NovelToon NovelToon
Saat Asa Berkahir Duka

Saat Asa Berkahir Duka

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Idola sekolah
Popularitas:160
Nilai: 5
Nama Author: TastyTeaTime Time

Sebelumya, bunga ini sempat kehilangan pesonanya, dengan kelopak menunduk, bahkan warnanya pudar. Namun, begitu air menyentuhnya, bunga itu pun mekar kembali, mengingatkan kita bahwa kebahagiaan bisa datang jika mau mengusahakannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TastyTeaTime Time, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 6

Valeska.

|Valeska, ini abang kamu ada di rumah kak Satya. Semalem dia ke sini jam satu.

|Kak Satya, abang kenapa?

|Nggak apa-apa, itu udah berangkat sekolah?

|Ini lagi di jalan, semalem aku nggak bisa tidur karena mikirin abang ...

|Ya ampun emang dasar nih anak setan.

|Izin marahin abangnya ya, biar nggak kebiasaan kalau setiap ada masalah kayak gini.

Pukul 06:30, Valeska sudah berangkat sekolah menggunakan taxi online. Kedua matanya terasa berat dan perih, lantaran semalam dirinya menangis dan baru bisa tidur pukul 02:15. Valeska memikirkan abangnya, karena tidak menjemput sewaktu di sekolah dan sampai larut malam Kaivandra tidak kunjung pulang ke apartemen. Rasa khawatir dan kesepian jelas menekan dadanya, membuat malam itu terasa panjang dan menyakitkan.

Udara pagi yang dingin menyapu wajahnya saat dia melangkah masuk menuju halaman SMA Mandala Kencana. Saat di kelas, dia tidak banyak berbicara dan langsung mengikuti kelas seperti biasa, kebetulan hari ini masih suasana ujian tengah semester, Valeska terus mengucek kedua matanya lantaran merasa kantuk dikombinasikan dengan rasa pusing yang kian terasa intens.

"Nanti, gue mau ke perpustakaan, mau ikut nggak?" tanya gadis di sebelahnya, saat mendengar bel berbunyi menandakan jam istirahat pertama telah tiba.

"Nggak, gue mau ke kantin aja." Lanjutnya, pelan.

"Gue disuruh nganterin kertas ujian sama Bu Findri. Valeska, lo ke kantin duluan aja, tar gue nyusul," ujar Anaya, lalu pergi keluar.

"Gue juga, mau ke lab dulu ya. Kalau nggak mau ikut, lo duluan aja ke kantin, ntar gue nyusul." Perkataan teman-temanya, hanya Valeska iyakan sebagai jawaban.

Di depan gedung jurusan, Valeska merasakan dunia seakan berputar. Langit tampak pudar, bahkan suara teman-teman yang lalu-lalang berubah samar, hingga akhirnya menghilang dalam kegelapan.

"Woi, itu dia kenapa?"

"Dia pingsan, bawa dia ke UKS!"

Beberapa kalimat yang sempat Valeska dengar, hingga setelahnya dia dihilangkan oleh kesadaran yang habis. Di depan gedung, mendadak ramai menyelimuti tempat Valeska terjatuh. Orang yang mengenali Valeska, tidak henti-hentinya memangil namanya dan meminta pertolongan. Beberapa dari mereka, membawa tubuh Valeska menuju UKS, dan langsung mendapatkan pertolongan dari seorang dokter sekolah yang sedang berjaga dan memeriksa kondisi Valeska dengan cermat. Detak jantungnya masih normal, tapi rona wajahnya begitu pucat.

"Dia sebaiknya dibawa ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut. Ini bisa jadi lebih dari sekadar kelelahan." Ujar seorang dokter di sekolah SMA Mandala Kencana.

Ketiga teman Valeska saling berpandangan, bingung harus bagaimana. Di saat seperti itu, mereka tahu bahwa, Valeska butuh lebih dari sekadar istirahat di UKS. Anaya pun berinisiatif menghubungi keluarganya, berharap Valeska segera dibawa ke rumah sakit agar mendapatkan perawatan yang memang dibutukan.

30 menit kemudian, Valeska terbangun dalam kondisi kepala berat dan pandangan buram. Hialng kesadaran dengan kurun waktu yang cukup lama, membuat tubuhnya terasa seperti hilang sebagian. Dia memaksa diri untuk menggenggam ponsel, Valeska mengetik pesan singkat untuk mama dan papa nya. Jika pesannya kemarin tidak mendapatkan balasan, dia akan mencobanya sekarang, siapa tahu dibalas.

"Mama,"

Baru juga satu menit, Valeska sudah mendapatkan balasan. "Iya sayang, kenapa? Mama udah nggak serumah lagi dengan papa kalian, dek. Abang udah ngasih tahu belum?" pertanyaan tersebut membuat Valeska berpikir. Apakah ini benar?

Valeska mengira, kalau selama ini orang tuanya satu rumah. Dan tidak berpisah seperti ini. Dan kenapa beritanya harus secepat ini? Tanpa ngasih aba-aba, kabar itu sampai dengan kondisi dirinya yang tidak bisa dikatakan baik.

Valeska tidak langsung membalas, dia beralih menelpon kepada papanya.

"Papa, ini adek."

"Adek, cantiknya Papa, kamu lagi apa, dek?" pertanyaan dari Girga, membuat hati Valeska sedikit menghangat.

"Adek lagi di sekolah, nunggu abang jemput,"

"Adek lupa ya? Kemarin 'kan Papa, undang kalian berdua buat makan malam, sekalian mau ngasih tahu sebenarnya papa udah nggak serumah lagi dengan mama kamu."

Bahkan dalam hal ini sang papa tidak menanyakan kenapa putri bungsunya ini dijemput secara tiba-tiba di sekolah, terlebih bukan di jam pulang. Apakah dia tidak memiliki feeling bahwa anaknya sedang sakit?

Balasan yang Valeska terima, seketika memukul jantungnya tanpa ampun. "Abang? Jelasin." Ucapnya kebetulan Kaivandra baru saja datang.

"Adek jadi paham, kenapa kemarin abang nggak jemput adek, abang nggak pulang ke apart, dan lebih milih pulang ke rumah kak Satya,"

"Dek, Abang nggak mau lihat adek sedih. Maaf ya cantiknya abang," Valeska menatap ke arah Kaivandra, dengan kondisi mata berkaca-kaca.

"Tahu gini, adek nggak usah bangun lagi, biarin adek pingsan selama-lamanya. Dada adek, sakit abang."

"Maafin abang, adek mau apa? Biar abang beliin sekarang,"

"Nggak mau," jawabnya singkat.

"Jangan kayak gitu ya, nanti abang ikutan sedih,"

"Harapan adek, untuk mempersatukan Mama dan Papa lebih kecil dari sebelumnya. Mereka semakin renggang,"

"Adek masih punya harapan itu kok, asal adek yakin, pasti bisa. Abang dukung usaha adek." Jawabnya meyakinkan sang adik.

"Valeska mengirim pesan pada grup keluarga bernama 'tak lagi sepaket'. Dia mencoba tegar, demi melihat orang tuanya senang, masalah dirinya senang atau tidak, itu urusan belakangan.

Tak lagi sepaket.

|Selamat ya, Mama dan Papa. Kalian senang, adek pun senang,

|Kalian sudah memulai kehidupan yang baru.

|Mungkin ini pertanda perpisahan antara Mama dan Papa, memang sudah takdir. Tak apa, tapi jangan lupakan abang dan adek ya.

|Maaf ya anak-anak.

"Adek ..." panggil Kaivandra.

"Mereka berhak seperti ini, kita sebagai anak, tidak perlu ikut campur terkait urusan orang dewasa."

|Anak-anak Papa, maafin Papa ya. Papa janji bakal rajin nengokin kalian berdua,

|Nggak perlu meminta maaf, Pa. Bukankah ini pilihan kalian berdua untuk berpisah? Maka darinya, berbahagialah, dengan keputusan kalian.

Detik itu juga dunia Valeska seperti berhenti berputar. Kalimat itu berputar di kepalanya, mengiris halus namun tajam. Ada perih yang menyelinap tanpa permisi, seperti badai yang datang diam-diam saat langit terlihat cerah.

Sesuatu dalam hatinya remuk, seakan-akan tanah tempat ia berpijak tiba-tiba lenyap, meninggalkan kekosongan yang tak tertahankan. Valeska mencoba menenangkan napasnya yang memburu, tapi air mata sudah lebih dulu tumpah. Tanpa berpikir panjang, ia memeluk tubuh Kaivandra dengan sangat erat. Ada pertanyaan besar yang menggantung di pikirannya, meronta meminta jawaban.

"Kenapa abang menyembunyikan ini? Kenapa abang, membiarkan adek terjerat dalam ketidaktahuan?"

Kaivandra menelan saliva nya susah payah, dia menghela napas lelah, seperti seseorang yang membawa beban berat di pundaknya terlalu lama.

"Adek ..." Ia memanggil adiknya dengan nada pelan, tapi itu justru membuat emosi Valeska semakin bergejolak.

"Kenapa, abang nggak bilang? Kenapa, abang sembunyikan semua ini dari, adek?" Suaranya bergetar, diantara marah dan sedih yang tak terbendung.

Kaivandra terdiam sejenak, mungkin mencari kata-kata yang tepat atau mungkin karena sadar tak ada kalimat yang cukup untuk menjelaskan semuanya.

"Abang nggak bermaksud menyembunyikan ini semua, Dek ... abang cuma nggak tahu gimana cara ngasih tahunya."

"Adek paham, semua pasti memiliki alasan, termasuk waktu abang nggak pulang semalem, iya kan? Semalem adek, nggak bisa tidur. Adek khawatir, dan abang memilih pulang ke rumah ka Satya, di bandingkan pulang ke apartemen dan ketemu adek, abang anggap adek apa?"

Pertanyaannya mengalir seperti arus deras, tanpa bisa dihentikan. Ia merasa kecewa, bukan hanya pada keadaan, tapi juga pada abangnya, tempat yang selalu merasaaman. Kaivandra menghela napas panjang, seolah menyerah pada kenyataan.

"Maafin abang ya, abang sudah keterlaluan. Kemarin abang nggak berani pulang dalam kondisi kacau, takut adek dijadikan sasaran. Adek paham'kan maksud Abang? Ternyata setelah menerima kabar Mama dan Papa, adek menerima itu semua tanpa berontak. Adek benar-benar anak yang kuat, abang sangat bangga,"

"Kalau adek kuat, masa tadi pingsan? Itu artinya, adek lemah." Jawabnya sembari tersenyum simpul.

Valeska menggigit bibirnya, menahan sesak di dada yang semakin menyiksa. Pada akhirnya, ia hanya ingin dipeluk, didengar, dan diyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tapi saat ini, yang ia dapatkan hanya penyesalan dari seorang abang yang juga sedang tersesat, sama seperti dirinya.

***

Sekitar pukul 15:00, Valeska mengajak abangnya untuk segera pulang. Dia ingin segera tidur di kamar yang sangat nyaman, sementara Kaivandra, dia tampak berpikir antara memilih pulang ke apartemen langsung, atau ke rumah sakit untuk chek kesehatan adiknya.

"Dokter, saya nggak apa-apa. Ini cuma kecapekan, saya nggak mau, bikin abang khawatir,"

Wanita berusia 30an itu hanya mampu menghela napas. "Tapi janji ya, jika ada keluhan lagi, kamu hubungi saya. Jangan pernah sungkan,"

"Nggak mungkin ada keluhan lagi, orang saya nggak kenapa-napa, Dokter. Kalau begitu, saya permisi." Jawabnya, setelah itu Valeska pergi dari tempat tersebut bersamaan dengan abangnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!