Novel ini adalah sequel dari Novel karya author yang berjudul Perjalanan Istimewa.
Novel ini berkisah tentang Shima Killa Danurdara, Adik bungsu dari Bopo Arjuna dan juga Bahuraska Adiwangsa, putra Arjuna yang merupakan Bopo Muda Desa Banyu Alas.
Tak hanya itu, di Novel ini juga menceritakan mengenai Bima, adik angkat Aka yang menjadi orang paling dekat dengan Aka dan selalu menemani setiap langkah Aka.
Bagaimanakah perjalanan masa kecil mereka?
Ikuti kisah Shima dan Bahuraska (Aka) juga Bimantara di Novel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Si Belang
"Kalian cari kayu untuk bikin api unggun dulu." Titah Arjuna pada anak-anak. Sementara, ia dan Dipta sedang sibuk membuat tenda untuk bermalam.
"Tapi jangan jauh-jauh, ya. cari di sekitar sini aja." Imbuh Arjuna kemudian.
Keempat bocah itu pun segera menjalankan apa yang di perintahkan oleh Arjuna. Mereka mencari ranting-ranting kering yang akan di gunakan untuk bahan bakar perapian.
"Bim, punyamu kok kecil-kecil banget rantingnya? Yang besar lah." Kata Satrio.
"Aku gak bisa bawanya nanti, kalau yang besar-besar, Kak." Jawab Bima.
"Alasan aja kamu ini, Bim. Badanmu kan besar, masak bawa ranting aja gak bisa." Sahut Bagas.
"Yang penting kan aku cari ranting, Mas." Sergah Bima.
"Tapi nanti kalau kurang, gimana? Emangnya kamu mau, kita gelep-gelepan?" Cicit Bagas yang membuat Bima berpikir.
"Yaudah lah, aku cari lagi yang besar." Ujar Bima yang kemudian menjatuhkan ranting-ranting kecil yang sudah ia kumpulkan.
Setelah mendapatkan cukup banyak ranting, mereka segera membawa ranting-ranting itu kembali ke tenda.
"Loh! Dek Bima mana?" Tanya Arjuna saat Aka, Satrio dan Bagas kembali dengan membawa ranting yang mereka dapatkan.
"Tadi ada kok." Jawab Aka sambil celingukan.
"Ada dimana, Mas?" Tanya Arjuna.
"Tadi sama kita, kan?" Tanya Aka pada dua saudaranya.
"Iya, Pak Ade. Tadi ada di belakang kita. Bima cuma bawa sedikit rantingnya." Jawab Bagas.
"Ooiii!" Terdengar suara Bima dari balik semak-semak.
"Nih! Aku bawa belarak (dahan pohon kelapa) besar." Kata Bima sambil menarik dahan kelapa besar.
"Ya Allah." Kekeh Arjuna yang geleng-geleng kepala.
"Kok ya bawa belarak yo, Bim..." Kata Dipta yang ikut terkekeh.
"Biar kita gak gelep-gelepan nanti malem. Kata Mas Bagas, kalau ambil rantingnya kecil-kecil, nanti kita gelep-gelepan karena kayunya kurang." Jawab Bima.
"Ya kita gak bakal kegelepan lah, Le. Kan kita bawa lampu emergency." Ujar Arjuna.
"Huh! Tau gitu tadi aku gak cari-cari yang besar. Udah susah-susah nyeretnya kesini." Kata Bima yang kembali membuat Arjuna dan Dipta tertawa.
"Udah-udah. Ayo kita wudhu, siap-siap sholat magrib." Ajak Arjuna.
"Kita wudhu dimana, Pak Ade?" Tanya Bagas.
"Kita wudhu di sungai." Jawab Arjuna.
"Yeee!" Girang Satrio dan Bagas.
"Hee! Wudhu aja lho ya, gak berenang. Kalau mau berenang, besok pagi." Kata Dipta sambil meraup wajah Satrio dan Bagas.
"Yaah...." Lirih keduanya dengan lesu.
Mereka bersama-sama menuju ke sungai untuk mengambil wudhu dan stok air. Meski mereka bermalam tak terlalu jauh dari sungai, namun Arjuna cukup malas untuk bolak-balik jika memerlukan air di malam hari. Setelah selesai, mereka pun kembali ke tenda untuk sholat magrib berjamaah.
"Kita gak bikin api unggun, Mo?" Tanya Bima.
"Bikin, dong. Sekalian kita bakar ayam dan sosis yang di bawain Mbun." Jawab Arjuna yang membuat mereka girang.
Arjuna di bantu dengan Dipta, mulai menyusun kayu untuk membuat api, sementara Aka, Bima, Bagas dan Satrio hanya melihat dari tepi tenda.
"Wahh Pak Ade Juna sama Pakde Dipta hebat!" Kata Bagas sambil bertepuk tangan saat melihat api yang mulai membesar.
"Alah, jaaan! Anak Kota." Kekeh Arjuna sambil geleng-geleng kepala.
"Eh! Itu burung apa? Kok serem?" Tanya Satrio sambil melihat ke arah salah satu dahan pohon.
"Oh, itu burung hantu." Jawab Aka.
"Burung hantu, sini!" Panggil Bagas.
Aka kemudian menjentikkan jarinya untuk memanggil burung hantu yang sedang bertengger sembari melihat ke arah mereka. Burung hantu itu pun langsung terbang menghampiri ketika Aka menjentikkan jarinya.
"Kok bisa terbang kesini? Emang dia ngerti bahasa manusia?" Tanya Bagas yang bingung saat melihat burung hantu itu tiba-tiba datang.
"Pasti Mamas yang panggil, kan?" Kata Bima.
"Oh iya! Mamas kan bisa panggil semua hewan di hutan, ya." Kata Bagas sambil menepuk dahinya karena baru ingat jika Aka memiliki kemampuan itu.
"Kata siapa, Mamas bisa panggil hewan di hutan?" Tanya Arjuna.
"Kan Mamas pernah panggil hewan-hewan yang ada di hutan waktu kita main di hutan." Jawab Satrio.
"Tapi Mamas gak panggil belang kok, Mo." Timpal Bima yang tentu hendak melindungi Aka.
"Itu juga bukan Mamas yang panggil." Kata Aka sambil menunjuk ke arah seekor Harimau yang sedang mengintip dari balik semak-semak.
"Huaaaaaa!" Teriak Satrio dan Bagas.
"Astaghfirullah!" Seru Dipta yang langsung melompat karena terkejut saat melihat Harimau yang di tunjuk oleh Aka.
"Ya Allah! Ngaget-ngagetin aja." Ujar Arjuna sambil mengusap dadanya.
"Romo yang panggil ya?" Tanya Aka.
"Enggak tuh, Romo gak manggil." Jawab Arjuna yang memang tidak memanggil si Belang.
"Terus, kenapa kok Belang kesini?" Tanya Aka.
"Ya Romo juga gak tau lah, Mas." Jawab Arjuna sambil mengedikkan bahunya.
Sementara itu, Belang masih berdiri di tempatnya. Ia sama sekali tak melangkah maju atau bergeser dari balik semak-semak. Hanya kepalanya saja yang menyembul keluar dan menatap ke arah Arjuna.
"Kangen sama kamu mungkin, Mas." Ujar Dipta yang kini memeluk Satrio dan Bagas yang ketakutan.
"Iya tuh, kangen sama Romo kalik." Timpal Bima.
"Pak Ade... Nanti kalau kita dimangsa Harimau, gimana?" Tanya Bagas dengan suara bergetar karena takut.
"Enggak. Tenang aja, dia gak akan macem-macem kalau Bagas gak nakal." Ujar Arjuna yang menenangkan Keponakannya.
"Bagas gak nakal kok, Pak Ade." Ujar Bagas yang justru membuat Arjuna terkekeh.
"Kalian mau lihat Harimau dari dekat, gak?" Tanya Arjuna pada Bagas dan Satrio.
"Mauuu!" Sahut Bima.
"Romo nanyain Bagas sama io, Bim. Kamu kan udah pernah lihat dari deket." Kata Aka sambil menatap gemas ke arah Bima.
"Tapi dia gak gigit kita, Kan?" Tanya Satrio untuk memastikan. Ia merasa takut, tetapi juga penasaran.
"Kalau yang ini, enggak. Tapi, io sama Bagas gak boleh sembarangan dekat binatang buas kalau di tempat lain." Ujar Arjuna yang di jawab anggukan mengerti Bagas dan Satrio.
Arjuna kemudian menepuk tanah sebanyak tiga kali, seolah sedang meminta Belang untuk menghampirinya.
Dengan langkah yang gagah, Belang berjalan pelan mendekati Arjuna. Ia kemudian duduk di belakang Arjuna dan langsung menempelkan kepalanya dengan manja ke punggung Arjuna.
"Loh! Harimaunya nurut sama Pak Ade." Kata Bagas yang nampak antusias saat melihat Harimau besar yang ada di dekatnya.
"Iya! Kayak kucing ya, Pak Ade, kalau Harimaunya lagi manja kayak gitu." Ujar Satrio sambil terkekeh.
"Iiih! Gemes banget." Komentar Bagas yang merasa gemas.
"Jadi belang kangen sama Romo aja, gak sama aku juga?" Protes Aka sambil menatap Belang.
lhah gimna Romo mu gk tau Mas 🤭🤭🤭 wong Romo juga sakti mandra guna 😀😀😀 tp sok ben luweh sakti Mas Aka ✌️✌️✌️ piihhhh Mas Jun jangan marah 😀😀😀
Alah2 Bima leh so sweetttt 🤭🤭🤭 padine kangen Mas Aka 3 dino ora kepetuk ora ng sg dijarak i 🤣🤣🤣
wong romo-mu bopo istimewa
tapi masih istimewa dirimu kok Ka
apapun itu semoga bermanfaat tnpa ada efek berbahayanya
lah mama's mama's aneh bin ajaib romomu kuwi titisan bopo pertama loh