku ingin menghabiskan sisa hidupku menjagamu. Melindungi kamu. Nemenin kamu sampai tua."
Khadijah menarik napas dalam. Dadanya sesak. Mencoba menenangkan isaknya agar tidak terlalu keras.
Ia mengusap pipi Zaid yang kini ditumbuhi jambang tipis dengan penuh kasih. Jempolnya menghapus air mata di sudut mata Zaid.
"Mas Zaid..." panggil Khadijah. "Aku... aku sudah mencintaimu sejak pertama kali."
"Sejak kapan?" Zaid mengernyit.
"Sejak pertama kali aku melihat ketulusan di balik kemarahanmu," jawab Khadijah. "Pas kamu nganterin aku ke kamar pas malam pertama. Pas kamu milih tidur di sofa biar aku nyaman. Pas kamu nangis pas ziarah ke makam Kak Farhan."
"Aku mencintaimu karena kamu adalah laki-laki yang berani melawan egomu sendiri demi kebenaran. Demi aku. Kamu milih berubah, Mas."
Zaid tersenyum. Sebuah senyuman yang begitu tulus. Sampai lesung pipinya terlihat sempurna. Sampai matanya berbinar.
Ia bangkit dari duduknya. Lalu duduk kembali di samping Khadijah di kursi panjang.
Dan menarik wanita itu ke dalam pelukannya yang hangat dan kokoh. Erat.
Khadijah menyandarkan kepalanya di bahu Zaid. Di dada bidang itu. Menghirup aroma maskulin suaminya yang bercampur wangi susu jahe. Aroma yang kini terasa seperti aroma surga baginya.
Mereka diam lama. Hanya ada suara angin dan suara jantung.
"Berjanjilah satu hal padaku," bisik Zaid di atas kepala Khadijah. Napasnya menghangatkan rambut Khadijah.
"Apa itu, Mas?" Khadijah bertanya dari dalam pelukan.
"Jangan pernah tutup wajahmu di depanku lagi jika kita sedang berdua," pinta Zaid. "Di kamar. Di rumah. Aku tidak ingin melewatkan satu detik pun tanpa melihat bidadari yang dikirim Tuhan untuk menyelamatkanku. Untuk narik aku dari neraka."
Khadijah tertawa kecil di sela air mata bahagianya. Getar. "Iya, Mas. Janji. Hanya untukmu. Hanya Mas yang boleh lihat."
Zaid mengeratkan pelukannya. Mencium puncak kepala Khadijah. Lama.
Malam itu, di bawah saksi bisu kota Yogyakarta. Di bawah bintang dan bulan.
Zaid Al-Idrus benar-benar telah menanggalkan mahkota kegelapannya. Jaket kulitnya. Egonya. Masa lalunya.
Tidak ada lagi bayang-bayang Farhan di antara mereka. Tidak ada lagi "kamu mirip abang".
Hanya ada dua jiwa yang saling menemukan. Saling memilih. Di persimpangan takdir yang tak terduga.
Mereka tetap di sana. Di balkon itu. Berpelukan lama. Sampai susu jahenya dingin.
Menikmati detik-detik di mana cinta akhirnya menang. Menang telak atas segala keraguan. Atas segala luka. Atas segala wasiat.
Dan untuk pertama kalinya, Zaid tertidur malam itu dengan hati yang benar-benar damai. Karena ia tahu, ia sudah pulang.