Sejak lahir, Varren Kaelor tidak pernah diberi kesempatan untuk memilih jalan hidupnya sendiri.
Di balik wajah tampan yang dikagumi banyak orang, tersembunyi sebuah rahasia yang bahkan tidak boleh ia akui pada dirinya sendiri. Setiap langkah, setiap senyum, bahkan setiap hubungan yang ia jalani hanyalah bagian dari sandiwara yang dipaksakan oleh seseorang.
Ketika harus memasuki sekolah paling bergengsi di negeri itu, Varren yakin ia hanya perlu bertahan seperti biasanya.
Namun, semuanya berubah saat seseorang mulai menembus tembok yang selama ini ia bangun.
Semakin dekat orang itu, semakin sulit Varren membedakan mana kebohongan yang harus dipertahankan, dan mana perasaan yang tidak seharusnya pernah tumbuh.
Lalu... apa yang sebenarnya disembunyikan oleh keluarga Kaelor?
"Aku tidak takut jika dunia membenciku. Aku hanya takut... saat dunia mengetahui siapa diriku sebenarnya." — Varren
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mansion Kaelor..
"Katanya bakal ada acara outbound untuk anak baru. Buat kita ini loh, itu tradisi wajib di sekolah kita. Loe ikut kan? Katanya sih buat kelas terkompak bakal dikasih hadiah." ujarnya heboh pada Varren.
Reja mengangguk. "Iya kata kakak tingkat seru banget soalnya kita main lumpur gitu. Katanya juga bakal dirapatkan lagi mau outbound di indoor atau outdoor. Eh di dalam sekolah atau di luar sekolah gitu." ujar Tavian lagi mengangguk.
"Emang kalo nggak mau ikut, boleh?" tanya Varren pelan.
"Setahu gue sih nggak yah." ujar Reja polos.
Varren menatapnya malas. "Kalo nggak boleh nggak ikut, ngapain nanya gue ikut atau nggaknya?" tanya Varren kesal.
Reja memberikan cengiran tak berdosanya pada Varren. Varren di matanya sangat lucu ketika marah. "Ren jangan marah-marah. Loe kalo marah-marah tambah imut." Reja mengedipkan satu mata. Varren bergidik ngeri melihatnya. Sylas membuang muka malas di sana.
---
Usai perdebatan mereka di asrama, Varren dan teman-temannya menuju kelas mereka. Seperti biasa Varren selalu duduk di kursinya tenang, sampai beberapa gadis mendekati Varren. Reja dan teman-temannya memandang Varren dengan pandangan tanya.
"Varren.. kamu ada nomor WA nggak??" tanya salah satu perempuan di kelasnya.
Varren mengerjap pelan menatapnya polos. "Kenapa?" tanya Varren.
"Buat taroh di grup kelas." ujar mereka dengan tersenyum malu-malu.
"Gue udah masuk grup kelas." Varren mengernyitkan dahi.
Mereka menatap Varren kaget. "Serius Ren? Yang mana nomor kamu??" sahut wanita lain dengan semangat.
Varren mengangguk pelan. "Varren."
"Ada guru..!!!" suara keras dari Sylas membuat mereka segera bubar menatap ke depan yang rupanya tidak ada guru.
Varren melirik Sylas yang menatapnya dingin. Varren mengangkat bahu acuh dan kembali pada kegiatannya. Kali ini dirinya tidak boleh membuat ibunya kecewa. Meskipun memberontak, Varren tetap takut padanya.
Sekuat-kuatnya Varren, masih kuat ibunya. Varren sudah pernah mencoba melawan ibunya, tapi ibunya seperti kebal, tak bisa dikalahkan.
---
Satu minggu sudah lewat. Varren menyelesaikan semua urusan sekolahnya, membereskan buku-buku dan perlengkapan belajarnya. Ia pamit pada Reja dan Tavian yang masih sibuk bermain game, lalu melirik Sylas sekilas sebelum keluar dari asrama. Hari ini ia harus pulang ke mansion Kaelor. Sudah ada jemputan dari keluarganya. Sudah seminggu ia tidak pulang, dan ia tahu rumah bukanlah tempat yang ia rindukan.
Sylas dan teman-temannya juga pulang ke rumah masing-masing. Mereka minggu lalu tidak pulang, jadi pastinya Sabtu sore ini mereka semua sudah bisa pulang.
"Varren kamu udah pulang nak?" tanya Ivana melihat Varren menenteng tasnya di pundak kiri menatapnya tersenyum.
Varren mengangguk memeluk Ivana dengan rindu. Sudah sangat lama dirinya tidak bertemu Ivana—salah satu pembantu yang sudah ia anggap ibu sendiri sejak kecil. Di belakangnya disusul Fina dan juga Gabriel. "Yaampun Varren semakin tampan aja yah hehe. Kami udah masakin sup iga loh kesukaan kamu. Ayok masuk nak ayo." ujar Fina dengan lembut dan hangat kepada Varren. Tentu Varren akan menyambutnya dengan senang serta menyalami tangan Fina—pengasuhnya sejak kecil, ibu dari Gabriel.
"Yeh Gab udah gede aja ini perut. Buncit." Varren menusuk-nusuk perut Gabriel terkekeh.
Gabriel memajukan bibirnya malas. "Ih abang jangan gitu...." Gabriel merengek menatap Varren.
Varren terkekeh melihat tingkah lucu Gabriel yang alami. Apalagi di pipi Gabriel yang memang berwarna merah alami khas anak bayi. Varren sampai gemas mencubit pipi Gabriel. Gabriel hanya merengek minta dilepaskan oleh Varren yang kelewat gredet kepada dirinya.
"Gabriel kemaren demam kamu tunggu Varren." ujar Fina sembari Varren menggendong Gabriel ke ruang makan.
"Yah gimana nggak demam coba. Gab mainnya cuma sama Varren aja. Apa-apa kalo mau sama Varren diturutin.." ujar Ivana pada Fina.
Fina terkekeh menyetujui ucapannya Ivana. "Benar sih. Panas banget sampe ngigau nama kamu dia." lanjut Ivana kepada Varren.
Varren memandang Gabriel dengan tatapan khawatir. "Wahhh bisa gitu kamu Gab?" tanya Varren mengejek.
"Nggak ibu bunda boong. Gab demam karena penyakit jantung." ujar Gabriel menolak tegas. Tapi tolakan Gabriel membuat Ivana, Fina dan Varren terdiam menatap Gabriel dengan tatapan sedih.
"Nggak boleh ngomong gitu. Kakak akan cari donor jantung buat Gab yah. Jadi kamu harus tunggu sebentar lagi oke." ujar Varren pada Gabriel tenang.
"Terus kalo Gab udah sembuh Gab bisa main sama teman? Main bola di lapangan? Boleh keluar rumah?" tanya Gabriel polos pada Varren.
Varren mengusap kepala Gabriel. "Iya dong. Bisa main, bisa sekolah di luar. Jadi Gab harus sehat dan bahagia. Nanti biar kakak ajak kamu main ke pasar malam." ujar Varren menaruh Gabriel ke kursi sebelahnya saat sudah sampai di ruang makan.
"Beneran yah? Yang itu yang di Ancol juga. Gab mau naik komedi putar itu. Gab mau diayun-ayun. Keren." Gabriel mencontohkan tangannya naik turun semangat dengan bibirnya yang maju-maju mundur. Varren dan yang lain tertawa melihat hal tersebut.
Tawa mereka memecah keheningan mansion. Namun di sudut ruangan, sesosok perempuan mendekat dengan langkah angkuh. Amel—sahabat Shena yang selalu tinggal di mansion mereka—muncul dengan tatapan sinis. Ia melihat mereka tertawa bersama, lalu menghela napas keras.
"Hhh... Rumah besar kayak gini malah berisik kayak pasar. Dasar rumah jadi kampung." sindirnya pelan.
Varren mengabaikannya, memilih untuk tetap fokus pada Gabriel. Tapi Amel tidak berhenti. Ia mendekati meja makan, melirik makanan yang disajikan dengan tatapan merendahkan.
"Masak sup iga? Hah... Makanan begituan cuma layak buat orang rendahan." Amel menatap Fina dengan sorot tajam. "Tapi yah, memang gini, kalo keseringan bergaul dengan kaum rendahan, sifatnya juga sama rendahnya."
Varren mengepalkan tangannya di bawah meja. Dadanya mulai naik turun menahan amarah. Tapi ia berusaha tenang—untuk Gabriel, untuk Fina, untuk Ivana.
"Ren..." Ivana berbisik pelan. "Tenang."
Varren menarik napas panjang. Ia mencoba mengabaikan Amel, kembali menghibur Gabriel.
Tapi Amel belum selesai. "Makanan begituan, piring yang dipake juga kayak piring orang miskin. Sudah-sudahlah, kalian bertiga emang dari sononya rendah. Mau dipoles kayak apa pun tetap aja kampungan."
Dug.
Varren merasakan sesuatu putus di dalam dirinya. Matanya berubah dingin. Ia meletakkan sendoknya perlahan—terlalu perlahan.
"Kamu ngomong apa?" tanyanya pelan. Suaranya datar, tapi ada nada mengancam di dalamnya.
Amel terkekeh. "Kupingmu mulai bermasalah juga? Pantesan—"
Brak!
Varren mengeprak meja dengan keras. Gelas-gelas di atas meja bergetar. Gabriel terkejut dan memegang erat lengan Varren.
Amel melebarkan mata, tapi ia masih berusaha terlihat berani. "Berani kamu—"
Plak!
Tamparan Varren mendarat tepat di pipi Amel. Keras. Sudut bibir Amel langsung mengeluarkan darah. Wanita itu terhuyung hampir jatuh.
"Varren..!" Ivana melotot kaget.
Varren menatap Amel dengan sorot tajam, tangannya masih mengepal. "Loe sekali lagi ngomong buruk tentang ibu bunda gue, habis loe. PERGI LOE DARI SINI..!" teriak Varren kepadanya membentak.
Amel bergetar mundur menatap Varren nyalang, masih memegang pipinya yang terasa kebas. "Awas kamu. Kamu akan tau akibatnya Varren."
"Loe yang awas. Harusnya loe hitung nyawa loe udah habis berapa. Soalnya gue bukan orang pemaaf buat manusia busuk kayak loe." ujar Varren tegas.
"Kamu—"
"PERGI NGGAK LOE HA?!!" tekan Varren saat Amel hendak angkat suara. Varren mengangkat tangannya ke atas menatapnya sengit.
Amel mundur ketakutan melirik Ivana dan Fina yang diam menatapnya prihatin. Amel mendengus segera pergi dari sana.
Varren menghela napas pelan mengusap kepalanya kasar. "Ngapain sih ada manusia busuk kayak dia di rumah. Bikin naik darah tinggi aja. Dia nggak ngapa-ngapain ibu bunda kan?" tanya Varren pada Ivana dan Fina. Ivana dan Fina menggeleng pelan.
"Ada bang…" jelas Gabriel dengan polos.
Ivana dan Fina melebarkan mata menatap Gabriel. Tapi Varren segera mendekati Gabriel dan menatapnya tajam. "Gimana? Bilang sama abang apa yang nenek lampir itu lakuin." tanya Varren tegas pada Gabriel.
Ivana dan Fina menatap Gabriel melarang. Tapi Gabriel membuang muka, menatap Varren di depan matanya. "Dia fitnah bunda. Katanya bunda Fina mencuri barang Nyonya Shena. Jadi Nyonya Shena pukul bunda dan kurung bunda ke toilet. Sekarang bunda Fina nggak boleh keluar rumah lagi gara-gara Nyonya Amel. Nyonya Shena juga bilang bunda Fina nggak digaji satu bulan, dan kerja sampe lembur juga nggak boleh makan malam." jelas Gabriel tegas melirik Fina.
"Sayang. Nggak. Itu cuma.."
"Bunda..!!" tegas Varren menyorot Fina tajam. "Kenapa ditutupin sih. Kan Varren udah bilang, apapun yang ada di rumah ini jangan ada yang ditutupin sama Varren. Varren nggak suka yah kayak gini." tegas Varren. Fina memang bukan ibu kandungnya, tapi kasih sayang Fina terhadapnya sama seperti ibu kandungnya.
"Kemarin untung Ibu Ivana yang bujuk Nyonya Shena buat keluarin bunda." jelas Gabriel lagi.
Varren mengusap kepalanya kasar menatap Ivana dan Fina kesal. "Lain kali kalo begini lagi Varren bakal marah sama kalian..!!!" tegas Varren.
"Ren. Kamu tenangkan emosi kamu." tegas Ivana pada Varren.
"Nggak. Varren nggak bisa nggak emosi." tegas Varren mengambil tasnya segera pergi dari sana. Varren akan kasih pelajaran sama Amel, berani-beraninya dia berbuat ulah pada keluarganya.
Ivana mengusap pundak Fina yang terlihat nanar dan sedih. "Varren tetap saja anak Shena. Punya temperamental dan bertangan dingin. Dia nggak marah sama kamu, dia marah sama Amel." jelasnya tenang.
Fina mengangguk pelan menatap Ivana nanar. Selama ini Amel tidak berbuat banyak karena Varren selalu menjaga mereka, tapi semenjak Varren di asrama, dia semakin menjadi dan semakin membuat mereka semua dalam keadaan buruk.
Varren menghela napas kesal memasuki kamarnya, melempar tas miliknya sembarang. Varren memilih duduk di kasurnya dan menatap tajam ke depan.
"Berani dia ganggu keluarga gue." gumamnya dengan mengepalkan tangannya erat. Baru dua minggu dirinya tidak di rumah, tapi Fina dan Ivana sudah mendapatkan masalah.
Bersambung...