Chantika Rahardja adalah putri dari keluarga pebisnis yang memilih menjadi polwan. Saras, adik tirinya selalu iri dengan prestasi dan kecantikannya. Apalagi sang ayah selalu membandingkan mereka dan lebih membanggakan Chantika.
Saras menjebak Chantika untuk menemani pebisnis yang terkenal playboy agar mendapatkan investasi.
Tapi siapa sangka Chantika malah terlempar ke ranjang Enzo Arkan Pradana, bos mafia yang terkenal tak pernah menyentuh wanita. Pria yang akhirnya bisa tidur tanpa menelan obat saat bersama Chantika.
Kesalahan semalam itu membuat keduanya menikah, tanpa Chantika tahu siapa sebenarnya suaminya. Di balik identitasnya sebagai CEO sebuah perusahaan, pria itu menyembunyikan kekuasaan yang tak seorang pun berani menentangnya.
Seorang penegak hukum menikahi penjahat?
Bagaimana rumah tangga mereka jika Chantika tahu sang suami adalah seorang mafia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Kejujuran Seorang Putri
Perlahan Chantika menegakkan punggungnya. Tatapannya tak lepas dari map yang tergeletak di atas meja.
"Pa..." panggilnya pelan. "Map itu..."
Rahardja ikut mengalihkan pandangan ke arah map tersebut. "Itu kontrak investasi."
"Punya Papa?" tanya Chantika. "Maksudku... Papa yang mendapatkan investornya?"
Rahardja menggeleng. "Bukan. Saras yang membawanya."
Chantika terdiam sesaat. "Investornya..." Ia menelan ludah. "Bryan Adi Jaya?"
Rahardja langsung menoleh. "Kamu kenal dia?"
Chantika tidak segera menjawab.
Raut wajah putrinya yang tiba-tiba berubah membuat Rahardja perlahan meletakkan laptopnya di atas meja. Perhatian pria itu kini sepenuhnya tertuju pada Chantika.
"Ada apa?"
Chantika menundukkan kepala. Jemarinya saling menggenggam di atas pangkuan.
Rahardja mengembuskan napas pelan. "Chantika."
Wanita itu mengangkat wajah perlahan.
"Apa yang sedang kamu sembunyikan dari Papa?" Rahardja tidak mendesak. Nada suaranya tetap tenang. "Ingat, Nak. Kalau ada sesuatu yang kamu sembunyikan, cepat atau lambat semuanya akan terungkap."
Ia mengusap pelan punggung tangan putrinya. "Papa lebih menghargai kejujuran daripada kebohongan."
Tatapannya begitu hangat. "Kejujuran adalah pondasi kepercayaan."
Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan. "Kalau kamu memilih gak jujur sama Papa, berarti kamu belum sepenuhnya percaya kepada Papa."
Mata Chantika mulai memerah.
"Dan kalau putri Papa sendiri gak percaya kepada Papa..." Rahardja tersenyum tipis, meski sorot matanya menyimpan kesedihan. "...berarti Papa belum menjadi ayah yang cukup baik buat kamu."
Kalimat itu seolah menjadi benteng terakhir yang runtuh.
Chantika menundukkan wajah. Dadanya naik turun beberapa kali. "Pa..."
Suaranya bergetar. "Sebenarnya... malam saat aku gak pulang dan baru kembali keesokan paginya..."
Rahardja tidak memotong. Ia hanya mendengarkan.
"Aku diajak Saras menemui seorang investor."
"Bryan?" tanya Rahardja pelan.
Chantika mengangguk. "Awalnya aku juga merasa kurang nyaman karena pertemuan dilakukan di kamar hotel. Tapi Saras bilang dia hanya ingin ditemani. Aku pikir... karena aku polisi, setidaknya dia akan merasa lebih aman."
Rahardja mengangguk kecil, memberi isyarat agar Chantika melanjutkan.
"Di kamar itu kami bertiga. Beberapa saat kemudian Bryan meminta Saras mengambil berkasnya yang katanya tertinggal di mobil."
Rahardja masih diam.
"Lalu..." lanjut Chantika. "...tiba-tiba kepalaku mulai pusing."
Kedua tangan Rahardja perlahan mengepal di atas lututnya.
"Bryan berusaha melecehkanku."
Sorot mata Rahardja langsung berubah tajam. Namun ia tetap tidak menyela.
"Aku masih sempat melawan. Dan aku berhasil keluar dari kamar itu."
Napas Rahardja terdengar sedikit lebih berat.
"Setelah itu..." suara Chantika semakin lirih, "...Enzo menemukanku."
Rahardja memejamkan mata sejenak, seolah sedang menahan begitu banyak emosi.
"Dia menyelamatkanku."
Untuk sejenak, detik berlalu dalam keheningan.
"Lalu..." Chantika menggigit bibir bawahnya. "Karena pengaruh obat yang ada di tubuhku... malam itu memang terjadi sesuatu antara aku dan Enzo."
Rahardja tetap tidak berbicara. Ia hanya memejamkan mata sambil menarik napas panjang.
Chantika buru-buru melanjutkan. "Tapi kami sama-sama bertanggung jawab atas apa yang terjadi."
Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Dan kami memutuskan menikah bukan semata-mata karena kejadian malam itu."
Rahardja membuka matanya kembali. Tatapannya tertuju lurus kepada putrinya.
"Bahkan sebelum membahas pernikahan," lanjut Chantika, "Enzo sudah menghormatiku sebagai perempuan dan sebagai polisi. Dia gak pernah memintaku berhenti dari pekerjaanku. Dia juga gak pernah berusaha mengatur hidupku. Justru dia selalu bilang akan mendukung profesiku."
Chantika mengusap sudut matanya. "Itulah alasan kenapa aku yakin menerima lamarannya, Pa. Besok, dia akan ke rumah untuk melamar aku."
Rahardja kembali terdiam. Beberapa saat kemudian, pria paruh baya itu bangkit dari sofa.
Chantika ikut berdiri dengan jantung berdegup kencang. Ia sempat berpikir ayahnya akan marah.
Namun yang terjadi justru sebaliknya.
Rahardja melangkah mendekat, lalu menarik putrinya ke dalam pelukan. "Papa minta maaf..."
Suara pria itu terdengar berat. "Karena Papa gak ada di sana saat putri Papa butuh pertolongan."
Setelah merasa Chantika sedikit lebih tenang, Rahardja perlahan melepaskan pelukannya. "Papa bersyukur kamu masih selamat."
Chantika hanya mengangguk kecil.
Beberapa saat kemudian, Rahardja kembali menatap putrinya. "Itu semua yang kamu ketahui?"
Chantika menggeleng. "Belum, Pa. Aku juga merasa ada sesuatu yang janggal."
Rahardja memberi isyarat agar ia melanjutkan.
"Tadi aku kembali ke hotel dan melakukan penyelidikan. Aku juga meminta izin melihat rekaman CCTV."
Chantika mengeluarkan ponselnya, lalu membuka rekaman yang berhasil ia peroleh.
"Papa lihat dulu rekamannya. Nanti aku jelaskan hasil penyelidikanku."
Rahardja menerima ponsel itu. Tatapannya langsung tertuju pada layar.
Rekaman mulai diputar.
Di layar terlihat Chantika dan Saras memasuki lobby hotel, lalu berjalan menuju lift.
"Fakta pertama," ujar Chantika tenang. "Saras masuk ke hotel bersamaku."
Rahardja mengangguk pelan tanpa mengalihkan pandangan dari layar.
Beberapa saat kemudian, rekaman berpindah ke koridor kamar Bryan.
"Fakta kedua."
Terlihat Saras keluar lebih dulu dari kamar.
"Saras keluar dari kamar karena diminta Bryan mengambil berkas yang katanya tertinggal di mobil."
Rekaman berganti ke kamera lobby.
"Fakta ketiga." Chantika menunjuk layar. "Saras menyerahkan sesuatu yang diduga kunci kepada seorang pria."
Rahardja sedikit menyipitkan mata.
Rekaman kembali berganti ke area parkir.
"Fakta keempat."
Sebuah mobil keluar dari area hotel.
"Saras justru meninggalkan hotel menggunakan mobilnya sendiri. Bukan menuju mobil Bryan."
Tak lama kemudian, rekaman menunjukkan mobil yang sama kembali memasuki area hotel.
"Fakta kelima."
"Saras kembali ke hotel, lalu meminta pihak keamanan membantu mencariku."
Rahardja masih memilih diam.
Rekaman kembali dipercepat hingga memperlihatkan Saras masuk lagi ke kamar Bryan dan baru keluar keesokan paginya.
"Fakta keenam."
"Setelah pencarian itu tidak membuahkan hasil, Saras kembali ke kamar Bryan dan baru keluar keesokan paginya."
Rekaman berhenti.
Rahardja masih menatap layar ponsel yang telah menggelap. Ingatannya perlahan kembali pada pagi dua hari yang lalu.
Pagi itu Saras pulang ke rumah dengan langkah yang tampak sedikit berbeda. Ia bahkan sempat menghentikan putrinya.
"Kenapa jalanmu kayak gitu? Apa kamu sakit?"
"Tidak apa-apa, Pa. Tadi kakiku agak keseleo sedikit," jawab Saras sambil tersenyum tipis.
Saat itu Rahardja tidak menaruh curiga. Ia menganggap putrinya memang sedang kurang berhati-hati.
Namun kini...
Bayangan rekaman CCTV yang baru saja dilihatnya kembali terlintas. Saras masuk ke kamar Bryan pada malam hari. Dan baru keluar keesokan paginya dengan langkah yang juga terlihat tidak senormal biasanya. Kedua kejadian itu saling bertumpuk di dalam pikirannya.
"Jadi... pagi itu bukan karena keseleo?"
Rahardja mengembuskan napas pelan. Ia belum ingin menarik kesimpulan. Namun untuk pertama kalinya, penjelasan Saras mulai terasa sulit ia percaya.
Perlahan ia menyerahkan kembali ponsel itu kepada Chantika. "Menurutmu?"
Chantika menarik napas pelan. "Sebagai penyidik, aku belum bisa mengambil kesimpulan. Rekaman ini belum membuktikan kalau Saras sengaja menjebakku."
Ia berhenti sejenak. "Tapi... terlalu banyak kejanggalan."
...🔸🔸🔸...
..."Kejujuran mungkin menyakitkan untuk diucapkan, tetapi kebohongan akan jauh lebih menyakitkan saat akhirnya terungkap."...
..."Seorang ayah yang baik bukanlah yang selalu membela anaknya, melainkan yang berani mencari kebenaran tanpa kehilangan kasih sayangnya."...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Chantika masih mempertimbangkan untuk menggunakan cincin pemberian Enzo. Menunggu saat dan tempat yang tepat. Jangan sampai keputusannya salah.
Enzo dari jarak jauh mengenali gerakan kecil ibu jari Chantika
Duuh Chantika disandra - badannya, lehernya disikep tangan kekar lawan, ditodong pistol tepat di pelipisnya.
Penyandera minta disiapkan kendaraan.
Penyandera menyeret tubuh Chantika mundur selangkah demi selangkah.
Duuuuh malah terjadi tembak menembak.
Rizal kena sasaran tembak. Bersyukur mengenakan rompi anti peluru, kalau tidak sudah terlentang tinggal nama. Tapi peluru kedua menyerempet bahu kirinya.
Kalau Chantika tidak tepat waktu menerobos hujan peluru untuk melindungi Rizal dari dua pria bersenjata, tamat sudah riwayatnya.
Tembakan Chantika tepat sasaran, salah satu pria bersenjata langsung roboh. Yang satunya lagi berlindung.
Kuat ya Chantika menyeret Rizal dengan satu tangan untuk di bawa ke balik kontainer.
Enzo masih membiarkan istri dan anggota Resmob berlari keluar dari kejaran lawan yang semakin bertambah dari arah belakang.
Belum saatnya Enzo turun.
Chantika dan tim sudah terdesak, sekarang saatnya anting dilepas dan dilempar ketengah kerumunan.
Gelombang suara berfrekuensi tinggi efeknya luar biasa untuk mengalihkan perhatian lawan.
Seluruh pria bersenjata jadi terlihat kacau.
Chantika tidak menyia-nyiakan kesempat yang ada. Ia memberikan perintah menyerang.
Chantika memberikan tembakan perlindungan. Menyuruh anggotanya keluar.
Duuuh Chantika kehabisan peluru lagi. Rizal juga pelurunya tinggal sedikit.
Chantika membagikan penyumbat telinga pada rekan-rekannya. Dipakai nanti kalau terdesak kali.
Duuuhhh IPTU Chantika sudah dikenali oleh pemimpin lawan.
Saatnya timnya memakai penyumbat telinga, setelah Chantika bilang - sekarang.
Chantika dan timnya sudah dikepung
Waduuuh - komandannya tidak melihat situasi yang dihadapi Chantika dan timnya. Kelamaan datangnya tim bantuan.
Enzo si The Ghost dan seluruh tim yang sudah siap menolong Chantika.
Tak ada pilihan keluar selain mundur ke dermaga.
Waduh anggota perempuan terkena serpihan peluru dikakinya. Chantika segera menarik rompi rekannya.
Lawan lebih dari dua puluh orang.
Lawan yang dipanggil Bos meremehkan polisi, melihat cuma satu tim yang datang.
Melarang anak buahnya menghabis Chantika dan timnya. Instruksinya tangkap hidup-hidup.
Menatap Chantika yang berada dibawah hujan peluru memimpin anggotanya mundur dengan tenang.
Titik berdiri Enzo jauh amat. Beberapa ratus meter dari Chantika berada.
Jangan sampai tidak bisa memberikan perlindungan untuk Chantika.
Vito saja sangat khawatir dengan keselamatan Chantika.
Sepertinya yang buka pintu kontainer nomor tujuh belas anak buah Vito. Anak buah Vito jadi tahu isi kontainer minyak goreng.
Yang kena getahnya Chantika dan timnya ini.
Duuuh Chantika dan timnya dalam bahaya. Kepala Chantika hampir kena sasaran tembak.
Seruuuuu...ikut sport jantung membacanya
Enzo sendiri tahu lawan Chantika dan timnya bukan orang biasa.
Semoga saja Enzo tiba di kawasan pelabuhan belum terlambat.
Enzo pasti tahu apa resiko yang akan dihadapi Chantika serta timnya di sana.
Bagaimana bisa dengan tepat menyelesaikan laporan, kalau Saras sering meninggalkan kantor di jam kerja.
Kapok kau Saras. Tiga puluh menit belum ada di kantor, dianggap mengundurkan diri.
Akhirnya Saras mesti harus kembali ke kantor untuk menyelesaikan laporan evaluasi proyek.
Jangan harap bisa mengetahui siapa Enzo.
Tanggung jawab kerjaan diabaikan. Keperluan pribadi kepo siapa Enzo diutanakan. Dasar Saras. Macam begini kok mau jadi manajer.
Tidak bisa menjawab cepat pertanyaan dari Papanya. Keperluan pribadi.
Weleeehhh Saras
Enzo menyuruh Marco yang turun menemui Saras. Dan mengatakan tidak mengenal Saras.
Saras sangat kesal terhadap Marco yang tidak mengenalnya.
Mau ketemu kakak ipar kok sulit ya Saras 😁. Dianggurin satu jam di ruang tunggu.
Bisa jadi tuh Enzo yang menghubungi Papa mertua.
Di depan meja resepsionis, Saras bilang mau bertemu Enzo. Belum ada janji. Dia bilang adik iparnya.
Marco yang sudah dihubungi resepsionis, memberi tahu Enzo.
Dokumen pengiriman menyebutkan muatan berupa mesin industri.
Anak buah Vito sudah memastikan isi kontainer minyak goreng.
Pemiliknya belum diketahui. Pengawalnya kelompok bersenjata.
Chantika memimpin tim surveillance.
The Ghost dan anak buahnya malam nanti juga akan menggagalkan penyelundupan minyak goreng.
Pertempuran nanti malam bakal seru.