Eloise Morgan, mantan tentara yang dikhianati, terbangun menjadi Bellatrix Alexandra Volkov putri Duke Volkov yang sombong, terobsesi, dan memaksakan pertunangan dengan Putra Mahkota Thiago Felipe Albarado. Awalnya Thiago sangat tidak menyukainya dan merasa terganggu. Namun setelah jiwa baru hadir, Bellatrix membuang segala sifatnya yang dulu, menguasai sihir air, memiliki cincin dimensi dan bertekad hidup mandiri. Ia bahkan berniat memutuskan pertunangan itu. Tapi justru saat Bellatrix mulai menjauh dan tidak lagi mengejarnya, Thiago malah merasa tidak senang dan tidak terima. Sikap dingin dan percaya diri Bellatrix membuatnya penasaran, hingga sang pangeran yang menguasai sihir api itu justru berusaha mempertahankan ikatan yang dulunya ia benci.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeje Jennifer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesepakatan
Di ujung jalan yang agak sepi, tidak terlalu jauh dari pusat keramaian namun cukup tersembunyi dari pandangan umum, suasana tiba-tiba berubah dari damai menjadi menegangkan. Bellatrix yang sedang berjalan santai sambil memandangi jajaran bunga di pinggir jalan, tiba-tiba mendengar suara tangisan anak perempuan yang menyayat hati dari balik tumpukan kotak kayu dan pagar tanaman yang lebat.
Ia mengerutkan kening, rasa ingin tahunya berubah menjadi kewaspadaan. Ia melangkah perlahan mendekati sumber suara itu, menyembunyikan tubuhnya di balik tiang besar, dan mengintip ke dalam.
Di sana terlihat seorang gadis kecil berusia sekitar delapan tahun, berpakaian sederhana namun bersih, sedang duduk bersandar di dinding sambil menangis ketakutan. Di depannya berdiri tiga orang pria bertubuh besar dengan pakaian yang kotor dan wajah yang penuh niat jahat. Mereka adalah kelompok preman yang sering mengganggu warga lemah jika tidak ada pengawasan.
“Sudahlah menangisnya, gadis kecil. Cukup berikan apa yang kau bawa, lalu ikut kami dengan tenang, dan tidak akan ada yang menyakitimu,” kata salah satu pria itu dengan suara kasar, matanya melotot penuh nafsu serakah.
“Tidak… tolong lepaskan aku… Ayah dan Ibuku sedang menungguku,” jawab gadis kecil itu tergagap, suaranya terputus-putus karena takut.
“Diam saja! Siapa yang akan mendengarmu di sini? Tidak ada orang yang akan peduli dengan anak miskin sepertimu,” seru pria lain sambil mengulurkan tangannya hendak mencengkeram lengan gadis itu.
Melihat pemandangan itu, senyum di wajah Bellatrix langsung menghilang. Matanya yang tadinya cerah kini berubah menjadi tajam dan dingin, seolah suhu udara di sekitarnya turun mendadak. Rasa tidak suka melihat ketidakadilan meluap di dalam hatinya. Ia tidak akan membiarkan hal buruk terjadi di depan matanya tanpa berbuat apa-apa.
“Kalian tidak tahu malu, mengganggu anak kecil yang tidak berdaya,” suara Bellatrix terdengar tenang namun menusuk, memecah keheningan di tempat itu.
Ketiga pria itu terkejut dan menoleh ke arah sumber suara. Melihat sosok gadis muda yang bertubuh ramping, tidak terlalu tinggi, dan terlihat lemah di mata mereka, mereka hanya tertawa mengejek.
“Wah, ada gadis yang berani ikut campur. Lebih baik kau pergi sebelum kami memutuskan untuk menjadikanmu hiburan selanjutnya,” tantang pemimpin mereka sambil melangkah mendekat dengan gerakan mengancam.
Bellatrix hanya mendengus pelan, tidak terlihat takut sedikit pun. Ia mengangkat tangan kanannya, memutar sedikit jari manisnya, dan sesaat kemudian, dua bilah belati pendek namun tajam berkilauan keluar dari udara tipis, mendarat rapi di telapak tangannya. Belati itu terbuat dari logam khusus yang sangat kuat dan ringan, dengan ukiran halus yang memancarkan energi samar.
“Kalau begitu, silakan coba saja. Sekalian mengetes kekuatan tubuh ini” tantang Bellatrix balik, senyum miring penuh percaya diri terukir di bibirnya.
Tanpa memberi kesempatan bagi pria-pria itu untuk berpikir lebih lama, mereka langsung menyerang secara bersamaan, mengira gadis itu hanya akan menjadi mangsa mudah. Namun apa yang terjadi selanjutnya sangat mengejutkan mereka.
Meskipun tubuh Bellatrix terlihat kecil dan ramping, gerakannya sangat lincah, cepat, dan akurat. Ia melompat menghindari serangan tinju pertama dengan mudah, lalu berputar menghindari serangan dari samping. Kedua belati di tangannya bergerak seperti ular yang lincah, menciptakan bayangan kilauan perak yang sulit diikuti mata biasa.
Crak! Buk!
Hanya dalam hitungan detik, pria pertama sudah terlempar ke dinding dengan kesakitan, lengan bajunya robek dan ada luka gores dangkal namun cukup sakit di lengannya. Pria kedua mencoba menangkapnya dari belakang, namun Bellatrix menunduk seketika, lalu mengayunkan gagang belati ke arah perutnya dengan tenaga yang cukup keras hingga membuat pria itu terbatuk dan terjatuh terguling ke tanah.
Pemimpin mereka yang paling kuat dan terlatih pun tidak mampu berbuat banyak. Setiap serangannya selalu meleset, dan setiap kali ia mencoba mendekat, ia justru menerima serangan balik yang membuatnya semakin mundur ketakutan. Bellatrix tidak membunuh mereka, hanya melumpuhkan kemampuan mereka untuk melawan, memberikan luka-luka yang cukup untuk mengingatkan mereka agar tidak berani mengulangi perbuatan itu lagi.
Suara benturan dan teriakan kesakitan terdengar selama beberapa menit saja, sebelum akhirnya semuanya hening. Ketiga pria itu tergeletak di tanah, meringis kesakitan, tidak mampu lagi berdiri atau melawan. Pakaian mereka robek-robek, dan wajah mereka penuh keringat dingin serta rasa takut melihat gadis kecil yang ternyata memiliki kekuatan sebesar itu.
“Pergilah, dan jangan pernah aku melihat kalian mengganggu siapa pun lagi. Jika aku mendengar kalian melakukannya lagi, kepala kalian yang akan ku gantung di tiang sana” ucap Bellatrix dengan nada dingin dan tegas, mengarahkan ujung belatinya ke arah mereka sebagai peringatan.
Tanpa menunggu perintah kedua, ketiga pria itu segera merangkak berdiri sekuat tenaga dan melarikan diri secepat mungkin, tidak berani menoleh lagi.
Bellatrix menghela napas panjang, lalu memutar kembali jari manisnya, dan kedua belati itu menghilang begitu saja masuk ke dalam ruang dimensi cincinnya. Ia berbalik menghadap gadis kecil itu, wajahnya yang tadi terlihat garang kini kembali lembut dan hangat.
“Sudah aman, jangan takut lagi,” katanya sambil mendekat dan berjongkok sejajar dengan tinggi gadis itu.
Gadis kecil itu menatapnya dengan mata yang masih basah, namun rasa takutnya perlahan berubah menjadi rasa kagum. “Terima kasih, Kakak… Kakak hebat sekali,” ucapnya dengan suara lembut.
Bellatrix tersenyum tulus, mengusap kepala gadis itu dengan lembut. “Tidak apa-apa. Sekarang, cepatlah pulang ke rumah. Jangan lewat jalan yang sepi lagi ya, berjalanlah di tengah keramaian agar aman.”
“Baik Kakak! Terima kasih banyak!” jawab gadis itu sambil tersenyum kembali, lalu melambaikan tangan dan berlari kecil menjauh menuju rumahnya.
Bellatrix berdiri tegak, memandang punggung gadis itu hingga menghilang, lalu baru ia menyadari bahwa bagian lengan dan pinggiran gaunnya robek sedikit terkena gesekan dan goresan saat bertarung tadi. Ada juga sedikit debu dan noda tanah di beberapa bagiannya, namun ia tidak merasa terganggu sama sekali. Justru sebaliknya, hatinya terasa sangat ringan dan puas. Ia merasa senang karena berhasil menolong orang yang lemah, dan untuk sesaat ia melupakan semua rasa sesak yang selama ini ia rasakan.
“Rasanya menyenangkan sekali bisa bergerak bebas dan melakukan apa yang menurutku benar,” gumamnya sambil tersenyum puas.
Namun, ia tidak menyadari bahwa selama pertarungan tadi, ada sepasang mata yang gelap dan tajam mengamati setiap gerakannya dari balik bayangan bangunan di dekat sana.
Ia berdiri diam, bersandar di dinding, menatap gadis itu dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada rasa terkejut, kekaguman, ketertarikan, dan juga rasa memiliki yang semakin menguat.
Ia sudah tahu Bellatrix bukan gadis seperti dulu lagi yang hanya tau merengek dan mencari perhatian, tapi melihatnya sendiri bagaimana tubuh yang kecil dan ramping itu bisa bergerak lincah, mengendalikan senjata dengan keahlian yang tinggi, dan melumpuhkan tiga orang pria dewasa sendirian tanpa berkeringat banyak, itu membuatnya semakin terpesona. Ia menyadari bahwa gadis ini memiliki banyak sisi yang belum ia ketahui, dan setiap kali ia menemukan sisi baru, rasa ingin memilikinya semakin dalam tumbuh di hatinya.
Setelah suasana tenang sepenuhnya, Thiago melangkah keluar dari tempat persembunyiannya, melangkah dengan langkah yang tenang namun berat, menimbulkan getaran kehadiran yang terasa sangat kuat.
“Cukup bagus. Tapi apakah ini perilaku yang pantas untuk seorang calon Putri Mahkota? Seharusnya kau tahu batas dirimu, Bellatrix.”
Bellatrix menoleh dengan kaget, lalu wajahnya langsung mengeras saat melihat sosok Thiago berdiri di sana dengan tatapan tajam. “Kau lagi? Apa urusanmu dengan apa yang aku lakukan?”
Ia mengangkat kepalanya, dan matanya terbelalak sedikit terkejut melihat sosok yang tiba-tiba berdiri tepat di hadapannya.
Thiago berdiri tegak, dengan postur tubuh yang tinggi dan kekar, membuat Bellatrix yang tingginya hanya sebatas dada lelaki itu harus mendongak cukup tinggi untuk menatap wajahnya. Di atasnya, sepasang mata berwarna biru gelap yang dalam dan tajam menatapnya lekat-lekat, seolah bisa menembus masuk ke dalam pikiran dan hatinya. Cahaya matahari sore yang menyinari wajah Thiago membuatnya terlihat semakin gagah, namun juga terasa mengintimidasi.
Bellatrix mengerutkan kening, terkejut sekaligus kesal karena kebebasannya terputus secara tiba-tiba. Ia menatap balik mata biru gelap itu dengan tatapan yang tidak kalah tajam dan penuh tantangan, tidak mau menunjukkan rasa takut sedikit pun meskipun ia harus mendongak ke atas.
“Urusanku? Kau adalah bagian dari kekaisaran ini, kau adalah calon pendampingku. Tindakanmu mencerminkan nama baik keluarga dan istana. Kabur tanpa izin, berkelana sendirian, lalu terlibat perkelahian di jalanan. Apakah ini yang diajarkan padamu?” tanya Thiago dengan nada tegas, seolah sedang menegur anak kecil yang nakal.
Mendengar kata-kata itu, rasa muak yang sudah lama tertahan di hati Bellatrix akhirnya meledak. Ia melangkah mendekat, matanya memerah karena emosi yang meluap-luap.
“Jangan bicara seolah kau tahu segalanya tentang aku! Inilah yang membuatku muak, Thiago! Kalian semua selalu bicara soal apa yang pantas, apa yang harus dilakukan, apa yang seharusnya dilakukan seorang calon permaisuri! Seolah-olah aku hanyalah sebuah boneka yang bisa diatur sesuka hati, yang tidak punya keinginan sendiri, tidak punya perasaan sendiri!”
Suaranya mulai meninggi, penuh rasa kesal yang mendalam. “Jika begini syaratnya, jika aku harus menjadi orang lain hanya untuk memenuhi standar yang kalian buat, maka lebih baik cari perempuan lain saja! Cari gadis yang pandai tersenyum, yang pandai berkata manis, yang mau mengikuti setiap perintah tanpa membantah! Aku tidak mau menjadi seperti itu!”
Thiago terdiam, menatapnya, membiarkan gadis itu meluapkan semua yang ada di hatinya.
Bellatrix menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri namun suaranya tetap bergetar karena emosi. “Aku ingin meminta maaf sekali saja, untuk masa lalu, Thiago. Dulu… memang benar, semuanya berawal dariku. Saat ini masih menjadi tubuh Bellatrix yang penuh kekaguman buta, akulah yang berusaha keras, mendesak, bahkan memaksa agar perjodohan ini bisa terwujud. Aku menginginkanmu, aku menginginkan posisi ini, dan akulah yang memulainya.”
Ia menatap mata Thiago dengan tatapan yang jujur namun penuh kepedihan. “Tapi lihatlah sekarang. Semua perasaan itu sudah hilang sepenuhnya. Yang dulu menginginkan ikatan ini bukanlah diriku yang sekarang. Sekarang aku sadar, ini bukan hidup yang aku inginkan. Aku tidak mau terus terikat pada sesuatu yang tidak lagi aku rasakan. Jadi batalkan saja. Lepaskan aku, biarkan aku pergi, dan anggaplah semua itu hanya kesalahan masa lalu. Apa susahnya untuk itu?”
Namun Thiago hanya menggeleng pelan, tatapannya tetap tegas dan tidak goyah.
“Dulu memang kau yang memulai dan menginginkannya. Tapi sekali ikatan itu terjalin, maka keputusan itu tidak lagi hanya berada di satu pihak saja. Sekarang, justru akulah yang tidak mau melepaskannya. Apa yang sudah kita miliki tidak bisa dihapus begitu saja hanya karena perasaanmu berubah. Aku tidak bisa melakukannya.”
Mendengar jawaban itu, kesabaran Bellatrix akhirnya habis. Selama ini ia menahan diri, menahan emosi, menahan rasa kecewa, namun penolakan itu seolah menjadi titik terakhir yang memecahkan tanggul hatinya. Matanya yang tadinya hanya memerah akhirnya mengeluarkan air mata, mengalir turun membasahi pipinya, bukan karena sedih semata, melainkan karena marah, kecewa, dan merasa tidak berdaya menghadapi kekerasan hati Thiago.
“Kenapa? Kenapa kau begitu keras kepala?! Apa yang kau inginkan dariku? Aku sudah bilang aku tidak mau! Aku tidak mencintaimu, aku tidak menyukaimu, dan aku tidak mau hidup seperti ini! Apa yang kurang dari penjelasanku sampai kau tetap memaksakan ini padaku?!” teriaknya, suaranya terputus-putus karena tangis yang mulai meledak. Ia terlihat seperti anak kecil yang sedang merajuk, marah namun juga terluka, menunjukkan sisi lemahnya yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat.
Melihat air mata itu, ekspresi Thiago langsung melunak. Sikap tegasnya perlahan menghilang, digantikan oleh tatapan lembut yang jarang terlihat. Ia melangkah mendekat, ingin menyentuhnya, namun Bellatrix langsung mundur, menyeka air matanya dengan kasar, wajahnya terlihat kesal karena menangis di depan lelaki itu.
“Jangan mendekat! Aku tidak butuh belas kasihanmu!” bentaknya.
“Aku tidak sedang mengasihanimu,” jawab Thiago dengan suara yang jauh lebih lembut dan tenang, berusaha menenangkan suasana. “Dengarkan aku sampai selesai, Bellatrix. Aku mengerti apa yang kau rasakan. Aku tahu kau merasa tertekan, merasa terkurung, dan merasa ini semua adalah beban yang tidak kau inginkan. Tapi percayalah, keputusanku ini bukan tanpa alasan, dan bukan hanya karena keinginan semata.”
Ia melangkah perlahan lagi, kali ini tidak lagi mengancam, melainkan memohon perhatian. “Aku tidak memaksamu untuk mencintaiku sekarang. Aku tidak memaksamu untuk tersenyum atau berpura-pura menjadi gadis yang lembut dan patuh. Kau boleh tetap keras kepala, kau boleh tetap melawan, kau boleh tetap bersikap apa adanya. Itu justru yang aku sukai darimu.” gumam Thiago di bagian akhir kalimatnya.
Bellatrix menatapnya dengan pandangan bingung dan masih basah oleh air mata, tangannya masih tergenggam erat di sisi tubuhnya. “Kalau begitu lepaskan aku. Itu saja yang aku minta.”
Thiago menggeleng lagi, namun kali ini dengan nada yang lebih lembut. “Itu satu hal yang tidak bisa aku penuhi. Hubungan kita ini sudah terikat bukan hanya dengan kata-kata, tapi juga dengan ikatan yang lebih dalam. Dan percayalah, sampai kapan pun, kau tidak akan bisa lepas begitu saja. Semakin kau melawan, semakin kau akan menyadari bahwa jalan terbaik bukanlah melepaskan diri, melainkan berjalan berdampingan denganku”
Melihat ekspresi kekecewaan dan kemarahan yang kembali muncul di wajah Bellatrix, Thiago melanjutkan pembicaraannya, menawarkan sesuatu yang mungkin bisa membuat gadis itu sedikit mengerti.
“Namun sebagai gantinya, aku bisa memberimu apa yang paling kau butuhkan untuk merasa lebih baik dan lebih kuat. Kau ingin menguasai kekuatan, bukan? Kau ingin bisa berdiri sendiri tanpa tergantung pada siapa pun? Kalau begitu, biarkan aku yang mengajarmu.”
Bellatrix mengerutkan kening, bingung. “Mengajari apa?”
“Sihir air, dan juga elemen lainnya,” jawab Thiago dengan mantap. “Kakakmu Alexander memang pandai menguasai air, tapi pengetahuannya terbatas hanya pada satu elemen saja. Aku adalah satu-satunya orang di kerajaan ini yang menguasai seluruh elemen alam. Aku pengendali Api terbaik bahkan aku bisa energi cahaya dan kegelapan. Aku tahu cara mengendalikan energi itu dengan benar, tanpa melukai tubuh sendiri, dan mengembangkannya hingga tingkat tertinggi.”
Ia menatap mata Bellatrix lekat-lekat, menyampaikan penawaran itu dengan jujur. “Aku akan mengajarkanmu semuanya. Aku akan membantumu memperkuat dirimu sendiri, sampai kau merasa cukup kuat dan percaya diri. Tapi ada satu syaratnya.”
Bellatrix menahan napas, mendengarkan dengan hati-hati. “Syarat apa?”
“Berhentilah meminta pembatalan pertunangan ini. Terimalah kenyataan bahwa kita akan terus terhubung satu sama lain, entah kau suka atau tidak. Jangan buang waktumu hanya untuk merencanakan cara lari atau memutuskan hubungan. Gunakan waktumu untuk menjadi lebih kuat, untuk menguasai apa yang kau inginkan. Jika nanti suatu hari kau merasa sudah cukup kuat untuk menantangku dan mengubah keadaan, silakan saja. Aku akan menerimanya dengan senang hati. Tapi untuk saat ini, terimalah kenyataan ini dan gunakan kesempatan yang ada.”
Bellatrix terdiam lama. Ia memandang wajah Thiago, mencoba membaca apakah lelaki itu berkata jujur atau hanya berusaha menipunya. Di satu sisi, ia sangat ingin menjadi kuat, ingin menguasai kekuatan yang ada di dalam dirinya agar bisa melindungi dirinya sendiri dan memiliki kendali atas hidupnya. Di sisi lain, ia benci harus menerima bantuan dari orang yang justru menjadi sumber masalahnya.
Namun setelah mempertimbangkan lama, ia menyadari satu hal. Jika ia terus hanya melawan dan lari ia tidak akan pernah berkembang. Ia akan tetap lemah dan terjebak selamanya. Menerima ajaran Thiago bukan berarti ia menerima lelaki itu, melainkan hanya menggunakan kesempatan untuk memperkuat dirinya sendiri.
Bellatrix menyeka sisa air mata di pipinya, menarik napas panjang, lalu menatap Thiago dengan tatapan yang sudah kembali tegas meskipun masih terlihat sedikit merah.
“Baiklah. Aku setuju. Aku akan menerima ajaranmu soal sihir dan kekuatan. Tapi ingat satu hal. Ini hanya soal pengetahuan dan kekuatan. Tidak lebih. Aku akan tetap mencari cara untuk mendapatkan kebebasanku dengan caraku sendiri. Aku tidak berhenti menginginkan itu, aku hanya menunda waktunya sampai aku benar-benar siap.” Bellatrix menyetujui tanpa tahu itu membuat mereka semakin terikat.
Thiago tersenyum tipis. Ia mengangguk setuju. “Aku menerima syaratmu. Lakukan apa yang kau anggap benar, dan jadilah sekuat apa yang kau inginkan. Aku tidak akan menghalangimu, selama kau tetap ada di sisiku.”
'Silahkan mencoba, gadis kecil. Tidak akan kubiarkan kau pergi dariku' batin Thiago tersenyum puas.
Ia melangkah mendekat lagi, kali ini Bellatrix tidak mundur, meskipun tetap menjaga jarak. Thiago mengusap lembut sisa jejak air mata di pipi gadis itu dengan ujung jarinya, gerakannya sangat lembut seolah takut melukai.
“Mulai besok, kita akan mulai latihan. Tapi untuk sekarang, pulanglah bersamaku. Kakakmu Alexander pasti sudah sangat khawatir sampai kebingungan mencari keberadaanmu.”
Bellatrix hanya mengangguk singkat, tidak berkata apa-apa lagi. Ia membiarkan Thiago menggenggam tangannya, dan dalam sekejap cahaya keperakan menyelimuti tubuh mereka, membawa mereka kembali ke lingkungan istana.