“Anda sudah gila?!” Nasya menutup bibirnya menggunakan kedua tangannya.
“Kegilaan yang menguntungkan bukan? Hanya sebatas kontrak saja. Saya tidak akan menggunakan status suami untuk menyentuhmu,” ujar Elgan dan mendekat ke telinga Nasya. “Rasanya tidak sudi juga jika bukan karena terpaksa.” Elgan menjauh setelah berbisik.
Elgan memberikan kartu namanya. Kemudian, dia meninggalkan Nasya yang masih mematung dengan menggenggam pemberiannya tadi. Nasya menggemnya erat, air matanya terus saja mengalir, semakin deras seperti hujan malam ini.
“Kenapa semuanya begitu menyedihkan? Dikhianati pujaan hati yang katanya berjanji akan menikahi dan sekarang apa? Nikah kontrak? Begitu menyakitkan menjadi miskin. Tidak ada pilihan, meski ingin memilih,” batin Nasya meratapi hidupnya.
Bagaimana kelanjutan kisah rumit ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cacctuisie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CTIKCD - Foto Terbaru
“Kamu bodoh sekali, Iren! Kenapa malah nyuruh Lala berada di rumah Elgan. Kamu tahu kan kalau ada si siapa itu istrinya. Kamu gak takut kalau Lala bakalan di apa-apain. Gimana kalau perbuatan Mama dibalas ke Lala? Kamu tidak seperti biasanya,” celetuk Alina dengan ocehan panjang pada Iren melalui panggilan telepon.
Semalam Iren memberi kabar kepada mamanya bahwa Lala sedang berada di rumah Elgan. Kabar itu didapatkan sudah tengah malam saat Alina terbangun dari tidurnya. Membaca kabar tersebut, Alina yang masih mengantuk mendadak kesal. Seharusnya lebih baik jika Lala berada di rumahnya saja.
Alina takut jika perbuatan buruknya diingat Nasya dan dibalas melalui cucunya. Jadi, pagi-pagi sekali Alina tergesa-gesa datang ke rumah Elgan. Bik Jum membukakan pintu saat terdengar bel rumah berbunyi.
“Elgan mana, Bik?” tanyanya tak sabaran.
“Belum ada yang keluar, Bu. Mungkin masih berada di atas semua,” jawab Bik Jum.
Alina tak mau tahu dan langsung melangkah menaiki tangga. Tujuannya ya ke kamar Elgan. Tanpa mengetuk pintu, Alina membuka pintu tersebut. Namun, pemandangan di depannya menambah amarahnya. Tidak menyangka sama sekali jika mereka tidur bersama.
Tidak ada yang terbangun. Baik Elgan, Nasya, maupun Lala. Elgan dan Nasya sedang memeluk Lala yang berada di tengah. Gambaran layaknya keluarga yang bahagia setelah memiliki putri kecil di rumah ini. Alina menggelengkan kepalanya tidak bisa membayangkannya meski hanya sebentar.
“Bangun! Dasar wanita pemalas!” Alina menggoyangkan badan Nasya cukup kuat hingga Elgan ikut terbangun.
Nasya terbangun dan berusaha mengubah posisinya untuk duduk lebih dulu. Dia terkejut melihat mertuanya sudah ada di rumah ini. Berusaha melirik jam dinding, sepagi ini hanya untuk membangunkannya. Nasya melepaskan selimut yang dia kenakan.
“Kerjaan kamu memang bermalas-malasan, ya. Lihat pekerjaan rumah ini. Hanya mengandalkan Bik Jum yang sudah renta itu?! Benar-benar menikmati peran Nyonya di rumah ini, ya,” ketus Alina melanjutkan celotehannya.
Elgan ikut bangun, melihat Lala yang masih terlelap. “Ada apa sih, Ma? Teriak-teriak masih pagi. Ini nanti Lala malah ikut kebangun, mumpung dia libur,” kata Elgan ingin mengalihkan omelannya pada Nasya.
Alina tidak menjawab dan menarik Nasya saja. Elgan segera ikut bangun dari tempat tidurnya menyusul Nasya yang dibawa keluar oleh mamanya. Nasya hanya menurut saja mertuanya itu membawanya. Benar saja, Nasya sudah dihadapkan pada dapur.
“Seharusnya kamu yang memasak untuk suamimu. Buka mengandalkan pembantu semuanya. Jangn tidak tahu diri, ya! Sudah di rumah pengangguran dan mau enak sendiri lagi!” ketus Alina yang tak pernah gagal menyakiti dengan kata-kata.
Bik Jum yang mendengar pun mendekat. “Buk, maaf bukannya lancang. Nyonya Nasya biasanya memasak dan juga membantu membersihkan rumah. Baru kali ini saja terlewat,” jelas Bik Jum yang sudah di titik kasihan pada Nasya.
Bik Jum selalu menyaksikan cacian dan hinaan Alina ketika mengunjungi rumah ini. Dia juga sudah bm sangat lama bekerja dengan Alina, tapi entah sikapnya pada Nasya benar-benar sangat berbeda. Bik Jum seperti mengenal orang yang berbeda.
“Jangan membela ya, Bik Jum. Mending Bik Jum melanjutkan pekerjaan saja,” sahut Alina tak terima jika ada yang membela Nasya.
“Mama sebenarnya ada apa ini? Datang selalu marah-marah? Elgan tidak mengerti dengan sikap Mama yang seperti ini. Nasya salah apa kok selalu Mama pojokkan? Mana masih pagi loh, Ma,” ucap Elgan.
Pandangan Nasya berhenti di Elgan. Rasanya seperti mendapat pembelaan dari suaminya. Ketika mertuanya tidak pernah menganggapnya ada dan selalu menginginkannya untuk pergi. Hanya seorang suami yang membelanya, meski tidak pernah mendapatkan haknya selayaknya istri.
“Marah apa sih, Elgan?! Mama cuma mau mengajari dia kedisiplinan. Belajar mengurus kamu dengan benar. Kamu kok bisa sih membiarkan dia hidup setenang ini?!” jawab Alina semakin kesal.
“Ma, Nasya sudah cukup mengurus dengan baik. Mama jangan khawatir berlebihan begini. Nasya juga bukan pengangguran maupun pemalas. Dia sedang sibuk merintis usahanya, Mama tunggu kabar baik dari Nasya. Dia memang masih menyembunyikannya agar bisa kasih kejutan ke Mama, papa, dan kakek,” sahut Elgan meyakinkan mamanya.
Nasya cukup terkejut dengan ucapan Elgan. Hanya karena dirinya, suaminya mau berbohong pada mamanya. Mengenai usaha, Nasya tidak pernah punya dan membayangkannya saja tidak berani. Namun, Nasya terharu dengan pembelaan Elgan.
“Terserah, Mama gak peduli. Tujuan utama Mama itu bukannya ngomel, tapi mau jemput Lala. Mama juga kecewa sama kamu, Elgan. Malah terus-terusan belain istri gak berguna!” Alina melengos meninggalkan keduanya.
***
Nasya tidak bisa menghalangi maupun membujuk mertuanya. Pagi setelah Lala bangun, Alina mengajak Lala untuk pergi bersamanya. Lala yang penurut ditambah ucapan mamanya yang memintanya untuk ikut. Lala tidak bisa menolak. Hanya bisa menuruti semua ucapan orang tua.
“Sepi lagi, deh. Mana Mas Elgan ikut nganterin mamanya sampe sekarang pun belum pulang. Coba aja Lala gak diajak juga, aku bisa main sama Lala,” batinnya.
Nasya yang merasa kesepian dan bosan dengan keadaannya. Tidak sengaja tertidur di sofa sampai sore hendak berakhir. Nasya menggeliat, mengambil ponselnya yang berada di atas meja. Nasya melihat jam dan bangkit dari tidurnya.
“Lama banget aku ketiduran. Belum pulang juga, kayaknya lagi kumpul sama keluarganya,” gumam Nasya memilih bangkit dan membersihkan dirinya.
Nasya yang sudah selesai mandi, kemudian kembali ke bawah menunggu Elgan agar bisa makan malam bersama. Nasya masih dalam penantiannya. Tidak berani hanya sekedar menghubungi maupun mengirimkan pesan. Nasya memilih menunggu.
Ketika terdengar notifikasi dari ponselnya. Mata Nasya berbinar berharap pesan tersebut dari suaminya. Namun, harapannya hilang saat membaca nama pengirim pesan itu. Kembali lagi nomor tak dikenal itu mengirimkan sebuah gambar.
“Gak mungkin ini foto lama, aku ingat betul Mas Elgan tadi memakai baju ini. Ternyata dia sama Reina, makanya lama banget di luarnya. Sesayang itu Mas Elgan dengan Reina, padahal kalau denger kata-katanya. Dia benci banget di tinggal dan ingin Reina merasakan apa yang dirasakannya, tapi berkali-kali juga dia yang menghampiri Reina,” ucap Nasya lirih mengembalikan layar ponselnya di layar utama.
Nasya selalu penasaran dengan pemilik nomor pesan tersebut. Nomor ini selalu mempunyai foto kebersamaan Elgan dan Reina. Tanpa dia tahu apa tujuannya. Jika ingin membuat Nasya cemburu dan berharap hubungannya dengan Elgan renggang. Memang dari awal sudah tidak ada apa-apa.
“Apakah pemilik nomor ini Reina sendiri? Dia sengaja melakukannya, tapi untuk apa dia menikah dengan orang lain?” ucap Nasya masih tak mengerti dan penuh dengan dugaan.