NovelToon NovelToon
Suami Mafia Sang Polwan

Suami Mafia Sang Polwan

Status: sedang berlangsung
Genre:Roman-Angst Mafia / Menyembunyikan Identitas / CEO
Popularitas:33.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

Chantika Rahardja adalah putri dari keluarga pebisnis yang memilih menjadi polwan. Saras, adik tirinya selalu iri dengan prestasi dan kecantikannya. Apalagi sang ayah selalu membandingkan mereka dan lebih membanggakan Chantika.

Saras menjebak Chantika untuk menemani pebisnis yang terkenal playboy agar mendapatkan investasi.

Tapi siapa sangka Chantika malah terlempar ke ranjang Enzo Arkan Pradana, bos mafia yang terkenal tak pernah menyentuh wanita. Pria yang akhirnya bisa tidur tanpa menelan obat saat bersama Chantika.

Kesalahan semalam itu membuat keduanya menikah, tanpa Chantika tahu siapa sebenarnya suaminya. Di balik identitasnya sebagai CEO sebuah perusahaan, pria itu menyembunyikan kekuasaan yang tak seorang pun berani menentangnya.

Seorang penegak hukum menikahi penjahat?

Bagaimana rumah tangga mereka jika Chantika tahu sang suami adalah seorang mafia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26. Kejujuran Seorang Putri

Perlahan Chantika menegakkan punggungnya. Tatapannya tak lepas dari map yang tergeletak di atas meja.

"Pa..." panggilnya pelan. "Map itu..."

Rahardja ikut mengalihkan pandangan ke arah map tersebut. "Itu kontrak investasi."

"Punya Papa?" tanya Chantika. "Maksudku... Papa yang mendapatkan investornya?"

Rahardja menggeleng. "Bukan. Saras yang membawanya."

Chantika terdiam sesaat. "Investornya..." Ia menelan ludah. "Bryan Adi Jaya?"

Rahardja langsung menoleh. "Kamu kenal dia?"

Chantika tidak segera menjawab.

Raut wajah putrinya yang tiba-tiba berubah membuat Rahardja perlahan meletakkan laptopnya di atas meja. Perhatian pria itu kini sepenuhnya tertuju pada Chantika.

"Ada apa?"

Chantika menundukkan kepala. Jemarinya saling menggenggam di atas pangkuan.

Rahardja mengembuskan napas pelan. "Chantika."

Wanita itu mengangkat wajah perlahan.

"Apa yang sedang kamu sembunyikan dari Papa?" Rahardja tidak mendesak. Nada suaranya tetap tenang. "Ingat, Nak. Kalau ada sesuatu yang kamu sembunyikan, cepat atau lambat semuanya akan terungkap."

Ia mengusap pelan punggung tangan putrinya. "Papa lebih menghargai kejujuran daripada kebohongan."

Tatapannya begitu hangat. "Kejujuran adalah pondasi kepercayaan."

Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan. "Kalau kamu memilih gak jujur sama Papa, berarti kamu belum sepenuhnya percaya kepada Papa."

Mata Chantika mulai memerah.

"Dan kalau putri Papa sendiri gak percaya kepada Papa..." Rahardja tersenyum tipis, meski sorot matanya menyimpan kesedihan. "...berarti Papa belum menjadi ayah yang cukup baik buat kamu."

Kalimat itu seolah menjadi benteng terakhir yang runtuh.

Chantika menundukkan wajah. Dadanya naik turun beberapa kali. "Pa..."

Suaranya bergetar. "Sebenarnya... malam saat aku gak pulang dan baru kembali keesokan paginya..."

Rahardja tidak memotong. Ia hanya mendengarkan.

"Aku diajak Saras menemui seorang investor."

"Bryan?" tanya Rahardja pelan.

Chantika mengangguk. "Awalnya aku juga merasa kurang nyaman karena pertemuan dilakukan di kamar hotel. Tapi Saras bilang dia hanya ingin ditemani. Aku pikir... karena aku polisi, setidaknya dia akan merasa lebih aman."

Rahardja mengangguk kecil, memberi isyarat agar Chantika melanjutkan.

"Di kamar itu kami bertiga. Beberapa saat kemudian Bryan meminta Saras mengambil berkasnya yang katanya tertinggal di mobil."

Rahardja masih diam.

"Lalu..." lanjut Chantika. "...tiba-tiba kepalaku mulai pusing."

Kedua tangan Rahardja perlahan mengepal di atas lututnya.

"Bryan berusaha melecehkanku."

Sorot mata Rahardja langsung berubah tajam. Namun ia tetap tidak menyela.

"Aku masih sempat melawan. Dan aku berhasil keluar dari kamar itu."

Napas Rahardja terdengar sedikit lebih berat.

"Setelah itu..." suara Chantika semakin lirih, "...Enzo menemukanku."

Rahardja memejamkan mata sejenak, seolah sedang menahan begitu banyak emosi.

"Dia menyelamatkanku."

Untuk sejenak, detik berlalu dalam keheningan.

"Lalu..." Chantika menggigit bibir bawahnya. "Karena pengaruh obat yang ada di tubuhku... malam itu memang terjadi sesuatu antara aku dan Enzo."

Rahardja tetap tidak berbicara. Ia hanya memejamkan mata sambil menarik napas panjang.

Chantika buru-buru melanjutkan. "Tapi kami sama-sama bertanggung jawab atas apa yang terjadi."

Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Dan kami memutuskan menikah bukan semata-mata karena kejadian malam itu."

Rahardja membuka matanya kembali. Tatapannya tertuju lurus kepada putrinya.

"Bahkan sebelum membahas pernikahan," lanjut Chantika, "Enzo sudah menghormatiku sebagai perempuan dan sebagai polisi. Dia hak pernah memintaku berhenti dari pekerjaanku. Dia juga gak pernah berusaha mengatur hidupku. Justru dia selalu bilang akan mendukung profesiku."

Chantika mengusap sudut matanya. "Itulah alasan kenapa aku yakin menerima lamarannya, Pa. Besok, dia akan ke rumah untuk melamar aku."

Rahardja kembali terdiam. Beberapa saat kemudian, pria paruh baya itu bangkit dari sofa.

Chantika ikut berdiri dengan jantung berdegup kencang. Ia sempat berpikir ayahnya akan marah.

Namun yang terjadi justru sebaliknya.

Rahardja melangkah mendekat, lalu menarik putrinya ke dalam pelukan. "Papa minta maaf..."

Suara pria itu terdengar berat. "Karena Papa gak ada di sana saat putri Papa butuh pertolongan."

Setelah merasa Chantika sedikit lebih tenang, Rahardja perlahan melepaskan pelukannya. "Papa bersyukur kamu masih selamat."

Chantika hanya mengangguk kecil.

Beberapa saat kemudian, Rahardja kembali menatap putrinya. "Itu semua yang kamu ketahui?"

Chantika menggeleng. "Belum, Pa. Aku juga merasa ada sesuatu yang janggal."

Rahardja memberi isyarat agar ia melanjutkan.

"Tadi aku kembali ke hotel dan melakukan penyelidikan. Aku juga meminta izin melihat rekaman CCTV."

Chantika mengeluarkan ponselnya, lalu membuka rekaman yang berhasil ia peroleh.

"Papa lihat dulu rekamannya. Nanti aku jelaskan hasil penyelidikanku."

Rahardja menerima ponsel itu. Tatapannya langsung tertuju pada layar.

Rekaman mulai diputar.

Di layar terlihat Chantika dan Saras memasuki lobby hotel, lalu berjalan menuju lift.

"Fakta pertama," ujar Chantika tenang. "Saras masuk ke hotel bersamaku."

Rahardja mengangguk pelan tanpa mengalihkan pandangan dari layar.

Beberapa saat kemudian, rekaman berpindah ke koridor kamar Bryan.

"Fakta kedua."

Terlihat Saras keluar lebih dulu dari kamar.

"Saras keluar dari kamar karena diminta Bryan mengambil berkas yang katanya tertinggal di mobil."

Rekaman berganti ke kamera lobby.

"Fakta ketiga." Chantika menunjuk layar. "Saras menyerahkan sesuatu yang diduga kunci kepada seorang pria."

Rahardja sedikit menyipitkan mata.

Rekaman kembali berganti ke area parkir.

"Fakta keempat."

Sebuah mobil keluar dari area hotel.

"Saras justru meninggalkan hotel menggunakan mobilnya sendiri. Bukan menuju mobil Bryan."

Tak lama kemudian, rekaman menunjukkan mobil yang sama kembali memasuki area hotel.

"Fakta kelima."

"Saras kembali ke hotel, lalu meminta pihak keamanan membantu mencariku."

Rahardja masih memilih diam.

Rekaman kembali dipercepat hingga memperlihatkan Saras masuk lagi ke kamar Bryan dan baru keluar keesokan paginya.

"Fakta keenam."

"Setelah pencarian itu tidak membuahkan hasil, Saras kembali ke kamar Bryan dan baru keluar keesokan paginya."

Rekaman berhenti.

Rahardja masih menatap layar ponsel yang telah menggelap. Ingatannya perlahan kembali pada pagi dua hari yang lalu.

Pagi itu Saras pulang ke rumah dengan langkah yang tampak sedikit berbeda. Ia bahkan sempat menghentikan putrinya.

"Kenapa jalanmu kayak gitu? Apa kamu sakit?"

"Tidak apa-apa, Pa. Tadi kakiku agak keseleo sedikit," jawab Saras sambil tersenyum tipis.

Saat itu Rahardja tidak menaruh curiga. Ia menganggap putrinya memang sedang kurang berhati-hati.

Namun kini...

Bayangan rekaman CCTV yang baru saja dilihatnya kembali terlintas. Saras masuk ke kamar Bryan pada malam hari. Dan baru keluar keesokan paginya dengan langkah yang juga terlihat tidak senormal biasanya. Kedua kejadian itu saling bertumpuk di dalam pikirannya.

"Jadi... pagi itu bukan karena keseleo?"

Rahardja mengembuskan napas pelan. Ia belum ingin menarik kesimpulan. Namun untuk pertama kalinya, penjelasan Saras mulai terasa sulit ia percaya.

Perlahan ia menyerahkan kembali ponsel itu kepada Chantika. "Menurutmu?"

Chantika menarik napas pelan. "Sebagai penyidik, aku belum bisa mengambil kesimpulan. Rekaman ini belum membuktikan kalau Saras sengaja menjebakku."

Ia berhenti sejenak. "Tapi... terlalu banyak kejanggalan."

 

...🔸🔸🔸...

..."Kejujuran mungkin menyakitkan untuk diucapkan, tetapi kebohongan akan jauh lebih menyakitkan saat akhirnya terungkap."...

..."Seorang ayah yang baik bukanlah yang selalu membela anaknya, melainkan yang berani mencari kebenaran tanpa kehilangan kasih sayangnya."...

..."Nana 17 Oktober"...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
Ass Yfa
Enzo udah manggil istriku..kayak stlah kejadian mlm itu..Enzo udah melegalkan perniahannya deh..nyuruh asistennya daftarin secara negara
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lanjutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya, Kak 🙏🙏🙏
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lankutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya, Kak 🙏🙏🙏
Fadillah Ahmad
Maaf Kak Nana... Ini maksudnya gimana ya Kak Nana? Kalimat Chsntika ysng mengatakan "Dia hak pernah memintaku berhenti dari Pekerjaan" Aku bingung di bagian "Hak" itu loh Kak Nana... 😁😁😁🙏
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lanjutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Ssmangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya, Kak 🙏🙏🙏
Fadillah Ahmad
Betul Sekali Chsntika... Karena Map itulah, kau di jebak oleh adikmu sendiri tau... 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lanjutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya Kak 🙏🙏🙏
Fadillah Ahmad
Gampang Enzo... Tarok aja harga dirimi di bokongmu sendiri... 😂😂😂 Gampang kan? 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Kalau ada kalimat begini, pasti afa hal buruk yang akan terjadi nih... Perasaanku mulai nggk enak nih Kak... 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lanjutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Aku sudah ketimggalan kauh mih Kak Nana... 😁😁😁 Jadi belum bisa lomen sampai puluhan komen... 😁😁😁 Ketinggalan jauh banget nih Kak... 😁😁😁🙏

Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya, Kak 🙏🙏🙏
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lanjutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Tuan Rahardja nggk bisa Kamj tipu Saras... 😂😂😂 Dia bukan orang baru, di dunia bisnis... 😂😂😂 Sekaramg Apalagi alasan ysng akan kamu berikan? ha? 😂😂😂

Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya, Kak 🙏🙏🙏
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lanjutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya, Kak 🙏🙏🙏
Fadillah Ahmad
Maaf Kak Nana... kalimat ini Maksudnya gimana ya Kak 'Darinya berkerut samar' atau 'Dahinya berkerut samar' Kak Nana? 😁😁😁 Aku bingung nih Kak Nana... 😁😁😁
Sugiharti Rusli
apalagi dia sebentar lagi juga jadi calon menantu yang sangat bucin sama putri kamu itu🤩🤩🤩
Sugiharti Rusli
tenang saja tuan Rahardja, setelah tahu kecurangan dari calon investor yang diajukan si Saras, ada calon investor lain yang lebih kompeten sih nanti😅😅😅
Sugiharti Rusli
mana bikin perintah dadakan dan juga dengan waktu yang mepet pulak, sepertinya kamu memang sudah teruji Marco😂👏👏
Sugiharti Rusli
namanya juga bos besar yah, tapi tenang saja dan berharap sama calon nyonya bis yang lebih manusiawi😄😄😄
Sugiharti Rusli
sabar yah Marco dengan sifat bos kamu yang terkadang suka seenaknya sendiri😅
Yunita Sophi
Enzo bilang yg sederhana tp itu... ada HOTEL ada VILLA dan jg SAHAM sampai 30 persen? wow Enzo sampe segitu cinta nya sama Chantika...😍😍
partini
Sandra anak nya atau anak istrinya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!